MENAIKI PRAHU MENUJU NEGERI DI AWAN

Posted: January 10, 2014 in Geowisata

Dieng, sebuah dataran tinggi di antara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, merupakan sebuah kompleks vulkanik yang terdiri dari beberapa danau kawah yang sebagian di antaranya masih aktif. Kawah aktif tersebut kerap menyemburkan gas beracun yang sewaktu-waktu mengancam warga Dieng, seperti yang terjadi pada tahun 1979 saat Kawah Timbang mengeluarkan gas beracun yang memakan 149 korban jiwa.
Sebagai sebuah kompleks vulkanik, Dieng menyimpan potensi panas bumi (geotermal) yang cukup besar. Sumber daya tersebut kini telah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik yang telah menghasilkan listrik sebesar 60 MWe. Dari pembangkit inilah warga Dieng mendapat pasokanlistrik sehari-hari. Jaringan pipa-pipa pejal tampak melintang di dataran tinggi yang berelevasi sekitar 2000 meter di atas muka laut.
Selain danau kawah, keberadaan candi-candi di dataran tinggi ini juga membawa daya tarik tersendiri. Perpaduan alam pegunungan dan candi seolah membawa kita ke masa saat candi tersebut masih digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Candi-candi tersebut dikelilingi oleh rangkaian pegunungan yang sejatinya ialah dinding kaldera purba. Satu dari dinding kaldera tersebut ialah Gunung Prahu.
Gunung Prahu merupakan salah satu puncak favorit para pendaki gunung yang datang ke tempat yang terkenal akan anak gimbalnya ini. Gunung yang memanjang ke arah barat-timur ini menyajikan pemandangan padang savana dengan hamparan bunga Daisy yang cukup luas. Eksotisme matahari terbit yang berpadu dengan kerucut kembar Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing menjadi daya tarik utama gunung ini. Selain itu, langit yang masih bebas dari polusi cahaya menyajikan jutaan bintang termasuk jalur putih susu (Milky Way) yang merupakan inti dari galaksi Bimasakti.
Konsolidasi Area
Terminal Wonosobo, pukul 05:00 WIB. Bis malam yang masuk Wonosobo umumnya tiba sekitar jam itu. Fasilitas di terminal ini terbilang standar, setidaknya 2 tempat ternyaman bagi pendatang, yaitu mushalla dan toilet tersedia dalam kondisi yang lumayan baik. Di sini merupakan tempat yang pas untuk berkumpul dan membersihkan diri setelah semalaman penuh berada di atas bis.
Kendaraan menuju Dieng bisa ditemukan dengan mudah di sini selain di alun-alun Kota Wonosobo. Untuk menuju Dieng bisa menggunakan minibus yang langsung menuju Dieng. Namun, ada juga yang menyewa mobil pick up seperti peserta open trip Gunung Prahu beberapa waktu lalu. Memang, dengan menaiki kendaraan bak terbuka seperti itu, kita bisa lebih leluasa menikmati pemandangan dan merasakan udara segar pegunungan.
1393529_532084783534754_314831083_n
Telaga Menjer, Telaga Warna, Telaga Pengilon
Dari Kota Wonosobo, tidak ada ruginya untuk singgah sejenak di Telaga Menjer. Sepanjang jalan menuju telaga ini dihiasi oleh pipa pesat sepanjang 4 km yang menyalurkan air dari telaga ke turbin. Telaga ini memang dimanfaatkan sebagai PLTA yang mampu menghasilkan listrik sebesar 26,4 MW.
Telaga Menjer merupakan telaga alami yang dibendung di tempat keluarnya air telaga. Airnya berwarna kehijauan, dikelilingi oleh tebing terjal dan hijaunya hutan yang masih nampak asri. Berdasarkan morfologinya yang terjal dan lokasinya yang berada di daerah vulkanik, telaga ini mungkin berupa danau kawah atau mungkin juga sebuah maar.
Dari Telaga Menjer, perjalanan menuju Dieng melalui jalan kecil yang berkelok. Tebing curam, di beberapa tempat bahkan sudah longsor menyiratkan akan rentannya lereng di sepanjang jalan ini. Menjelang pintu masuk kawasan plato, udara mulai terasa dingin, kabut pun sering turun di sepanjang jalan ini. Aroma pupuk yang menyengat terus menyapa tiap kali melewati area pertanian warga di pinggir jalan. Bagi yang menumpang mobil bak terbuka, bersiaplah untuk menahan napas jika tidak tahan dengan baunya.
Setelah melalui gapura selamat datang dan menikmati jalan yang berkelok-kelok tersebut, Dataran Tinggi (Plato) Dieng pun mulai terlihat. Elevasi GPS menunjukkan angka 2022 meter di atas muka laut saat tiba di kawasan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Kedua telaga ini merupakan danau kawah yang sudah tidak menunjukkan aktifitas vulkanisme lagi. Kondisi lingkungan sekitar yang mulai gundul membuat danau ini semakin mendangkal.
