JAWARA, ANTARA MISTIS DAN RELIGIUS

Posted: September 2, 2012 in Agama, Resensi Buku
Tags: , ,

ImageJudul               : Jawara, Angkara di Bumi Krakatau

Penulis            : Fatih Zam

Penerbit          : Metamind

Tebal               : 530 halaman

Tahun Terbit  : 2011

Jawara, bagi orang Banten istilah tersebut sudah tidak asing lagi. Suatu kasta dalam masyarakat Banten tersebut dulunya merupakan sebutan bagi para santri yang khusus dibekali kemampuan beladiri atau kanuragan guna melindungi para kyai dalam menyebarkan syiar Islam. Namun, sebutan jawara tersebut kini bergeser menjadi sebutan bagi mereka yang menguasai ilmu beladiri khas Banten.

Pergeseran tersebut mulai terjadi sejak munculnya pihak-pihak yang mengatasnamakan jawara saat membuat keonaran dengan menggunakan ilmu beladirinya. Tidak tanggung-tanggung, desas-desus bahkan mengatakan bahwa para jawara berniat membumihanguskan seluruh pesantren yang ada di tanah Banten. Jaka, diutus oleh pesantren untuk mencari dalang dari serbuan jawara tersebut yang bernama Angkara, yaitu pemimpin jawara yang kesaktiannya konon tidak ada tandingannya. Hanya sebuah kitab sakti bernama Kitab Cikadueunlah yang kabarnya sanggup memberikan ilmu sakti untuk mengalahkan Angkara.

Badai, seorang pemuda dari Pandeglang, berniat mendapatkan kitab yang kisah legendarisnya senantiasa diceritakan sebagai pengantar tidurnya. Berbagai jawara yang bertujuan sama kerap kali menghadang langkahnya mencari kitab tersebut. Namun, dengan golok sakti bernama Salam Nunggal pemberian seorang ahli golok yang tak lain adalah adik seperguruan gurunya, Badai berhasil mengatasi hadangan tersebut. Suatu takdir akhirnya mempertemukannya dengan Jaka yang selesai berguru serta gadis pendekar Sulastri yang diutus oleh pemberi golok tersebut untuk membantu Badai.

Bersama-sama mereka bertualang guna mendapatkan keberadaan kitab tersebut agar bisa melumpuhkan Angkara. Namun, siapa sebenarnya Angkara? Benarkah dia yang menjadi dalang atas penyerangan jawara ke beberapa pesantren selama ini?

Pesantren versus jawara. Itulah kira-kira awal bermulanya konflik utama novel berjudul Jawara, Angkara di Bumi Krakatau ini. Novel silat tanah Banten ini memang kental dengan berbagai nilai-nilai sejarah kebudayaan Banten yang terkesan mistis. Kebudayaan tersebut kemudian dipadukan dengan nilai-nilai Islam yang dicerminkan dari sikap beberapa tokoh yang tidak mudah termakan hasutan, selalu mengutamakan ikhtiar dan tawakal, serta menyikapi takdir yang tidak selalu sesuai dengan yang diangankan. Perpaduan tersebut amat terasa pada kisah sampingan (side story) Saepudin dan Gojali.

Kisah 2 sahabat dengan latar belakang berbeda tersebut memang tidak berkaitan secara langsung dengan inti cerita, namun banyak falsafah yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saja, sikap Saepudin yang selalu mengutamakan jalur musyawarah dibanding kekerasan, atau sikap Gojali yang mampu melawan sifat penakut dalam dirinya demi mencari kebenaran atas apa yang terjadi kepada tetangganya.

Namun, keberadaan cerita sampingan tersebut agak mengganggu jalan cerita karena semakin mendekati akhir, justru semakin tidak sinkron dengan konflik utama yang diangkat novel ini. Penulis pun nampak tanggung dalam menceritakan klimaks-klimaks pertarungan yang ada. Hampir seluruh pertarungan diakhiri dengan dikalahkannya musuh dengan kekuatan yang tidak terceritakan sebelumnya.

Alih-alih menguak misteri, novel ini justru diakhiri dengan peristiwa letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Padahal, menurut sejarah resminya, di tahun tersebut tanah Banten sudah dikuasai oleh bangsa kolonial. Sedikit mengherankan jika pihak kolonial tidak diceritakan ambil bagian dalam konflik di novel ini, mengingat latar lokasi di novel ini yang tidak jauh di dari pesisir Banten yang kala itu dikuasai oleh bangsa kolonial.

Hal tersebut sungguh disayangkan, padahal penulis sudah sangat baik dalam merangkai cerita latar belakang masing-masing tokoh hingga akhirnya bersinggungan dan menjadi sejawat. Twist pada akhir pertarungan terakhir sebenarnya sangat baik untuk memungkaskan konflik antara jawara dan pesantren ini, yang sayangnya seolah luput dari perhatian penulis.

 

Iqbal E. Putra

Comments
  1. fredy says:

    dimana bisa beli buku ini? bisa pesan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s