MATA MOSES, KISAH NABIYULLAH DALAM KEMASAN FIKSI

Posted: June 1, 2015 in Agama, Resensi Buku
Tags: , ,

DSC_0874Judul                   : Mata Moses

Penulis               : Wiwid Prasetyo a.k.a Prasmoedya Tohari

Penerbit            : Safirah

Distributor       : Transmedia

Tahun                  : 2012

Tebal                    : 471 Halaman

Mesir, sebuah negeri dengan sejarah peradaban panjang yang tergambar nyata dalam sisa-sisa kebudayaannya yang megah. Namun sebenarnya, kemegahan itu hanya milik para penguasa dan orang-orang terdekatnya saja. Peninggalan kebudayaan itu sendiri menjadi saksi bisu perbudakan dan kerja paksa demi memenuhi ambisi penguasa Mesir saat itu, yang dikenal dengan gelar Fir’aun.

Ramses merupakan salah satu Fir’aun yang paling gemilang kekuasaan dan kekayaannya. Dengan masa pemerintahan yang mencapai setengah abad, nyaris tidak ada aral rintangan berarti yang ia temui semasa kepemimpinannya. Hal itulah yang kemudian membuatnya lupa diri, puncaknya ialah saat ia menasbihkan dirinya sebagai Tuhan bagi rakyat Mesir. Oleh karena dirinya adalah Tuhan, maka semua keputusannya mutlak harus ditaati sedzalim apapun keputusannya itu. Siapa yang mengkritik atau keberatan akan dianggap sebagai pemberontak kerajaan dan dikenai hukuman berat bahkan tidak jarang berujung pada hukuman mati.

Namun, Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah lalai. Diawali dari sebuah mimpi, Ramses mendapat ramalan bahwa tahtanya akan direnggut dari lelaki yang bukan berasal dari keturunannya. Rasa takut membuatnya mengambil keputusan yang paling zhalim, yaitu membunuh semua anak laki-laki yang baru lahir dari kalangan Suku Mesir maupun Bani Israil.

Dalam kondisi mencekam akibat kebijakan yang tidak bijak tersebut, seorang bayi laki-laki dari Bani Israil justru diangkat sebagai anak asuh oleh permaisuri Ramses. Bayi yang ditemukan dalam peti yang hanyut di Sungai Nil tersebut merupakan benih dari pasangan kaum Bani Israil yang beriman. Mereka memegang teguh agama Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf yang hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah swt dan tidak menyekutukannya dengan apapun, termasuk Ramses dan Tuhan lain seperti Amon maupun Ra. Kedua orangtua bayi tersebut ialah Amram dan Yokhebed. Allah ta’ala telah mengilhamkan kepada ibu sang bayi untuk menghanyutkan anaknya ke Sungai Nil agar tidak menjadi korban Ramses berikutnya.

Di bawah pengasuhan istana Fir’aun, Ramses bukannya tidak menyadari adanya anak laki-laki yang tidak jelas asal usulnya di dalam istananya. Ia membiarkannya karena para perempuan terutama kedua permaisurinya sangat menyayanginya. Terlebih, saat itu Ramses belum memiliki keturunan sehingga ada harapan bahwa Moses bisa menjadi pancingan kehamilan permaisurinya. Anggapan Ramses tersebut membuat Moses tidak pernah dilibatkan dalam urusan kerajaan maupun keagamaan. Akibatnya, Moses tidak terpengaruh sama sekali dengan perbuatan syirik Ramses dan bangsa Mesir. Ditambah penjelasan yang diperoleh Moses dari salah satu permaisurinya yang diam-diam beriman kepada Allah swt.

Ketika beranjak dewasa, Moses dipekerjakan ayah angkatnya sebagai pengawas para budak. Saat itulah ia menyadari betapa dzalim pemerintahan Ramses, namun kedudukannya yang hanya anak angkat membatasi pengaruhnya kala memperingatkan Ramses dan pengikutnya. Moses pun memilih pergi dan kembali ke ibu kandungnya lalu membela kaumnya yang ditindas oleh Ramses. Ironis, tidak semua kaumnya menerima ajakan Moses untuk kembali ke agama tauhid dan memilih tetap mengikuti ajaran Ramses walaupun sudah ditindas sedemikian rupa. Bahkan, saat Moses telah diangkat menjadi Rasul pun sikap kaumnya tidak banyak berubah, hanya beberapa pemuda dan kerabat dekatnya saja yang mempercayai dan mengikuti seruan Moses.

Moses atau Musa as merupakan nabi dan rasul Allah yang diutus kepada Bani Israil dan Fir’aun. Kisah perjuangannya dalam menegakkan agama tauhid di bumi Mesir dituliskan dalam novel berjudul Mata Moses yang diceritakan dengan nuansa fiksi. Sumber ceritanya sendiri berasal dari Alquran dan kitab-kitab lain serta tafsiran dari para ulama yang kemudian diceritakan kembali dengan bahasa penulis. Referensi tersebut dicantumkan pada catatan kaki novel ini sehingga pembaca bisa mengecek keabsahan referensi tersebut.

Cerita di novel ini diawali dari peradaban Mesir jauh sebelum Ramses berkuasa yang menjadi latar belakang kebencian Ramses kepada kaum Bani Israil. Memasuki inti cerita ditandai dari penasbihan Ramses sebagai Tuhan bagi rakyat Mesir hingga klimaksnya terjadi pada saat Moses menunjukkan buktinya sebagai utusan Allah berupa mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular dan terbelahnya Laut Merah. Perpindahan kaum Bani Israil menuju tanah Palestina menjadi penutup cerita yang sedikit berkaitan dengan isu konflik Israel-Palestina selama ini.

Dibanding sirah nabawiyyah murni, kisah dalam kemasan fiksi ini memang lebih mudah ditangkap dan dicerna dengan segmen pembaca yang lebih luas. Kronologis cerita dari Nabi Musa as dinarasikan secara urutan waktu namun dialog yang ada di dalamnya hampir tidak ada perubahan dari sumber aslinya. Ini merupakan kelebihan dari novel sejarah terutama sejarah para nabi dan rasul yang membuat kisahnya mudah dipahami tanpa mengubah sejarah yang ada. Novel yang serupa pun mempunyai pola yang sama, misalnya novel berjudul Ayyub Dan Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya karya Muhammad Makhdlori.

Seperti halnya buku dengan genre sama yang berjudul Muhammad karya Martin Lings, ada beberapa dialog yang tidak diangkat dalam cerita. Dalam novel ini, dialog tersebut ialah kala Fir’aun meminta tangan kanannya, Haman, untuk membuat bangunan tinggi agar dapat melihat Tuhannya Nabi Musa as dan Nabi Harun as. Selain itu, ada kerancuan juga pada alur novelnya yang pada bagian pembuka seperti menyiratkan alur flash back dari sebuah penemuan. Ternyata bagian kisah bagian pembuka tersebut benar-benar hanya pembuka cerita tanpa ada kaitannya dengan kisah dalam novelnya sendiri. Namun, hal itu tidak mengurangi keteguhan dan kesabaran Nabi Musa as dan Nabi Harun as sebagai utusan Allah swt untuk mengajak umatnya menuju kebenaran yang sesungguhnya.

Iqbal E. Putra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s