Telaga warna dikenal wisatawan lewat perpaduan warna biru-hijau airnya. Warna tersebut mungkin berasal dari refleksi alam sekitarnya yang tertangkap oleh air danau. Jika kabut tebal turun, warna airnya pun berubah menjadi putih. Kabut tebal ini juga membatasi jarak pandang hingga tebing-tebing yang membatasi telaga tersebut tidak terlihat.
Di satu sisi, tebalnya kabut menghalangi keindahan Telaga Warna secara utuh. Di sisi lain, terbatasnya jarak pandang tersebut menimbulkan nuansa sunyi dan mistis layaknya berada di pedalaman gunung. Seolah-olah sisi seberang telaga berada di tempat yang jauh dan tidak kasat mata. Nuansa ini lebih terasa saat berada di Telaga Pengilon yang terletak tepat di timur Telaga Warna. Dataran ilalang di tepian danau memberi kesan bahwa danau ini luas kendati danau ini tidak lebih luas dibanding Telaga Warna.

Pendakian Gunung Prahu
Mengunjungi Dieng tidak lengkap rasanya jika tidak singgah di Kompleks Candi Arjuna. Ikon wisata Plato Dieng ini menyajikan panorama candi yang dikelilingi gunung. Pusat informasi wisata Dieng pun berada di sini, lengkap dengan warung yang menyajikan jajanan dan oleh-oleh khas Dieng seperti buah carica, kentang goreng dan purwaceng.
Di kompleks candi ini pun tersedia wisma yang bisa dijadikan tempat mempersiapkan perbekalan sebelum mendaki Gunung Prahu melalui Desa Dieng Kulon. Jalur pendakian dari desa ini cukup bersahabat namun jarak tempuhnya cukup lama. Jalur lain di Desa Jojogan, medannya cukup curam namun memiliki jarak tempuh yang relatif lebih singkat. Untuk mendaki biasanya dipilih lewat Dieng Kulon lalu turun melalui Desa Jojogan.
Jalur Dieng Kulon terbilang mudah dilalui bahkan oleh mereka yang belum pernah mendaki gunung sekalipun. Dengan catatan, hujan tidak turun di hari itu. Jalur ini diawali dari gang kecil di dekat pertigaan menuju Kompleks Candi Arjuna. Gang ini sudah dilapisi adonan semen dan cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda dua. Dari jalan ini, kita akan berbelok menuju jalan tanah berbatu, memasuki lahan perkebunan hingga mencapai hutan pinus.
Di hutan pinus, kabut bisa turun sewaktu-waktu. Suasana dan hawa dingin pegunungan mulai pun terasa. Dari sini jalur pendakian mulai bertambah curam, tapi masih relatif mudah dilalui. Melewati bagian yang agak curam ini, tidak disarankan untuk beristirahat terlalu lama. Istirahat sejenak kiranya sudah cukup menghilangkan keringat yang bercucuran. Dengan udara dingin pegunungan, beristirahat terlalu lama dikhawatirkan akan membuat kita dilanda rasa malas dan lebih cepat lelah untuk melanjutkan perjalanan.
Pendakian tercuram di jalur ini ialah sesaat sebelum mencapai area tower. Tidak panjang, namun cukup menguras tenaga dan bermandi keringat. Tapi rasa lelah tersebut terbayar saat mencapai puncak tempat area tower berada. Puncak dengan elevasi 2561 meter di atas muka laut ini tidak seberapa luas namun cukup terbuka untuk memandang ke segala arah sambil beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Sisi selatan tempat ini menyuguhkan panorama Plato Dieng termasuk Telaga Warna, Telaga Pengilon serta Kompleks Candi Arjuna, awal pendakian dari jalur ini. Terlihat pula uap-uap putih yang mengepul dari lokasi stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Geotermal (PLTG) yang ada di Plato Dieng. Dari pembangkit inilah warga Dieng mendapat pasokan listrik sepanjang tahunnya.
Jika cuaca cerah dan tak berkabut, garis pantai utara Jawa (pantura) dapat terlihat dari tempat ini. Di puncak ini juga terdapat patok batas antara Wonosobo dan Kendal. Jadi, dengan berdiri di sini kita seolah berada di 2 kabupaten sekaligus.
Sebelum meninggalkan tempat tower repeater radio komunikasi milik PT. Angkawidjaja Bina Putera berdiri ini, jangan lewatkan siluet bukit dan tower dengan latar hamparan awan putih yang terbentuk saat matahari mulai terbenam. Untuk mendapatkan momen ini, sebaiknya pendakian dilakukan antara jam 2 atau jam 3 siang. Dari sini jalurnya sudah datar dan terbuka sehingga tidak perlu khawatir kendati ditempuh di malam hari.
Padang Savana dan Bukit Sikunir
Setelah melalui punggungan pemisah air (water divide) yang menghubungkan bukit bertower dengan bukit di sebelahnya, jalur ini akan memasuki padang savana berhiaskan hamparan bunga daisy. Vegetasi savana seperti alang-alang dan tumbuhan perdu tampak menghijau sejauh mata memandang. Pohon-pohon tinggi tumbuh secara setempat dan terpisah. Di siang hari, sinar matahari terasa menyengat saat berada di puncak Gunung Prahu ini walaupun elevasinya tidak kurang dari 2500 meter di atas muka laut. Bandingkan dengan Bandung yang berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas muka laut.
