SINABUNG BATUK, MERAPI MENGAMUK

Posted: December 27, 2010 in Bencana Alam, Geologi Dasar
Tags: , , , , ,

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan gunungapi. Sekitar 15% dari seluruh gunungapi di dunia berkumpul di Indonesia. Sebagai bagian dari cincin api atau ring of fire Samudera Pasifik, gunungapi di Indonesia pun tergolong yang paling aktif di dunia. Selain paling aktif, letusannya pun termasuk yang paling mencengangkan. Letusan dengan VEI (volcanic explosivity index) 1-8 pernah terjadi di Indonesia. Bahkan letusan dengan VEI 7 dan 6 terjadi di Indonesia dalam waktu kurang dari 1 abad! Yaitu saat letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara pada tanggal 10-15 April 1815 dan saat Gunung Krakatau di Selat Sunda mengamuk pada tanggal 27 Agustus 1883.

Bangunnya Gunung Sinabung

Kini, aktifitas gunungapi yang ada di Indonesia kembali meningkat. Diawali dengan terbangunnya Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gunung dengan ketinggian 2640 m di atas muka laut tersebut pada tanggal 28 Agustus 2010 pukul 00:10 WIB meletus. Letusan ini membuat status Gunung Sinabung menjadi Awas dan tipe gunungnya berubah dari Tipe B menjadi Tipe A, detik itu juga.

Letusan Gunung Sinabung setelah lebih dari 4 abad tertidur

Karakteristik letusan yang belum diketahui sebelumnya membuat para ahli begitu berhati-hati dalam mengamati gunung ini. Sebab, semula gunung ini merupakan gunungapi Tipe B, yang sejak tahun 1600 tidak ada catatan erupsinya. Jadi, paling tidak sudah lebih dari 400 tahun gunung ini tertidur. Secara umum, gunungapi yang terbangun setelah tertidur sangat lama, akan menghasilkan erupsi yang besar. Sebab energi yang terhimpun di dalam tubuh gunungapi tersebut akan semakin besar, sehingga pelepasannya akan dimanifestasikan dalam erupsi secara besar-besaran.

Untungnya, yang terjadi pada letusan Gunung Sinabung ternyata berupa rangkaian letusan selama 10 hari, yaitu tanggal 28 Agustus-7 September 2010. Selama itu, pelepasan tekanan gas terjadi hingga akhirnya mereda dan statusnya pun diturunkan.

Merapi Menggeliat

Selang hampir 2 bulan sejak Sinabung meletus, Gunung Merapi yang berada di antara Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pun batuk-batuk. Berbeda dengan Sinabung yang memerlukan waktu lebih dari 4 abad untuk terbangun, Merapi hanya perlu waktu 4 tahun untuk kembali mengeluarkan isi perutnya. Letusan terakhir pada tahun 2006 tentunya masih segar di ingatan. Kala itu, awan panas dari letusan Merapi telah menewaskan 2 orang yang berlindung di dalam bunker.

Letusan Merapi 2 November 2010 (Foto oleh Iman Suryanto/tribunnews.com)

Letusan tahun 2010 ini ditandai dengan meningkatnya aktifitas vulkanik seperti gempa vulkanik dan meningkatnya volume gas yang dikeluarkan. Gunung dengan ketinggian 2978 m dari muka laut ini merupakan gunungapi Tipe A, yang catatan letusannya sudah ada. Sehingga karakteristik letusannya dapat diprediksi. Secara umum, letusan Merapi tergolong tipe vulkanian lemah. Letusannya bisa bersifat efusif, yaitu lava keluar secara perlahan dan mengalir tanpa diikuti suatu ledakan, atau eksplosif, yaitu magma keluar dari gunungapi dalam bentuk ledakan. Dalam erupsi yang eksplosif, terbentuk endapan piroklastik, sedangkan dalam erupasi efusif terbentuk aliran lava.

Namun, menurut pembagian tipe letusan gunungapi yang disusun oleh Escher (1952), yang didasarkan pada derajat kecairan (viskositas) magma, tekanan gas dan kedalaman dapur magma, letusan Merapi dijadikan tipe tersendiri, yaitu Tipe Merapi.

Karakteristik Tipe Merapi ini ialah lavanya yang cair-kental, dapur magma relatif dangkal dan tekanan gas yang agak rendah. Karena sifat lavanya tersebut, apabila magma naik ke permukaan melalui pipa kepundan, maka akan terbentuk sumbat atau kubah lava sementara di bagian bawahnya masih cair. Kubah lava yang gugur akan menyebabkan terjadinya awan panas guguran. Sedangkan tekanan gas yang terkumpul karena pipa kepundan tersumbat akan menyebabkan kubah tersebut hancur ketika terjadi letusan dan akan terbentuk awan panas letusan. Oleh warga setempat, awan panas tersebut disebut wedhus gembel sedangkan dalam dunia ilmiah disebut nuée ardente.

