GUNUNG PADANG DAN MISTERI PERADABAN MAJU YANG HILANG

Posted: July 9, 2015 in Geowisata, Resensi Buku
Tags: , , ,

Situs Gunung Padang-500x500Atlantis, benua yang hilang konon akhirnya ditemukan. Begitulah kira-kira inti dari sebuah buku yang menjadi permulaan berhembusnya isu tentang adanya peradaban maju di Nusantara ribuan tahun yang lalu. Peradaban yang sisa-sisanya banyak bertebaran di berbagai tempat, sehingga bentuk-bentuk bukit yang menyerupai limas sempurna mulai didakwa sebagai peninggalan peradaban tersebut yang kini terkubur. Salah satu dari bukit yang menjadi perhatian khusus ialah Gunung Padang.

Yang membuat Gunung Padang mendapat perhatian khusus ialah keberadaan situs purbakala berupa tumpukan batu yang tersusun di puncaknya. Pola yang ditunjukkan tumpukan tersebut langsung menunjukkan adanya campur tangan manusia di dalam pengerjaannya. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1998 menetapkan Gunung Padang sebagai situs kebudayaan dan kini menjadi Cagar Budaya yang dilindungi negara.

Kendati sudah dibuka sebagai objek wisata sejak tahun 1990-an dan kemudian ditetapkan sebagai situs kebudayaan, Gunung Padang baru mulai ramai dikunjungi sekitar tahun 2011. Peningkatan jumlah pengunjung tersebut tidak lepas dari maraknya isu tentang piramida beserta bermacam peninggalan budaya maju yang konon terdapat di gunung ini. Jika dulu perhatian utama wisatawan tertuju pada pemandangan dan suasananya yang asri, kini beralih pada susunan batu-batu yang menghiasi puncaknya.

Penggunaan batu-batu besar untuk berbagai keperluan terutama sarana pemujaan merupakan ciri dari kebudayaan megalitik. Susunan batu-batu pada Gunung Padang dipercaya sebagai peninggalan kebudayaan megalitik berupa punden berundak. Fungsi punden ini sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dipercaya masih hidup dan bersemayam di langit. Sehingga puncak-puncak gunung yang tinggi dipercaya menjadi tempat singgah roh tersebut saat berada di dunia. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat masa lalu mau bersusah payah menyusun batu besar di ketinggian.

Namun, sebuah tim riset menduga bahwa Gunung Padang bukan dibangun di bagian puncaknya saja, melainkan keseluruhan bukit dari kaki hingga puncaknya dibangun oleh manusia. Morfologi bukitnya yang menyerupai bentuk limas akhirnya menjadi dasar munculnya istilah piramida Gunung Padang. Piramida yang sudah identik dengan Mesir membuat penasaran banyak orang untuk melihatnya langsung.

Salah seorang ahli arkeologi yang terlibat dalam tim riset tersebut ialah Dr. Ali Akbar. Ahli arkeologi dari Universitas Indonesia itu menjabarkan hasil penelitiannya dalam buku yang berjudul ”Situs Gunung Padang, Misteri Dan Arkeologi” yang terbit pada tahun 2013. Buku ini memuat data lapangan yang diperoleh selama penelitian beserta analisis dan hasil interpretasinya.

Data lapangan yang diperoleh berupa pengelompokkan teknik penyusunan antar batu, profil teras-teras Gunung Padang yang berjumlah 5 teras, profil pemboran, serta foto-foto selama proses ekskavasi dan pengukuran geofisika. Beberapa temuan artefak seperti pecahan tembikar juga ditemukan di sekitar Gunung Padang. Analisis dari berbagai data lapangan tersebut menyimpulkan bahwa Gunung Padang bukan sekedar punden berundak biasa, tetapi berupa piramida tangga. Artinya, Gunung Padang dari kaki hingga puncak merupakan hasil karya manusia, bukan bukit alami.

Analisis yang tentu saja mengundang perdebatan di antara para ilmuwan. Selama ini, peninggalan megalitik dianggap berasal dari kebudayaan yang masih sederhana sedangkan piramida berasal dari kebudayaan yang relatif sudah maju. Hasil penelitian sejarah nusantara menyimpulkan bahwa sebelum masa kerajaan, nusantara ini belum memiliki peradaban yang lebih maju. Akan tetapi, penulis berpendapat bahwa terdapat kemungkinan pernah ada peradaban tinggi karya manusia di masa lalu, namun kemudia musnah dan terpendam lalu ditemukan kembali oleh manusia di masa berikutnya yang belum tentu memiliki peradaban yang lebih tinggi.

Terlepas dari kontroversi tentang bentuk Gunung Padang, para ahli sepakat mengenai fungsi spiritual terhadap gunung yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur ini. Sehingga wajar jika sisa-sisa aktifitas penduduk yang memanfaatkan Gunung Padang tidak banyak ditemukan di sekitar gunung ini. Jadi, fosil manusia kemungkinan tidak akan ditemukan di sekitar gunung ini.

Namun, lokasinya yang berada di antara bukit-bukit memberi dugaan bahwa sumber batunya tidak jauh dari lokasi situs. Beberapa tempat diduga menjadi lokasi tambang batu yang digunakan untuk menyusun Gunung Padang. Yang kemudian menjadi pertanyaan ialah, di mana lokasi pemukiman masyarakat maju yang membangun Gunung Padang? Serta bagaimana batu-batu yang digunakan untuk menyusunnya diangkut dari tempatnya berasal? Kedua pertanyaan tersebut hingga buku ini terbit belum dapat dijawab secara pasti walaupun penulis menyebutkan beberapa dugaan untuk kedua pertanyaan tersebut.

Selain itu, misteri tentang kapan Gunung Padang dibangun pun masih perlu penelitian lebih lanjut. Hasil pengukuran yang sudah dilakukan menyebutkan bahwa usia Gunung Padang mencapai 10.000 sampai 20.000 Sebelum Masehi (SM). Umur yang dirasa terlalu tua mengingat sejarah peradaban manusia modern yang selama ini ditemukan tidak sampai setua itu. Sebagai perbandingan, Nabi Adam as diperkirakan hidup sekitar 3760-2830 SM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s