Port of Namlea Bupolo. Gerbang pelabuhan Namlea menyambut para penumpang yang baru turun dari Kapal Cantika Lestari 99. Ojek dan jasa angkutan umum lain sudah siap menawarkan jasanya kepada para penumpang setelah terombang-ambing selama kurang lebih 7 jam pelayaran dari Ambon. Waktu masih menunjukkan pukul 04.00 pagi waktu setempat, hanya beberapa lampu sorot yang menerangi dermaga saat itu. Cukup untuk membantu penglihatan para anak buah kapal dan kuli pelabuhan menurunkan muatan kapal. Selebihnya, tak banyak yang bisa diamati di sekitar pelabuhan.

Namlea merupakan Ibukota Kabupaten Buru, Provinsi Maluku. Pelabuhan di kota kecamatan inilah yang menjadi gerbang para warga untuk berhubungan dengan dunia luar. Adapun Lapangan Terbang milik TNI AU hanya menyediakan 1 maskapai yang melayani penerbangan dari dan menuju Ambon. Jadwal penerbangannya pun paling sering hanya 2 kali dalam seminggu, dengan pesawat bermuatan 12 penumpang. Tak ayal, transportasi laut masih menjadi moda utama untuk berhubungan dengan pulau-pulau sekitar termasuk dengan Kota Ambon, Ibukota Provinsi Maluku.

Dari Namlea, terdapat 2 jalan utama yang terhubung dengan kecamatan lain. Jalur pertama menyusuri Teluk Kayeli menuju bagian tengah pulau melalui kawasan tempat tinggal para mantan tapol tahun 1970-an dan sentra pertanian Kabupaten Buru. Jalur kedua menyusuri pantai di utara pulau yang menghubungkan ujung timur dengan ujung barat pulau. Jalur utara ini melewati kawasan wisata serta calon bandara komersil yang masih dalam tahap pembangunan.

Jejak Tapol di Jalur Teluk

Jalan yang berkelok mengikuti kontur perbukitan savana menjadi pembuka jalur teluk ini. Perbukitan yang belakangan sering disebut Bukit Teletubbies ini sejatinya merupakan lahan tempat pohon kayu putih tumbuh secara liar. Sesuai namanya, pohon ini merupakan sumber utama dari minyak kayu putih yang menjadi komoditi khas Pulau Buru. Proses penyulingan minyak kayu putih ini masih dilakukan secara tradisional oleh penduduk setempat dan dijual dalam ukuran botol kecap seharga Rp. 200.000 per botol. Kekuatan sebuah merek membuat harganya menjadi lebih mahal seperti yang banyak dijual di Ambon sebagai oleh-oleh.

Kayuputih

Tempat penyulingan minyak kayu putih di Pulau Buru. Daun-daun kayu putih ditempatkan di tabung sebelah kiri foto, lalu dipanaskan dengan api yang berasal dari bawah tungku. Uapnya dialirkan ke wadah yang tersedia dalam tabung sebelah kanan foto untuk didinginkan dengan air yang memenuhi tabung tersebut.

Konon, jalan berkelok yang memotong perbukitan tandus ini dibuat secara kerja paksa oleh para tahanan politik atau tapol yang dibuang ke Pulau Buru. Pekerjaan yang terbilang sulit karena mereka harus membelah kaki bukit yang tersusun dari batuan metamorf Formasi Wahlua dengan peralatan seadanya. Jalan ini kini tengah dalam tahap pelebaran dengan sistem cut and fill, yaitu sisi bukit dipapas lalu material yang dipapas digunakan sebagai timbunan pada sisi lerengnya. Pada potongan bukit tersebut, terlihat singkapan yang terdiri dari sekis, kuarsit, batupasir malih, filit dan pualam dari Formasi Wahlua. Kelompok batuan metamorf tersebut tersusun berlapis, banyak rekahan dan agak lapuk. Kondisi fisik batuan yang seperti ini rawan untuk longsor terutama saat musim hujan. Di beberapa tempat, longsor tersebut bahkan sudah terjadi. Perlu adanya struktur penahan lereng atau dipotong lebih landai terutama pada lereng yang kemiringannya searah dengan kemiringan lapisan batuan.

Jalur Tapol

Jalan berkelok mengikuti kontur perbukitan di Jalur Teluk. Tampak pemotongan lereng yang baru dibuat untuk pelebaran jalan, menyingkap batuan metamorf dari Formasi Wahlua. Di atas lerengnya pohon kayu putih tumbuh secara liar memenuhi bukit tersebut.

