KEN DEDES SANG ARDHANARESWARI

Posted: April 22, 2010 in Resensi Buku
Tags: , , ,

Semua orang memandang terperangah ke arah temanten putri yang memiliki kecantikan gilang gemilang. Ken Dedes, Sang Ardhanareswari tak perlu mengumbar senyumnya untuk menyihir segenap tamu yang tak pernah membayangkan ada kecantikan yang sesempurna itu. Sungguh beruntung Akuwu Tunggul Ametung bisa memperistri gadis secantik itu. Di tengah upacara pernikahan yang sebenarnya tengah terancam kekacauan tersebut, bergetar dada Parameswara melihat wanita yang dicintainya menikah dengan orang lain. Debaran itu makin terasa manakala Ken Dedes beserta Tunggul Ametung menghampirinya dan meminta restunya. Ken Dedes yang sebenarnya mencintai Parameswara tersebut hanya bisa menangis dan mengikhlaskan takdir yang memang harus terjadi. Keris Sang Kelat yang tersimpan di lipatan benak Parameswaralah yang memperingatkan bahwa titisan Dyah Smurat Nrrtari Maharani Sri Sanjayawarsa tersebut bukanlah takdirnya. Namun, Mpu Purwa, sesepuh Panawijen yang juga merupakan ayah Ken Dedes justru amat mencemaskan nasib anak gadisnya. Melalui penerawangan batin, ia dapat melihat jalan berdarah yang akan dilalui putrinya.

Ken Arok, yang tengah berada di Kediri dalam rangka membantu persiapan perang melawan pemberontakan Ganter, langsung menyelinap ke Tumapel saat mendengar pernikahan Ken Dedes. Titisan Rakai Walaingpu Kumbhayoni tersebut meyakini bahwa Ken Dedes merupakan takdirnya sebagaimana kehidupan sebelumnya. Hantu Padang Karautan itu bahkan pernah adu olah kanuragan melawan Parameswara yang telah ia anggap sebagai sahabat karibnya karena memperebutkan Ken Dedes. Namun, melalui pertarungan itu pula Parameswara justru mendapat kepastian bahwa Ken Dedes memang bukan takdirnya. Kepastian itu diperolehnya dari orang yang selalu mengikutinya, orang yang memiliki wajah dan perawakan yang sama persis dengannnya. Bukan hanya itu, bahkan dalam hal olah kanuragan pun, orang itu memiliki teknik yang sama.

Orang yang mengaku berasal dari waktu yang berbeda dan memiliki anak bernama Tandhya Dyah Laksita itu, juga pernah meminta bantuannya membebaskan istrinya yang dijadikan tawanan Ki Sabalangit. Namun, sayang saat itu bulan sedang purnama. Rajah Sapta Prabancana yang melekat di telapak tangan kirinya sedang mempengaruhinya dengan amat sangat. Dalam kondisi tersebut, Parameswara berubah sama sekali menjadi orang yang beringas, brutal, dan tidak mudah mati sekalipun tubuhnya telah terbakar. Rajah Prabancana yang menjadi tanda pengikut Prabanjara tersebut merupakan kelompok 7 orang yang mengincar nyawa anak Parameswara. Anak yang akan lahir itu merupakan titisan dari Dang Acarya Yogiasvhara, penjaga air Tirtamanthana yang disembunyikan di balik Candi Yogiasvhara yang dimurcakan. Masalah semakin kompleks karena ternyata istri dari Parameswara juga terpilih sebagai Sapta Prabancana, bukan Panca Hapsara yang bertugas melindungi anak tersebut.

Bingung, penasaran, dan geleng-geleng. Itulah rangkaian perasaan yang mungkin dirasakan ketika membaca novel Candi Murca jilid 4 yang berjudul Ken Dedes, Sang Ardhanareswari ini. Bingung karena memang misteri yang ada d novel ini belum sepenuhnya terungkap sehingga membuat penasaran untuk menantikan kelanjutan ceritanya. Geleng-geleng karena banyak teknik kanuragan atau beladiri yang tidak masuk akal walaupun pada novel ini diceritakan selogis mungkin. Contohnya ialah ilmu membelah diri yang digunakan oleh Ken Arok.

Novel setebal 832 halaman ini merupakan lanjutan dari 3 novel Candi Murca yang sebelumnya. Novel pertama berjudul Ken Arok Hantu Padang Karautan, novel kedua berjudul Air Terjun Seribu Angsa, dan yang ketiga berjudul Murka Sri Kertajaya. Novel bergenre fiksi sejarah ini berlatar akhir dari Kerajaan Kediri dan awal berdirinya Kerajaan Singasari. Namun, tokoh utama pada novel karya Langit Kresna Hariadi ini justru bukan tokoh penting dalam sejarah bangsa ini. Penekanan cerita justru jatuh kepada Parameswara, tokoh yang dalam sejarah sebenarnya merupakan pencuri kecil saat masa Kerajaan Majapahit yang pada novel ini memiliki kemampuan kanuragan yang luar biasa. Misalnya ialah Aji Cleret Tahun, ilmu kanuragan yang dapat menciptakan angin lesus atau tornado.

Dibandingkan dengan novel dengan genre yang sama saat ini, novel ini termasuk yang paling menarik setelah era Api Di Bukit Menorehnya S.H. Mintardja. Penulis novel ini sebelumnya juga telah menulis novel Gajah Mada yang terbit hingga 5 seri yang dilanjutkan dengan Perang Paregreg yang telah terbit 2 seri. Berbeda dengan kedua novel tersebut, pada novel Candi Murca ini porsi unsur fiksinya lebih banyak. Tetapi, unsur fiksi tersebut tidak sampai mengubah sejarah yang sebenarnya dan sebaliknya justru saling mendukung menjadi satu keutuhan alur cerita.

Kekurangan terbesar dari novel ini ialah kualitas cetakan dan penyuntingan yang kurang baik sehingga beberapa kesalahan ketik dan pemotongan kalimat yang kurang tepat banyak ditemukan. Selain itu, berbeda dengan 3 seri sebelumnya, pada novel ke 4 ini tidak disertakan penjelasan dari kata-kata berbahasa Jawa sehingga menyulitkan pembaca yang tidak menguasai Bahasa Jawa.

Comments
  1. konot says:

    maaf bro.,.,lw tw dimana bisa daapet nie Buku.,.,.,di Tempat gw udah ngga ada.,.,
    thx

    • Iqbal E. Putra says:

      Saya cek di toko buku juga udah ga ada si. Saya belinya pas baru keluar, jadi masih banyak. Coba di search d google, mungkin ada yg menjualnya secara online..

  2. Rachmat Hidayat says:

    jilid 5 nya kapan realese, penasaran nih…?

  3. jongos says:

    boleh ngopi gak ya…. hehehheheh.

  4. ridwan says:

    pinjem boleh gak yaaa. hehhehehe

  5. Ali says:

    ada yang niat jual ini buku??
    klo ada bole email or sms
    4li.maruf@gmail.com
    085882029433

    thx,,,,

  6. Gunawan Budiraharjo says:

    dimana buku ini bisa saya beli ya, kang

    • Iqbal E. Putra says:

      Novelnya sudah tidak terbit, mungkin di toko buku bekas masih ada. Saat ini, novelnya sudah berganti judul menjadi Amurwa Bhumi: Cleret Taun dan sudah tersedia di toko buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s