EMAS METAMORF BOMBANA, SEBUAH ANOMALI

Posted: December 18, 2012 in Geologi Dasar, Geologi Sejarah, Pengalaman
Tags: , , , , ,

Emas merupakan sebuah logam mulia yang sejak dulu menjadi simbol kemakmuran suatu wilayah. Harga jualnya relatif stabil sehingga menjadi parameter tetap sebuah mata uang, sejak berbentuk dinar hingga uang kartal saat ini. Oleh karena itu, emas menjadi salah satu komoditi yang paling banyak dicari dan menjadi daya tarik para investor untuk membuat suatu Izin Usaha Penambangan (IUP) di daerah yang kaya akan kandungan emas.

Proses pembentukan emas terkait dengan aktivitas hidrotermal yang banyak terdapat pada jalur gunungapi dan daerah interaksi antarlempeng. Sehingga daerah yang dilalui jalur gunungapi aktif maupun tidak aktif menjadi sasaran utama dalam eksplorasi cebakan emas. Keterdapatan intrusi batuan beku menjadi petunjuk awal akan adanya aktivitas hidrotermal yang cukup tua untuk menghasilkan cebakan emas ekonomis. Proses geologis selama 13 ribu tahun secara teori sudah cukup untuk menghasilkan cebakan emas ekonomis (Suprapto, 2011).

Image

Gambar 1 Peta Geologi daerah Bombana, modifikasi dari Simandjuntak drr. (1993)

Namun, penemuan emas di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara menarik perhatian para ahli kebumian. Sebab, berdasarkan Peta Geologi Lembar Kolaka, Sulawesi Tenggara, tidak terdapat intrusi di sekitar kabupaten beribukota Rumbia (Kassipute) tersebut (Gambar 1). Berdasarkan posisi lokasi penambangan yang masih aktif maupun yang tidak seperti terlihat pada Gambar 1, emas di Bombana bersumber dari Kompleks Pompangeo. Kompleks batuan ini terdiri dari batuan metamorf seperti sekis mika, sekis glukofan, sekis amfibolit, meta sedimen dan rijang yang berumur Kapur Akhir – Paleosen (Simandjuntak drr., 1993).

Emas Plaser, Paleoplaser dan Primer

Awal penemuan emas bermula dari Sungai Tahite saat buaya dengan permukaan kulit yang dilapisi pasir emas ditangkap penduduk Desa Tahi Ite, Kecamatan Rarowatu pada tahun 2008. Sejak saat itu, kabupaten yang terbentuk tahun 2003 dari hasil pemekaran Kabupaten Buton ini terus diserbu pendatang. Kawasan transmigrasi yang semula mulai ditinggalkan warganya kini ramai oleh para penambang dari berbagai daerah. Warga asli yang semula bertani pun akhirnya banyak yang banting setir menjadi penambang yang hasilnya lebih menguntungkan.

Metode yang digunakan penambang ialah sistem kato, yaitu menyedot material pembawa emas untuk dialirkan bersama air melewati sluice box beralaskan karpet. Pasir yang tertangkap pada karpet tersebut lalu di dulang secara manual untuk memisahkan emas dari mineral berat lainnya.

Image

Gambar 2 tambang emas Bombana dengan sistem kato

Image

Gambar 3 Pasir yang tersaring di sluice box untuk kemudian didulang

Sistem kato banyak digunakan karena emas di Bombana berupa emas paleoplaser dan plaser. Emas paleoplaser ialah endapan purba pada batuan fasies fluvial/sungai hingga fasies delta (Robert drr., 1997). Satuan konglomerat dan batupasir Formasi Langkowala berumur Miosen (Simandjuntak drr., 1993) merupakan sumber dari emas paleoplaser tersebut (Idrus drr., 2011). Tepatnya di sekitar kontak antara formasi ini dengan Kompleks Pompangeo, seperti di Desa Tahi Ite dan Desa Wumbubangka. Emas plaser berada di endapan sungai sekarang, seperti Sungai Watu-Watu dan Sungai Tahite.

Emas paleoplaser dan plaser merupakan endapan sekunder dari emas primernya yang kemudian terbawa dan terendapkan bersama material aluvial yang lain. Massa jenis emas tergolong tinggi dengan nilai specific gravity 19,3 (Pellant, 1992), sehingga tidak akan terbawa jauh dari sumbernya. Oleh karena itu, emas lebih banyak ditemukan pada material konglomerat dan breksi daripada pasir. Material berukuran kerikil hingga bongkah tersebut, umumnya juga terendapkan tidak jauh dari sumbernya. Jadi, dengan menganalisa butir dari konglomerat dan breksi aluvial tersebut, serta arah hulu sungainya, maka sumber dari emas primernya dapat diketahui.

