TASIK SELATAN, MUTIARA YANG TERISOLIR

Posted: January 12, 2009 in Geowisata
Tags: , , ,

Pukul 06.00 WIB, dari kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), saya dan rombongan yang terdiri dari Dr. Ir. Budi Brahmantyo, Dr. Ir. Johan Arief dan Ir. Bandono (dosen ITB), Dr. Indyo Pratomo (pakar vulkanologi dari Pusat Survey Geologi), Ir. Iwan dan peserta kuliah Geoplanologi yang terdiri dari 4 orang termasuk saya berangkat menuju Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya tepatnya menuju ke Taman Jasper.

Dengan mengendarai mobil berukuran SUV, kami menempuh perjalanan panjang melalui jalan tol Purbaleunyi, Nagrek, hingga Kota Tasikmalaya. Dari Kota Tasikmalaya menuju Cikalong, kami mengamati bukit-bukit kecil yang banyak ditemui di sepanjang perjalanan (gambar 1 sebelah kiri). Bukit yang disebut “Bukit 10.000” ini sebenarnya merupakan hummock debris avalanche dari pembentukan kaldera sekitar 4200 tahun lalu yang kini menjadi Gunung Galunggung.

1

Perjalanan kami lanjutkan dengan disertai guyuran hujan, perbukitan terjal dan jalan berliku di sepanjang perjalanan hingga tiba di Terminal Cikalong pukul 12.00 WIB untuk ishoma. Hujan kali ini cukup lebat dan menyebabkan penuhnya sungai-sungai di daerah ini. Hujan masih mengguyur saat perjalanan kami dilanjutkan dan baru mereda saat kami sampai di daerah pesawahan yang sebagiannya terendam menjadi rawa yang mungkin bersifat musiman (gambar 1 sebelah kanan).

Akhirnya, kami tiba di pantai yang bergaris pantai lurus dan dipisahkan oleh gundukan pasir pantai berwarna gelap serta bibir pantai yang cukup miring (gambar 2). Tidak banyak yang kami amati di tempat ini selain komposisi pasir pantai (butiran mineral batuan vulkanik), morfologi, dan tingkat kemanannya dari ancaman tsunami serta pola tata ruang yang sesuai. Perjalanan pun dilanjutkan dan berhenti sejenak di rawa-rawa dekat pantai di tepi jalan yang lurus mengikuti garis pantai (gambar 3). Di tempat ini pun kami hanya mengambil foto dan mengamati kaitan morfologinya terhadap pantai tadi.2

Di jembatan Sungai Cimedang kami berhenti untuk mengamati sungai yang meluap hingga muaranya (gambar 4 dan 5) dan mewawancarai penduduk setempat tentang mitos daerah tersebut dan Taman Jasper. Namun, dari keterangan penduduk, ternyata akses menuju Taman Jasper dari tempat ini terputus akibat jembatan yang ambruk sedangkan jalan alternatif yang ada mengharuskan kami berputar kembali sehingga jaraknya menjadi terlalu jauh untuk kami tempuh dengan waktu yang sudah lewat tengah hari ini. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengubah tujuan menuju lokasi yang dari peta topografi tampak memiliki morfologi yang unik.3

Daerah yang kami tuju, ternyata merupakan suatu tinggian yang dibelah oleh jalan raya dengan singkapan breksi yang telah melapuk yang mengapit jalan tersebut di kedua di sisinya (gambar 6). Butiran pada breksi ini berukuran kerikil hingga berangkal pada Skala Wentworth, pemilahan buruk, menyudut hingga menyudut tanggung, kemas terbuka, sudah sangat lapuk hingga dapat digali oleh tangan (gambar 7). Beberapa rekahannya terisi oleh mineral lempung berwarna putih (gambar 8). Pada sisi bawah sebelah timurnya terdapat jasperisasi yang belum sempurna berwarna merah hingga jingga kemerahan (gambar 9).

Di tempat ini juga terlihat pantai dengan sungai kecil yang bermuara ke pantai tersebut. Di kejauhan terlihat sebuah pulau dengan sebuah menara yang mungkin berfungsi seperti mercusuar (gambar 10). Karena tampaknya menarik, maka kami menuju ke pantai tersebut dengan menerobos rerumputan dan tanaman liar.4


Berbeda dengan pantai yang sebelumnya, pantai ini landai dan lebih menyerupai sebuah teluk. Kondisinya masih asri dan alami, terlihat dari banyaknya terdapat lubang-lubang kecil dan pola-pola yang dibuat oleh kepiting, kerang-kerangan dan hewan pantai lain pada dataran pantainya. Lalu ada juga hewan bulu babi yang telah mati terdampar di genangan dekat karang. Aliran air hujan yang mengalir turun dari bukit membentuk pola yang mirip seperti sungai teranyam (braided river) sebelum akhirnya masuk ke sungai kecil yang bermuara ke pantai ini. Di tepian sungai tersebut, tersebut terdapat singkapan batuan vulkanik yang di beberapa tempat sedikit berbau sulfur (gambar 11).

