MISTERI KEBERADAAN MANUSIA PURBA

Posted: January 11, 2015 in Geologi Sejarah, Resensi Buku
Tags: , ,

Judul: Gerbang TrinilDSC_0787-1
Penulis: Riawani Elyta & Syila Fatar
Penerbit: Moka Media
Distributor: Kawah Media
Tahun: 2014
Tebal: 293 Halaman
ISBN: 979-795-874-4

Areta adalah gadis SMA biasa yang terobsesi terhadap paleoantropologi. Percakapannya dengan anak salah satu penemu manusia purba membawanya berkunjung ke Trinil, tempat ditemukannya Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois. Namun, kunjungannya ke Trinil berubah menjadi petualangan besar yang kelak berpengaruh terhadap cara pandang dan gaya hidupnya selama ini. Siapa mengira jika manusia purba Pithecanthropus erectus yang dinyatakan telah punah ternyata masih hidup dan merencanakan sesuatu yang buruk demi merebut kembali bumi dari tangan manusia modern (Homo sapiens). Tanpa seorang teman pun yang mendukungnya, Areta pun berjuang menggagalkan niat mereka hingga para manusia purba itu kembali punah dari planet bumi.

Petualangan Areta dalam menguak kebenaran dibalik Pithecanthropus erectus menjadi inti cerita dari novel yang berjudul Gerbang Trinil ini. Sesuai dengan judulnya, latar cerita dalam novel ini memang terfokus di Trinil dan sebagian Surabaya. Dengan genre fiksi ilmiah, Riawani Elyta dan Syila Fatar mengangkat tema arkeologi khususnya fakta tentang manusia purba yang ditemukan di bantaran Sungai Bengawan Solo yang dipajang di Museum Trinil. Penemuan tersebut dibalut dengan jalinan kisah fiksi murni tanpa menyentuh ranah teori evolusi sedikitpun.

Dari judul dan temanya, sekilas jalan ceritanya akan mirip seperti film Tomb Rider ala Angelina Jolie. Apalagi tokoh utama dalam novel ini pun seorang perempuan dari keluarga yang berada seperti halnya Lara Croft. Bedanya, tidak ada perburuan harta karun dalam novel ini. Namun, alur ceritanya ternyata lebih sederhana dan sangat terfokus pada tokoh utama walau penulis bercerita dengan posisi sebagai orang ketiga. Tokoh pendamping yang diceritakan sejak awal cerita benar-benar hanya sebagai pendamping tanpa kontribusi berarti dalam petualangan Areta yang sesungguhnya. Manusia purba yang diceritakan pun terbatas pada daerah Trinil, walaupun tokoh yang terlibat dalam petualangan Areta berasal dari berbagai tempat.

Selain itu, penulis nampak terburu-buru dalam berpindah latar tempat. Umpan-umpan terkait misteri dari inti cerita yang dijalin sejak awal cerita menjadi tanpa arti. Sungguh disayangkan, benang merah antar tokoh yang sudah terjalin apik tiba-tiba terputus di tengah dan langsung lompat menuju konklusi di akhir cerita. Misalnya saja umpan akan adanya konspirasi pada penemuan manusia purba selama ini. Konspirasi ini dibiarkan menggantung begitu saja hingga akhir cerita dan tidak disinggung kembali walaupun menjelang klimaks umpan tersebut sempat muncul kembali.

Terlepas dari itu, novel ini cukup menarik untuk dibaca oleh segala umur. Bagi yang merasa awam terhadap dunia arkeologi maupun paleoantropologi tidak perlu khawatir. Sebab tidak ada istilah khusus dalam novel ini kecuali nama dari manusia purba itu sendiri. Bahasa Inggris dalam novel ini pun tidak sulit bahkan untuk diartikan per kata. Manusia purba dalam novel ini pun fasih berbahasa Indonesia kok. Namun, bagi pembaca yang senang berpikir dan menebak kelanjutan ceritanya, maka novel ini bukan bacaan yang tepat untuk Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s