SEKILAS WAJAH PULAU BURU: SEJARAH, WISATA DAN BENCANA

Posted: February 24, 2016 in Bencana Alam, Geologi Dasar, Geowisata, Pengalaman

Port of Namlea Bupolo. Gerbang pelabuhan Namlea menyambut para penumpang yang baru turun dari Kapal Cantika Lestari 99. Ojek dan jasa angkutan umum lain sudah siap menawarkan jasanya kepada para penumpang setelah terombang-ambing selama kurang lebih 7 jam pelayaran dari Ambon. Waktu masih menunjukkan pukul 04.00 pagi waktu setempat, hanya beberapa lampu sorot yang menerangi dermaga saat itu. Cukup untuk membantu penglihatan para anak buah kapal dan kuli pelabuhan menurunkan muatan kapal. Selebihnya, tak banyak yang bisa diamati di sekitar pelabuhan.

Namlea merupakan Ibukota Kabupaten Buru, Provinsi Maluku. Pelabuhan di kota kecamatan inilah yang menjadi gerbang para warga untuk berhubungan dengan dunia luar. Adapun Lapangan Terbang milik TNI AU hanya menyediakan 1 maskapai yang melayani penerbangan dari dan menuju Ambon. Jadwal penerbangannya pun paling sering hanya 2 kali dalam seminggu, dengan pesawat bermuatan 12 penumpang. Tak ayal, transportasi laut masih menjadi moda utama untuk berhubungan dengan pulau-pulau sekitar termasuk dengan Kota Ambon, Ibukota Provinsi Maluku.

Dari Namlea, terdapat 2 jalan utama yang terhubung dengan kecamatan lain. Jalur pertama menyusuri Teluk Kayeli menuju bagian tengah pulau melalui kawasan tempat tinggal para mantan tapol tahun 1970-an dan sentra pertanian Kabupaten Buru. Jalur kedua menyusuri pantai di utara pulau yang menghubungkan ujung timur dengan ujung barat pulau. Jalur utara ini melewati kawasan wisata serta calon bandara komersil yang masih dalam tahap pembangunan.

Jejak Tapol di Jalur Teluk

Jalan yang berkelok mengikuti kontur perbukitan savana menjadi pembuka jalur teluk ini. Perbukitan yang belakangan sering disebut Bukit Teletubbies ini sejatinya merupakan lahan tempat pohon kayu putih tumbuh secara liar. Sesuai namanya, pohon ini merupakan sumber utama dari minyak kayu putih yang menjadi komoditi khas Pulau Buru. Proses penyulingan minyak kayu putih ini masih dilakukan secara tradisional oleh penduduk setempat dan dijual dalam ukuran botol kecap seharga Rp. 200.000 per botol. Kekuatan sebuah merek membuat harganya menjadi lebih mahal seperti yang banyak dijual di Ambon sebagai oleh-oleh.

Kayuputih

Tempat penyulingan minyak kayu putih di Pulau Buru. Daun-daun kayu putih ditempatkan di tabung sebelah kiri foto, lalu dipanaskan dengan api yang berasal dari bawah tungku. Uapnya dialirkan ke wadah yang tersedia dalam tabung sebelah kanan foto untuk didinginkan dengan air yang memenuhi tabung tersebut.

Konon, jalan berkelok yang memotong perbukitan tandus ini dibuat secara kerja paksa oleh para tahanan politik atau tapol yang dibuang ke Pulau Buru. Pekerjaan yang terbilang sulit karena mereka harus membelah kaki bukit yang tersusun dari batuan metamorf Formasi Wahlua dengan peralatan seadanya. Jalan ini kini tengah dalam tahap pelebaran dengan sistem cut and fill, yaitu sisi bukit dipapas lalu material yang dipapas digunakan sebagai timbunan pada sisi lerengnya. Pada potongan bukit tersebut, terlihat singkapan yang terdiri dari sekis, kuarsit, batupasir malih, filit dan pualam dari Formasi Wahlua. Kelompok batuan metamorf tersebut tersusun berlapis, banyak rekahan dan agak lapuk. Kondisi fisik batuan yang seperti ini rawan untuk longsor terutama saat musim hujan. Di beberapa tempat, longsor tersebut bahkan sudah terjadi. Perlu adanya struktur penahan lereng atau dipotong lebih landai terutama pada lereng yang kemiringannya searah dengan kemiringan lapisan batuan.