Butiran aluvial pada material yang kaya akan emas umumnya sama di tiap lokasi penambangan. Yaitu terdiri dari butir kuarsit, sekis amfibolit, sekis mika, rijang, dan batuan tersilifikasi dengan ukuran kerikil hingga bongkah. Kadang-kadang juga terdapat kalsedon dan fosil kayu. Beberapa kuarsit menunjukkan tekstur unik berupa cetakan berbentuk rombik yang merupakan jejak suatu mineral. Namun,sisa-sisa mineral yang membentuk cetakan tersebut tidak ditemukan atau mungkin sudah hancur saat tertransport oleh aliran sungai. Batuan tersilifikasi banyak mengandung urat kuarsa berukuran hingga 2 cm yang letaknya sejajar dengan struktur laminasi batuannya. Urat tersebut juga dipotong oleh urat lain berukuran lebih kecil. Urat kuarsa juga banyak terdapat pada butir rijang yang terjasperkan.

Image

Gambar 4 butir aluvial yang sering ditemukan pada material yang kaya akan emas. Kiri atas: kuarsit dengan tekstur rombik. Kiri bawah: kuarsit, rijang dan batuan silifikasi. Kanan: fosil kayu

Material yang mengandung butiran tersebut merupakan material yang paling dicari oleh penambang. Kadar emas dalam material tersebut berkisar antara 50-140 g/t (Idrus drr., 2011) dengan total cadangan 26,50 ton. Endapan purba (paleoplaser) dari Sungai Watu-Watu dan Sungai Tahite banyak mengandung material ini. Ke arah hulu, kandungan emasnya semakin banyak dan ukuran butir aluvialnya pun semakin besar. Jadi, sumber emas plaser dan paleoplaser kedua sungai tersebut berada di hulu sungainya, yaitu lereng utara dari ujung barat Pegunungan Rumbia.

Emas Orogenik

Pegunungan Rumbia berada di selatan Bombana yang membentang dari ujung timur hingga bagian tengah kabupaten di Kecamatan Rarowatu. Punggungan tersebut terdiri dari batuan metamorf Kompleks Pompangeo yang merupakan satuan batuan tertua di Bombana. Satuan batuan tersebut juga menjadi batuan dasar (bedrock) dari Formasi Langkowala dan Formasi Eemoiko yang lebih muda. Ujung barat punggungan ini dibatasi oleh kelurusan yang mungkin menunjukkan adanya sesar. Sumber air panas terdapat di Desa Tahi Ite yang berada di ujung barat punggungan ini.

Dengan kondisi geologi tersebut, ujung barat punggungan metamorf ini memang memungkinkan adanya aktivitas hidrotermal. Manifestasi mataair panas menunjukkan bahwa aktivitas hidrotermal tersebut mungkin masih berlangsung. Aktivitas hidrotermal yang berasosiasi dengan batuan metamorf ini merupakan ciri dari emas orogenik (orogenic gold), yaitu tipe endapan hidrotermal dengan urat kuarsa pembawa emas yang mengisi rekahan, pada batuan metamorf khususnya sekis hijau (Groves drr., 1998). Intrusi yang menjadi sumber panas untuk tipe hidrotermal ini tidak mesti tersingkap ke permukaan, bahkan letaknya bisa jauh di bawah permukaan (Idrus drr., 2011). Dalam hal ini, zona rekahan sangat berperan sebagai jalur bagi cairan hidrotermal untuk naik ke permukaan. Oleh karena itu pada peta geologi regional daerah Bombana dan pada endapan plasernya tidak dijumpai intrusi batuan beku.

Ujung barat Pegunungan Rumbia yang tersesarkan merupakan lokasi yang ideal untuk itu. Sesar tersebut memicu terbentuknya rekahan-rekahan lain dan menjadi bidang lemah batuan. Bidang lemah tersebut relatif lebih mudah tererosi sehingga menghasilkan bentukan perbukitan dengan puncak-puncak kecil yang terpisah, berbeda dengan morfologi Pegunungan Rumbia yang berbentuk punggungan memanjang layaknya sebuah dinding.

Image

Gambar 5 morfologi lereng utara ujung barat Pegunungan Rumbia, yang diduga sebagai lokasi emas primer. Tampak adanya perbedaan morfologi dengan Pegunungan Rumbia di bagian kiri.

