Archive for the ‘Resensi Buku’ Category

Situs Gunung Padang-500x500Atlantis, benua yang hilang konon akhirnya ditemukan. Begitulah kira-kira inti dari sebuah buku yang menjadi permulaan berhembusnya isu tentang adanya peradaban maju di Nusantara ribuan tahun yang lalu. Peradaban yang sisa-sisanya banyak bertebaran di berbagai tempat, sehingga bentuk-bentuk bukit yang menyerupai limas sempurna mulai didakwa sebagai peninggalan peradaban tersebut yang kini terkubur. Salah satu dari bukit yang menjadi perhatian khusus ialah Gunung Padang.

Yang membuat Gunung Padang mendapat perhatian khusus ialah keberadaan situs purbakala berupa tumpukan batu yang tersusun di puncaknya. Pola yang ditunjukkan tumpukan tersebut langsung menunjukkan adanya campur tangan manusia di dalam pengerjaannya. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1998 menetapkan Gunung Padang sebagai situs kebudayaan dan kini menjadi Cagar Budaya yang dilindungi negara.

Kendati sudah dibuka sebagai objek wisata sejak tahun 1990-an dan kemudian ditetapkan sebagai situs kebudayaan, Gunung Padang baru mulai ramai dikunjungi sekitar tahun 2011. Peningkatan jumlah pengunjung tersebut tidak lepas dari maraknya isu tentang piramida beserta bermacam peninggalan budaya maju yang konon terdapat di gunung ini. Jika dulu perhatian utama wisatawan tertuju pada pemandangan dan suasananya yang asri, kini beralih pada susunan batu-batu yang menghiasi puncaknya.

Penggunaan batu-batu besar untuk berbagai keperluan terutama sarana pemujaan merupakan ciri dari kebudayaan megalitik. Susunan batu-batu pada Gunung Padang dipercaya sebagai peninggalan kebudayaan megalitik berupa punden berundak. Fungsi punden ini sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dipercaya masih hidup dan bersemayam di langit. Sehingga puncak-puncak gunung yang tinggi dipercaya menjadi tempat singgah roh tersebut saat berada di dunia. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat masa lalu mau bersusah payah menyusun batu besar di ketinggian.

Namun, sebuah tim riset menduga bahwa Gunung Padang bukan dibangun di bagian puncaknya saja, melainkan keseluruhan bukit dari kaki hingga puncaknya dibangun oleh manusia. Morfologi bukitnya yang menyerupai bentuk limas akhirnya menjadi dasar munculnya istilah piramida Gunung Padang. Piramida yang sudah identik dengan Mesir membuat penasaran banyak orang untuk melihatnya langsung.

Salah seorang ahli arkeologi yang terlibat dalam tim riset tersebut ialah Dr. Ali Akbar. Ahli arkeologi dari Universitas Indonesia itu menjabarkan hasil penelitiannya dalam buku yang berjudul ”Situs Gunung Padang, Misteri Dan Arkeologi” yang terbit pada tahun 2013. Buku ini memuat data lapangan yang diperoleh selama penelitian beserta analisis dan hasil interpretasinya.

Data lapangan yang diperoleh berupa pengelompokkan teknik penyusunan antar batu, profil teras-teras Gunung Padang yang berjumlah 5 teras, profil pemboran, serta foto-foto selama proses ekskavasi dan pengukuran geofisika. Beberapa temuan artefak seperti pecahan tembikar juga ditemukan di sekitar Gunung Padang. Analisis dari berbagai data lapangan tersebut menyimpulkan bahwa Gunung Padang bukan sekedar punden berundak biasa, tetapi berupa piramida tangga. Artinya, Gunung Padang dari kaki hingga puncak merupakan hasil karya manusia, bukan bukit alami.

Analisis yang tentu saja mengundang perdebatan di antara para ilmuwan. Selama ini, peninggalan megalitik dianggap berasal dari kebudayaan yang masih sederhana sedangkan piramida berasal dari kebudayaan yang relatif sudah maju. Hasil penelitian sejarah nusantara menyimpulkan bahwa sebelum masa kerajaan, nusantara ini belum memiliki peradaban yang lebih maju. Akan tetapi, penulis berpendapat bahwa terdapat kemungkinan pernah ada peradaban tinggi karya manusia di masa lalu, namun kemudia musnah dan terpendam lalu ditemukan kembali oleh manusia di masa berikutnya yang belum tentu memiliki peradaban yang lebih tinggi.

Terlepas dari kontroversi tentang bentuk Gunung Padang, para ahli sepakat mengenai fungsi spiritual terhadap gunung yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur ini. Sehingga wajar jika sisa-sisa aktifitas penduduk yang memanfaatkan Gunung Padang tidak banyak ditemukan di sekitar gunung ini. Jadi, fosil manusia kemungkinan tidak akan ditemukan di sekitar gunung ini.

Namun, lokasinya yang berada di antara bukit-bukit memberi dugaan bahwa sumber batunya tidak jauh dari lokasi situs. Beberapa tempat diduga menjadi lokasi tambang batu yang digunakan untuk menyusun Gunung Padang. Yang kemudian menjadi pertanyaan ialah, di mana lokasi pemukiman masyarakat maju yang membangun Gunung Padang? Serta bagaimana batu-batu yang digunakan untuk menyusunnya diangkut dari tempatnya berasal? Kedua pertanyaan tersebut hingga buku ini terbit belum dapat dijawab secara pasti walaupun penulis menyebutkan beberapa dugaan untuk kedua pertanyaan tersebut.

Selain itu, misteri tentang kapan Gunung Padang dibangun pun masih perlu penelitian lebih lanjut. Hasil pengukuran yang sudah dilakukan menyebutkan bahwa usia Gunung Padang mencapai 10.000 sampai 20.000 Sebelum Masehi (SM). Umur yang dirasa terlalu tua mengingat sejarah peradaban manusia modern yang selama ini ditemukan tidak sampai setua itu. Sebagai perbandingan, Nabi Adam as diperkirakan hidup sekitar 3760-2830 SM.

DSC_0874Judul                   : Mata Moses

Penulis               : Wiwid Prasetyo a.k.a Prasmoedya Tohari

Penerbit            : Safirah

Distributor       : Transmedia

Tahun                  : 2012

Tebal                    : 471 Halaman

Mesir, sebuah negeri dengan sejarah peradaban panjang yang tergambar nyata dalam sisa-sisa kebudayaannya yang megah. Namun sebenarnya, kemegahan itu hanya milik para penguasa dan orang-orang terdekatnya saja. Peninggalan kebudayaan itu sendiri menjadi saksi bisu perbudakan dan kerja paksa demi memenuhi ambisi penguasa Mesir saat itu, yang dikenal dengan gelar Fir’aun.