Jalur Tapol

Jalan berkelok mengikuti kontur perbukitan di Jalur Teluk. Tampak pemotongan lereng yang baru dibuat untuk pelebaran jalan, menyingkap batuan metamorf dari Formasi Wahlua. Di atas lerengnya pohon kayu putih tumbuh secara liar memenuhi bukit tersebut.

Jejak para tapol tersebut masih dapat dijumpai di jalur teluk ini, mereka menghuni daerah disebut unit. Sekarang, unit-unit tersebut tergabung dalam satu kecamatan bernama Kecamatan Waeapu dan terbagi dalam beberapa desa. Yang menarik, nama-nama desa tersebut masih berhubungan dengan sejarah tempat itu. Sebut saja Desa Mako, Ibukota Kecamatan Waeapu, yang merupakan singkatan dari Markas Komando, disebabkan tempat ini pernah menjadi pusat komando pemerintah yang mengawasi para tapol di Pulau Buru.

Meski banyak tapol yang telah kembali ke tempat asalnya, beberapa di antaranya memilih bertahan dan bergabung dengan transmigran. Salah seorang yang masih bertahan ialah Pak Hassanuddin yang tinggal di Desa Savana Jaya. Bersama tapol lain, beliau membuka lahan pertanian di daerah yang dulu masih berupa padang savana ini. Merasa mubazir jika lahan pertanian tersebut ditinggalkan begitu saja saat pemulangan tapol, maka lokasi ini dijadikan tujuan program transmigrasi. Bersama transmigran, beliau melanjutkan lahan pertanian itu. Kini, savana yang semula gersang berubah menjadi sawah produktif dengan sistem irigasi untuk mengairi sawah sepanjang tahun. Kawasan ini pun didapuk sebagai sentra pertanian Desa Savana Jaya yang menjadi desa pertama di Pulau Buru.

Sawah

Lahan pertanian yang subur di Desa Savana Jaya, Kecamatan Waeapu. Saluran irigasi mengairi sawah ini sepanjang tahun sehingga tidak lagi mengandalkan musim hujan. Tampak bukit intrusi dan pegunungan di kejauhan yang merupakan lokasi penambangan emas di Pulau Buru.

Variasi Bentang Alam Jalur Pantai

Pemandangan yang lebih bervariasi ditemui di Jalur kedua yang menyusuri pantai di utara pulau. Mulai dari bukit savana hingga hutan yang masih asri. Perkebunan kelapa dan pemukiman penduduk asli lengkap dengan kesehariannya. Kawasan Wisata Pantai Jikumerasa dan kawasan karst lengkap dengan gua dan tebing curamnya. Sungai-sungai berair jernih yang mengalir di antar hamparan endapan aluvial berukuran bongkah. Namun, yang paling menarik ialah adanya perubahan geomorfologi dan fenomena lain yang mengikuti perubahan itu.

Kawasan karst berumur Kuarter yang terdiri dari batugamping terumbu memiliki lereng yang terjal, sangat berbeda dengan perbukitan tandus yang berlereng relatif lebih landai dan bergelombang. Goa beserta ornamennya berada di bagian bawah lereng, tersembunyi di antara pepohonan di tepi jalan.

Gua

Salah satu goa dengan stalaktitnya di kawasan karst yang dapat diamati dari tepi jalan.

Nyuci

aktifitas warga dalam memanfaatkan sungai yang masih jernih.

Jikum

Panorama kawasan wisata pantai Desa Jikumerasa. Diunduh dari http://www.triptrus.com

Dari kawasan kars, morfologinya berubah menjadi landai tiap kali memasuki pemukiman penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Jika melintas saat jam sekolah, banyak dijumpai anak sekolah berkerumun di tepi jalan untuk meminta tumpangan menuju desa asal mereka. Di pemukiman ini, sungai masih menjadi bagian dari aktifitas sehari-hari mereka. Mandi dan mencuci masih dilakukan di aliran sungai yang berair jernih.

