MAIN-MAIN JADI BUKAN MAIN

Posted: July 12, 2011 in Resensi Buku
Tags: , , ,

Judul: Warkop; Main-main Jadi Bukan Main

Penulis: Rudy Badil & Indro Warkop (Ed.)

Tahun Terbit: 2010

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tebal: 305 halaman

Harga: Rp 95.000,-

Mendengarkan lewat tulisan. Mungkin kesan itulah yang didapat saat membaca buku yang menceritakan karir kelompok komedi radio yang menjelma menjadi komedian legendaris, yaitu Warung Kopi (Warkop). Yang menarik dari buku ini ialah tata letak tulisan yang disertai foto dan ilustrasi yang agak mirip majalah, sehingga ringan untuk dibaca. Selain itu, gaya penulisan yang menempatkan penulis sebagai orang pertama membuat pembaca seolah sedang mendengarkan seseorang bercerita, bukan menceritakan seseorang.

Melalui buku ini juga, pembaca dapat mengetahui sisi lain dari Warkop yang lebih dikenal masyarakat melalui film-filmnya. Yaitu, bahwa Warkop sejak dulu sebenarnya identik dengan lawakan cerdas. Contoh dari lawakan cerdas tersebut ialah tentang ramalan cuaca yang menyebutkan angin akan bertiup sesuai musim dan kondisi sekitarnya. Angin akan berhembus sepoi-sepoi basah kalau di taman ada orang pacaran, tapi akan bertiup kencang sekali kalau banyak orang main layangan. Namun, angin hanya berani bertiup tidak lebih dari 5 km/jam kalau lewat kompleks ABRI.

Kesuksesan kelompok yang semula beranggotakan Kasino, Nanu, Rudi Badil, Dono dan Indro ini merupakan hasil dari komitmen para personil dan persiapan matang sebelum tampil sehingga kelompok ini tetap hidup hingga saat ini. Terbukti dari 34 film mereka yang hingga kini masih sering menyapa di televisi Indonesia dengan kalimat penutupnya yang khas, ”tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Kepandaian mereka dalam membaca timing dan selera pasar juga membuat karya mereka tetap laris di pasaran.

Kreatifitas kelompok yang dahulu dikenal dengan nama Warkop Prambors ini banyak terinspirasi dari mata pelajaran di bidang Antropologi yang disebut folklor, yaitu kisah humor yang mengandung unsur tradisi (lore) dan manusia (folk). Oleh karena itu, materi lawakan mereka tetap ilmiah, kendati agak vulgar. Sebagai aktifis kampus, mereka juga sering mengkritisi realita sosial yang ada, seperti gagalnya program Keluarga Berencana atau makin maraknya urbanisasi. Semua itu mereka kritisi melalui satir-satir politik yang menggelitik namun tidak menjatuhkan kewibawaan orang lain.

Konsep bukunya sendiri ialah sekedar berbagi kenangan tentang para personil Warkop menurut beberapa orang yang pernah terlibat dan bekerja sama dengan Warkop. Kemudian, disusun dalam sebuah buku yang terdiri dari 5 bagian. Inti dari bukunya sendiri berada pada bagian pertama yang bercerita tentang sejarah Warkop secara umum. Lalu, 4 bagian sisanya merupakan pembahasan mendetail dari beberapa hal di bagian pertama.

Kelebihan dari buku ini terletak pada isinya yang juga menceritakan situasi politik saat itu. Jadi, sambil mengenang perjalanan karir para personil Warkop, pembaca juga diajak untuk mengenal sejarah kepemudaan dan kehidupan mahasiswa di 3 zaman, yaitu Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi, walau hanya sekilas. Maklum saja, mereka termasuk mahasiswa yang cerdas bahkan Dono sempat menjadi dosen di FISIP UI.

Namun, adanya nama-nama seniman lawas mungkin akan membuat penasaran bagi pembaca yang tergolong masih muda. Pembaca mungkin akan bertanya-tanya tentang tokoh-tokoh seperti Bing Slamet, Gepeng, bahkan Pak Tile. Sehingga buku ini seolah diperuntukkan bagi generasi Warkop saja walaupun sebenarnya layak juga dinikmati oleh para remaja. Penempatan inti buku di awal juga dapat membuat beberapa pembaca cenderung malas untuk membaca bagian lainnya secara detail. Pembaca cenderung hanya membaca sekilas dan memfokuskan pada bagian yang dianggap menarik saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s