Jejak para tapol tersebut masih dapat dijumpai di jalur teluk ini, mereka menghuni daerah disebut unit. Sekarang, unit-unit tersebut tergabung dalam satu kecamatan bernama Kecamatan Waeapu dan terbagi dalam beberapa desa. Yang menarik, nama-nama desa tersebut masih berhubungan dengan sejarah tempat itu. Sebut saja Desa Mako, Ibukota Kecamatan Waeapu, yang merupakan singkatan dari Markas Komando, disebabkan tempat ini pernah menjadi pusat komando pemerintah yang mengawasi para tapol di Pulau Buru.

Meski banyak tapol yang telah kembali ke tempat asalnya, beberapa di antaranya memilih bertahan dan bergabung dengan transmigran. Salah seorang yang masih bertahan ialah Pak Hassanuddin yang tinggal di Desa Savana Jaya. Bersama tapol lain, beliau membuka lahan pertanian di daerah yang dulu masih berupa padang savana ini. Merasa mubazir jika lahan pertanian tersebut ditinggalkan begitu saja saat pemulangan tapol, maka lokasi ini dijadikan tujuan program transmigrasi. Bersama transmigran, beliau melanjutkan lahan pertanian itu. Kini, savana yang semula gersang berubah menjadi sawah produktif dengan sistem irigasi untuk mengairi sawah sepanjang tahun. Kawasan ini pun didapuk sebagai sentra pertanian Desa Savana Jaya yang menjadi desa pertama di Pulau Buru.

Sawah

Lahan pertanian yang subur di Desa Savana Jaya, Kecamatan Waeapu. Saluran irigasi mengairi sawah ini sepanjang tahun sehingga tidak lagi mengandalkan musim hujan. Tampak bukit intrusi dan pegunungan di kejauhan yang merupakan lokasi penambangan emas di Pulau Buru.

Variasi Bentang Alam Jalur Pantai

Pemandangan yang lebih bervariasi ditemui di Jalur kedua yang menyusuri pantai di utara pulau. Mulai dari bukit savana hingga hutan yang masih asri. Perkebunan kelapa dan pemukiman penduduk asli lengkap dengan kesehariannya. Kawasan Wisata Pantai Jikumerasa dan kawasan karst lengkap dengan gua dan tebing curamnya. Sungai-sungai berair jernih yang mengalir di antar hamparan endapan aluvial berukuran bongkah. Namun, yang paling menarik ialah adanya perubahan geomorfologi dan fenomena lain yang mengikuti perubahan itu.

Kawasan karst berumur Kuarter yang terdiri dari batugamping terumbu memiliki lereng yang terjal, sangat berbeda dengan perbukitan tandus yang berlereng relatif lebih landai dan bergelombang. Goa beserta ornamennya berada di bagian bawah lereng, tersembunyi di antara pepohonan di tepi jalan.

Gua

Salah satu goa dengan stalaktitnya di kawasan karst yang dapat diamati dari tepi jalan.

Nyuci

aktifitas warga dalam memanfaatkan sungai yang masih jernih.

Jikum

Panorama kawasan wisata pantai Desa Jikumerasa. Diunduh dari http://www.triptrus.com

Dari kawasan kars, morfologinya berubah menjadi landai tiap kali memasuki pemukiman penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Jika melintas saat jam sekolah, banyak dijumpai anak sekolah berkerumun di tepi jalan untuk meminta tumpangan menuju desa asal mereka. Di pemukiman ini, sungai masih menjadi bagian dari aktifitas sehari-hari mereka. Mandi dan mencuci masih dilakukan di aliran sungai yang berair jernih.

Salah satu pemukiman yang paling menarik ialah Desa Jikumerasa yang ditetapkan sebagai kawasan wisata pantai. Di sini terdapat danau berair payau yang berada tidak jauh dari pantai dan terhubung dengan pantai melalui sungai berair jernih dengan lebar sekitar 15 meter. Saat laut surut, air danau akan mengalir ke pantai melalui sungai tersebut. Sebaliknya, air laut mengalir masuk ke danau saat laut pasang. Suasana Danau Jikumerasa masih asri dengan hutan mengelilingi tepiannya. Disediakan sampan lengkap dengan dayungnya bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana danau lalu mendayung menyusuri sungai menuju pantai atau sebaliknya. Pantainya yang masih jernih dan tenang relatif aman untuk snorkeling ataupun sekedar bermain air.

Interaksi antara perbukitan dan dataran tersebut, turut memberi bentukan pada aliran sungai di sepanjang jalur pantai ini. Endapan aluvial menghampar luas sebagai dampak terjadinya perubahan kecepatan aliran saat sungai memasuki dataran setelah mengalir deras di perbukitan. Hamparan endapan aluvial tersebar merata dalam bentuk yang menyerupai kipas jika dilihat dari udara. Bentuk ini lazim disebut sebagai kipas aluvial.