Ramses merupakan salah satu Fir’aun yang paling gemilang kekuasaan dan kekayaannya. Dengan masa pemerintahan yang mencapai setengah abad, nyaris tidak ada aral rintangan berarti yang ia temui semasa kepemimpinannya. Hal itulah yang kemudian membuatnya lupa diri, puncaknya ialah saat ia menasbihkan dirinya sebagai Tuhan bagi rakyat Mesir. Oleh karena dirinya adalah Tuhan, maka semua keputusannya mutlak harus ditaati sedzalim apapun keputusannya itu. Siapa yang mengkritik atau keberatan akan dianggap sebagai pemberontak kerajaan dan dikenai hukuman berat bahkan tidak jarang berujung pada hukuman mati.

Namun, Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah lalai. Diawali dari sebuah mimpi, Ramses mendapat ramalan bahwa tahtanya akan direnggut dari lelaki yang bukan berasal dari keturunannya. Rasa takut membuatnya mengambil keputusan yang paling zhalim, yaitu membunuh semua anak laki-laki yang baru lahir dari kalangan Suku Mesir maupun Bani Israil.

Dalam kondisi mencekam akibat kebijakan yang tidak bijak tersebut, seorang bayi laki-laki dari Bani Israil justru diangkat sebagai anak asuh oleh permaisuri Ramses. Bayi yang ditemukan dalam peti yang hanyut di Sungai Nil tersebut merupakan benih dari pasangan kaum Bani Israil yang beriman. Mereka memegang teguh agama Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf yang hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah swt dan tidak menyekutukannya dengan apapun, termasuk Ramses dan Tuhan lain seperti Amon maupun Ra. Kedua orangtua bayi tersebut ialah Amram dan Yokhebed. Allah ta’ala telah mengilhamkan kepada ibu sang bayi untuk menghanyutkan anaknya ke Sungai Nil agar tidak menjadi korban Ramses berikutnya.

Di bawah pengasuhan istana Fir’aun, Ramses bukannya tidak menyadari adanya anak laki-laki yang tidak jelas asal usulnya di dalam istananya. Ia membiarkannya karena para perempuan terutama kedua permaisurinya sangat menyayanginya. Terlebih, saat itu Ramses belum memiliki keturunan sehingga ada harapan bahwa Moses bisa menjadi pancingan kehamilan permaisurinya. Anggapan Ramses tersebut membuat Moses tidak pernah dilibatkan dalam urusan kerajaan maupun keagamaan. Akibatnya, Moses tidak terpengaruh sama sekali dengan perbuatan syirik Ramses dan bangsa Mesir. Ditambah penjelasan yang diperoleh Moses dari salah satu permaisurinya yang diam-diam beriman kepada Allah swt.

Ketika beranjak dewasa, Moses dipekerjakan ayah angkatnya sebagai pengawas para budak. Saat itulah ia menyadari betapa dzalim pemerintahan Ramses, namun kedudukannya yang hanya anak angkat membatasi pengaruhnya kala memperingatkan Ramses dan pengikutnya. Moses pun memilih pergi dan kembali ke ibu kandungnya lalu membela kaumnya yang ditindas oleh Ramses. Ironis, tidak semua kaumnya menerima ajakan Moses untuk kembali ke agama tauhid dan memilih tetap mengikuti ajaran Ramses walaupun sudah ditindas sedemikian rupa. Bahkan, saat Moses telah diangkat menjadi Rasul pun sikap kaumnya tidak banyak berubah, hanya beberapa pemuda dan kerabat dekatnya saja yang mempercayai dan mengikuti seruan Moses.

Moses atau Musa as merupakan nabi dan rasul Allah yang diutus kepada Bani Israil dan Fir’aun. Kisah perjuangannya dalam menegakkan agama tauhid di bumi Mesir dituliskan dalam novel berjudul Mata Moses yang diceritakan dengan nuansa fiksi. Sumber ceritanya sendiri berasal dari Alquran dan kitab-kitab lain serta tafsiran dari para ulama yang kemudian diceritakan kembali dengan bahasa penulis. Referensi tersebut dicantumkan pada catatan kaki novel ini sehingga pembaca bisa mengecek keabsahan referensi tersebut.

Cerita di novel ini diawali dari peradaban Mesir jauh sebelum Ramses berkuasa yang menjadi latar belakang kebencian Ramses kepada kaum Bani Israil. Memasuki inti cerita ditandai dari penasbihan Ramses sebagai Tuhan bagi rakyat Mesir hingga klimaksnya terjadi pada saat Moses menunjukkan buktinya sebagai utusan Allah berupa mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular dan terbelahnya Laut Merah. Perpindahan kaum Bani Israil menuju tanah Palestina menjadi penutup cerita yang sedikit berkaitan dengan isu konflik Israel-Palestina selama ini.

Dibanding sirah nabawiyyah murni, kisah dalam kemasan fiksi ini memang lebih mudah ditangkap dan dicerna dengan segmen pembaca yang lebih luas. Kronologis cerita dari Nabi Musa as dinarasikan secara urutan waktu namun dialog yang ada di dalamnya hampir tidak ada perubahan dari sumber aslinya. Ini merupakan kelebihan dari novel sejarah terutama sejarah para nabi dan rasul yang membuat kisahnya mudah dipahami tanpa mengubah sejarah yang ada. Novel yang serupa pun mempunyai pola yang sama, misalnya novel berjudul Ayyub Dan Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya karya Muhammad Makhdlori.

Seperti halnya buku dengan genre sama yang berjudul Muhammad karya Martin Lings, ada beberapa dialog yang tidak diangkat dalam cerita. Dalam novel ini, dialog tersebut ialah kala Fir’aun meminta tangan kanannya, Haman, untuk membuat bangunan tinggi agar dapat melihat Tuhannya Nabi Musa as dan Nabi Harun as. Selain itu, ada kerancuan juga pada alur novelnya yang pada bagian pembuka seperti menyiratkan alur flash back dari sebuah penemuan. Ternyata bagian kisah bagian pembuka tersebut benar-benar hanya pembuka cerita tanpa ada kaitannya dengan kisah dalam novelnya sendiri. Namun, hal itu tidak mengurangi keteguhan dan kesabaran Nabi Musa as dan Nabi Harun as sebagai utusan Allah swt untuk mengajak umatnya menuju kebenaran yang sesungguhnya.

