JALAN BERBATU MENUJU TAMAN JASPER TASIKMALAYA

Posted: May 29, 2010 in Geowisata
Tags: , , ,

Kamis, 13 Mei 2010. Bis sudah menanti rombongan mahasiswa peserta mata kuliah Geowisata di Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung. Waktu keberangkatan yang semula direncanakan pukul 06.30 WIB, seperti biasanya molor menjadi pukul 07.00 WIB. Briefing sejenak dilakukan sebelum berangkat. Pengecekan peserta dan berbagai perbekalan diperiksa kelengkapannya. Tidak lupa kamipun berdoa sebelum menaiki kedua bis yang telah ngetem sedari bada subuh.

Semua siap, peserta lengkap, kecuali toa yang ”kurang sehat” sehingga terpaksa ditinggal di kampus. Wajah dan ekspresi penuh semangat tampak di seluruh peserta yang ikut ekskursi kali ini. Namun, ekspresi tersebut segera saja berubah menjadi wajah polos saat hampir seluruh peserta tertidur. Perjalanan yang agak tersendat karena adanya perbaikan jalan di sana-sini membuat perjalanan cenderung membosankan. Sistem buka tutup yang diterapkan di salah satu ruas jalan antara Nagrek-Malangbong mengakibatkan antrian kendaraan yang lumayan panjang. Termasuk diantaranya kendaraan kami.

Kemacetan yang lumayan panjang tersebut dimanfaatkan oleh kami untuk melakukan peregangan seperti berdiri atau keluar sebentar untuk mencari udara segar. Wajar saja, sebab memang tidak ada rencana untuk istirahat hingga mencapai tujuan. Mengingat jarak tujuan kali ini yang cukup jauh. Berhenti sejenak hanya dilakukan di salah satu pom bensin. Itupun hanya untuk keperluan pribadi.

Setelah itu, tidak ada hambatan yang berarti hingga kami memasuki Kota Tasikmalaya. Dari sini, kami mengambil arah menuju Cipatujah. Tidak lama setelah kami meninggalkan Kota Tasik, jalan bergelombang dan berkelok-kelok langsung menyambut kami. Persimpangan pun kami temui. Arah kiri menuju Cikatomas kami pilih sesuai petunjuk dosen yang memang sudah pernah menuju ke lokasi tujuan kami.

Setelah melewati Mesjid Besar Cikatomas, kami mengambil jalur kiri saat tiba di pertigaan. Bagi yang tidak menggunakan pemandu, sejak dari sini, sangat disarankan untuk bertanya kepada penduduk setempat. Sebab sudah tidak ada papan petunjuk jalan lagi. Tanyakanlah kepada penduduk jalan menuju Kampung Pasir Gintung, Desa Buni Asih atau ikuti elf jurusan Cikatomas-Buni Asih hingga ke pusat Desa Buni Asih.

Dari pusat desa, ternyata dosen kami pun tidak begitu ingat dengan jalannya saat menemui pertigaan di dekat pasar. Dengan tidak tersedianya papan penunjuk jalan, maka kami pun bertanya kepada penduduk setempat. Arah lurus pun kami ambil sesuai dengan keterangan penduduk. Jalan sudah tidak lagi beraspal. Rumah-rumah penduduk pun semakin jarang. Dan pertigaan pun kembali kami jumpai.

Semula kami akan mengambil jalan lurus, namun keraguan yang hinggap di benak akhirnya membuat kami untuk kembali bertanya kepada penduduk setempat. Salah satu dari kami pun bertanya kepada pemilik satu-satunya rumah yang terlihat di sekitar tempat ini. Jalan ke kiri pun akhirnya kami tempuh. Jalan berbatu dan penuh genangan air langsung menyambut kami. Supir bis sudah mulai mengeluh disebabkan medannya yang memang keterlaluan untuk dilalui kendaraan non off-road. Di beberapa tempat yang kami lewati, terdapat singkapan batu berwarna putih yang merupakan batugamping yang sebagian ditambang oleh penduduk.

Setelah berjibaku dengan jalan berbatu, kami pun tiba di lokasi. Tepatnya pukul 13.30 WIB. Sungguh perjalanan yang sangat panjang mengingat kami harus menempuh jalan yang sama untuk kembali ke Bandung. Dari tempat kendaraan diparkir, kami bergerak menuju kumpulan bongkahan jasper dengan berjalan kaki.

Pemandangan jasper di antara sawah nan hijau

Lokasi pertama ialah kumpulan jasper di tengah-tengah hamparan sawah. Bongkah-bongkah berwarna merah dengan ukuran 2-3 meter tersebut tersebar di antara sawah-sawah nan hijau. Sungguh suatu pemandangan yang akan menarik jika dikelola dengan baik.