Kipas

Hamparan Kipas Aluvial Wae Duna dari kejauhan. Di ujungnya berdiri Desa Bara yang berada tepat di tepi pantai.

Kipas aluvial terluas ialah di aliran Sungai (Wae) Duna yang langsung bermuara ke laut. Material aluvialnya berukuran bongkah yang terdiri dari bermacam batuan termasuk yang memiliki kualitas sebagai batumulia. Jalur pantai ini melintas tepat di mulut kipas aluvial Wae Duna, sementara di kaki kipas aluvialnya berdiri Desa Bara yang berada di tepi pantai. Sebagai kipas aluvial yang dinamis, bukan tak mungkin, suatu saat desa tersebut akan semakin jauh dari pantai akibat pengendapan dari Wae Duna setiap tahunnya. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui besaran laju pengendapan dari sungai yang berhulu di Gunung Kapalamada ini.

Mitigasi Sejak Dini

Kedua jalur jalan tersebut menunjukkan perkembangan dan pembangunan yang tengah terjadi di Pulau Buru khususnya Kabupaten Buru. Penemuan sumber daya mineral yang ekonomis turut ambil bagian dalam perubahan wajah Pulau Buru ke depannya. Namun, pembangunan tersebut jangan sampai mengabaikan potensi bencana yang mungkin terjadi. Sedari awal, terapkan pembangunan yang mencakup mitigasi bencana.

Pelebaran jalan lama yang tengah dilakukan, sebaiknya memperhatikan kondisi geologi pada jalur jalan tersebut. Kemudian sesuaikan dengan teknik pemotongan lereng agar tidak menimbulkan gerakan tanah di masa depan. Lereng yang sudah runtuh dapat menjadi indikasi adanya ketidaksesuaian antara pemotongan lereng dengan kondisi fisik batuannya.

Pada jalur pantai, pembangunan jalannya sudah mulai memperhatikan potensi bencana di sepanjang jalan tersebut. Jembatan dibangun ulang dengan struktur yang kokoh dengan bentangan yang lebih lebar. Sekilas perbaikan ini seperti tak perlu karena jembatan terlampau panjang dibanding aliran sungainya. Namun, endapan sungainya menunjukkan bahwa sungai tersebut akan meluap berkali lipat saat musim penghujan. Dengan bentangan jembatan sekarang, jalan ini tetap bisa dilalui kendati sungainya meluap.

Jembatan

Jembatan Wae Duna yang membentang di atas mulut kipas aluvial Wae Duna. Bentangan jembatan ini jauh melampaui lebar sungai sehingga relatif aman jika Wae Duna meluap.

 

Dimuat dalam Geomagz Vol. 5 No. 4 Edisi Desember 2015

2015 in review

Posted: February 24, 2016 in Geologi Dasar

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 23,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 9 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Situs Gunung Padang-500x500Atlantis, benua yang hilang konon akhirnya ditemukan. Begitulah kira-kira inti dari sebuah buku yang menjadi permulaan berhembusnya isu tentang adanya peradaban maju di Nusantara ribuan tahun yang lalu. Peradaban yang sisa-sisanya banyak bertebaran di berbagai tempat, sehingga bentuk-bentuk bukit yang menyerupai limas sempurna mulai didakwa sebagai peninggalan peradaban tersebut yang kini terkubur. Salah satu dari bukit yang menjadi perhatian khusus ialah Gunung Padang.

Yang membuat Gunung Padang mendapat perhatian khusus ialah keberadaan situs purbakala berupa tumpukan batu yang tersusun di puncaknya. Pola yang ditunjukkan tumpukan tersebut langsung menunjukkan adanya campur tangan manusia di dalam pengerjaannya. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1998 menetapkan Gunung Padang sebagai situs kebudayaan dan kini menjadi Cagar Budaya yang dilindungi negara.

Kendati sudah dibuka sebagai objek wisata sejak tahun 1990-an dan kemudian ditetapkan sebagai situs kebudayaan, Gunung Padang baru mulai ramai dikunjungi sekitar tahun 2011. Peningkatan jumlah pengunjung tersebut tidak lepas dari maraknya isu tentang piramida beserta bermacam peninggalan budaya maju yang konon terdapat di gunung ini. Jika dulu perhatian utama wisatawan tertuju pada pemandangan dan suasananya yang asri, kini beralih pada susunan batu-batu yang menghiasi puncaknya.

