WARISAN KARUHUN SUNDA, WANGSIT SILIWANGI

Posted: May 8, 2013 in Resensi Buku
Tags: , ,

Judul: Wangsit SiliwangiImage

Penulis: E. Rokajat Asura

Penerbit: Edelweiss

Distributor: Mizan Media Utama

Tahun: 2009

Tebal:  444 Halaman

ISBN: 978-602-8672-00-9

Cirebon semakin mandiri sementara Keraton Sri Bima mulai mencari putra mahkota baru setelah Prabu Anom Walangsungsang atau dikenal juga dengan nama Kian Santang atau Pangeran Cakrabuana pergi meninggalkan keraton dan mendirikan pedukuhan Cirebon. Prabu Anom Surawisesa, putra mahkota dari Ratu Kentring Manik Mayang Sunda pun mulai ditempa..!

Berlatarkan beberapa tahun setelah cerita pada buku pertama yaitu Prabu Siliwangi, novel kedua yang berjudul Wangsit Siliwangi ini berkisah. Inti konflik utamanya masih sama, yaitu perbedaan keyakinan antara Sang Prabu dengan keturunannya sendiri yang menjadi pemimpin Cirebon. Perbedaan keyakinan tersebut lambat laun ternyata berpengaruh ke situasi politik antara Cirebon dan Pajajaran. Terlebih saat cucu Sang Prabu dari putrinya Nyimas Rarasantang, yang bernama Syarif Hidayatullah memproklamirkan Cirebon sebagai kesultanan sendiri. Dengan dukungan dari pihak Demak dan dewan wali, Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati tersebut mulai menyebarkan ajaran islam ke berbagai penjuru, khususnya daerah pesisir seperti Banten dan Karawang.

Sejatinya, susuhunan berdarah Mesir-Sunda tersebut tidak bermaksud mengkerdilkan daerah kekuasaan Pajajaran. Sebaliknya, ia justru berencana untuk mengubah pakem kepercayaan kerajaan  yang dianut kakeknya agar sesuai dengan syariat islam. Tetapi, oleh pihak keraton, hal tersebut dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan Pajajaran. Hingga mereka pun mengirimkan pasukan untuk memantau situasi Cirebon dan sebisa mungkin membawa Susuhunan Jati menghadap Sri Baduga Maharaja. Situasi pun memanas manakala pasukan tersebut justru dikalahkan dan akhirnya malah mengabdi ke Cirebon. Persiapan perang besar pun mulai digelar oleh Pajajaran untuk merebut kembali wibawa Pajajaran yang digerogoti Kesultanan Cirebon.

Tegang dan penuh prasangka. Itulah kesan pertama yang didapat saat membaca novel kedua dari trilogi Prabu Siliwangi ini. Penulis mampu menghadirkan peningkatan tensi alur cerita secara teratur hingga klimaks. Tidak ada persekongkolan rahasia dalam konflik yang terjadi, tetapi murni berupa prasangka dan praduga bahkan hampir tanpa perselisihan langsung antara kedua belah pihak. Perbedaan antara kerajaan yang sejarahnya telah turun temurun dengan kesultanan yang belum mapan nampak jelas saat masing-masing kubu menyelesaikan masalah. Misalnya saat persiapan pasukan, nampak bahwa Pajajaran lebih siap dalam menghadapi perang dibanding Cirebon yang pasukannya justru merupakan bantuan dari Demak.

Sayangnya, alur cerita yang sudah apik tersebut harus terganggu oleh kualitas penyuntingan yang kurang baik bahkan kekurangan tersebut cenderung bertambah banyak pada bagian akhir. Adanya tokoh baru yang muncul di bagian akhir namun justru menjadi penentu kebijakan Prabu Siliwangi pun terasa janggal. Rencana hasil perundingan yang alot bisa tiba-tiba berubah tepat pada saat rencana tersebut akan terlaksana hanya karena penglihatan seorang tokoh yang bahkan tidak pernah disinggung sebelumnya nampak seperti penyelesaian yang dipaksakan. Bagi sebagian pembaca, hal tersebut membuat citra tegas dan berwibawa khas seorang maharaja jatuh menjadi seorang raja yang plin-plan.

Kendati demikian, latar belakang wangsit Siliwangi yang menjadi warisan Sunda berhasil diceritakan dengan baik dalam buku ini. Pesan dan nasehat yang tersurat dan tersirat dalam cerita mudah diserap dan cukup relevan dengan kondisi saat ini. Semoga ke depannya, semakin banyak novel-novel yang menyajikan kearifan lokal yang telah ada turun-temurun. Karena bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s