Iqbal E. Putra

Judul: Gerbang TrinilDSC_0787-1
Penulis: Riawani Elyta & Syila Fatar
Penerbit: Moka Media
Distributor: Kawah Media
Tahun: 2014
Tebal: 293 Halaman
ISBN: 979-795-874-4

Areta adalah gadis SMA biasa yang terobsesi terhadap paleoantropologi. Percakapannya dengan anak salah satu penemu manusia purba membawanya berkunjung ke Trinil, tempat ditemukannya Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois. Namun, kunjungannya ke Trinil berubah menjadi petualangan besar yang kelak berpengaruh terhadap cara pandang dan gaya hidupnya selama ini. Siapa mengira jika manusia purba Pithecanthropus erectus yang dinyatakan telah punah ternyata masih hidup dan merencanakan sesuatu yang buruk demi merebut kembali bumi dari tangan manusia modern (Homo sapiens). Tanpa seorang teman pun yang mendukungnya, Areta pun berjuang menggagalkan niat mereka hingga para manusia purba itu kembali punah dari planet bumi.

Petualangan Areta dalam menguak kebenaran dibalik Pithecanthropus erectus menjadi inti cerita dari novel yang berjudul Gerbang Trinil ini. Sesuai dengan judulnya, latar cerita dalam novel ini memang terfokus di Trinil dan sebagian Surabaya. Dengan genre fiksi ilmiah, Riawani Elyta dan Syila Fatar mengangkat tema arkeologi khususnya fakta tentang manusia purba yang ditemukan di bantaran Sungai Bengawan Solo yang dipajang di Museum Trinil. Penemuan tersebut dibalut dengan jalinan kisah fiksi murni tanpa menyentuh ranah teori evolusi sedikitpun.

Dari judul dan temanya, sekilas jalan ceritanya akan mirip seperti film Tomb Rider ala Angelina Jolie. Apalagi tokoh utama dalam novel ini pun seorang perempuan dari keluarga yang berada seperti halnya Lara Croft. Bedanya, tidak ada perburuan harta karun dalam novel ini. Namun, alur ceritanya ternyata lebih sederhana dan sangat terfokus pada tokoh utama walau penulis bercerita dengan posisi sebagai orang ketiga. Tokoh pendamping yang diceritakan sejak awal cerita benar-benar hanya sebagai pendamping tanpa kontribusi berarti dalam petualangan Areta yang sesungguhnya. Manusia purba yang diceritakan pun terbatas pada daerah Trinil, walaupun tokoh yang terlibat dalam petualangan Areta berasal dari berbagai tempat.

Selain itu, penulis nampak terburu-buru dalam berpindah latar tempat. Umpan-umpan terkait misteri dari inti cerita yang dijalin sejak awal cerita menjadi tanpa arti. Sungguh disayangkan, benang merah antar tokoh yang sudah terjalin apik tiba-tiba terputus di tengah dan langsung lompat menuju konklusi di akhir cerita. Misalnya saja umpan akan adanya konspirasi pada penemuan manusia purba selama ini. Konspirasi ini dibiarkan menggantung begitu saja hingga akhir cerita dan tidak disinggung kembali walaupun menjelang klimaks umpan tersebut sempat muncul kembali.

Terlepas dari itu, novel ini cukup menarik untuk dibaca oleh segala umur. Bagi yang merasa awam terhadap dunia arkeologi maupun paleoantropologi tidak perlu khawatir. Sebab tidak ada istilah khusus dalam novel ini kecuali nama dari manusia purba itu sendiri. Bahasa Inggris dalam novel ini pun tidak sulit bahkan untuk diartikan per kata. Manusia purba dalam novel ini pun fasih berbahasa Indonesia kok. Namun, bagi pembaca yang senang berpikir dan menebak kelanjutan ceritanya, maka novel ini bukan bacaan yang tepat untuk Anda.

P1070571Judul                     : Ayyub & Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya

Penulis                 : Muhammad Makhdlori

Penerbit              : Safirah

Tahun                   : 2012

Tebal                     : 262 halaman

Nabi Ayyub as, salah seorang utusan Allah swt untuk Bani Israil dan Kaum Amoria (Aramin) di dataran Hauran, Syam. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1500 SM. Kisahnya memang tidak sepopuler Nabi Adam as, Nabi Musa as, Nabi Ibrahim as, Nabi Nuh as, Nabi Isa as, apalagi dengan kisah nabi terakhir Rasulullah saw. Di dalam Alquran pun kisah Nabi Ayyub hanya disebutkan empat kali. Namun, bukan berarti hikmah yang terkandung di dalamnya berjumlah sedikit. Dan hikmah utama yang terdapat dalam kisah Nabi Ayyub as ialah mengenai kesabaran tanpa batas dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa.

Dalam sejarah para nabi-nabi terdahulu, disebutkan bahwa para utusan Tuhan tersebut berasal dari berbagai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari keluarga miskin seperti Nabi Isa as, namun ada juga yang berasal dari keluarga kaya nan terpandang di kalangan kaumnya seperti Nabi Sulaiman as. Nabi Ayyub as sendiri berasal dari keluarga kaya raya di lingkungan tempat tinggalnya. Ternaknya berjumlah ribuan, perkebunannya ratusan hektar luasnya, dengan jumlah pekerja yang banyak menjadikan Nabi Ayyub sebagai orang terpandang di kalangan kaumnya.

Sifatnya yang dermawan, tegas, dan santun semakin membuat dirinya dielu-elukan oleh sahabat dan orang-orang di sekitarnya, bahkan hingga para malaikat pun turut memujinya. Ihwal inilah yang membuat geram bangsa iblis, sehingga menyusun siasat dan berbagai fitnah tentang ketakwaan Nabi Ayyub as yang hanya sebagai alasan agar harta yang dikaruniakan kepadanya tidak lenyap. Allah swt pun kemudian mengujinya dengan mengambil sementara harta dan keluarganya. Tidak hanya itu, Nabi Ayyub pun diuji dengan penyakit aneh yang membuat kulitnya melepuh mengeluarkan nanah dan menimbulkan bau yang sangat menyengat. Penyakit aneh tersebut semakin lama semakin mengganas dan mulai muncul ulat-ulat di lubang lukanya yang kemudian menggerogoti kulit dan daging Nabi Ayyub as.

Akibat cobaan tersebut, semua keluarga, sahabat dan kaumnya mengusir beliau dari tempat tinggalnya, kecuali salah seorang istrinya yang bernama Siti Rahmah. Berdua dengan istrinya, Nabi Ayyub as yang terkulai tak berdaya menjalani ujian dengan penuh sabar dan tawakal. Iblis yang mengetahui bahwa keimanan Nabi Ayyub dan istrinya tidak juga tergoyahkan terus berupaya menyesatkan kedua insani pilihan tersebut. Berbagai kesulitan hidup, pelecehan dari penduduk sekitar, serta perjuangan Siti Rahmah dalam merawat suaminya dituangkan dalam novel berjudul “Ayyub & Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya”.