Penggunaan batu-batu besar untuk berbagai keperluan terutama sarana pemujaan merupakan ciri dari kebudayaan megalitik. Susunan batu-batu pada Gunung Padang dipercaya sebagai peninggalan kebudayaan megalitik berupa punden berundak. Fungsi punden ini sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dipercaya masih hidup dan bersemayam di langit. Sehingga puncak-puncak gunung yang tinggi dipercaya menjadi tempat singgah roh tersebut saat berada di dunia. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat masa lalu mau bersusah payah menyusun batu besar di ketinggian.

Namun, sebuah tim riset menduga bahwa Gunung Padang bukan dibangun di bagian puncaknya saja, melainkan keseluruhan bukit dari kaki hingga puncaknya dibangun oleh manusia. Morfologi bukitnya yang menyerupai bentuk limas akhirnya menjadi dasar munculnya istilah piramida Gunung Padang. Piramida yang sudah identik dengan Mesir membuat penasaran banyak orang untuk melihatnya langsung.

Salah seorang ahli arkeologi yang terlibat dalam tim riset tersebut ialah Dr. Ali Akbar. Ahli arkeologi dari Universitas Indonesia itu menjabarkan hasil penelitiannya dalam buku yang berjudul ”Situs Gunung Padang, Misteri Dan Arkeologi” yang terbit pada tahun 2013. Buku ini memuat data lapangan yang diperoleh selama penelitian beserta analisis dan hasil interpretasinya.

Data lapangan yang diperoleh berupa pengelompokkan teknik penyusunan antar batu, profil teras-teras Gunung Padang yang berjumlah 5 teras, profil pemboran, serta foto-foto selama proses ekskavasi dan pengukuran geofisika. Beberapa temuan artefak seperti pecahan tembikar juga ditemukan di sekitar Gunung Padang. Analisis dari berbagai data lapangan tersebut menyimpulkan bahwa Gunung Padang bukan sekedar punden berundak biasa, tetapi berupa piramida tangga. Artinya, Gunung Padang dari kaki hingga puncak merupakan hasil karya manusia, bukan bukit alami.

Analisis yang tentu saja mengundang perdebatan di antara para ilmuwan. Selama ini, peninggalan megalitik dianggap berasal dari kebudayaan yang masih sederhana sedangkan piramida berasal dari kebudayaan yang relatif sudah maju. Hasil penelitian sejarah nusantara menyimpulkan bahwa sebelum masa kerajaan, nusantara ini belum memiliki peradaban yang lebih maju. Akan tetapi, penulis berpendapat bahwa terdapat kemungkinan pernah ada peradaban tinggi karya manusia di masa lalu, namun kemudia musnah dan terpendam lalu ditemukan kembali oleh manusia di masa berikutnya yang belum tentu memiliki peradaban yang lebih tinggi.

Terlepas dari kontroversi tentang bentuk Gunung Padang, para ahli sepakat mengenai fungsi spiritual terhadap gunung yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur ini. Sehingga wajar jika sisa-sisa aktifitas penduduk yang memanfaatkan Gunung Padang tidak banyak ditemukan di sekitar gunung ini. Jadi, fosil manusia kemungkinan tidak akan ditemukan di sekitar gunung ini.

Namun, lokasinya yang berada di antara bukit-bukit memberi dugaan bahwa sumber batunya tidak jauh dari lokasi situs. Beberapa tempat diduga menjadi lokasi tambang batu yang digunakan untuk menyusun Gunung Padang. Yang kemudian menjadi pertanyaan ialah, di mana lokasi pemukiman masyarakat maju yang membangun Gunung Padang? Serta bagaimana batu-batu yang digunakan untuk menyusunnya diangkut dari tempatnya berasal? Kedua pertanyaan tersebut hingga buku ini terbit belum dapat dijawab secara pasti walaupun penulis menyebutkan beberapa dugaan untuk kedua pertanyaan tersebut.

Selain itu, misteri tentang kapan Gunung Padang dibangun pun masih perlu penelitian lebih lanjut. Hasil pengukuran yang sudah dilakukan menyebutkan bahwa usia Gunung Padang mencapai 10.000 sampai 20.000 Sebelum Masehi (SM). Umur yang dirasa terlalu tua mengingat sejarah peradaban manusia modern yang selama ini ditemukan tidak sampai setua itu. Sebagai perbandingan, Nabi Adam as diperkirakan hidup sekitar 3760-2830 SM.

