JEJAK PARA PEMETA GEOLOGI NUSANTARA

Posted: October 16, 2013 in Geologi Dasar, Geologi Sejarah, Geowisata, Jalan Terang, Resensi Buku
Tags: , ,

ImageJudul                     : Suka Duka Penjelajah Geologi Di Indonesia

Penyunting         : H. Rab Sukamto Kartomihardjo, Nana  Suwarna, T. Bachtiar

Penerbit              : Badan Geologi KESDM

Tahun terbit       : 2011

Tebal                     : 162 halaman+vii

ISBN                      : 978-602-9105-12-4

Peta geologi merupakan peta yang menyajikan berbagai aspek geologi di suatu daerah seperti penyebaran, jenis dan umur batuan di daerah tersebut, struktur geologi seperti lipatan dan sesar/patahan, potensi Sumber Daya Alam, serta sejarah geologi daerah tersebut. Peta ini banyak dipergunakan dalam bidang industri pertambangan, teknik sipil, dan perencanaan pembangunan suatu daerah.

Di Indonesia, peta geologi dalam berbagai skala sudah diterbitkan oleh Badan Geologi di bawah Kementrian Energi dan Sumber Daya Alam (KESDM). Proyek Pemetaan Geologi Bersistem di Indonesia dimulai sejak tahun 1969 dan selesai pada tahun 1994 dengan melibatkan para ahli geologi senior maupun yunior, pribumi maupun tenaga ahli impor yang diperbantukan. Berbagai kisah para pemeta dalam menjelajah pedalaman Indonesia dari Sabang sampai Merauke selama 25 tahun demi mengumpulkan data geologi dan menyajikannya dalam sebuah peta, terangkum dalam buku yang berjudul “Suka Duka Penjelajah Geologi Di Indonesia” ini.

Buku dengan tagline “Kisah Para Pemeta Geologi” ini disusun oleh Badan Geologi untuk menghargai jerih payah para pemeta geologi yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran dan waktunya agar data geologi di nusantara dapat terkumpul dalam suatu peta geologi bersistem. Penulis yang terlibat dalam buku ini adalah para pemeta itu sendiri sehingga isi yang diceritakan betul-betul murni berupa pengalaman pribadi yang dialami para pemeta geologi.

Pemetaan dilakukan melalui lintasan-lintasan geologi yang umumnya menyusuri sungai dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Tidak jarang pula lintasan geologi tersebut membelah pulau dari hilir sungai menyambung menuju hilir sungai lain dan berakhir di sisi lain pulau. Medan yang berat, akses yang sulit, minimnya sarana komunikasi, situasi keamanan yang rawan, serta perjumpaan dengan suku pedalaman yang masih primitif menjadi tantangan terbesar dalam mengumpulkan data geologi di seluruh Indonesia yang kala itu tentu sebagian besar masih berupa hutan belantara.

Sulitnya medan dan kondisi alam yang tak menentu selama pemetaan menjadi masalah utama yang paling sering diceritakan dalam buku ini. Misalnya saja kisah pemetaan di Pulau Taliabu, Kep. Banggai-Sula, Provinsi Sulawesi Tengah yang membuat para pemeta terjebak hujan selama 3 hari di pedalaman hutan. Pengalaman menghadapi kondisi medan yang lebih berat dari perkiraan juga dialami tim pemeta saat melakukan lintasan geologi di Danau Lindu. Akibatnya, tim kemalaman di lapangan dan terlambat tiba di tempat penjemputan.

Masalah lain yang sering ditemui ialah keberadaan suku pedalaman yang masih primitif. Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa, memiliki bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Namun, masih banyak yang sama sekali tidak mengerti Bahasa Indonesia. Itulah yang sebenarnya menyulitkan para pemeta geologi saat menjalankan misinya. Penduduk setempat yang direkrut sebagai tenaga harian pun terkadang kesulitan jika menghadapi suku-suku yang hidup di pedalaman hutan tersebut. Seperti pengalaman yang diceritakan oleh salah satu pemeta saat melakukan lintasan geologi di Irian Jaya atau sekarang bernama Papua.

Tetapi, dibalik hambatan dan rintangan yang harus dihadapi, terselip juga pengalaman yang berharga dan menyenangkan. Seperti halnya pengalaman saat bantu mengobati salah satu warga Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi yang diakhiri dengan penganugerahan gelar Tumenggung Anak Dalam oleh Kepala Suku Anak Dalam tersebut. Pengalaman menyenangkan pun dirasakan oleh slaah seorang pemeta saat melakukan lintasan geologi dari Ujung Pandang (sekarang Makassar) ke arah Malino. Di lintasan ini, tim pemeta disangka pejabat Bupati oleh penduduk setempat sehingga mereka mendapat perlakuan lebih dari penduduk setempat.

Berbagai pengalaman tersebut disusun per bab berdasarkan orang yang menulisnya. Bisa dibilang, buku ini merupakan cerita para pemeta yang dikumpulkan dalam satu buku. Sehingga antara bab yang satu dengan yang lainnya hampir tidak berkesinambungan atau berdiri sendiri. Padahal di antara para pemeta tersebut ada yang tergabung dalam satu grup besar yang kemudian terbagi menjadi beberapa lintasan geologi dalam 1 pulau. Jadi timbul apa yang saya sebut deja vu pembaca, yaitu kisah yang sama atau mirip diceritakan beberapa kali pada bab yang terpisah. Seperti misalnya pemetaan di lintasan Pulau Taliabu yang diceritakan lebih dari satu kali pada bab yang berbeda kendati tahun lintasan pemetaan di pulau tersebut sama persis.

Kendati demikian, pengalaman para pemeta yang dituangkan dalam buku ini, sangat pantas dibaca oleh para generasi muda terutama yang berkecimpung dalam dunia geologi. Isi buku yang berwarna dengan kualitas kertas yang baik memudahkan para pembaca dalam memahami isi cerita dan foto yang ditampilkan dalam buku. Dalam setiap cerita, ditampilkan pula peta lintasan geologi tersebut dilakukan sehingga pembaca yang belum terlalu mengenal lokasi tersebut dapat dengan mudah membayangkan betapa melelahkannya lintasan tersebut untuk ditempuh.

Semangat para pemeta demi menjalankan misi negara kendati dihadang berbagai rintangan kondisi alam maupun kondisi sosial patut dicontoh oleh para calon ahli geologi. Betapa beruntungnya generasi penerus saat ini yang ditunjang oleh kemajuan teknologi dan telekomunikasi yang banyak membantu di lapangan dibandingkan dengan para senior mereka saat melakukan pemetaan dulu. Jerih payah para pemeta pun memudahkan para penerus mereka dengan peta geologi bersistem yang telah mereka susun selama 25 tahun. Sehingga generasi penerus mereka kini telah memiliki pedoman dasar dalam melakukan pemetaan yang lebih detail.

Comments
  1. Ahmad N says:

    Mohon info, dimana bisa mendapatkan buku ini?terimakasih

  2. Ahmad N says:

    ada CP pihak badan geologi bandung mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s