Diwarnai dengan dialog dan beberapa adegan fiktif, novel ini tampak begitu mengalir tanpa membiaskan fakta-fakta sejarah yang berasal dari berbagai sumber. Nasihat-nasihat yang tertuang dalam rangkaian kata-kata motivatif kiranya mampu menjadikan novel ini sarat makna tanpa kesan menggurui ataupun unjuk ketakwaan. Sikap-sikap kerabat terdekat Sang Nabi yang semula memuji-muji secara berlebihan namun menjadi menyumpah serapahi bahkan mengutuk, merupakan analogi yang pas dengan realita yang ada di masyarakat saat ini.

Dalam kisah yang menceritakan Nabi Ayyub dalam menikmati penderitaannya, banyak hikmah yang dapat dipetik. Kesabaran Ayyub as sebagai manusia pilihan menjadi teladan agar seberat apapun ujian yang ditempuh, kita harus yakin bahwa Allah swt tidak akan meninggalkan hamba yang selalu mengingat-Nya. Sementara sikap yang ditunjukkan oleh perjuangan Siti Rahmah mengajarkan bahwa pasrah saja tidak cukup untuk mengarungi kehidupan, tetapi juga harus diimbangi dengan usaha tiada henti untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa mengabaikan larangan-Nya.

Terlepas dari itu, sang penulis nampak terlalu berhati-hati dalam mengembangkan cerita. Berbagai konflik yang sebenarnya bisa lebih didramatisir, nampak kurang tereksplorasi potensinya sehingga penyelesaiannya pun terasa hambar. Misalnya seperti saat Nabi Ayyub dan istrinya diusir oleh kaum kerabatnya sendiri. Tidak diceritakan ke mana mereka pergi setelah diusir dan bagaimana tanggapan dari orang-orang yang telah mengusir mereka selanjutnya. Begitupun ketika penyakit yang diderita Nabi Ayyub sembuh dan kekayaannya telah dikembalikan yang menjadi bagian dari penutup kisah. Padahal sebagian pembaca mungkin ingin mengetahui bagaimana respon penduduk yang selalu menyebutnya sebagai orang yang dikutuk Tuhan, setelah Nabi Ayyub kembali ke masyarakat dalam keadaan pulih dan banyak harta.

Sebagai sebuah novel bergenre fiksi sejarah, alur kisah yang dituangkan penulis relatif mudah dipahami. Tanpa adanya unsur kejutan dan cerita yang cenderung mudah ditebak, penulis mencoba menyentuh emosi pembaca melalui penggambaran kondisi Nabi Ayyub dan istrinya yang begitu memprihatinkan. Bagi mereka yang sudah mengetahui kisah Nabi Ayyub sebelumnya, novel ini tidak akan memberikan pengetahuan yang lebih dalam karena tidak ada tambahan signifikan dari yang dituangkan dalam kitab suci Alquran. Namun, kesabaran Nabi Ayyub dalam menghadapi ujian dari Allah swt yang terasa begitu nyata dalam novel ini, menjadi nilai tambah yang membuat novel ini tetap menarik untuk dibaca.

ImageJudul                     : Suka Duka Penjelajah Geologi Di Indonesia

Penyunting         : H. Rab Sukamto Kartomihardjo, Nana  Suwarna, T. Bachtiar

Penerbit              : Badan Geologi KESDM

Tahun terbit       : 2011

Tebal                     : 162 halaman+vii

ISBN                      : 978-602-9105-12-4

Peta geologi merupakan peta yang menyajikan berbagai aspek geologi di suatu daerah seperti penyebaran, jenis dan umur batuan di daerah tersebut, struktur geologi seperti lipatan dan sesar/patahan, potensi Sumber Daya Alam, serta sejarah geologi daerah tersebut. Peta ini banyak dipergunakan dalam bidang industri pertambangan, teknik sipil, dan perencanaan pembangunan suatu daerah.

Di Indonesia, peta geologi dalam berbagai skala sudah diterbitkan oleh Badan Geologi di bawah Kementrian Energi dan Sumber Daya Alam (KESDM). Proyek Pemetaan Geologi Bersistem di Indonesia dimulai sejak tahun 1969 dan selesai pada tahun 1994 dengan melibatkan para ahli geologi senior maupun yunior, pribumi maupun tenaga ahli impor yang diperbantukan. Berbagai kisah para pemeta dalam menjelajah pedalaman Indonesia dari Sabang sampai Merauke selama 25 tahun demi mengumpulkan data geologi dan menyajikannya dalam sebuah peta, terangkum dalam buku yang berjudul “Suka Duka Penjelajah Geologi Di Indonesia” ini.

Buku dengan tagline “Kisah Para Pemeta Geologi” ini disusun oleh Badan Geologi untuk menghargai jerih payah para pemeta geologi yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran dan waktunya agar data geologi di nusantara dapat terkumpul dalam suatu peta geologi bersistem. Penulis yang terlibat dalam buku ini adalah para pemeta itu sendiri sehingga isi yang diceritakan betul-betul murni berupa pengalaman pribadi yang dialami para pemeta geologi.

Pemetaan dilakukan melalui lintasan-lintasan geologi yang umumnya menyusuri sungai dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Tidak jarang pula lintasan geologi tersebut membelah pulau dari hilir sungai menyambung menuju hilir sungai lain dan berakhir di sisi lain pulau. Medan yang berat, akses yang sulit, minimnya sarana komunikasi, situasi keamanan yang rawan, serta perjumpaan dengan suku pedalaman yang masih primitif menjadi tantangan terbesar dalam mengumpulkan data geologi di seluruh Indonesia yang kala itu tentu sebagian besar masih berupa hutan belantara.

Sulitnya medan dan kondisi alam yang tak menentu selama pemetaan menjadi masalah utama yang paling sering diceritakan dalam buku ini. Misalnya saja kisah pemetaan di Pulau Taliabu, Kep. Banggai-Sula, Provinsi Sulawesi Tengah yang membuat para pemeta terjebak hujan selama 3 hari di pedalaman hutan. Pengalaman menghadapi kondisi medan yang lebih berat dari perkiraan juga dialami tim pemeta saat melakukan lintasan geologi di Danau Lindu. Akibatnya, tim kemalaman di lapangan dan terlambat tiba di tempat penjemputan.

Masalah lain yang sering ditemui ialah keberadaan suku pedalaman yang masih primitif. Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa, memiliki bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Namun, masih banyak yang sama sekali tidak mengerti Bahasa Indonesia. Itulah yang sebenarnya menyulitkan para pemeta geologi saat menjalankan misinya. Penduduk setempat yang direkrut sebagai tenaga harian pun terkadang kesulitan jika menghadapi suku-suku yang hidup di pedalaman hutan tersebut. Seperti pengalaman yang diceritakan oleh salah satu pemeta saat melakukan lintasan geologi di Irian Jaya atau sekarang bernama Papua.