2014 in review

Posted: June 11, 2015 in Sesi Curcol
Tags:

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 25,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 9 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

NONTON FILM HOROR

Posted: June 11, 2015 in Sesi Curcol
Tags: , ,

Hari Kamis ini tingkat kebosanan memuncak, lagi. Padahal baru hari Senin kemarin nonton Naruto di Blitz Megaplex Grand Indonesia. Ya memang sih, nasib calon pegawai negeri yang udah 2 bulan digantung macam gw ini gampang banget jenuh kalo diam di kosan doang. Walau sudah diterima sebagai pegawai negeri, tapi birokrasi yang mengharuskan nunggu NIP keluar dulu baru bisa mulai kerja bikin status gw – dan mungkin yang lainnya juga – jadi gantung. Pengangguran bukan, pegawai bukan.

Biar ga jenuh, ya hari ini gw niat nonton film yang seru-seru deh, jangan yang drama romantis, nanti yang ada malah tambah bosan. Demi efisiensi anggaran, pantang bagi gw untuk nonton film yang pernah gw tonton di bioskop. Makanya film keren macam Fast and Furious 7 kagak masuk daftar karena udah nonton. Pengennya sih nonton The Avenger Age of Ultron, tapi baru trailer filmnya yang keluar, full movie nya mah belum.

Di tengah kebimbangan macam memutuskan kenaikan harga BBM, gw pilih film bergenre horror. Sampai situ dikirain ga bakal bimbang, ternyata kebimbangan tersebut berlanjut ke season 2. Kali ini demi memilih antara film Wewe atau Tuyul. Dari poster film dan sinopsis, gw menduga 2 film ini ga ada bedanya sama film horror Indonesia yang sudah-sudah, yaitu sekedar memunculkan hantu di setiap adegan, music-musik yang mengganggu alih-alih bikin seram atau kaget, terus diakhiri tanpa solusi berarti.

Well, daripada kagak jadi nonton yang akhirnya bosan bermetamorfosis menjadi bête, gw tetap harus memilih pilihan yang sulit ini. Dari segi pemeran, di film Wewe ada Nabila JKT48 yang imut itu, sedangkan di film Tuyul ada Dinda Kanya Dewi sama Kak Citra Prima. Gw panggil Kak karena ya memang usianya di atas gw. Sama kuat nih dari segi pemeran. Dari segi hantu, film Wewe nampak lebih seram hantunya, daripadaTuyul, itu kan cuma menakutkan bagi yang punya duit. Dari segi sinopsis, yang Tuyul nampak lebih punya cerita nih. Lagi-lagi sama kuat, bimbang lagi deh gw. Terakhir deh, liat trailernya dulu. Ternyata memang ini yang menentukan, dari trailer nampak bahwa film Tuyul sedikit lebih menarik.

Setelah keputusan gw menunjuk film Tuyul lolos uji kelayakan dari DPR, gw pun pergi ke loket setelah sebelumnya mondar-mandir ga jelas dari poster ke poster di dalam bioskop. Entah apa yang ada di pikiran satpam yang kayaknya memperhatikan gelagat pengunjung yang nampak kere ini. Satpam itu ga tau aja, tampilan memang seperti orang kere, tapi kantong gw isinya 50 ribuan selembar bro, tajir ga tuh?

Lanjut pas mau pesan tiket, lagi-lagi gw bimbang mikirin kalimat pemesanan yang cocok. Tadinya mau bilang aja, “Mbak, Tuyulya”. Tapi gw mikir, nanti si mbaknya tersinggung lagi gw bilangin Tuyul. Selama ngantri, gw terus mikirin kalimat yang baik supaya tidak salah kaprah, tau sendiri cewek kan sensitif. Belum nemu yang cocok, ternyata gw udah sampe aja di depan loket. Tapi mbaknya ternyata perhatian, tau aja gw lagi bingung, dia langsung nanya duluan, “film apa mas?”. Pertanyaan itu membuyarkan kebimbangan gw, dengan tenangnya gw bilang “Tuyul”.

Seperti biasa, setelah itu transaksi dilanjutkan dengan memilih jatah kursi sesuai kuota tiket yang dibeli. Ternyata, kursi yang sudah ditempati saat itu tidak sampai 10 orang. Fakta yang tidak mengejutkan ini menyiratkan 3 hal, pertama mungkin karena gw beli terlalu awal, masih 1 jam sebelum film diputar. Kedua, mungkin karena gw nonton di hari kerja dan jam kerja. Ketiga, filmnya kurang diminati. Yang terakhir ini yang gw harap cuma suudzan gw aja, soalnya pada posternya tuh ditulis part 1. Bayangin aja, kalo part 1 aja kurang diminati, rasanya sulit untuk mengharapkan part 2 nya diminati juga. Malah bisa-bisa ga jadi dilanjut nih, miris. Apa memang film Indonesia sudah demikian kurang diminati oleh orang Indonesia?

