GEDEBUG AIR DI CURUG BUGBRUG

Posted: February 25, 2010 in Geowisata, Pengalaman
Tags: , ,

Bagi anda yang berdomisili Bandung atau Cimahi, pasti nama Curug Cimahi cukup akrab ditelinga walaupun tidak mengetahui pasti lokasinya. Namun, pernahkah nama Curug Bugbrug mampir di telinga? Mungkin sebagian besar akan mengatakan tidak. Bahkan salah satu dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung yang gencar meneliti kawasan Bandung pun tidak pernah mendengar nama curug yang berlokasi di Parongpong, Lembang, Kabupaten Bandung Barat ini. Padahal keindahannya tidak kalah dari Curug Cimahi yang berada di hilirnya bahkan keasrian curug ini lebih alami dan hijau.

Curug Bugbrug merupakan salah satu dari sekian banyak air terjun yang berada di kawasan Bandung. Air terjun atau curug ini merupakan aliran dari Sungai Cimahi, sama seperti Curug Cimahi hanya lokasinya berada lebih ke hulu. Lokasinya memang cukup jauh dari jalan, sehingga tidak mengherankan jika nama Curug Cimahi dan Curug Panganten lebih tenar karena papan namanya yang tampak dari jalan. Padahal untuk menjangkau curug ini sebenarnya tidak terlalu sulit.

Dari arah Bandung, perjalanan menuju curug ini bisa dimulai dengan menuju Terminal Ledeng, lalu mengambil jalan ke kiri menuju Parongpong. Jika dari Cimahi, dapat menggunakan angkutan kota (angkot) jurusan Parongpong. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju Curug Cimahi, tetapi turunlah di jembatan Cimahinya, tepat di depan warung penduduk. Lalu, ikuti jalan setapak yang ada di sepanjang tepi aliran Sungai Cimahi. Mula-mula, kita akan disambut oleh tebing terjal dengan bentuk kekar yang tampak seperti aliran yang terbendung (Gambar 1). Tebing tersebut merupakan hasil dari pembekuan lava yang memang banyak terdapat di Bandung.

Gambar 1 tebing hasil dari pembekuan lava

Gambar 2 jalan setapak di tepi Sungai Cimahi yang tertutup semak. Tampak tebing lava di kejauhan.

Setelah itu, jalan setapak tersebut akan melewati pematang sawah sepanjang Sungai Cimahi diapit oleh dua tebing di kedua sisinya. Hal yang menariknya ialah, kedua tebing tersebut terbentuk dari batuan yang berbeda. Tebing yang berada di sisi selatan merupakan kemenerusan dari tebing di awal jalan setapak tadi yang keras dan kristalin. Sedangkan tebing yang di sisi utara terbentuk dari endapan tuff berwarna putih dan berbutir halus serta berlapis baik. Tebing lava tersebut lebih terjal dibandingkan dengan tebing tuff di sebelahnya (Gambar 2).

Setelah berjalan sekitar 15 menit menempuh jalan setapak yang berlumpur saat musim hujan, tampak Curug Bugbrug yang terjun menuruni tebing lava (Gambar 3). Namun, sebelum meneruskan perjalanan hingga ke bawah air terjun tersebut, kita diharuskan membayar sejumlah uang kepada petani sekitar sebagai tanda masuknya. Tarif yang dikenakan saat itu ialah Rp 3.000,- per orangnya.

Tiba di bawah air terjun, kita akan disuguhi pemandangan yang hijau dan kolam dengan air yang jernih (Gambar 4). Namun, keinginan untuk sekedar berendam mungkin harus ditunda karena terpasang papan larangan bertuliskan dilarang berenang karena berbahaya (Gambar 5). Di ujung kolam Sungai Cimahi mengalir, jalan setapak yang ditempuh sebelumnya berujung pada jembatan kayu yang terbuat dari 2 batang kayu dengan beberapa papan yang melintang pada batang tersebut sebagai alat bantu berpijak (Gambar 6). Walaupun jembatan tersebut tingginya tidak sampai 1 meter dan aliran Sungai Cimahi di bawahnya tidak dalam, untuk menyeberanginya kita harus tetap hati-hati guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah melewati jembatan tersebut, perjalanan sebenarnya bisa dilanjutkan mengikuti jalan setapak menaiki tebing menuju lokasi outbond. Dari sana, perjalanan pulang bisa menggunakan alternatif lain melewati perkampungan penduduk. Namun jarak yang ditempuh lebih jauh walaupun jalannya lebih bagus.

Gambar 3 Curug Bugbrug pada tebing lava dilihat dari kejauhan.

Gambar 4 Curug Bugbrug dengan kolam di bawahnya

Dilihat dari dekat, air terjun ini cukup tinggi, mungkin sekitar 30 meter. Besar air terjunnya pun tidak seberapa, jauh lebih kecil daripada Curug Malela. Namun, kesejukan dan keasrian suasana sekitarnya, merupakan nilai lebih air terjun yang memotong aliran lava ini. Jika curug ini dikelola dengan serius sebagai salah satu objek pariwisata, dengan pembangunan infrastruktur yang baik seperti akses jalan, mungkin gedebug air di Curug Bugbrug akan terdengar lebih keras lagi.

Gambar 5 papan larangan berenang dan jalans setapak menaiki tebing

Gambar 6 jembatan kayu melintasi Sungai Cimahi

Comments
  1. erik says:

    thnx info nya…segera maluncur kesana dlm waktu dkt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s