Di lereng utara tersebut, Idrus drr. (2011) menyebutkan adanya urat kuarsa setebal 2 cm – 2 m yang searah dengan foliasi, yang terpotong oleh urat kuarsa lain yang tebalnya kurang dari 10 cm. Foliasi merupakan orientasi mineral pada batuan metamorf yang menjadi zona lemah batuan. Sehingga mudah diisi oleh cairan hidrotermal yang naik melalui bidang rekahan yang mungkin memotong bidang foliasi. Urat kuarsa inilah yang menjadi sumber dari emas paleoplaser dan plaser di sungai-sungai yang berhulu ke daerah ini.

Namun, tidak semua batuan metamorf di Pegunungan Rumbia bertindak sebagai sumber emas. Endapan aluvial sungai-sungai yang berasal dari bagian lain punggungan tersebut ternyata tidak mengandung emas. Jadi, sumber emas tersebut sepertinya memang hanya berada di sekitar ujung barat punggungan ini.

Bombana Sang Ombak

Dalam Bahasa Moronene, bomba berarti ombak/gelombang. Bombana dengan kekayaan emasnya memang menciptakan gelombang baru dalam ekplorasi emas dengan host rock batuan metamorfnya. Penemuan emas tersebut membuka peluang akan adanya kondisi serupa di daerah lainnya. Kompleks Ultramafik yang membentuk pegunungan yang membentang di sepanjang Taman Nasional Rawa Aopa menjadi objek eksplorasi yang menarik.  Selain lokasinya yang tidak jauh di utara Bombana, pegunungan dengan Gunung Mendoke sebagai puncak tertingginya itu berada di zona Sesar Kolaka yang memungkinkan berkembangnya rekahan pada batuan.

Image

Gambar 6 Gunung Mendoke, adakah mengandung emas?

Dimuat dalam Geomagz vol. 2 no. 3 September 2012

Referensi:

Groves, D. I., Goldfarb, R. J., Gebre-Mariam, M., Hagemann, S. G., and Robert, F., 1998. Orogenic gold deposit: A proposed classification in the context or their crustal distribution and relationship to other gold deposit types. Ore Geology Review, 13, p.7-27.

Idrus, A., Nur, I., Warmada, I W., dan Fadlin, 2011. Metamorphic Rock-Hosted Orogenic Gold Deposit Type as a Source of Langkowala Placer Gold, Bombana, Southeast Sulawesi. Jurnal Geologi Indonesia, vol 6, no. 1, hal. 43-49.

Indonesian Mining Association

Pellant, C., 1992. Rocks and Minerals. Dorling Kindersley ltd, London

Robert, F., Poulsen, K. H., dan Dubé, B., 1997. Gold Deposits and Their Geological Classification. Proceedings of Exploration 97: Fourth Decennial International Conference on Mineral Exploration, hal. 209-220.

Simandjuntak, T.O., Surono, dan Sukido, 1993. Peta Geologi Lembar Kolaka, Sulawesi skala 1:250.000, Puslitbang Geologi, Bandung

Suprapto, S.J., 2011. Kekerabatan Emas dan Panas Bumi. Geomagz, vol 1, no. 4,hal. 50-59

Comments
  1. […] berada di zona Sesar Kolaka yang memungkinkan berkembangnya rekahan pada batuan.( Sumber tulisan : https://iqbalputra.wordpress.com/2012/12/18/emas-metamorf-bombana-sebuah-anomali/ dan Dimuat dalam Geomagz vol. 2 no. 3 September 2012 […]

  2. melki robert says:

    apa pyrite selalu membawa emas?

  3. hilman says:

    Pa klu boleh bisa sms ke no 08176055558
    Atau no pa Iqbal yg bisa sy hubungi
    Trimaksih

  4. rhey says:

    tfs infonya bermanfaat sekali saya juga ingin share ttg kabupaten bombana kebetulan saya tinggal di bommbana. saya ijin pakai 1 foto bapak ya yang kegiatan menambang untuk saya pasang di blog pribadi saya. saya tetap mencantumkan nama bapak/ blog bapak di keterangan source gambarnya trimakasih

    • Iqbal E. Putra says:

      Sama-sama pak,senang bisa membantu. Banyak yg menarik di Bombana ini termasuk sejarah penamaan kabupatennya yg masih simpang siur, serta potensi wisatanya yg menarik. Sayang, melimpahnya emas telah membuai warganya sehingga potensi lainnya terabaikan..

  5. Erwin Awaludin says:

    Saya menawarkan batu cinnabar apabila berminat bisa melalui email di enovary@yahoo.com

  6. biologi123456789 says:

    Maaf sebelumnya pa” saya ingin izin share fotonya pa” untuk dokumentasi kegiatan penambangan di bombana . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s