DANAU DAN CANDI DI BOROBUDUR

Posted: January 23, 2010 in Geologi Sejarah, Geowisata
Tags: , ,

Indonesia dahulu kala merupakan kepulauan yang dikuasai oleh berbagai kerajaan yang silih berganti selama beberapa ratus tahun. Kerajaan-kerajaan tersebut, terutama yang berada di Pulau Jawa, menyisakan berbagai peninggalan yang menunjukkan keberadaan sekaligus kebesaran kerajaan tersebut. Peninggalan tersebut salah satunya ialah sebuah bangunan yang disebut candi, yang berfungsi sebagai bangunan kerajaan, tempat semedi atau menyimpan benda pusaka, maupun sebagai bukti kebesaran kerajaan tersebut. Di antara candi-candi yang telah ditemukan hingga kini, yang terbesar ialah Candi Borobudur.

Secara administratif, Candi Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini berada di atas bukit kecil di tengah dataran yang dibatasi Pegunungan Menoreh di sebelah selatan dan gunungapi Kuarter di sebelah utara. Candi ini dibangun pada akhir abad ke-8 oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Pembangunannya diarsiteki oleh Gunadharma dan selesai dibangun pada tahun 746 Saka atau 824 Masehi.

Candi Borobudur

Namun, wilayah di sekitar Candi Borobudur saat ini bukanlah danau, melainkan sawah dan pemukiman penduduk. Artinya, danau tersebut mungkin telah surut atau memang tidak pernah ada.

Hipotesa mengenai keberadaan danau purba di daerah Borobudur pertama kali diutarakan oleh seorang seniman dan arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp, lewat bukunya yang berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931. Ia mengungkapkan bahwa Candi Borobudur merupakan perwujudan sebuah Ceplok Bunga Teratai yang mengapung di tengah-tengah telaga (www.kr.co.id). Namun, pendapat Nieuwenkamp ini ditentang oleh van Erp, pemimpin pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911. Salah satu alasannya ialah bahwa pernyataan Nieuwenkamp tidak didukung bukti kuat seperti prasasti. Namun, geomorfologi di sekitar candi terbesar di Indonesia tersebut yang mirip suatu cekungan memungkinkan keberadaan danau purba tersebut (Nisin dan Vote, 1986 di www.kr.co.id).

Seorang pakar geologi bernama van Bemmelen (1949) mendukung hipotesa Nieuwenkamp tersebut. Dalam bukunya yang berjudul The Geology of Indonesia (Geologi Indonesia) menyebutkan, di daerah Magelang bagian selatan dahulu pernah terbentuk danau yang luas. Terbentuknya danau diakibatkan oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M.

Besarnya letusan mengakibatkan sebagian puncak Merapi mengalami pelongsoran ke arah barat daya, kemudian tertahan oleh Pegunungan Menoreh bagian timur yang berada di selatan daerah Borobudur. Akibatnya, material longsoran tersebut membendung aliran Kali Progo di timur Borobudur, sehingga terbentuklah genangan yang luas di dataran Magelang bagian selatan. Setelah berabad-abad, sumbatan yang membendung Kali Progo hilang oleh proses erosi, akhirnya danau mengering (van Bemmelen, 1949).

Kemudian, hasil pengeboran yang dilakukan oleh tim kajian geologi yang dipimpin Guru Besar Geografi UGM, Prof. Dr. Sutikno berhasil membuktikan keberadaan danau purba tersebut. Pengeboran yang dilakukan di Kali Sileng, Kali Progo dan Kali Elo tersebut berhasil menemukan endapan danau berupa batulempung hitam yang banyak mengandung serbuk sari dari tanaman rawa atau danau, seperti teratai, rumput air dan tumbuhan paku, serta fosil fragmen kayu.

Penampang stratigrafi yang dihasilkan dari Kali Progo, Kali Elo dan Kali Sileng (Mulyaningsih dan Bronto, 2000)

Batulempung tersebut mengelilingi sekitar bukit Borobudur ke utara sampai Kecamatan Metroyudan bagian selatan dan berakhir di bagian tenggara Jembatan Klangon di perbatasan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kulon Progo (DIY). Sementara di sisi barat membentang hingga Desa Samberan dan Ringinanom yang masuk wilayah Kecamatan Tempuran.

Berdasarkan analisis Karbon-14 pada batulempung hitam tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa danau tersebut telah terbentuk sejak 22.000 tahun yang lalu pada jaman Plistosen. Perkembangan danau dimulai dengan material Gunung Merapi, yang membendung Kali Progo di suatu tempat sehingga menghalangi aliran air di bagian hulu (Kali Elo-Mendut-Borobudur-Bumi Segoro-Kali Sileng) hingga terbentuk danau di utara secara terus-menerus.

Candi Borobudur dengan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sebagai latar belakang

Setelah Danau Borobudur Purba terbentuk, genangannya diperkirakan tidak mengalami sirkulasi air. Kemudian pada akhir abad ke-8 dibangun Candi Borobudur di atas dataran tinggi di tengah-tengah danau oleh Raja Samaratungga. Candi ini menggambarkan bunga teratai di tengah telaga sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Buddha. Kemudian, material Gunung Merapi yang memasuki danaulah yang mengeringkan danau tersebut secara intensif selama beberapa kali. Akhirnya, jadilah Candi Borobudur seperti yang sekarang, berada di atas bukit dan dikelilingi oleh sawah dan pemukiman penduduk.

Referensi:

Mulyaningsih, S. dan Bronto, S., 2000. Genesis Of The Ancient Borobudur Lake, Central Java Related To Merapi Volcano Activities, Proceedings of Indonesian Association of Geologists The 29th Annual Convention, Bandung, Indonesia, hal 149-154

Van Bemmelen, R. W., 1949. The Geology of Indonesia vol. 1A, The Hague, Netherland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s