Selanjutnya, kami beranjak menuju Sungai Cimedang, lokasi paling menarik dari Taman Jasper. Pada tubuh sungai ini berserakan bongkah-bongkah jasper berukuran hingga 3 x 2 meter. Bongkah sebesar itu tentu berasal dari suatu tempat yang tidak jauh. Namun, hingga tulisan ini dibuat sumber dari bongkah-bongkah jasper tersebut belum ditemukan. Dugaan yang paling mungkin ialah jasper tersebut berasal dari fragmen breksi yang tersebar di sekitar Sungai Cimedang. Breksi merupakan batuan sedimen yang memiliki ukuran fragmen mulai dari 64 milimeter hingga lebih dari 1 meter.

Hamparan jasper di Ci Medang

Bongkah besar jasper di Ci Medang

Menurut para ahli, jasper di Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya ini terbentuk sejak Kala Oligo-Miosen atau 25 juta tahun yang lalu saat Jawa Barat masih berupa gunungapi purba yang sebagian berada di bawah laut. Proses hidrotermal pada endapan gunungapi bawah laut tersebut menyebabkan mineralisasi pada endapannya. Mineralisasi tersebut dapat membentuk suatu mineral yang keras seperti jasper. Kekerasan jasper pada Skala Mohs bernilai 7 dan masuk dalam keluarga mineral silika.

Mineralisasi pada jasper

Secara geologi, keberadaan jasper di lokasi ini sangat penting karena menjadi bukti sejarah terbentuknya Pulau Jawa. Sayangnya, jumlah jasper yang berada saat ini sudah jauh berkurang akibat penambangan oleh pihak asing. Namun, jumlah yang tersisa saat ini masih menarik untuk dikunjungi. Dengan catatan, harus ada fasilitas yang memadai dan promosi yang gencar melalui berbagai media yang saat ini sudah banyak tersedia. Misalnya melalui situs-situs sosial atau website pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.

Comments
  1. Budi says:

    “Sayangnya, jumlah jasper yang berada saat ini sudah jauh berkurang akibat penambangan oleh pihak asing.”

    >> Jangan salahkan “pihak asing” yang telah melakukan penambangan di sana!
    Salahkan PEMBERI IJIN penambangan di sana, yaitu PEMERINTAH DAERAH TASIKMALAYA!

  2. Mohon izin menggunakan foto sawahnya ya.
    Abdi ti Tasikmalaya oge.
    Hatur nuhun

  3. Sheyka says:

    Kang Iqbal, mata kuliah Geowisata itu mata kuliah umum kan? Perlu punya alat-alat gitu nggak selain peralatan ‘wajib’ treking kyk carrier dan sepatu lapangan? Trims🙂

    • Iqbal E. Putra says:

      Iya, itu kuliah umum, sapa aja boleh ambil. ga wajib punya carrier ko. Saya aja ga punya carrier, males bawa yg gede2, ribet. Yg penting cukup buat bawa makanan dan minuman. kan ke lapangannya juga pke bis dan ga nginep. jadi ga perlu bawa banyak barang…

  4. Lukita Gotama says:

    Saya mau partisipasi membantu membuat konsep disain (masterplan) taman rest area untuk tasikmalaya.

    • Iqbal E. Putra says:

      Alhamdulillah, bagus itu. Tapi kalo mengajukan di sini salah alamat mas, saya cuma salah seorang pengunjung tempat itu saja. hehe…

  5. Panorama Bagolo says:

    Kekayaan Alam Tasikmalaya …

  6. angga says:

    hatur nuhun kang info na😀

  7. cahayaadil says:

    luar biasa perjalanan di kelilingi keindahan alam murni,hanya saja kenapa tidak di tampilkan jalanan yang sangat hancur dan sangat parah,karena sy mempunyai pengalaman ke daerah itu.mulai dari ciwatin,tanjakan tulang anjing,pasir jenggot,pangliaran,cibuntu,cibolang,buniasih,pasir gintung jalanan sangat paraaaahhhhhhhh

  8. semoga anggota dewan yg terhormat kab tasikmalaya tidak buta dan tidak tuli

  9. Subhanallah indahnya dunia ciptaan ALLAH , sy ingin berkunjung kesana dgn klrg tp mengapa akses jln menuju kesana tdk diperbaiki oleh Pemda setempat padahal ini adalah aset pariwisata utk Pemda Tasikmalaya

  10. Jiman says:

    Izin unduh kang. Kange sosialisasi. Supados pada nyaah kana kakayaan alam Tasikmalaya.

  11. deni prasetyo says:

    hmm kira2 di tasikmalaya pusat penjualan jasper dimana yaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s