MENGUAK SEJARAH BANDUNG MELALUI WISATA

Posted: October 1, 2010 in Geologi Sejarah, Geowisata, Resensi Buku
Tags: , ,

Bandung. Sebuah kota yang kini sudah berusia 200 tahun. Berbagai peristiwa bersejarah banyak terjadi di bumi parahyangan ini. Mulai dari masa Kerajaan Padjadjaran berkuasa, masa kolonial, hingga masa modern sekarang. Berbagai peristiwa penting tersebut hingga kini masih banyak tersisa jejak-jejaknya melalui monumen, gedung, jalan, maupun nama tempat. Contohnya daerah Dayeuh Kolot yang berarti kota tua, dulunya merupakan Ibukota Kabupaten Bandung yang bernama Krapyak sebelum akhirnya dipindahkan menjadi agak ke utara, tepat di Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1810.

Namun, secara geologi, sejarah Bandung sudah dimulai sejak 30-20 juta tahun yang lalu, pada Kala Oligo-Miosen. Saat itu, bagian utara daerah ini masih merupakan laut dangkal dengan paparannya yang subur ditumbuhi terumbu karang. Sisa-sisa laut tersebut terekam jelas pada perbukitan batu kapur atau batugamping di Citatah-Padalarang. Pantai Laut Jawa dan deretan gunungapi saat itu berada jauh di selatan Bandung, sekitar daerah Pangalengan dan Gunung Halu.

Laut tersebut perlahan mulai terangkat dan deretan gunungapi mulai bergeser agak ke utara, membentuk deretan perbukitan yang kini berada di selatan Cimahi, seperti Gunung Selacau dan Gunung Lagadar. Bandung mulai menjadi daratan sekitar 4 juta tahun yang lalu, yaitu pada Kala Pliosen. Memasuki Zaman Kuarter, sekitar 2 juta tahun yang lalu, gunungapi yang ada saat ini mulai terbentuk. Di antaranya ialah Gunung Malabar, Gunung Patuha, Gunung Kendeng, dan Gunung Sunda yang kini menjadi Gunung Tangkubanparahu. Deretan gunung tersebut membatasi Bandung hampir di semua sisi, membuat Bandung seperti sebuah ”mangkuk” besar sehingga disebut juga Cekungan Bandung. Pada Zaman Kuarter ini juga, Bandung mulai dihuni oleh manusia. Tepatnya sejak 10 ribu tahun yang lalu berdasarkan bukti ditemukannya kerangka manusia di Gua Pawon pada tahun 2003.

Selain fakta sejarah, di Bandung juga berkembang suatu mitos yang ketenarannya tidak kalah dari mitos Malin Kundang dari Tanah Minang, yaitu mitos Sangkuriang yang kesiangan. Mitos yang berkisah tentang hubungan terlarang antara ibu dan anak ini diakhiri dengan terbentuknya 2 bentang alam dalam 1 malam, yaitu sebuah danau dan  sebuah gunung yang bernama Tangkubanparahu. Sebagian menyikapi mitos tersebut hanya sebatas mitos, namun peristiwa terbentuknya danau dalam 1 malam secara ilmiah sebenarnya memungkinkan.

Sesuai dengan mitos tersebut, Ci Tarum memang pernah terbendung. Tepatnya di utara Padalarang, di hulu sungai kecil yang bernama Ci Meta. Ci Tarum sebelum terbendung mengalir mengikuti perbukitan di selatan Cimahi ke arah utara dan berbelok ke baratdaya. Di sinilah Ci Tarum terbendung hingga membentuk danau di daerah hulu dan menyisakan aliran kecil bernama Ci Meta di sisi hilirnya. Letusan besar Gunung Tangkubanparahu yang materialnya mengalir ke barat, merupakan “Sangkuriang“ yang membendung Ci Tarum dalam 1 malam. Danau pun terbentuk di Cekungan Bandung tersebut.

Batas dari Danau Bandung tersebut telah diteliti dan garis pantainya diperkirakan berada pada ketinggian 712-715 m di atas muka laut.  Batas tersebut, jika ditarik dari barat ke timur Kota Bandung, maka kita seolah menyusuri kawasan Komplek Perumnas Cijerah, Jalan Jend. Sudirman, Pasar Jamika-Andir, St. Ciroyom, Jalan Kebonkawung, Jalan Cicendo, Jalan Babakan Ciamis, dan Jalan Aceh. Ke arah timur, garis pantai bisa ditarik dari Jalan Aceh, berbelok ke Jalan Lombok, lalu ke Masjid Istiqamah di Jalan Citarum, menerus hingga Pusdai. Selanjutnya garis pantai akan mengikuti Jalan Cikutra, terus ke timur searah dengan Jalan A. H. Nasution hingga Ujungberung, Cileunyi dan Jatinangor. Jadi, kawasan BIP sekitar 20.000 tahun lalu diperkirakan berupa pantai Danau Bandung.

Lalu, ke mana Danau Bandung sekarang? Danau Bandung surut sekitar 16.000 tahun lalu akibat penurunan muka air laut global yang memicu erosi hulu di tiap sungai. Erosi hulu tersebut perlahan mengikis perbukitan yang membatasi Danau Bandung hingga akhirnya bobol di daerah Pasir Kiara dan Puncaklarang. Sebelumnya, pengeringan Danau Bandung diyakini berada di Pasir Sangiangtikoro. Namun, analisis geomorfologi membuktikan bahwa pengeringan Danau Bandung bukan di Sangiangtikoro, melainkan di celah-celah punggungan hogback/pasiripis/lalangasu antara Puncaklarang dan Pasir Kiara.

Bukti-bukti dari sejarah Bandung sejak jutaan tahun lalu tersebut, hingga kini masih dapat diamati. Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar mencoba merangkum seluruhnya melalui konsep wisata dalam buku yang berjudul Wisata Bumi Cekungan Bandung. Buku ini sebenarnya merupakan cetakan ulang dari buku sebelumnya yang berjudul Geowisata Cekungan Bandung. Dalam buku ini, sejarah Bandung dikupas melalui 9 jalur-jalur wisata yang disebut geotrek. Tiap geotrek memiliki tema tersendiri yang berisikan foto dan ulasan masing-masing sejarahnya. Untuk pembaca yang masih awam terhadap ilmu kebumian tidak perlu dibingungkan dengan istilah dalam buku ini, sebab pada lembaran akhir disediakan glosarium dari istilah-istilah yang masih asing tersebut.

Melalui buku ini, kita seolah diajak berkeliling Bandung dan sekitarnya. Beberapa tempat dapat ditempuh dengan kendaraan, namun tidak jarang kita harus berjalan kaki menuju tempat yang ditunjukkan dalam buku ini. Untuk tempat-tempat yang terabaikan atau sedang menuju kerusakan akibat kegiatan penambangan dan pencemaran, terselip pesan yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Selain itu, kita juga diajak untuk melihat wajah lain dari Kota Bandung yang kini semakin identik dengan wisata belanja dan factory outlet-nya.

Comments
  1. suci says:

    Ka iqbal, suka banget sama geowisata ya? aku baru menemukan blog ini dan langsung terkagum” baca tulisan kaka😀
    Aku minat banget di bidang geowisata ini ka, boleh minta email kaka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s