Mumpung sepi, gw milih tempat yang agak jauh dari kerumunan kursi-kursi yang sudah dipesan. Ada yang menarik perhatian gw, dari kursi yang dipesan, rata-rata adalah 2 kursi berdekatan dan tersebar di setiap pojok ruangan bagian atas. Pola sebaran seperti ini dalam dunia statistik tidak bisa disebut sebagai pola acak, tetapi memang ada persamaan deret matematiknya. Memecahkan persamaan itu sayangnya bukan keahlian gw yang nilai matematikanya paling rendah di antara mata pelajaran lain yang di-UN-kan.

Gw orangnya anti-mainstream, jadi gw pilih kursi yang menjauh dari kursi-kursi yang sudah diisi itu. Biar dapet nuansa seram juga sih, di tengah kegelapan bioskop gw sendirian, tak ada orang di sekitar, hanya ada suara-suara asing dari filmnya. Membayangkannya aja sudah seram tuh kayanya. Film yang diperkirakan ga bakal seram setidaknya diharapkan bisa bertambah 1 tingkat kadar keseramannya.

Sejam berlalu, setelah nyampah di sana-sini, shalat dhuhur supaya ada harapan dosa gw ada yang dimaafkan, masuklah gw ke bioskop studio 6. Ada sedikit kabar baik begitu gw masuk, ternyata penontonnya sudah nambah, yah lebihlah 10 orang mah. Di sebelah gw juga ternyata ada yang nempatin 1 orang, cowok, tidak sesuai harapan memang. Salah 2 orang yang duduk di pojok ternyata lelaki dan perempuan. Berusaha berpikir positif, gw anggap aja mereka itu kakak beradik, entah mana yang kakak mana yang adik, tidak ada data yang cukup untuk menyimpulkannya.

Tak lama kemudian lampu mulai dipadamkan, padahal gw baru aja nyuruh hape gw diam biar ga berisik saat film diputar. Suasana mulai kelam, cowok di sebelah gw mulai fokus nonton, termasuk gw walaupun mata masih nengok ke sana ke mari, tapi gw fokus nonton trailer film-film yang masih kamingsun. Iklan berbau kampanye ajakan nonton film Indonesia menutup rangkaian trailer-trailer tersebut.

Film pun selesai, gw dan penonton lain beranjak keluar bioskop. Ya, gw ga bahas filmnya di sini, karena gw menghargai mereka yang anti-spoiler. Jadi, sampai sini dulu gw bagi-bagi cerita nonton film horornya. Wassalamu’alaikum

DSC_0874Judul                   : Mata Moses

Penulis               : Wiwid Prasetyo a.k.a Prasmoedya Tohari

Penerbit            : Safirah

Distributor       : Transmedia

Tahun                  : 2012

Tebal                    : 471 Halaman

Mesir, sebuah negeri dengan sejarah peradaban panjang yang tergambar nyata dalam sisa-sisa kebudayaannya yang megah. Namun sebenarnya, kemegahan itu hanya milik para penguasa dan orang-orang terdekatnya saja. Peninggalan kebudayaan itu sendiri menjadi saksi bisu perbudakan dan kerja paksa demi memenuhi ambisi penguasa Mesir saat itu, yang dikenal dengan gelar Fir’aun.

Ramses merupakan salah satu Fir’aun yang paling gemilang kekuasaan dan kekayaannya. Dengan masa pemerintahan yang mencapai setengah abad, nyaris tidak ada aral rintangan berarti yang ia temui semasa kepemimpinannya. Hal itulah yang kemudian membuatnya lupa diri, puncaknya ialah saat ia menasbihkan dirinya sebagai Tuhan bagi rakyat Mesir. Oleh karena dirinya adalah Tuhan, maka semua keputusannya mutlak harus ditaati sedzalim apapun keputusannya itu. Siapa yang mengkritik atau keberatan akan dianggap sebagai pemberontak kerajaan dan dikenai hukuman berat bahkan tidak jarang berujung pada hukuman mati.

Namun, Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah lalai. Diawali dari sebuah mimpi, Ramses mendapat ramalan bahwa tahtanya akan direnggut dari lelaki yang bukan berasal dari keturunannya. Rasa takut membuatnya mengambil keputusan yang paling zhalim, yaitu membunuh semua anak laki-laki yang baru lahir dari kalangan Suku Mesir maupun Bani Israil.

