NONTON FILM HOROR

Posted: June 11, 2015 in Sesi Curcol
Tags: , ,

Hari Kamis ini tingkat kebosanan memuncak, lagi. Padahal baru hari Senin kemarin nonton Naruto di Blitz Megaplex Grand Indonesia. Ya memang sih, nasib calon pegawai negeri yang udah 2 bulan digantung macam gw ini gampang banget jenuh kalo diam di kosan doang. Walau sudah diterima sebagai pegawai negeri, tapi birokrasi yang mengharuskan nunggu NIP keluar dulu baru bisa mulai kerja bikin status gw – dan mungkin yang lainnya juga – jadi gantung. Pengangguran bukan, pegawai bukan.

Biar ga jenuh, ya hari ini gw niat nonton film yang seru-seru deh, jangan yang drama romantis, nanti yang ada malah tambah bosan. Demi efisiensi anggaran, pantang bagi gw untuk nonton film yang pernah gw tonton di bioskop. Makanya film keren macam Fast and Furious 7 kagak masuk daftar karena udah nonton. Pengennya sih nonton The Avenger Age of Ultron, tapi baru trailer filmnya yang keluar, full movie nya mah belum.

Di tengah kebimbangan macam memutuskan kenaikan harga BBM, gw pilih film bergenre horror. Sampai situ dikirain ga bakal bimbang, ternyata kebimbangan tersebut berlanjut ke season 2. Kali ini demi memilih antara film Wewe atau Tuyul. Dari poster film dan sinopsis, gw menduga 2 film ini ga ada bedanya sama film horror Indonesia yang sudah-sudah, yaitu sekedar memunculkan hantu di setiap adegan, music-musik yang mengganggu alih-alih bikin seram atau kaget, terus diakhiri tanpa solusi berarti.

Well, daripada kagak jadi nonton yang akhirnya bosan bermetamorfosis menjadi bête, gw tetap harus memilih pilihan yang sulit ini. Dari segi pemeran, di film Wewe ada Nabila JKT48 yang imut itu, sedangkan di film Tuyul ada Dinda Kanya Dewi sama Kak Citra Prima. Gw panggil Kak karena ya memang usianya di atas gw. Sama kuat nih dari segi pemeran. Dari segi hantu, film Wewe nampak lebih seram hantunya, daripadaTuyul, itu kan cuma menakutkan bagi yang punya duit. Dari segi sinopsis, yang Tuyul nampak lebih punya cerita nih. Lagi-lagi sama kuat, bimbang lagi deh gw. Terakhir deh, liat trailernya dulu. Ternyata memang ini yang menentukan, dari trailer nampak bahwa film Tuyul sedikit lebih menarik.

Setelah keputusan gw menunjuk film Tuyul lolos uji kelayakan dari DPR, gw pun pergi ke loket setelah sebelumnya mondar-mandir ga jelas dari poster ke poster di dalam bioskop. Entah apa yang ada di pikiran satpam yang kayaknya memperhatikan gelagat pengunjung yang nampak kere ini. Satpam itu ga tau aja, tampilan memang seperti orang kere, tapi kantong gw isinya 50 ribuan selembar bro, tajir ga tuh?

Lanjut pas mau pesan tiket, lagi-lagi gw bimbang mikirin kalimat pemesanan yang cocok. Tadinya mau bilang aja, “Mbak, Tuyulya”. Tapi gw mikir, nanti si mbaknya tersinggung lagi gw bilangin Tuyul. Selama ngantri, gw terus mikirin kalimat yang baik supaya tidak salah kaprah, tau sendiri cewek kan sensitif. Belum nemu yang cocok, ternyata gw udah sampe aja di depan loket. Tapi mbaknya ternyata perhatian, tau aja gw lagi bingung, dia langsung nanya duluan, “film apa mas?”. Pertanyaan itu membuyarkan kebimbangan gw, dengan tenangnya gw bilang “Tuyul”.

Seperti biasa, setelah itu transaksi dilanjutkan dengan memilih jatah kursi sesuai kuota tiket yang dibeli. Ternyata, kursi yang sudah ditempati saat itu tidak sampai 10 orang. Fakta yang tidak mengejutkan ini menyiratkan 3 hal, pertama mungkin karena gw beli terlalu awal, masih 1 jam sebelum film diputar. Kedua, mungkin karena gw nonton di hari kerja dan jam kerja. Ketiga, filmnya kurang diminati. Yang terakhir ini yang gw harap cuma suudzan gw aja, soalnya pada posternya tuh ditulis part 1. Bayangin aja, kalo part 1 aja kurang diminati, rasanya sulit untuk mengharapkan part 2 nya diminati juga. Malah bisa-bisa ga jadi dilanjut nih, miris. Apa memang film Indonesia sudah demikian kurang diminati oleh orang Indonesia?

Mumpung sepi, gw milih tempat yang agak jauh dari kerumunan kursi-kursi yang sudah dipesan. Ada yang menarik perhatian gw, dari kursi yang dipesan, rata-rata adalah 2 kursi berdekatan dan tersebar di setiap pojok ruangan bagian atas. Pola sebaran seperti ini dalam dunia statistik tidak bisa disebut sebagai pola acak, tetapi memang ada persamaan deret matematiknya. Memecahkan persamaan itu sayangnya bukan keahlian gw yang nilai matematikanya paling rendah di antara mata pelajaran lain yang di-UN-kan.

Gw orangnya anti-mainstream, jadi gw pilih kursi yang menjauh dari kursi-kursi yang sudah diisi itu. Biar dapet nuansa seram juga sih, di tengah kegelapan bioskop gw sendirian, tak ada orang di sekitar, hanya ada suara-suara asing dari filmnya. Membayangkannya aja sudah seram tuh kayanya. Film yang diperkirakan ga bakal seram setidaknya diharapkan bisa bertambah 1 tingkat kadar keseramannya.

Sejam berlalu, setelah nyampah di sana-sini, shalat dhuhur supaya ada harapan dosa gw ada yang dimaafkan, masuklah gw ke bioskop studio 6. Ada sedikit kabar baik begitu gw masuk, ternyata penontonnya sudah nambah, yah lebihlah 10 orang mah. Di sebelah gw juga ternyata ada yang nempatin 1 orang, cowok, tidak sesuai harapan memang. Salah 2 orang yang duduk di pojok ternyata lelaki dan perempuan. Berusaha berpikir positif, gw anggap aja mereka itu kakak beradik, entah mana yang kakak mana yang adik, tidak ada data yang cukup untuk menyimpulkannya.

Tak lama kemudian lampu mulai dipadamkan, padahal gw baru aja nyuruh hape gw diam biar ga berisik saat film diputar. Suasana mulai kelam, cowok di sebelah gw mulai fokus nonton, termasuk gw walaupun mata masih nengok ke sana ke mari, tapi gw fokus nonton trailer film-film yang masih kamingsun. Iklan berbau kampanye ajakan nonton film Indonesia menutup rangkaian trailer-trailer tersebut.

Film pun selesai, gw dan penonton lain beranjak keluar bioskop. Ya, gw ga bahas filmnya di sini, karena gw menghargai mereka yang anti-spoiler. Jadi, sampai sini dulu gw bagi-bagi cerita nonton film horornya. Wassalamu’alaikum

Comments
  1. endyunita says:

    Hahaha…jauh-jauh baca, gak ada bahasan filmnya sedikit pun. Saya mah kebalikannya, spoiler abiss. Jalan-jalan yaks ke blog saya yang baru punya 2 posts.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s