Salah satu pemukiman yang paling menarik ialah Desa Jikumerasa yang ditetapkan sebagai kawasan wisata pantai. Di sini terdapat danau berair payau yang berada tidak jauh dari pantai dan terhubung dengan pantai melalui sungai berair jernih dengan lebar sekitar 15 meter. Saat laut surut, air danau akan mengalir ke pantai melalui sungai tersebut. Sebaliknya, air laut mengalir masuk ke danau saat laut pasang. Suasana Danau Jikumerasa masih asri dengan hutan mengelilingi tepiannya. Disediakan sampan lengkap dengan dayungnya bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana danau lalu mendayung menyusuri sungai menuju pantai atau sebaliknya. Pantainya yang masih jernih dan tenang relatif aman untuk snorkeling ataupun sekedar bermain air.

Interaksi antara perbukitan dan dataran tersebut, turut memberi bentukan pada aliran sungai di sepanjang jalur pantai ini. Endapan aluvial menghampar luas sebagai dampak terjadinya perubahan kecepatan aliran saat sungai memasuki dataran setelah mengalir deras di perbukitan. Hamparan endapan aluvial tersebar merata dalam bentuk yang menyerupai kipas jika dilihat dari udara. Bentuk ini lazim disebut sebagai kipas aluvial.

Kipas

Hamparan Kipas Aluvial Wae Duna dari kejauhan. Di ujungnya berdiri Desa Bara yang berada tepat di tepi pantai.

Kipas aluvial terluas ialah di aliran Sungai (Wae) Duna yang langsung bermuara ke laut. Material aluvialnya berukuran bongkah yang terdiri dari bermacam batuan termasuk yang memiliki kualitas sebagai batumulia. Jalur pantai ini melintas tepat di mulut kipas aluvial Wae Duna, sementara di kaki kipas aluvialnya berdiri Desa Bara yang berada di tepi pantai. Sebagai kipas aluvial yang dinamis, bukan tak mungkin, suatu saat desa tersebut akan semakin jauh dari pantai akibat pengendapan dari Wae Duna setiap tahunnya. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui besaran laju pengendapan dari sungai yang berhulu di Gunung Kapalamada ini.

Mitigasi Sejak Dini

Kedua jalur jalan tersebut menunjukkan perkembangan dan pembangunan yang tengah terjadi di Pulau Buru khususnya Kabupaten Buru. Penemuan sumber daya mineral yang ekonomis turut ambil bagian dalam perubahan wajah Pulau Buru ke depannya. Namun, pembangunan tersebut jangan sampai mengabaikan potensi bencana yang mungkin terjadi. Sedari awal, terapkan pembangunan yang mencakup mitigasi bencana.

Pelebaran jalan lama yang tengah dilakukan, sebaiknya memperhatikan kondisi geologi pada jalur jalan tersebut. Kemudian sesuaikan dengan teknik pemotongan lereng agar tidak menimbulkan gerakan tanah di masa depan. Lereng yang sudah runtuh dapat menjadi indikasi adanya ketidaksesuaian antara pemotongan lereng dengan kondisi fisik batuannya.

Pada jalur pantai, pembangunan jalannya sudah mulai memperhatikan potensi bencana di sepanjang jalan tersebut. Jembatan dibangun ulang dengan struktur yang kokoh dengan bentangan yang lebih lebar. Sekilas perbaikan ini seperti tak perlu karena jembatan terlampau panjang dibanding aliran sungainya. Namun, endapan sungainya menunjukkan bahwa sungai tersebut akan meluap berkali lipat saat musim penghujan. Dengan bentangan jembatan sekarang, jalan ini tetap bisa dilalui kendati sungainya meluap.

Jembatan

Jembatan Wae Duna yang membentang di atas mulut kipas aluvial Wae Duna. Bentangan jembatan ini jauh melampaui lebar sungai sehingga relatif aman jika Wae Duna meluap.

 

Dimuat dalam Geomagz Vol. 5 No. 4 Edisi Desember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s