Dalam kondisi mencekam akibat kebijakan yang tidak bijak tersebut, seorang bayi laki-laki dari Bani Israil justru diangkat sebagai anak asuh oleh permaisuri Ramses. Bayi yang ditemukan dalam peti yang hanyut di Sungai Nil tersebut merupakan benih dari pasangan kaum Bani Israil yang beriman. Mereka memegang teguh agama Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf yang hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah swt dan tidak menyekutukannya dengan apapun, termasuk Ramses dan Tuhan lain seperti Amon maupun Ra. Kedua orangtua bayi tersebut ialah Amram dan Yokhebed. Allah ta’ala telah mengilhamkan kepada ibu sang bayi untuk menghanyutkan anaknya ke Sungai Nil agar tidak menjadi korban Ramses berikutnya.

Di bawah pengasuhan istana Fir’aun, Ramses bukannya tidak menyadari adanya anak laki-laki yang tidak jelas asal usulnya di dalam istananya. Ia membiarkannya karena para perempuan terutama kedua permaisurinya sangat menyayanginya. Terlebih, saat itu Ramses belum memiliki keturunan sehingga ada harapan bahwa Moses bisa menjadi pancingan kehamilan permaisurinya. Anggapan Ramses tersebut membuat Moses tidak pernah dilibatkan dalam urusan kerajaan maupun keagamaan. Akibatnya, Moses tidak terpengaruh sama sekali dengan perbuatan syirik Ramses dan bangsa Mesir. Ditambah penjelasan yang diperoleh Moses dari salah satu permaisurinya yang diam-diam beriman kepada Allah swt.

Ketika beranjak dewasa, Moses dipekerjakan ayah angkatnya sebagai pengawas para budak. Saat itulah ia menyadari betapa dzalim pemerintahan Ramses, namun kedudukannya yang hanya anak angkat membatasi pengaruhnya kala memperingatkan Ramses dan pengikutnya. Moses pun memilih pergi dan kembali ke ibu kandungnya lalu membela kaumnya yang ditindas oleh Ramses. Ironis, tidak semua kaumnya menerima ajakan Moses untuk kembali ke agama tauhid dan memilih tetap mengikuti ajaran Ramses walaupun sudah ditindas sedemikian rupa. Bahkan, saat Moses telah diangkat menjadi Rasul pun sikap kaumnya tidak banyak berubah, hanya beberapa pemuda dan kerabat dekatnya saja yang mempercayai dan mengikuti seruan Moses.

Moses atau Musa as merupakan nabi dan rasul Allah yang diutus kepada Bani Israil dan Fir’aun. Kisah perjuangannya dalam menegakkan agama tauhid di bumi Mesir dituliskan dalam novel berjudul Mata Moses yang diceritakan dengan nuansa fiksi. Sumber ceritanya sendiri berasal dari Alquran dan kitab-kitab lain serta tafsiran dari para ulama yang kemudian diceritakan kembali dengan bahasa penulis. Referensi tersebut dicantumkan pada catatan kaki novel ini sehingga pembaca bisa mengecek keabsahan referensi tersebut.

Cerita di novel ini diawali dari peradaban Mesir jauh sebelum Ramses berkuasa yang menjadi latar belakang kebencian Ramses kepada kaum Bani Israil. Memasuki inti cerita ditandai dari penasbihan Ramses sebagai Tuhan bagi rakyat Mesir hingga klimaksnya terjadi pada saat Moses menunjukkan buktinya sebagai utusan Allah berupa mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular dan terbelahnya Laut Merah. Perpindahan kaum Bani Israil menuju tanah Palestina menjadi penutup cerita yang sedikit berkaitan dengan isu konflik Israel-Palestina selama ini.

Dibanding sirah nabawiyyah murni, kisah dalam kemasan fiksi ini memang lebih mudah ditangkap dan dicerna dengan segmen pembaca yang lebih luas. Kronologis cerita dari Nabi Musa as dinarasikan secara urutan waktu namun dialog yang ada di dalamnya hampir tidak ada perubahan dari sumber aslinya. Ini merupakan kelebihan dari novel sejarah terutama sejarah para nabi dan rasul yang membuat kisahnya mudah dipahami tanpa mengubah sejarah yang ada. Novel yang serupa pun mempunyai pola yang sama, misalnya novel berjudul Ayyub Dan Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya karya Muhammad Makhdlori.