Tetapi, dibalik hambatan dan rintangan yang harus dihadapi, terselip juga pengalaman yang berharga dan menyenangkan. Seperti halnya pengalaman saat bantu mengobati salah satu warga Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi yang diakhiri dengan penganugerahan gelar Tumenggung Anak Dalam oleh Kepala Suku Anak Dalam tersebut. Pengalaman menyenangkan pun dirasakan oleh slaah seorang pemeta saat melakukan lintasan geologi dari Ujung Pandang (sekarang Makassar) ke arah Malino. Di lintasan ini, tim pemeta disangka pejabat Bupati oleh penduduk setempat sehingga mereka mendapat perlakuan lebih dari penduduk setempat.

Berbagai pengalaman tersebut disusun per bab berdasarkan orang yang menulisnya. Bisa dibilang, buku ini merupakan cerita para pemeta yang dikumpulkan dalam satu buku. Sehingga antara bab yang satu dengan yang lainnya hampir tidak berkesinambungan atau berdiri sendiri. Padahal di antara para pemeta tersebut ada yang tergabung dalam satu grup besar yang kemudian terbagi menjadi beberapa lintasan geologi dalam 1 pulau. Jadi timbul apa yang saya sebut deja vu pembaca, yaitu kisah yang sama atau mirip diceritakan beberapa kali pada bab yang terpisah. Seperti misalnya pemetaan di lintasan Pulau Taliabu yang diceritakan lebih dari satu kali pada bab yang berbeda kendati tahun lintasan pemetaan di pulau tersebut sama persis.

Kendati demikian, pengalaman para pemeta yang dituangkan dalam buku ini, sangat pantas dibaca oleh para generasi muda terutama yang berkecimpung dalam dunia geologi. Isi buku yang berwarna dengan kualitas kertas yang baik memudahkan para pembaca dalam memahami isi cerita dan foto yang ditampilkan dalam buku. Dalam setiap cerita, ditampilkan pula peta lintasan geologi tersebut dilakukan sehingga pembaca yang belum terlalu mengenal lokasi tersebut dapat dengan mudah membayangkan betapa melelahkannya lintasan tersebut untuk ditempuh.

Semangat para pemeta demi menjalankan misi negara kendati dihadang berbagai rintangan kondisi alam maupun kondisi sosial patut dicontoh oleh para calon ahli geologi. Betapa beruntungnya generasi penerus saat ini yang ditunjang oleh kemajuan teknologi dan telekomunikasi yang banyak membantu di lapangan dibandingkan dengan para senior mereka saat melakukan pemetaan dulu. Jerih payah para pemeta pun memudahkan para penerus mereka dengan peta geologi bersistem yang telah mereka susun selama 25 tahun. Sehingga generasi penerus mereka kini telah memiliki pedoman dasar dalam melakukan pemetaan yang lebih detail.

Judul: Wangsit SiliwangiImage

Penulis: E. Rokajat Asura

Penerbit: Edelweiss

Distributor: Mizan Media Utama

Tahun: 2009

Tebal:  444 Halaman

ISBN: 978-602-8672-00-9

Cirebon semakin mandiri sementara Keraton Sri Bima mulai mencari putra mahkota baru setelah Prabu Anom Walangsungsang atau dikenal juga dengan nama Kian Santang atau Pangeran Cakrabuana pergi meninggalkan keraton dan mendirikan pedukuhan Cirebon. Prabu Anom Surawisesa, putra mahkota dari Ratu Kentring Manik Mayang Sunda pun mulai ditempa..!

Berlatarkan beberapa tahun setelah cerita pada buku pertama yaitu Prabu Siliwangi, novel kedua yang berjudul Wangsit Siliwangi ini berkisah. Inti konflik utamanya masih sama, yaitu perbedaan keyakinan antara Sang Prabu dengan keturunannya sendiri yang menjadi pemimpin Cirebon. Perbedaan keyakinan tersebut lambat laun ternyata berpengaruh ke situasi politik antara Cirebon dan Pajajaran. Terlebih saat cucu Sang Prabu dari putrinya Nyimas Rarasantang, yang bernama Syarif Hidayatullah memproklamirkan Cirebon sebagai kesultanan sendiri. Dengan dukungan dari pihak Demak dan dewan wali, Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati tersebut mulai menyebarkan ajaran islam ke berbagai penjuru, khususnya daerah pesisir seperti Banten dan Karawang.

Sejatinya, susuhunan berdarah Mesir-Sunda tersebut tidak bermaksud mengkerdilkan daerah kekuasaan Pajajaran. Sebaliknya, ia justru berencana untuk mengubah pakem kepercayaan kerajaan  yang dianut kakeknya agar sesuai dengan syariat islam. Tetapi, oleh pihak keraton, hal tersebut dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan Pajajaran. Hingga mereka pun mengirimkan pasukan untuk memantau situasi Cirebon dan sebisa mungkin membawa Susuhunan Jati menghadap Sri Baduga Maharaja. Situasi pun memanas manakala pasukan tersebut justru dikalahkan dan akhirnya malah mengabdi ke Cirebon. Persiapan perang besar pun mulai digelar oleh Pajajaran untuk merebut kembali wibawa Pajajaran yang digerogoti Kesultanan Cirebon.

Tegang dan penuh prasangka. Itulah kesan pertama yang didapat saat membaca novel kedua dari trilogi Prabu Siliwangi ini. Penulis mampu menghadirkan peningkatan tensi alur cerita secara teratur hingga klimaks. Tidak ada persekongkolan rahasia dalam konflik yang terjadi, tetapi murni berupa prasangka dan praduga bahkan hampir tanpa perselisihan langsung antara kedua belah pihak. Perbedaan antara kerajaan yang sejarahnya telah turun temurun dengan kesultanan yang belum mapan nampak jelas saat masing-masing kubu menyelesaikan masalah. Misalnya saat persiapan pasukan, nampak bahwa Pajajaran lebih siap dalam menghadapi perang dibanding Cirebon yang pasukannya justru merupakan bantuan dari Demak.

Sayangnya, alur cerita yang sudah apik tersebut harus terganggu oleh kualitas penyuntingan yang kurang baik bahkan kekurangan tersebut cenderung bertambah banyak pada bagian akhir. Adanya tokoh baru yang muncul di bagian akhir namun justru menjadi penentu kebijakan Prabu Siliwangi pun terasa janggal. Rencana hasil perundingan yang alot bisa tiba-tiba berubah tepat pada saat rencana tersebut akan terlaksana hanya karena penglihatan seorang tokoh yang bahkan tidak pernah disinggung sebelumnya nampak seperti penyelesaian yang dipaksakan. Bagi sebagian pembaca, hal tersebut membuat citra tegas dan berwibawa khas seorang maharaja jatuh menjadi seorang raja yang plin-plan.