Karakteristik yang khas dari gunung ini sebenarnya memudahkan para ahli dalam mengambil tindakan, tetapi faktor tokoh yang melekat kuat kerap menyulitkan proses evakuasinya.

Sinabung dan Merapi, Mengapa Berbeda?

Fenomena meletusnya 2 gunungapi di Indonesia, yaitu Gunung Sinabung di Sumatera Utara dan Gunung Merapi di antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam waktu yang cukup berdekatan, membuat beberapa orang mencoba mengkait-kaitkannya. Terlebih dengan tersiarnya kabar bahwa beberapa gunungapi lain juga mengalami peningkatan aktifitas vulkanik.

Gunung Sinabung dan Gunung Merapi terbentuk akibat interaksi lempeng yang sama, yaitu antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Interaksi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang memanjang dari Provinsi Aceh hingga Nusa Tenggara Timur. Akibatnya, di sepanjang jalur tersebut banyak terdapat titik-titik pusat gempa dan deretan gunungapi. Tetapi, walaupun berasal dari tatanan tektonik yang sama, karakteristik atau perilaku erupsinya belum tentu sama.

Karaketristik atau perilaku erupsi suatu gunungapi dipengaruhi oleh sifat magma, struktur dan dimensi pipa saluran magma atau diatrema, serta volume dan posisi kantong magmanya. Sifat magma yang paling berpengaruh ialah komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air. Magma yang bersifat lebih asam umumnya lebih kental daripada magma yang bersifat basa. Semakin kental berarti kandungan air dan gasnya semakin sedikit, sehingga membuat magma lebih cepat membeku saat mendekati permukaan. Jika magma yang membeku tersebut terkumpul di lubang kepundan dan membentuk sumbat atau kubah lava, maka tekanan gas di bawahnya akan tertahan. Semakin lama tertahan, energi yang terkumpul akan semakin besar.

Akibatnya, saat kubah lava tersebut tidak mampu lagi menahan tekanan gas di bawahnya, letusan eksplosif pun terjadi sebagai perwujudan dari pelepasan energi yang tertahan tersebut. Letusan Merapi tahun ini yang cenderung eksplosif menandakan bahwa komposisi magma dalam tubuh Merapi kali ini relatif lebih asam. Untungnya, pelepasan energinya terjadi secara berangsur, sehingga para ahli masih sempat mengungsikan para penduduk di sekitar Gunung Merapi.

Besarnya energi yang tertahan itupun bergantung dari struktur dan dimensi pipa saluran magma atau diatrema. Dimensi diatrema berpengaruh pada volume gas yang naik. Semakin besar dimensinya semakin banyak gas yang akan naik. Struktur diatrema salah satunya ialah menyangkut jumlahnya. Beberapa gunungapi memiliki jumlah pipa saluran magma lebih dari satu tapi berasal dari satu kantong magma. Inilah yang disebut sebagai kawah majemuk (multiple crater) seperti yang terdapat pada Gunung Papandayan dan Gunung Tangkubanparahu. Sedangkan Gunung Merapi tergolong sebagai gunung dengan kawah tunggal (single crater).

Sementara itu, besarnya pasokan magma bergantung dari volume dan posisi kantong magma gunung tersebut. Faktor inilah yang menjadi motor utama dari aktifitas vulkanik. Kantong magma merupakan zona tampungan dari magma yang berasal dari zona subduksi yang naik menuju permukaan. Bila ukurannya cukup besar disebut juga dapur magma. Di Merapi, letak dapur magmanya relatif tidak jauh. Akibatnya, hanya dengan peningkatan tekanan yang tidak terlalu besar sudah dapat mengalirkan magma mengalir ke permukaan dengan cukup lancar tanpa perlu waktu cukup panjang.

Inilah sebab adanya perbedaan tingkat aktifitas antara gunungapi seperti Gunung Merapi dan Gunung Sinabung, selain juga dipengaruhi oleh tatanan tektonik lokalnya. Misalnya keterdapatan sesar atau patahan yang melewati gunungapi tersebut, yang dapat menjadi celah bagi magma untuk naik ke permukaan.

 

Dimuat juga di rubrik Cakrawala pada Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 11 November 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s