PURNAMA DARI TIMUR; KISAH SUNAN AMPEL DAN SUNAN GRESIK

Posted: February 6, 2012 in Agama, Resensi Buku
Tags: , , , ,

Judul                     : Purnama Dari Timur

Penulis                 : Yudhi A.W.

Tebal                     : 382 halaman

Penerbit              : Diva Press

Tahun                   : 2011

Wali Sanga, sembilan tokoh utama dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Nama mereka sudah sering disebut-sebut dalam buku sejarah negeri ini. Kesembilan wali yang disebut sunan tersebut memang berperan penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa yang kala itu masih didominasi oleh Agama Hindu-Buddha. Pengaruh mereka bukan hanya di bidang religius, melainkan berdampak hingga ke aspek-aspek lain bahkan mengubah peta politik nusantara dengan mengislamkan beberapa kadipaten yang masih bernaung di bawah kekuasaan Majapahit. Hingga pada akhirnya memelopori terbentuknya kerajaan Islam yang bernama Kerajaan Demak setelah Majapahit runtuh.

Dua dari sembilan wali tersebut kini tertuang dalam sebuah novel fiksi sejarah yang berjudul ”Purnama Dari Timur; Sujud Kehambaan Tak Bertepi”. Novel yang ditulis oleh Yudhi A.W. ini menceritakan kisah dari Sunan Gresik dan Sunan Ampel.

Bermula dari asal usul Sunan Gresik yang bernama asli Maulana Malik Ibrahim yang berjumpa dengan Syekh Ahmad Jumadil Kubra – kakek dari Sunan Ampel – saat sama-sama hijrah ke Gujarat, India. Maulana Malik Ibrahim hijrah dari Persia oleh karena serangan dari penguasa dzalim, pun begitu dengan Syekh Ahmad Jumadil Kubra yang merupakan perantau Mesir dari Samarkand. Saat mereka berjumpa di Gujarat, Syekh Jumadil Kubra juga membawa 3 orang putranya yang salah satunya bernama Ibrahim as-Samarkand, ayah dari Sunan Ampel.

Namun, serangan dari penguasa dzalim yang juga menyerang Persia ternyata mulai merambah ke Gujarat. Demi keselamatan dan kepentingan berdakwah, akhirnya Maulana Malik Ibrahim dan kawan-kawannya hijrah ke nusantara, tepatnya di Pasai (Lhokseumawe, Aceh). Panggilan hati untuk menyebarkan agama Islam akhirnya mendorong mereka untuk merantau ke tanah Jawa. Dari sini, alur cerita mulai terfokus ke perjuangan dakwah Maulana Malik Ibrahim di daerah Tandhes (Gresik) dan sekitarnya hingga akhir hayatnya.

Kemudian, alur cerita sedikit mundur dan menceritakan kehidupan Ibrahim as-Samarkand yang masih di Pasai sementara Maulana Malik Ibrahim pergi ke Jawa. Perjuangan dakwah ayah dari Sunan Ampel dan cucu Sunan Giri tersebut diakhiri dengan wafatnya beliau saat merantau ke Jawa bersama 2 putranya yang bernama Ali Murtadha dan Ali Rahmatullah serta kemenakannya yang bernama Abu Hurairah. Cerita kemudian berlanjut ke perjuangan mereka yang sudah menjadi bangsawan Campa menjadi bangsawan Majapahit. Nama baru untuk Ali Murtadha setelah diangkat menjadi bangsawan Majapahit ialah Raden Santri, nama baru Ali Rahmatullah ialah Raden Rahmat, sedangkan Abu Hirairah mendapat nama Raden Burereh.

Menjadi bangsawan sebenarnya bukanlah tujuan mereka, namun cara itu mereka pilih agar memudahkan jalan mereka dalam mengenalkan agama Islam kepada masyarakat. Raden Rahmat yang diberi wilayah kekuasaan di daerah Ampeldenta bahkan berhasil mendirikan kampung muslim hingga ia dipanggil dengan nama Sunan Ampel.

Dalam buku ini, tidak diceritakan apakah Sunan Gresik pernah bertemu dengan Sunan Ampel atau belum. Tetapi, informasi yang tercantum dalam novel ini berasal dari berbagai data sejarah yang resmi dan merupakan hasil penelitian. Tidak ada mitos-mitos kesaktian yang luar biasa dari kesembilan wali tersebut yang disinggung dalam novel ini. Hanya metode dakwah yang diselaraskan dengan kebudayaan setempat yang dijadikan inti cerita dari novel ini. Termasuk cikal bakal Islam Kejawen yang banyak dianut oleh masyarakat Jawa sampai sekarang.

Di akhir cerita, penulis memberikan kesimpulan secara tersirat bahwa cara yang dilakukan oleh Sunan Ampel lebih tepat dibandingkan cara yang ditempuh Sunan Gresik. Walaupun dari segi kaderisasi memang benar, namun pembandingan seperti ini seolah mengecilkan perjuangan salah satunya. Padahal peran Sunan Gresik tidak kalah besar karena telah mengenalkan sistem irigasi kepada masyarakat Tandhes dan sekitarnya. Bahkan Tandhes sudah maju saat Sunan Ampel tiba pertama kali berkat perjuangan Sunan Gresik walaupun tidak menjadi bangsawan Majapahit.

Namun, dibalik kekurangan tersebut, masih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini. Salah satunya ialah keinginan kedua sunan tersebut memajukan tafar hidup masyarakat walau keduanya bukan orang Jawa asli. Semangat persaudaraan dan perdamaianlah yang menjadi motivasi mereka demi kehidupan yang lebih baik. Wassalam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s