Kendati demikian, latar belakang wangsit Siliwangi yang menjadi warisan Sunda berhasil diceritakan dengan baik dalam buku ini. Pesan dan nasehat yang tersurat dan tersirat dalam cerita mudah diserap dan cukup relevan dengan kondisi saat ini. Semoga ke depannya, semakin banyak novel-novel yang menyajikan kearifan lokal yang telah ada turun-temurun. Karena bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Judul: Prabu SiliwangiImage

Penulis: E. Rokajat Asura

Penerbit: Edelweiss

Distributor: Mizan Media Utama

Tahun: 2009

Tebal: 457 Halaman

ISBN: 978-979-19624-3-8

Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja atau Prabu Jayadewata (1482-1521 M) merupakan raja tersohor yang berhasil menyatukan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanegara, dan membentuk Kerajaan Padjadjaran. Pada masa pemerintahannya pulalah Kerajaan Padjadjaran mencapai puncak kejayaannya dengan daerah kekuasaan yang membentang di seantero Pulau Jawa bagian barat dan rakyat yang makmur sejahtera, serta disegani musuh.

Namun, kekuasaan dan kejayaan tidaklah abadi. Prahara justru muncul bukan dari luar, melainkan dari dalam kerajaan itu sendiri manakala rasa iri dan adu kepentingan beradu dalam hal perebutan putra mahkota. Prahara tersebut makin kentara ketika ternyata putra kesayangannya yang disiapkan sebagai penerus ternyata memiliki keyakinan yang berseberangan dengan Sang Raja Padjajaran. Perdebatan yang tak kunjung usai serta perbincangan yang tak juga menemukan titik temu inilah yang kemudian memicu putra mahkota Prabu Anom Walangsungsang untuk pergi berkelana mencari ilmu agama dan hikmah hidup. Terlebih, pada suatu malam Ia mendapat wangsit dari mimpi agar segera pergi ke arah timur, meninggalkan kemewahan hidup di lingkungan Keraton Pakuan.

Kepergian putra sontak membuat Sang Raja galau, prihatin, sekaligus murka. Namun, keteguhan hati Prabu Anom Walangsungsang yang diwarisi dari ayahandanya tidaklah tergoyahkan. Perjalanan panjang terus ditempuhnya guna mencari guru sejati yang akan mengajarkan ilmu dan hakekat hidup. Pertemuannya dengan Eyang Danurwasih semakin menguatkan niatnya dan mengubah segalanya dengan hadirnya seorang istri dan adik kandungnya yang menyusulnya meninggalkan Keraton.

Hijrahnya putra mahkota inilah yang menjadi inti cerita dalam novel pertama dari dwilogi Prabu Siliwangi ini. Penulis dengan apik menggambarkan berbagai cobaan dan rintangan yang menghadang Putra Padjajaran dalam perjalanannya menuntut ilmu Islam. Hingga akhirnya dia dihadapkan pada kenyataan yang tak bisa dihindari, yaitu berhadapan dengan ayahandanya, Prabu Siliwangi.

Hal positif dari novel ini ialah bukan adu ketangkasan fisik dan olah kanuragan yang ditonjolkan, melainkan penyelesaian masalah melalui musyawarah. Kebijaksanaan dalam menghadapi masalah dijabarkan secara analogi saat bercerita tentang bagaimana Sri Baduga Maharaja meredam amarahnya saat berhadapan dengan anaknya, dengan pejabatnya yang penjilat, serta perlakuannya terhadap para permaisurinya. Kesabaran dan pengendalian emosi diuraikan setiap Walangsungsang beberapa kali berdebat dengan Prabu Siliwangi mengenai prinsip keagamaan mereka masing-masing.

Novel ini pun bercerita tentang awal mula Cirebon dibentuk lengkap dengan asal namanya yang diambil dari nama Cai Rebon, yaitu air perasan dari rebon saat pembuatan terasi. Dari dukuh inilah penyebaran islam di tanah Sunda dimulai dan selalu dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan Kerajaan Padjajaran, kendati Walangsungsang tidak pernah bermaksud demikian.

Dengan judul buku Prabu Siliwangi, yang pertama kali terbayang tentu sepak terjang Sang Maharaja Padjajaran dalam menjalankan pemerintahan hingga mencapai puncak kejayaan. Namun, alih-alih sepak terjang Prabu Siliwangi, inti cerita yang ditekankan lebih kepada putra mahkotanya yaitu Prabu Anom Walangsungsang yang kelak dikenal dengan nama Pangeran Cakrabuana. Kesaktian dan keperkasaan seorang raja justru terkesan tidak berguna manakala persaingan perebutan posisi putra mahkota terjadi di kalangan para bangsawan terjadi. Prabu Siliwangi walaupun digambarkan dengan jelas kharismanya, terkesan tidak berdaya dalam menghadapi persekongkolan salah seorang patih dengan salah satu permaisurinya untuk menyingkirkan penghalang guna memuluskan langkah putranya, Prabu Surawisesa, menjadi putra mahkota menggantikan Walangsungsang.

Intrik politik tersebut pun kurang digali dan cenderung memfokuskan pada perjalanan Walangsungsang mencari hakekat hidup dan ilmu islam. Namun, terlepas dari itu, alur cerita dalam novel ini mudah untuk dipahami dengan tidak banyak teka-teki yang mengharuskan pembacanya banyak berpikir. Siapa mengincar siapa dan siapa otak pergerakan sudah diceritakan dengan jelas. Sehingga pembaca bisa fokus menikmati alur cerita yang ada.

ImageJudul               : Jawara, Angkara di Bumi Krakatau

Penulis            : Fatih Zam

Penerbit          : Metamind

Tebal               : 530 halaman

Tahun Terbit  : 2011

Jawara, bagi orang Banten istilah tersebut sudah tidak asing lagi. Suatu kasta dalam masyarakat Banten tersebut dulunya merupakan sebutan bagi para santri yang khusus dibekali kemampuan beladiri atau kanuragan guna melindungi para kyai dalam menyebarkan syiar Islam. Namun, sebutan jawara tersebut kini bergeser menjadi sebutan bagi mereka yang menguasai ilmu beladiri khas Banten.

