LETUSAN EYJAFJALLAJÖKULL TAK SEBANDING DENGAN INDONESIA

Posted: September 29, 2010 in Bencana Alam
Tags: , ,

Beberapa minggu lalu, sebuah gunungapi di Islandia meletus. Gunung yang termasuk kawasan Benua Eropa tersebut memuntahkan sejumlah debu vulkanik yang mengganggu langit daratan Eropa. Abu vulkanik dari letusan tersebut membuat sebagian besar penerbangan dari dan menuju kota-kota besar di Eropa dibatalkan. Oleh karena dampaknya tersebut, gunung bernama Eyjafjallajökull atau disebut juga Eyjafjöll tersebut, konon dikabarkan setara dengan letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 12 April 1815.

Besar suatu letusan gunungapi dinyatakan dalam indeks letusan gunungapi atau volcanic explosivity index (VEI). Indeks tersebut bernilai dari 0 yaitu non-eksplosif hingga 8 yaitu mega-kolosal. Setiap nilai menunjukkan perbedaan kekuatan 10 kalinya. Jadi, VEI 2 kekuatannya 10 kali lebih besar daripada VEI 1, dan seterusnya. Besarnya VEI suatu letusan ditentukan dari jumlah tefra atau debu vulkanik yang dikeluarkan serta tingginya awan vulkanik yang disemburkan saat letusan. Kedua parameter tersebut direfleksikan sebagai jumlah energi yang dilepaskan saat letusan terjadi. Semakin banyak jumlah abu yang dikeluarkan dan semakin tinggi awan vulkaniknya, maka semakin besar energi yang dilepaskan.

Sekarang, berapa besar VEI dari letusan Eyjafjallajökull? Berdasarkan data Pusat Survei Geologi Amerika (USGS), jumlah debu yang dimuntahkan Eyjafjallajökull sekitar 140 juta meter kubik dengan tinggi awan vulkanik mencapai 8 km. Dalam VEI, letusan tersebut bernilai 3 – 4, hampir sama besar dengan letusan Galunggung 1982. Namun, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan letusan Tambora yang bernilai VEI 7. Penelitian Sigurdsson dan Carey menyimpulkan bahwa tinggi awan vulkanik dari letusan Tambora mencapai 33-43 km, 5 kali lebih tinggi daripada Eyjafjallajökull. Lalu, jumlah abu vulkanik atau tefra yang dikeluarkan Tambora, menurut Stothers diperkirakan sekitar 150 km kubik, jauh lebih banyak daripada tefra Eyjafjallajökull.

Dampak dari letusan Eyjafjallajökull menimpa daratan Eropa karena angin yang berhembus ke arah timur membawa serta abu letusan. Akibatnya, langit Eropa sebagian besar dipenuhi oleh abu yang melayang. Abu letusan tersebut dapat berakibat buruk bagi saluran pernafasan dan dapat mengakibatkan terganggunya mesin pesawat. Mengakibatkan dibatalkannya penerbangan dari dan menuju kota-kota besar di Eropa. Hal yang memaksa anggota tim FC Barcelona dan Olympic Lyon menempuh jalur darat menuju Italia dan Jerman untuk menjalani pertandingan semifinal Liga Champions.

Kilat pada letusan Eyjafjallajokull tahun 2010.

Namun, dampak dari letusan Tambora jauh lebih tragis. Sebuah sumber bahkan menyatakan bahwa letusan Tambora mengakibatkan tahun tanpa musim panas di belahan bumi utara.

Secara Genesa Berbeda

Secara tipe, Eyjafjallajökull serupa dengan tipe-tipe gunungapi yang ada di Indonesia, yaitu gunungapi berlapis atau gunungapi strato. Gunungapi tipe strato dicirikan oleh perselingan lava dan material piroklastik sebagai pembentuk kerucut gunungapinya. Tipe ini disebut juga gunungapi komposit. Tipe ini memiliki persentase paling banyak yaitu sekitar 60% dari gunungapi yang terdapat di bumi. Umumnya, magma dari tipe ini bersifat andesitik hingga dasitik yang lebih dingin dan lebih kental daripada magma basaltik. Akibatnya, magma yang mendekati permukaan atau disebut lava, lebih cepat membeku dan membentuk kubah lava. Kubah lava tersebut menghambat gas untuk keluat sehingga meningkatkan tekanan di bawahnya. Semakin besar tekanan yang tersimpan, maka pelepasannya saat meletus akan semakin besar juga. Letusan gunungapinya pun akan semakin eksplosif. Itulah sebabnya antara letusan-letusan besar dari sebuah gunungapi hanya terjadi setelah jeda waktu yang panjang. Misalnya letusan Krakatau tahun 1883 setelah tertidur selama kurang lebih 200 tahun.

