PRABU SILIWANGI, TAHTA DAN RELIGI

Posted: February 19, 2013 in Resensi Buku
Tags: , ,

Judul: Prabu SiliwangiImage

Penulis: E. Rokajat Asura

Penerbit: Edelweiss

Distributor: Mizan Media Utama

Tahun: 2009

Tebal: 457 Halaman

ISBN: 978-979-19624-3-8

Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja atau Prabu Jayadewata (1482-1521 M) merupakan raja tersohor yang berhasil menyatukan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanegara, dan membentuk Kerajaan Padjadjaran. Pada masa pemerintahannya pulalah Kerajaan Padjadjaran mencapai puncak kejayaannya dengan daerah kekuasaan yang membentang di seantero Pulau Jawa bagian barat dan rakyat yang makmur sejahtera, serta disegani musuh.

Namun, kekuasaan dan kejayaan tidaklah abadi. Prahara justru muncul bukan dari luar, melainkan dari dalam kerajaan itu sendiri manakala rasa iri dan adu kepentingan beradu dalam hal perebutan putra mahkota. Prahara tersebut makin kentara ketika ternyata putra kesayangannya yang disiapkan sebagai penerus ternyata memiliki keyakinan yang berseberangan dengan Sang Raja Padjajaran. Perdebatan yang tak kunjung usai serta perbincangan yang tak juga menemukan titik temu inilah yang kemudian memicu putra mahkota Prabu Anom Walangsungsang untuk pergi berkelana mencari ilmu agama dan hikmah hidup. Terlebih, pada suatu malam Ia mendapat wangsit dari mimpi agar segera pergi ke arah timur, meninggalkan kemewahan hidup di lingkungan Keraton Pakuan.

Kepergian putra sontak membuat Sang Raja galau, prihatin, sekaligus murka. Namun, keteguhan hati Prabu Anom Walangsungsang yang diwarisi dari ayahandanya tidaklah tergoyahkan. Perjalanan panjang terus ditempuhnya guna mencari guru sejati yang akan mengajarkan ilmu dan hakekat hidup. Pertemuannya dengan Eyang Danurwasih semakin menguatkan niatnya dan mengubah segalanya dengan hadirnya seorang istri dan adik kandungnya yang menyusulnya meninggalkan Keraton.

Hijrahnya putra mahkota inilah yang menjadi inti cerita dalam novel pertama dari dwilogi Prabu Siliwangi ini. Penulis dengan apik menggambarkan berbagai cobaan dan rintangan yang menghadang Putra Padjajaran dalam perjalanannya menuntut ilmu Islam. Hingga akhirnya dia dihadapkan pada kenyataan yang tak bisa dihindari, yaitu berhadapan dengan ayahandanya, Prabu Siliwangi.

Hal positif dari novel ini ialah bukan adu ketangkasan fisik dan olah kanuragan yang ditonjolkan, melainkan penyelesaian masalah melalui musyawarah. Kebijaksanaan dalam menghadapi masalah dijabarkan secara analogi saat bercerita tentang bagaimana Sri Baduga Maharaja meredam amarahnya saat berhadapan dengan anaknya, dengan pejabatnya yang penjilat, serta perlakuannya terhadap para permaisurinya. Kesabaran dan pengendalian emosi diuraikan setiap Walangsungsang beberapa kali berdebat dengan Prabu Siliwangi mengenai prinsip keagamaan mereka masing-masing.

Novel ini pun bercerita tentang awal mula Cirebon dibentuk lengkap dengan asal namanya yang diambil dari nama Cai Rebon, yaitu air perasan dari rebon saat pembuatan terasi. Dari dukuh inilah penyebaran islam di tanah Sunda dimulai dan selalu dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan Kerajaan Padjajaran, kendati Walangsungsang tidak pernah bermaksud demikian.

Dengan judul buku Prabu Siliwangi, yang pertama kali terbayang tentu sepak terjang Sang Maharaja Padjajaran dalam menjalankan pemerintahan hingga mencapai puncak kejayaan. Namun, alih-alih sepak terjang Prabu Siliwangi, inti cerita yang ditekankan lebih kepada putra mahkotanya yaitu Prabu Anom Walangsungsang yang kelak dikenal dengan nama Pangeran Cakrabuana. Kesaktian dan keperkasaan seorang raja justru terkesan tidak berguna manakala persaingan perebutan posisi putra mahkota terjadi di kalangan para bangsawan terjadi. Prabu Siliwangi walaupun digambarkan dengan jelas kharismanya, terkesan tidak berdaya dalam menghadapi persekongkolan salah seorang patih dengan salah satu permaisurinya untuk menyingkirkan penghalang guna memuluskan langkah putranya, Prabu Surawisesa, menjadi putra mahkota menggantikan Walangsungsang.

Intrik politik tersebut pun kurang digali dan cenderung memfokuskan pada perjalanan Walangsungsang mencari hakekat hidup dan ilmu islam. Namun, terlepas dari itu, alur cerita dalam novel ini mudah untuk dipahami dengan tidak banyak teka-teki yang mengharuskan pembacanya banyak berpikir. Siapa mengincar siapa dan siapa otak pergerakan sudah diceritakan dengan jelas. Sehingga pembaca bisa fokus menikmati alur cerita yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s