Pergeseran tersebut mulai terjadi sejak munculnya pihak-pihak yang mengatasnamakan jawara saat membuat keonaran dengan menggunakan ilmu beladirinya. Tidak tanggung-tanggung, desas-desus bahkan mengatakan bahwa para jawara berniat membumihanguskan seluruh pesantren yang ada di tanah Banten. Jaka, diutus oleh pesantren untuk mencari dalang dari serbuan jawara tersebut yang bernama Angkara, yaitu pemimpin jawara yang kesaktiannya konon tidak ada tandingannya. Hanya sebuah kitab sakti bernama Kitab Cikadueunlah yang kabarnya sanggup memberikan ilmu sakti untuk mengalahkan Angkara.

Badai, seorang pemuda dari Pandeglang, berniat mendapatkan kitab yang kisah legendarisnya senantiasa diceritakan sebagai pengantar tidurnya. Berbagai jawara yang bertujuan sama kerap kali menghadang langkahnya mencari kitab tersebut. Namun, dengan golok sakti bernama Salam Nunggal pemberian seorang ahli golok yang tak lain adalah adik seperguruan gurunya, Badai berhasil mengatasi hadangan tersebut. Suatu takdir akhirnya mempertemukannya dengan Jaka yang selesai berguru serta gadis pendekar Sulastri yang diutus oleh pemberi golok tersebut untuk membantu Badai.

Bersama-sama mereka bertualang guna mendapatkan keberadaan kitab tersebut agar bisa melumpuhkan Angkara. Namun, siapa sebenarnya Angkara? Benarkah dia yang menjadi dalang atas penyerangan jawara ke beberapa pesantren selama ini?

Pesantren versus jawara. Itulah kira-kira awal bermulanya konflik utama novel berjudul Jawara, Angkara di Bumi Krakatau ini. Novel silat tanah Banten ini memang kental dengan berbagai nilai-nilai sejarah kebudayaan Banten yang terkesan mistis. Kebudayaan tersebut kemudian dipadukan dengan nilai-nilai Islam yang dicerminkan dari sikap beberapa tokoh yang tidak mudah termakan hasutan, selalu mengutamakan ikhtiar dan tawakal, serta menyikapi takdir yang tidak selalu sesuai dengan yang diangankan. Perpaduan tersebut amat terasa pada kisah sampingan (side story) Saepudin dan Gojali.

Kisah 2 sahabat dengan latar belakang berbeda tersebut memang tidak berkaitan secara langsung dengan inti cerita, namun banyak falsafah yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saja, sikap Saepudin yang selalu mengutamakan jalur musyawarah dibanding kekerasan, atau sikap Gojali yang mampu melawan sifat penakut dalam dirinya demi mencari kebenaran atas apa yang terjadi kepada tetangganya.

Namun, keberadaan cerita sampingan tersebut agak mengganggu jalan cerita karena semakin mendekati akhir, justru semakin tidak sinkron dengan konflik utama yang diangkat novel ini. Penulis pun nampak tanggung dalam menceritakan klimaks-klimaks pertarungan yang ada. Hampir seluruh pertarungan diakhiri dengan dikalahkannya musuh dengan kekuatan yang tidak terceritakan sebelumnya.

Alih-alih menguak misteri, novel ini justru diakhiri dengan peristiwa letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Padahal, menurut sejarah resminya, di tahun tersebut tanah Banten sudah dikuasai oleh bangsa kolonial. Sedikit mengherankan jika pihak kolonial tidak diceritakan ambil bagian dalam konflik di novel ini, mengingat latar lokasi di novel ini yang tidak jauh di dari pesisir Banten yang kala itu dikuasai oleh bangsa kolonial.

Hal tersebut sungguh disayangkan, padahal penulis sudah sangat baik dalam merangkai cerita latar belakang masing-masing tokoh hingga akhirnya bersinggungan dan menjadi sejawat. Twist pada akhir pertarungan terakhir sebenarnya sangat baik untuk memungkaskan konflik antara jawara dan pesantren ini, yang sayangnya seolah luput dari perhatian penulis.

 

Iqbal E. Putra

Judul                     : Purnama Dari Timur

Penulis                 : Yudhi A.W.

Tebal                     : 382 halaman

Penerbit              : Diva Press

Tahun                   : 2011

Wali Sanga, sembilan tokoh utama dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Nama mereka sudah sering disebut-sebut dalam buku sejarah negeri ini. Kesembilan wali yang disebut sunan tersebut memang berperan penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa yang kala itu masih didominasi oleh Agama Hindu-Buddha. Pengaruh mereka bukan hanya di bidang religius, melainkan berdampak hingga ke aspek-aspek lain bahkan mengubah peta politik nusantara dengan mengislamkan beberapa kadipaten yang masih bernaung di bawah kekuasaan Majapahit. Hingga pada akhirnya memelopori terbentuknya kerajaan Islam yang bernama Kerajaan Demak setelah Majapahit runtuh.

Dua dari sembilan wali tersebut kini tertuang dalam sebuah novel fiksi sejarah yang berjudul ”Purnama Dari Timur; Sujud Kehambaan Tak Bertepi”. Novel yang ditulis oleh Yudhi A.W. ini menceritakan kisah dari Sunan Gresik dan Sunan Ampel.

Bermula dari asal usul Sunan Gresik yang bernama asli Maulana Malik Ibrahim yang berjumpa dengan Syekh Ahmad Jumadil Kubra – kakek dari Sunan Ampel – saat sama-sama hijrah ke Gujarat, India. Maulana Malik Ibrahim hijrah dari Persia oleh karena serangan dari penguasa dzalim, pun begitu dengan Syekh Ahmad Jumadil Kubra yang merupakan perantau Mesir dari Samarkand. Saat mereka berjumpa di Gujarat, Syekh Jumadil Kubra juga membawa 3 orang putranya yang salah satunya bernama Ibrahim as-Samarkand, ayah dari Sunan Ampel.

Namun, serangan dari penguasa dzalim yang juga menyerang Persia ternyata mulai merambah ke Gujarat. Demi keselamatan dan kepentingan berdakwah, akhirnya Maulana Malik Ibrahim dan kawan-kawannya hijrah ke nusantara, tepatnya di Pasai (Lhokseumawe, Aceh). Panggilan hati untuk menyebarkan agama Islam akhirnya mendorong mereka untuk merantau ke tanah Jawa. Dari sini, alur cerita mulai terfokus ke perjuangan dakwah Maulana Malik Ibrahim di daerah Tandhes (Gresik) dan sekitarnya hingga akhir hayatnya.

Kemudian, alur cerita sedikit mundur dan menceritakan kehidupan Ibrahim as-Samarkand yang masih di Pasai sementara Maulana Malik Ibrahim pergi ke Jawa. Perjuangan dakwah ayah dari Sunan Ampel dan cucu Sunan Giri tersebut diakhiri dengan wafatnya beliau saat merantau ke Jawa bersama 2 putranya yang bernama Ali Murtadha dan Ali Rahmatullah serta kemenakannya yang bernama Abu Hurairah. Cerita kemudian berlanjut ke perjuangan mereka yang sudah menjadi bangsawan Campa menjadi bangsawan Majapahit. Nama baru untuk Ali Murtadha setelah diangkat menjadi bangsawan Majapahit ialah Raden Santri, nama baru Ali Rahmatullah ialah Raden Rahmat, sedangkan Abu Hirairah mendapat nama Raden Burereh.

