MENGHARGAI AIR

Posted: October 31, 2008 in Jalan Terang, Kesehatan
Tags: , ,

Dia mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Dia bisa berada dimana saja, mulai dari alam bebas hingga di dalam sel makhluk hidup. Ya, dialah air, senyawa yang meliputi hampir tiga perempat bagian bumi. Lebih dari 90 persennya terdapat sebagai air asin di lautan. Sisanya berada di darat sebagai sungai, danau, kubangan, riol, kolam, dan air tanah.

Senyawa yang memiliki rumus kimia H2O ini, memiliki banyak keistimewaan dibandingkan dengan senyawa lainnya. Salah satunya ialah merupakan satu-satunya zat yang terdapat di alam bebas dalam tiga wujud atau fase, yaitu padat, cair dan gas. Hal ini disebabkan oleh posisi bumi yang tepat berada di daerah dimana air memungkinkan terdapat dalam tiga wujud. Kurang atau lebih sedikit saja, tidak akan ada air yang cair di bumi ini. Kondisi inilah yang memungkinkan terjadinya kehidupan di planet bumi.

Dari sejak bermulanya kehidupan di bumi ini, air memang menempati posisi yang sangat vital. Sebab tidak ada satu pun organisme yang bisa bertahan hidup tanpa air. Begitu juga dengan manusia. Tanpa makanan manusia dapat hidup selama lebih dari dua bulan, tetapi tanpa air manusia bisa mati dalam waktu kurang dari satu minggu.

Selain itu, masih banyak lagi peranan air dalam menunjang kehidupan ini. Sebagai pengatur iklim, pengurai sampah organik, pengatur suhu bumi, dan lain-lain. Itulah air, keberadaannya mutlak diperlukan oleh makhluk hidup termasuk kita, manusia. Tetapi sudahkah kita menjaga dan menghargai air?

Mari kita lihat keadaan air yang berada di darat seperti sungai dan danau sebagai contoh. Seberapa bersih airnya ? Jangankan di bagian hilir, bahkan di bagian hulu pun airnya kini sudah tidak jernih lagi dikarenakan banyaknya sungai yang dijadikan tempat pembuangan sampah para penduduk. Tambah lagi banyaknya jumlah penduduk yang tinggal di bantaran sungai dan pembangunan di daerah resapan air. Penebangan hutan secara serampangan pun kerap terjadi. Padahal hutan berfungsi sebagai penyerap air dan penahan tanah sehingga tidak terjadi longsor ketika hujan.

Tindakan-tindakan di atas merupakan gambaran kecilnya penghargaan dan perhatian kita terhadap air. Kita menganggap bahwa air yang mengalir–sebutlah sungai–akan mampu mengurai limbah yang kita buang. Padahal kemampuan air untuk menguraikannya sangat bergantung pada banyaknya limbah yang kita buang. Jika jumlahnya masih dalam batas kemampuan air sih tidak masalah. Namun, jika melebihi batas tersebut, air sungai akan tercemar.

Sungai yang tercemar pun akan berpengaruh pada air yang berada di bawah tanah (airtanah) yang sering dipakai dalam sumur-sumur. Anggapan bahwa airtanah tidak berkaitan dengan air sungai masih dipegang oleh sebagian besar dari kita. Sebenarnya tidak demikian. Di beberapa tempat ada airtanah yang berasal dari sungai. Jadi jika sungai tercemar, maka airtanah pun akan tercemar oleh unsur-unsur yang larut dalam air sungai tersebut. Jika air ini sampai dikonsumsi, bisa mendatangkan penyakit seperti diare, mula-mual hingga kematian.

Melihat dampaknya, sudah seharusnya kita menghargai air. Sebab seperti yang telah diutarakan sebelumnya, bahwa air sangat penting bagi kelangsungan hidup. Bukan hanya kelangsungan hidup manusia, tetapi seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Bagaimana cara menghargai air ? menjaga kebersihannya, tidak mengganggu alirannya, dan tidak mengusik tempat asalnya atau daerah resapan air merupakan contohnya.

Meskipun air merupakan benda tak hidup, dia bisa mengamuk jika kita tidak atau kurang menghargai dan memperhatikannya. Dia bisa berubah dari penunjang kehidupan menjadi pembawa maut dan bencana di musim hujan dan kemarau.

Banjir, longsor dan erosi merupakan contoh amukan air ketika musim hujan tiba. Di musim hujan air datang dengan jumlah yang banyak dalam bentuk hujan. Jika tempat meresapnya air penahan seperti hutan tidak ada, maka alirannya akan mengikis tanah yang dilaluinya. Terjadilah erosi. Atau jumlah yang banyak tersebut akan terakumulasi di daerah yang lebih rendah dan menjadi banjir atau menjadi beban bagi suatu lereng sehingga menimbulkan longsor.

Sebaliknya, ketika musim kemarau sangat sedikit air yang datang, baik berupa hujan maupun aliran sungai. Bahkan seringkali tidak datang sedikitpun. Akibatnya air sungai menjadi jauh berkurang bahkan menjadi kering. Jika penyimpan air di bawah tanah terganggu akibat penebangan hutan, maka tidak ada lagi air yang tersisa. Sehingga terjadi kekeringan yang beberapa tahun belakangan ini terjadi berkepanjangan.

Sekarang kita sudah mulai memasuki musim hujan. Namun, belum sampai sebulan berlalu, beberapa daerah sudah tergenang banjir. Apakah kondisi ini akan berlanjut ke daerah lainnya? Seberapa besar penghargaan kita terhadap air selama setahun ini? Semua itu akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan.

”Hiduplah seperti air yang tidak pernah diam, ia selalu mencari jalan menuju tempat tujuannya walaupun sebuah gunung menghadang di depannya.”

–Iqbal E. Putra–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s