HAKIKAT SABAR DARI SANG PENYABAR

Posted: January 6, 2014 in Agama, Resensi Buku
Tags: , ,

P1070571Judul                     : Ayyub & Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya

Penulis                 : Muhammad Makhdlori

Penerbit              : Safirah

Tahun                   : 2012

Tebal                     : 262 halaman

Nabi Ayyub as, salah seorang utusan Allah swt untuk Bani Israil dan Kaum Amoria (Aramin) di dataran Hauran, Syam. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1500 SM. Kisahnya memang tidak sepopuler Nabi Adam as, Nabi Musa as, Nabi Ibrahim as, Nabi Nuh as, Nabi Isa as, apalagi dengan kisah nabi terakhir Rasulullah saw. Di dalam Alquran pun kisah Nabi Ayyub hanya disebutkan empat kali. Namun, bukan berarti hikmah yang terkandung di dalamnya berjumlah sedikit. Dan hikmah utama yang terdapat dalam kisah Nabi Ayyub as ialah mengenai kesabaran tanpa batas dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa.

Dalam sejarah para nabi-nabi terdahulu, disebutkan bahwa para utusan Tuhan tersebut berasal dari berbagai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari keluarga miskin seperti Nabi Isa as, namun ada juga yang berasal dari keluarga kaya nan terpandang di kalangan kaumnya seperti Nabi Sulaiman as. Nabi Ayyub as sendiri berasal dari keluarga kaya raya di lingkungan tempat tinggalnya. Ternaknya berjumlah ribuan, perkebunannya ratusan hektar luasnya, dengan jumlah pekerja yang banyak menjadikan Nabi Ayyub sebagai orang terpandang di kalangan kaumnya.

Sifatnya yang dermawan, tegas, dan santun semakin membuat dirinya dielu-elukan oleh sahabat dan orang-orang di sekitarnya, bahkan hingga para malaikat pun turut memujinya. Ihwal inilah yang membuat geram bangsa iblis, sehingga menyusun siasat dan berbagai fitnah tentang ketakwaan Nabi Ayyub as yang hanya sebagai alasan agar harta yang dikaruniakan kepadanya tidak lenyap. Allah swt pun kemudian mengujinya dengan mengambil sementara harta dan keluarganya. Tidak hanya itu, Nabi Ayyub pun diuji dengan penyakit aneh yang membuat kulitnya melepuh mengeluarkan nanah dan menimbulkan bau yang sangat menyengat. Penyakit aneh tersebut semakin lama semakin mengganas dan mulai muncul ulat-ulat di lubang lukanya yang kemudian menggerogoti kulit dan daging Nabi Ayyub as.

Akibat cobaan tersebut, semua keluarga, sahabat dan kaumnya mengusir beliau dari tempat tinggalnya, kecuali salah seorang istrinya yang bernama Siti Rahmah. Berdua dengan istrinya, Nabi Ayyub as yang terkulai tak berdaya menjalani ujian dengan penuh sabar dan tawakal. Iblis yang mengetahui bahwa keimanan Nabi Ayyub dan istrinya tidak juga tergoyahkan terus berupaya menyesatkan kedua insani pilihan tersebut. Berbagai kesulitan hidup, pelecehan dari penduduk sekitar, serta perjuangan Siti Rahmah dalam merawat suaminya dituangkan dalam novel berjudul “Ayyub & Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya”.

Diwarnai dengan dialog dan beberapa adegan fiktif, novel ini tampak begitu mengalir tanpa membiaskan fakta-fakta sejarah yang berasal dari berbagai sumber. Nasihat-nasihat yang tertuang dalam rangkaian kata-kata motivatif kiranya mampu menjadikan novel ini sarat makna tanpa kesan menggurui ataupun unjuk ketakwaan. Sikap-sikap kerabat terdekat Sang Nabi yang semula memuji-muji secara berlebihan namun menjadi menyumpah serapahi bahkan mengutuk, merupakan analogi yang pas dengan realita yang ada di masyarakat saat ini.

Dalam kisah yang menceritakan Nabi Ayyub dalam menikmati penderitaannya, banyak hikmah yang dapat dipetik. Kesabaran Ayyub as sebagai manusia pilihan menjadi teladan agar seberat apapun ujian yang ditempuh, kita harus yakin bahwa Allah swt tidak akan meninggalkan hamba yang selalu mengingat-Nya. Sementara sikap yang ditunjukkan oleh perjuangan Siti Rahmah mengajarkan bahwa pasrah saja tidak cukup untuk mengarungi kehidupan, tetapi juga harus diimbangi dengan usaha tiada henti untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa mengabaikan larangan-Nya.

Terlepas dari itu, sang penulis nampak terlalu berhati-hati dalam mengembangkan cerita. Berbagai konflik yang sebenarnya bisa lebih didramatisir, nampak kurang tereksplorasi potensinya sehingga penyelesaiannya pun terasa hambar. Misalnya seperti saat Nabi Ayyub dan istrinya diusir oleh kaum kerabatnya sendiri. Tidak diceritakan ke mana mereka pergi setelah diusir dan bagaimana tanggapan dari orang-orang yang telah mengusir mereka selanjutnya. Begitupun ketika penyakit yang diderita Nabi Ayyub sembuh dan kekayaannya telah dikembalikan yang menjadi bagian dari penutup kisah. Padahal sebagian pembaca mungkin ingin mengetahui bagaimana respon penduduk yang selalu menyebutnya sebagai orang yang dikutuk Tuhan, setelah Nabi Ayyub kembali ke masyarakat dalam keadaan pulih dan banyak harta.

Sebagai sebuah novel bergenre fiksi sejarah, alur kisah yang dituangkan penulis relatif mudah dipahami. Tanpa adanya unsur kejutan dan cerita yang cenderung mudah ditebak, penulis mencoba menyentuh emosi pembaca melalui penggambaran kondisi Nabi Ayyub dan istrinya yang begitu memprihatinkan. Bagi mereka yang sudah mengetahui kisah Nabi Ayyub sebelumnya, novel ini tidak akan memberikan pengetahuan yang lebih dalam karena tidak ada tambahan signifikan dari yang dituangkan dalam kitab suci Alquran. Namun, kesabaran Nabi Ayyub dalam menghadapi ujian dari Allah swt yang terasa begitu nyata dalam novel ini, menjadi nilai tambah yang membuat novel ini tetap menarik untuk dibaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s