Namun, secara genesa Eyjafjallajökull dengan gunungapi di Indonesia sangat berbeda. Umumnya gunungapi strato berada di sepanjang jalur subduksi yang merupakan bentuk interaksi konvergen antarlempeng. Misalnya gunungapi di Indonesia yang terbentuk akibat interaksi antara Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Sebaliknya, Eyjafjallajökull justru terbentuk di daerah interaksi divergen antarlempeng, yaitu antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Amerika. Magma yang terbentuk pada zona interaksi divergen tersebut umumnya bersifat basaltik. Magma basaltik bersifat lebih encer dan lebih panas sehingga gunungapi yang terbentuk umumnya bertipe perisai. Tipe gunungapi yang berbentuk cembung memanjang ke segala arah. Tubuh gunungapinya terbentuk dari aliran lava yang keluar dari kawah di puncaknya. Keanehan ini hingga sekarang masih menjadi perdebatan di antara ahli ilmu kebumian.

Kendati memiliki keanehan, bentuk Eyjafjallajökull tetap memperlihatkan bentukan khas dari gunungapi yang terbentuk di daerah interaksi divergen. Kekhasan tersebut berupa bentuk gunung yang cenderung memanjang. Eyjafjallajökull memanjang ke arah barat-timur sedangkan gunungapi di Indonesia umumnya berbentuk kerucut dengan 1 lubang kepundan. Anomali dari bentuk umum tersebut terdapat pada Gunung Tangkubanparahu yang tidak membentuk kerucut, tetapi justru memanjang berarah barat-timur.

Persamaannya

Besar letusan Eyjafjallajökull kira-kira setara dengan letusan Gunung Galunggung tahun 1982-1983. Selain kekuatan, beberapa efek letusannya pun hampir sama, misalnya timbulnya kilat dari dalam awan vulkanik di puncak gunungnya. Kilat tersebut terjadi akibat partikel-partikel abu dan batu yang saling bergesekan dan bertumbukan, bersinggungan dengan listrik statis. Selain itu, letusan Eyjafjallajökull juga menghasilkan lahar yang berasal dari es di sekitar puncak yang mencair atau disebut jökulhlaups.

Persamaan lainnya juga terdapat pada rentang letusan yang panjang. Sebelum letusan tahun 2010, Eyjafjallajökull terakhir meletus pada bulan Desember 1821 hingga Januari 1823. Artinya, gunung di Islandia tersebut tertidur selama hampir 2 abad sebelum meletus hebat bulan April 2010 lalu. Mirip dengan letusan Krakatau tahun 1883 yang sebelumnya tertidur selama 2 abad.

Gunung Guntur, Kabupaten Garut, salah satu gunungapi paling aktif di Jawa bagian barat relatif lebih aman dan mudah dimitigasi.

Jadi, gunungapi-gunungapi yang sering meletus sebenarnya relatif lebih aman dan mudah dimitigasi daripada gunungapi-gunungapi yang tergolong aktif namun sudah lama tidak meletus. Sebab semakin lama, jika tidak dikeluarkan penumpukan gas dalam tubuh gunungapi akan semakin besar. Akibatnya, pelepasan dari energi yang terhimpun oleh gas tersebut akan menimbulkan letusan yang dahsyat pada gunungapi itu. Di Islandia letusan tersebut telah terjadi pada Eyjafjallajökull. Tetapi, tanggapan yang cepat dan tepat telah menghindarkan jatuhnya korban jiwa. Bagaimana dengan Indonesia?

Iqbal E. Putra

Tulisan ini juga pernah dimuat di harian umum Pikiran Rakyat

Comments
  1. husen says:

    Ass wr wb
    Kang, mau kenalan dulu, saya husen gani dari bandung dan klo tidak keberatan mau nanya dan klo bisa di jawab juga… hehe maksaaa….. mau nanya… saya di kasih tugas mengenai sejarah geologis pembentukan danau maninjau, lembah harau dan ngarai sianok di sumatera barat…?? ceritanya saya mau geowisata ke tiga tempat itu…. jadi syarat keberangkatannya harus bisa menjelaskan dan menulis essai mengenai hal itu…. toooloooooong doooong……. klo berkenan bs di email ke husen_gani@yahoo.co.id ato juga kang iqbal tulis aja materi mengenai hal ini di websitenya nanti saya baca……..
    terima kasih ats perhatiannnya….
    Jazz Khair katsiraaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s