Kemudian, setelah tiba di tepi pantai kami melihat sesuatu yang sangat menarik yaitu kekar kolom di tebing tepi pantai yang kondisinya masih sangat bagus (gambar 12 dan 13). Singkapan kekar kolom tersebut berada di bukit yang sama dengan singkapan breksi sebelumnya, hanya letaknya lebih ke bawah dan lebih ke selatan. Struktur ini terbentuk saat magma membeku membentuk batuan beku dengan arah sumbu vertikal kekar tegak lurus dengan arah pembekuan magma. Jadi, dapat disimpulkan bahwa di dekat tempat ini pernah ada kegiatan vulkanik yang mungkin terjadi di bawah laut.

Kekar kolom ini layaknya sebuah ukiran alami pada tebing yang tingginya sekitar 15 m tersebut. Di satu bagian, terdapat kekar kolom tunggal yang terpisah dari tebing kekar kolom sehingga menyerupai tiang batu (gambar 12). Di dekat kekar kolom tersebut terdapat karang laut yang menempel pada batuan vulkanik yang menurut Dr. Indyo Pratomo merupakan hasil dari erupsi gunung api bawah laut (gambar 14 dan 15).51

Dengan bermacam bentuk yang menarik dan unik tersebut, kawasan ini sangat potensial menjadi lokasi wisata. Hanya saja, saat ini masih terhalang beberapa kendala seperti jalur pegunungan selatan Jawa Barat yang cukup terjal sehingga menyulitkan transportasi, sarana transportasi yang kurang memadai dan kekhawatiran adanya tsunami dari subduksi di selatan Pulau Jawa. Namun hal tersebut rasanya sebanding dengan keindahan yang terdapat di tempat ini. Tinggal diperlukan kepedulian dari masyarakat sekitar dan pemerintah daerah untuk melestarikan dan memanfaatkan potensi tempat ini agar tidak menjadi mutiara yang terisolir oleh kulit kerang yang keras.6

Comments
  1. Bambang Asmarahadi says:

    Saya pernah baca tentang kumpulan batu besar unik yang dapat dijadikan obyek wisata setempat-Tasikmalaya atau bahan batu mulia merah, namun kurang mendapat perhatian pemerintah daerah setempat untuk pengembangannya/hati ayam dan sempat diambil untuk diselundupkan ke Luar Negeri. Kiranya dapat diambil langkah pelestariannya dan pengembangan wisatanya.

    • iqbalputra says:

      Sy tau itu pak, buku tentang Jasper atau batu ati ayam tersebut juga saya punya. Memang kurang diperhatikan pak, padahal jika dipoles akan bernilai sebagai batumulia berwarna merah hati. makanya disebut batu ati ayam. Tapi, jika langkah pelestarian, saya tidak bisa berbuat banyak, sebab saya sendiri hanya seorang mahasiswa yang baru lulus. mohon maaf..

  2. bambang asmarahadi says:

    Sebagai info tambahan mengenai Jasper, dan penelusuran bahan galian tambang, barangkali dapat anda gunakan foto dari Bakosurtanal sekitar Kalapagenep-Cijulang. didalamnya dapat dilihat kontur tanah, sungai (biru), jalan (hitam), batuan? (kuning-putih), dan daerah penduduk (merah). Coba dengan rekan2 di telusuri. Enak tuh petualang di alam sambil cari-kembangkan obyek wisata daerah sendiri.

    • Sudah pernah ada ekspedisi ke sana pak oleh dosen sy beserta anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung. hasilnya dibuat dalam bentuk buku yg berjudul Merahnya Batu Merah. tp sayangnya dijual secara terbatas.

  3. Panorama Bagolo says:

    Setelah setahun berlalu…
    Bagaimana kini Taman Jasper Tasikmalaya …
    Masihkan di awasi dan dikelola untuk pengembangan wisata Jawa Barat ?

  4. Panorama Bagolo says:

    Setelah setahun berlalu…
    Bagaimana kini Taman Jasper Tasikmalaya …
    Masihkah di awasi dan dikelola untuk pengembangan wisata Jawa Barat ?

    • Iqbal E. Putra says:

      Wah, saya kurang tau kondisinya saat ini. terakhir ke sana, kondisinya masih kurang layak sebagai tujuan wisata, karena kondisi jalan yang berbatu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s