Menjadi bangsawan sebenarnya bukanlah tujuan mereka, namun cara itu mereka pilih agar memudahkan jalan mereka dalam mengenalkan agama Islam kepada masyarakat. Raden Rahmat yang diberi wilayah kekuasaan di daerah Ampeldenta bahkan berhasil mendirikan kampung muslim hingga ia dipanggil dengan nama Sunan Ampel.

Dalam buku ini, tidak diceritakan apakah Sunan Gresik pernah bertemu dengan Sunan Ampel atau belum. Tetapi, informasi yang tercantum dalam novel ini berasal dari berbagai data sejarah yang resmi dan merupakan hasil penelitian. Tidak ada mitos-mitos kesaktian yang luar biasa dari kesembilan wali tersebut yang disinggung dalam novel ini. Hanya metode dakwah yang diselaraskan dengan kebudayaan setempat yang dijadikan inti cerita dari novel ini. Termasuk cikal bakal Islam Kejawen yang banyak dianut oleh masyarakat Jawa sampai sekarang.

Di akhir cerita, penulis memberikan kesimpulan secara tersirat bahwa cara yang dilakukan oleh Sunan Ampel lebih tepat dibandingkan cara yang ditempuh Sunan Gresik. Walaupun dari segi kaderisasi memang benar, namun pembandingan seperti ini seolah mengecilkan perjuangan salah satunya. Padahal peran Sunan Gresik tidak kalah besar karena telah mengenalkan sistem irigasi kepada masyarakat Tandhes dan sekitarnya. Bahkan Tandhes sudah maju saat Sunan Ampel tiba pertama kali berkat perjuangan Sunan Gresik walaupun tidak menjadi bangsawan Majapahit.

Namun, dibalik kekurangan tersebut, masih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini. Salah satunya ialah keinginan kedua sunan tersebut memajukan tafar hidup masyarakat walau keduanya bukan orang Jawa asli. Semangat persaudaraan dan perdamaianlah yang menjadi motivasi mereka demi kehidupan yang lebih baik. Wassalam..

Judul: Warkop; Main-main Jadi Bukan Main

Penulis: Rudy Badil & Indro Warkop (Ed.)

Tahun Terbit: 2010

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tebal: 305 halaman

Harga: Rp 95.000,-

Mendengarkan lewat tulisan. Mungkin kesan itulah yang didapat saat membaca buku yang menceritakan karir kelompok komedi radio yang menjelma menjadi komedian legendaris, yaitu Warung Kopi (Warkop). Yang menarik dari buku ini ialah tata letak tulisan yang disertai foto dan ilustrasi yang agak mirip majalah, sehingga ringan untuk dibaca. Selain itu, gaya penulisan yang menempatkan penulis sebagai orang pertama membuat pembaca seolah sedang mendengarkan seseorang bercerita, bukan menceritakan seseorang.

Melalui buku ini juga, pembaca dapat mengetahui sisi lain dari Warkop yang lebih dikenal masyarakat melalui film-filmnya. Yaitu, bahwa Warkop sejak dulu sebenarnya identik dengan lawakan cerdas. Contoh dari lawakan cerdas tersebut ialah tentang ramalan cuaca yang menyebutkan angin akan bertiup sesuai musim dan kondisi sekitarnya. Angin akan berhembus sepoi-sepoi basah kalau di taman ada orang pacaran, tapi akan bertiup kencang sekali kalau banyak orang main layangan. Namun, angin hanya berani bertiup tidak lebih dari 5 km/jam kalau lewat kompleks ABRI.

Kesuksesan kelompok yang semula beranggotakan Kasino, Nanu, Rudi Badil, Dono dan Indro ini merupakan hasil dari komitmen para personil dan persiapan matang sebelum tampil sehingga kelompok ini tetap hidup hingga saat ini. Terbukti dari 34 film mereka yang hingga kini masih sering menyapa di televisi Indonesia dengan kalimat penutupnya yang khas, ”tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Kepandaian mereka dalam membaca timing dan selera pasar juga membuat karya mereka tetap laris di pasaran.

Kreatifitas kelompok yang dahulu dikenal dengan nama Warkop Prambors ini banyak terinspirasi dari mata pelajaran di bidang Antropologi yang disebut folklor, yaitu kisah humor yang mengandung unsur tradisi (lore) dan manusia (folk). Oleh karena itu, materi lawakan mereka tetap ilmiah, kendati agak vulgar. Sebagai aktifis kampus, mereka juga sering mengkritisi realita sosial yang ada, seperti gagalnya program Keluarga Berencana atau makin maraknya urbanisasi. Semua itu mereka kritisi melalui satir-satir politik yang menggelitik namun tidak menjatuhkan kewibawaan orang lain.

Konsep bukunya sendiri ialah sekedar berbagi kenangan tentang para personil Warkop menurut beberapa orang yang pernah terlibat dan bekerja sama dengan Warkop. Kemudian, disusun dalam sebuah buku yang terdiri dari 5 bagian. Inti dari bukunya sendiri berada pada bagian pertama yang bercerita tentang sejarah Warkop secara umum. Lalu, 4 bagian sisanya merupakan pembahasan mendetail dari beberapa hal di bagian pertama.

Kelebihan dari buku ini terletak pada isinya yang juga menceritakan situasi politik saat itu. Jadi, sambil mengenang perjalanan karir para personil Warkop, pembaca juga diajak untuk mengenal sejarah kepemudaan dan kehidupan mahasiswa di 3 zaman, yaitu Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi, walau hanya sekilas. Maklum saja, mereka termasuk mahasiswa yang cerdas bahkan Dono sempat menjadi dosen di FISIP UI.

Namun, adanya nama-nama seniman lawas mungkin akan membuat penasaran bagi pembaca yang tergolong masih muda. Pembaca mungkin akan bertanya-tanya tentang tokoh-tokoh seperti Bing Slamet, Gepeng, bahkan Pak Tile. Sehingga buku ini seolah diperuntukkan bagi generasi Warkop saja walaupun sebenarnya layak juga dinikmati oleh para remaja. Penempatan inti buku di awal juga dapat membuat beberapa pembaca cenderung malas untuk membaca bagian lainnya secara detail. Pembaca cenderung hanya membaca sekilas dan memfokuskan pada bagian yang dianggap menarik saja.