MENEMBUS JAYAGIRI MENUJU TANGKUBAN PARAHU

Posted: February 19, 2010 in Geowisata, Pengalaman
Tags: , ,

Di suatu pagi, di bulan itu. Semua persiapan sudah beres. Semua orang sudah berkumpul. Hanya satu yang kurang, angkot yang belum juga datang. Pagi itu, kami bertujuh hendak pergi ke Gunung Tangkubanparahu. Tapi, kami akan mencoba jalur yang tidak biasa, yaitu mendaki menembus hutan Jayagiri, Lembang.

Cuaca yang mendukung menambah semangat kami ketika angkot yang ditunggu akhirnya datang. Setelah beberapa kali melewati persimpangan dan kemacetan, akhirnya kami tiba di Terminal Ledeng untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Lembang dengan angkot St. Hall-Lembang. Tiba di area pertokoan, kami turun. Gang kecil di ujung kelokan jalan kami masuki. Gang itu menurun di awalnya, namun kemudian terus menanjak hingga perkebunan penduduk. Untuk melewati daerah itu menuju Hutan Jayagiri, kami dikenakan biaya Rp 3000 per orang.

pemandangan Lembang dengan Gunung Malabar sebagai latar belakang

Namun sebelumnya, kami menikmati pemandangan daerah Lembang terlebih dulu. Gawir sesar Lembang tampak terlihat memanjang dari timur ke barat dengan latar belakang Gunung Malabar jauh di depan kami. Puncak gawir tersebut di antaranya ialah Gunung Palasari di timur dan Gunung Batu di baratnya. Observatorium Boscha tampak menyembul di antara pepohonan di salah satu puncak bukit gawir tersebut. Di sisi kiri kami, terdapat Gunung Putri yang terbentuk dari punggungan lava Gunung Tangkubanparahu.

Setelah puas menikmati dan berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan menanjak menuju hutan Jayagiri yang sudah terlihat. Pohon pinus dan semak-semak menutupi semua lembah di bawah punggungan tempat kami berjalan. Menutupi aliran anak sungai yang masih perawan. Jalan setapak yang kami lalui akhirnya berakhir di jalan desa yang lebih besar. Beberapa penduduk dengan ramah menyapa kami sambil memanggul tumpukan kayu kering di punggungnya. Kami terus mengikuti jalan itu dan menjumpai persimpangan.

Dari sini, salah seorang dari kami yang menjadi pemandu mulai ragu dalam memilih jalan. Tetapi akhirnya kami memilih jalan ke kiri setelah ia mengingat-ingat kembali. Jalan yang kami ambil semakin menyempit dan akhirnya hanya berupa jalan setapak menembus hutan. Sepanjang perjalanan, kami terus mendengar mesin gergaji dan pohon yang roboh. Tapi, kami tidak tahu apakah memang sedang ada aktifitas penebangan karena yang kami tahu hutan ini termasuk kawasan lindung.

Salah satu jalan setapak menembus Hutan Jayagiri

Jalan setapak yang kami telusuri ternyata bercabang tiga, satu tampaknya menuju bawah lembah, yang satu lagi lurus menyusuri lereng, dan satu lagi mengarah ke puncak lereng. Dari sini, lagi-lagi, pemandu tadi ragu-ragu. Seingatnya, tidak ada persimpangan seperti ini sebelumnya. Namun, akhirnya kami memilih untuk mengambil jalan yang menuju puncak lereng dengan asumsi bahwa untuk menuju ke kawah Tangkubanparahu kita harus menuju titik tertingginya. Karena cukup lelah, kami beristirahat dan membuka perbekalan dulu di tengah hutan sambil memikirkan arah mana yang akan kami ambil. Sebab jalan setapak yang kami pilih ternyata buntu.

Akhirnya, kami sampai juga di jalan beraspal setelah menembus semak belukar membuat jalan sendiri karena jalannya sudah tidak ada. Trauma untuk menembus semak-semak, kami memutuskan untuk menyusuri jalan itu saja. Ternyata jalan itu berakhir di menara BTS, bukan kawah. Terlanjur sampai sini, kami makan siang dan menikmati pemandangan dulu di sekitar menara karena daerah itu cukup terbuka dan berada di tepi lereng. Dari tempat itu, tampak Waduk Saguling di kejauhan, serta Gunung Burangrang tepat di sisi barat kami. Gunung Tangkubanparahu ada di sisi timur Gunung Burangrang. Artinya, puncak Tangkubanparahu mestinya ada di sisi timur kami.

