CURUG MALELA; PESONA YANG TERLUPAKAN

Posted: August 27, 2009 in Geowisata
Tags: , , ,

Bandung memang menarik. Morfologinya yang cekung dan dikelilingi rangkaian pegunungan menjadikan bandung ibarat parahyangan, tempat tinggal para dewa di langit. Sejarah geologi dan kehidupannya pun sama menariknya. Mulai dari legenda sangkuriang yang ternyata bisa dikaitkan dengan aktifitas Gunung Sunda Purba yang kini menjelma menjadi Tangkuban Parahu yang pernah membendung Sungai Citarum sehingga Bandung menjadi danau. Lalu berlanjut hingga ditemukannya fosil manusia purba di Gua Pawon oleh balai arkeologi dan dipelopori oleh Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Kemudian diakhiri dengan masa kemerdekaan hingga saat ini, dimana Bandung yang dulu menjadi lautan api sempat menjadi lautan sampah.

Di antara pesona yang tersimpan dalam bumi parahyangan tersebut, salah satu yang menarik ialah keindahan alam dan fenomena geologis yang sangat berpotensi menjadi objek wisata. Misalnya saja Kawah Putih dan Situ Patengan di Ciwidey, Maribaya dan Tangkuban Parahu di Lembang, serta Curug Cimahi dan Curug Bugbruk di Cimahi bagian utara. Objek wisata tersebut sebagian sudah dikelola dengan baik sehingga wisatawan dapat mengunjunginya dengan mudah. Namun tidak untuk keindahan alam yang satu ini, Curug Malela (gambar 1).

New Picture (11)Air terjun atau dalam Bahasa Sunda disebut “curug” ini memang masih sangat alami. Airnya yang cukup jernih, dikelilingi oleh perbukitan yang ditutupi semak belukar dan kebun milik penduduk setempat seperti riasan yang semakin membuat curug ini tampak elok. Belum lagi beberapa ekor monyet liar yang di musim kemarau kerap mejeng di tepi tebing air terjunnya atau sekedar bergelayutan dari pohon ke pohon.

Curug yang merupakan aliran dari Sungai Cidadap ini saat ini merupakan curug terbesar yang ada di sekitar Bandung. Tidak aneh jika ada pengunjung yang menyebutnya sebagai Niagaranya Bandung.

Selain itu, yang membuatnya unik ialah aliran airnya yang terpisah menjadi beberapa aliran saat menuruni tebing. Walaupun hal tersebut sebenarnya wajar jika dilihat dari morfologi lereng dan batuan penyusunnya yang terdiri dari breksi dan batupasir vulkanik dari Formasi Beser (Koesmono drr., 1996) yang memang kuat. Air yang mengalir deras menuruni tebing setinggi kurang lebih 50 m tersebut, menghasilkan deburan yang sudah bisa didengar dari jarak sekitar 500 m. Cukup sebagai pembangkit semangat setelah berjalan sejauh 2 km. Itupun jika tidak tersesat akibat malu bertanya kepada penduduk setempat yang dijumpai.

Keasrian curug yang terletak di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat ini bukannya belum terjamah atau tidak disadari. Dari beberapa gubuk dan jembatan bambu yang ada, tempat ini sepertinya pernah dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Tetapi itu saja tentu tidak cukup, karena bagian terpenting dari tempat wisata ialah mudah dikunjungi. Misalnya dengan menyediakan akses jalan yang memadai.

New Picture (12)

Hingga kini, curug yang dijadikan landmark Desa Cicadas tersebut hanya bisa dinikmati oleh wisatawan yang menyukai petualangan alam bebas. Bahkan untuk menuju Desa Cicadas saja harus melalui jalan menanjak berbatu (gambar 2) yang bahkan tukang ojek pun enggan melaluinya. Dari jalan berbatu tersebut, kemudian berbelok menuju jalan setapak menuruni bukit hingga menjumpai semacam gapura tanda masuk Curug Malela (gambar 3). Tapi, oleh karena banyaknya jalan setapak, pengunjung harus bertanya kepada penduduk setempat yang dijumpai selama perjalanan agar tidak salah belok.

Dari gapura tersebut, gemuruh airnya sudah terdengar meskipun bercampur dengan desauan angin yang bertiup di antara pohon pinus. Tidak jauh dari gapura tersebut, air terjunnya sudah terlihat di lembah antar bukit (gambar 1). Kemudian, dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak menuruni lereng menuju curug tersebut. Namun, harap berhati-hati karena ilalang yang tumbuh di tepi jalan setapak cukup lebat dan sisi tebingnya cukup curam. Di satu tempat bahkan ada jembatan yang roboh sehingga harus melewati lekukan yang cukup dalam (gambar 3).

New Picture (10)

Setelah tiba di dasar curug, kondisinya pun tidak kalah mengenaskan. Sampah-sampah plastik dan sterofoam terkumpul di antara bebatuan dan semak-semak di tepi sungai walau relatif tidak banyak. Sampah tersebut mungkin berasal dari perkampungan yang terangkut Sungai Cidadap sebelum tiba di Curug Malela atau bisa juga sisa-sisa aktifitas pengunjung curug ini. Sungguh ironi, karena dilihat dari jarak yang lebih dekat, curug ini memang indah, menarik dan besar menjulang (gambar 4), walau tidak setinggi Curug Cimahi.

New Picture (9)

Keindahan Curug Malela saat ini memang belum bisa dinikmati oleh semua orang. Sebab, kendaraan pribadi hanya bisa sampai SDN Cicadas. Setelah itu, harus berjalan kaki sejauh 2 km atau menggunakan ojek yang umumnya enggan mengantar jika ke Curug Malela. Kendaraan khusus lapangan pun hanya bisa mendekat hingga jarak sekitar 1 km, selebihnya tetap harus ditempuh dengan berjalan kaki. Untuk yang menggunakan angkutan umum bahkan hanya bisa sampai Simpang Rongga, sekitar 8 km dari Desa Cicadas. Dari sini, hanya bisa diteruskan dengan naik ojek maksimal hingga SDN Cicadas.

Walaupun demikian, curug yang berada di dekat perbatasan Kabupaten bandung dan Kabupaten Cianjur ini tetap berpotensi menarik para wisatawan yang menggemari petualangan dan jelajah alam. Lingkungannya yang masih alami dan hijau, disertai penduduknya yang ramah menjadi nilai tambah tersendiri bagi objek wisata ini. Selain itu, berdasarkan keterangan penduduk, ke arah hilir sungai yang juga disebut Sungai Cicurug ini sebelum bermuara ke Sungai Cisokan di Kabupaten Cianjur, masih ada 4 curug lain yang tidak kalah indahnya.

Sumber:

Berdasarkan catatan Studi Lapangan Geowisata Curug Malela oleh Dr. Ir. Budi Brahmantyo, MSc; Alfaidhul Akbar; dan Saya sendiri.

Koesmono, M., Kusnama, & Suwarna, N., 1996, Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa skala 1:100.000 edisi ke-2, Puslitbang Geologi, Bandung

Comments
  1. rindenk says:

    baru pertama kali denger ada curug ini.
    indah ternyata ^^”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s