Padang savana berbukit inilah yang menjadi lokasi favorit para pendaki untuk mendirikan kemah. Tempatnya luas, datar dan terbuka, namun spot yang paling ramai ialah di sekitar Bukit Sikunir. Pemandangan dari bukit berketinggian 2572 meter di atas laut itu memang fotogenik. Dengan latar belakang hamparan awan putih, tenda-tenda yang berada di bukit memberi kesan seperti sedang berada di sebuah negeri di awan. Perpaduan antara bunga daisy dan alang-alang savana pun terlihat lebih luas dari bukit yang berada di ujung timur Gunung Prahu ini. Dari sini, si kembar Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing tampak serasi berdiri kokoh.
Bermalam di padang savana seperti ini membuat langit tampak jelas tanpa halangan. Jika cuaca cerah tak berawan, akan tampak milyaran bintang menghias langit malam. Tanpa tercemar polusi cahaya dan udara, langit malam hari memang begitu indah. Kumpulan bintang membentuk rasi tertentu bagi mereka yang mampu membacanya. Menjelang tengah malam, kumpulan bintang yang merupakan inti galaksi akan terlihat melintang membentuk jalur putih di langit. Dari jalur putih inilah nama Milky Way Galaxy berasal yang diterjemahkan menjadi Galaksi Bimasakti dalam Bahasa Indonesia.
Tatkala fajar mulai menyingsing, Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing di arah timur yang menjadi landmark Wonosobo pun makin jelas terlihat. Dua gunung kembar itu tampak menjulang serasi di antara hamparan awan pagi di kakinya. Gunung yang berada di antara Temanggung dan Wonosobo tersebut memang memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Gunung Sundoro (3155 m) tercatat pernah meletus di tahun 1806 dan 1970 sedangkan Gunung Sumbing (3340 m) sejauh ini tidak tercatat pernah meletus. Di beberapa tempat, material letusan dari Gunung Sundoro ini ditambang sebagai bahan bangunan. Sisa-sisa penggaliannya bisa dilihat dari Jalan Raya Wonosobo-Dieng.
Selain si kembar tersebut, dari Bukit Sikunir ini juga terlihat kerucut gunung lain, yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Gunung Ungaran yang menyembul di antara kabut pagi.
Perjalanan Turun
Setelah puas menikmati pesona Gunung Prahu dengan bukit savananya, turunlah lewat jalur yang berbeda. Dari Bukit Sikunir, ikuti jalan setapak menuju lembah dan berakhir di Desa Jojogan. Medan di jalur ini terbilang berat, walaupun jaraknya hingga ke Desa Jojogan relatif dekat jika dibanding dengan jalur lewat Dieng Kulon.
Sepanjang lebih kurang 100 meter dari puncak ke bawah, sama sekali tak ada jalur landai. Jalur berliku dengan jurang di satu sisi dan tebing terjal di sisi satunya menghiasi jalur yang umumnya ditempuh untuk turun gunung ini. Dengan kemiringan lebih dari 60 derajat, jalur ini sebenarnya rawan longsor jika musim hujan. Semak belukar yang tumbuh di atas tanah hasil pelapukan endapan gunungapi tidak cukup kuat mengikat tanah tersebut hingga ke batuan dasarnya.
Di samping potensi bahaya tersebut, jalur ini menyuguhkan panorama Plato Dieng yang lebih kentara dibanding jalur saat mendaki. Tanpa adanya tumbuhan yang menghalangi, praktis panorama Dieng bisa dinikmati secara keseluruhan. Namun, jangan sampai pemandangan tersebut melenakan kewaspadaan, karena terpeleset sedikit, fatal akibatnya.
Jalur terjal menurun tersebut berakhir di hutan pinus dan terus melandai hingga memasuki perkebunan penduduk. Jalan setapak yang hanya satu-satunya ini berujung pada jalan desa, tepat di depan pangkalan ojek. Dari sini, jalannya cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda empat. Manfaatkanlah jasa tukang ojek untuk menghemat tenaga karena jaraknya masih lumayan jauh dari jalan raya.
Jalan berbatu ini akan melewati permukiman warga sebelum berakhir di jalan raya. Untuk mempersingkat jarak, ambil jalan setapak yang akan melintasi rumah-rumah yang saling berhimpitan. Jika beruntung, di sini kita bisa berjumpa dengan salah seorang anak gimbal di desa ini.
Tiba di jalan raya, ada 2 alternatif yang bisa diambil. Langsung kembali ke Wonosobo dengan menyetop bis menuju Wonosobo atau kembali ke Dieng untuk mencari buah tangan. Tetapi jangan lupa untuk membuang sampah yang dibawa dari puncak terlebih dulu. Jangan sampai kita meninggalkan sampah apapun di puncak gunung, sebagaimana sebuah pepatah pendaki gunung yang menyebutkan:
“Jangan tinggalkan apapun di puncak gunung selain foto dan kesan dalam hati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s