Gunung Burangrang dilihat dari sisi barat Gunung Tangkubanparahu

Bau belerang mulai menyapa. Akhirnya kami tiba juga di Kawah Baru, salah satu kawah di Tangkubanparahu. Dari puncak tebing kawah tersebut terlihat Kawah Upas dan Kawah Ratu serta deretan toko suvenir yang ternyata cukup jauh. Kawah ini dapat kami capai setelah kembali menyusuri jalan beraspal tadi. Di tengah jalan, ternyata terdapat jalan setapak menuju arah timur yang semula kami abaikan. Ternyata jalan setapak tersebut berujung di puncak tebing Kawah Baru.

Setelah 2 jam berkeliaran di hutan Jayagiri, akhirnya kami tiba juga di kawah Tangkubanparahu. Perjuangan pantang menyerah dan melelahkan dalam mencari jalan menuju puncak Tangkubanparahu berbuah pemandangan kawah yang berbeda daripada jalur konvensional. Tampak lebih indah dan menakjubkan karena tebing Kawah Baru lebih tinggi daripada tebing Kawah Ratu yang biasa di kunjungi.

Namun, tidak perlu khawatir dengan jalan pulang. Sebab dari tebing tersebut terdapat jalan setapak mengitari kawah menuju punggungan di antara Kawah Upas dan Kawah Ratu. Jalan itu juga menerus hingga deretan toko suvenir di tebing Kawah Ratu. Dari Kawah Ratu, perjalanan pulang dapat dilanjutkan dengan menggunakan angkot menuju Lembang.

Pemandangan Kawah Upas dan Kawah Ratu dari puncak tebing Kawah Baru.

Ekspresi saat mencapai kawah Tangkubanparahu

Comments
  1. dony says:

    Tahun berapa tuch gan Hiking ke jaya giri nya .. ane sering bgt hiking di hutan jaya giri . tapi semua gambar nya kaya beda bgt sama yg sekarang. dulu kawah ratu ga seperti itu ..

    • Iqbal E. Putra says:

      Ooh, itu emang nyasar kang, setelah 2 Jam muter2 nyari jln yg benar, br deh nyampe Kawah Baru (sebelah barat Kawah Ratu dan Kawah Upas). setelah itu br muterin kawah menuju tempat pengukuran kilat gitu, trus ke pematang antara Kawah Upas dan Kawah Ratu, baru deh k Kawah Ratu.

    • Iqbal E. Putra says:

      Oh iya, foto itu sekitar tahun 2008 akhir.

  2. norm says:

    WOWing.. Subhanallah.. jalan-jalan muluu… ikut dooonk! :]

  3. Claudia Aprilia Laurensi says:

    Perjalann dr area pertokoan sampe kawah ratu brp jam?
    Terus kalo mau ke kawah Tangkuban perahu gmn cara-y?
    Trims… ^^

    • Iqbal E. Putra says:

      Karena waktu saya ke sana sempat tersesat selama 2 jam, jadi baru nyampe Kawah Ratu setelah kurang lebih 5 jam. Jika mengambil jalur yg benar, mungkin bisa tiba lebih cepat. Lagipula, menurut kabar terakhir yg saya dengar, jalur pendakiannya sudah dibuka. Jadi, tinggal mengikuti jalur itu saja..

  4. TULUS says:

    jadi inget jaman tahun 90an….tiap 2 bulan sekali pasti ke jayagiri….hemmmm…..abah, kumaha daramang?????

  5. wah kalo saya jadi inget thn 1979,saya hiking ke jayagiri…blm ada jalan setapak,jalan buat sendiri dengan panduan kompas…tembus dan finis di daerah cimahi,dulu ada padang rumput di sana…dan lagu melati dari jaya giri masih ngetop…berarti teman2 hiking saya dulu sekarang sudah aki2 dan nini2…hehehe…

  6. bensdoing says:

    […] pict disini […]

  7. epulkatama says:

    hutan jayagiri memang awesome,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s