Seperti halnya buku dengan genre sama yang berjudul Muhammad karya Martin Lings, ada beberapa dialog yang tidak diangkat dalam cerita. Dalam novel ini, dialog tersebut ialah kala Fir’aun meminta tangan kanannya, Haman, untuk membuat bangunan tinggi agar dapat melihat Tuhannya Nabi Musa as dan Nabi Harun as. Selain itu, ada kerancuan juga pada alur novelnya yang pada bagian pembuka seperti menyiratkan alur flash back dari sebuah penemuan. Ternyata bagian kisah bagian pembuka tersebut benar-benar hanya pembuka cerita tanpa ada kaitannya dengan kisah dalam novelnya sendiri. Namun, hal itu tidak mengurangi keteguhan dan kesabaran Nabi Musa as dan Nabi Harun as sebagai utusan Allah swt untuk mengajak umatnya menuju kebenaran yang sesungguhnya.

Iqbal E. Putra

Judul: Gerbang TrinilDSC_0787-1
Penulis: Riawani Elyta & Syila Fatar
Penerbit: Moka Media
Distributor: Kawah Media
Tahun: 2014
Tebal: 293 Halaman
ISBN: 979-795-874-4

Areta adalah gadis SMA biasa yang terobsesi terhadap paleoantropologi. Percakapannya dengan anak salah satu penemu manusia purba membawanya berkunjung ke Trinil, tempat ditemukannya Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois. Namun, kunjungannya ke Trinil berubah menjadi petualangan besar yang kelak berpengaruh terhadap cara pandang dan gaya hidupnya selama ini. Siapa mengira jika manusia purba Pithecanthropus erectus yang dinyatakan telah punah ternyata masih hidup dan merencanakan sesuatu yang buruk demi merebut kembali bumi dari tangan manusia modern (Homo sapiens). Tanpa seorang teman pun yang mendukungnya, Areta pun berjuang menggagalkan niat mereka hingga para manusia purba itu kembali punah dari planet bumi.

Petualangan Areta dalam menguak kebenaran dibalik Pithecanthropus erectus menjadi inti cerita dari novel yang berjudul Gerbang Trinil ini. Sesuai dengan judulnya, latar cerita dalam novel ini memang terfokus di Trinil dan sebagian Surabaya. Dengan genre fiksi ilmiah, Riawani Elyta dan Syila Fatar mengangkat tema arkeologi khususnya fakta tentang manusia purba yang ditemukan di bantaran Sungai Bengawan Solo yang dipajang di Museum Trinil. Penemuan tersebut dibalut dengan jalinan kisah fiksi murni tanpa menyentuh ranah teori evolusi sedikitpun.

Dari judul dan temanya, sekilas jalan ceritanya akan mirip seperti film Tomb Rider ala Angelina Jolie. Apalagi tokoh utama dalam novel ini pun seorang perempuan dari keluarga yang berada seperti halnya Lara Croft. Bedanya, tidak ada perburuan harta karun dalam novel ini. Namun, alur ceritanya ternyata lebih sederhana dan sangat terfokus pada tokoh utama walau penulis bercerita dengan posisi sebagai orang ketiga. Tokoh pendamping yang diceritakan sejak awal cerita benar-benar hanya sebagai pendamping tanpa kontribusi berarti dalam petualangan Areta yang sesungguhnya. Manusia purba yang diceritakan pun terbatas pada daerah Trinil, walaupun tokoh yang terlibat dalam petualangan Areta berasal dari berbagai tempat.

Selain itu, penulis nampak terburu-buru dalam berpindah latar tempat. Umpan-umpan terkait misteri dari inti cerita yang dijalin sejak awal cerita menjadi tanpa arti. Sungguh disayangkan, benang merah antar tokoh yang sudah terjalin apik tiba-tiba terputus di tengah dan langsung lompat menuju konklusi di akhir cerita. Misalnya saja umpan akan adanya konspirasi pada penemuan manusia purba selama ini. Konspirasi ini dibiarkan menggantung begitu saja hingga akhir cerita dan tidak disinggung kembali walaupun menjelang klimaks umpan tersebut sempat muncul kembali.

Terlepas dari itu, novel ini cukup menarik untuk dibaca oleh segala umur. Bagi yang merasa awam terhadap dunia arkeologi maupun paleoantropologi tidak perlu khawatir. Sebab tidak ada istilah khusus dalam novel ini kecuali nama dari manusia purba itu sendiri. Bahasa Inggris dalam novel ini pun tidak sulit bahkan untuk diartikan per kata. Manusia purba dalam novel ini pun fasih berbahasa Indonesia kok. Namun, bagi pembaca yang senang berpikir dan menebak kelanjutan ceritanya, maka novel ini bukan bacaan yang tepat untuk Anda.

Daerah vulkanik memang menyajikan pemandangan yang tiada tara. Dibalik keganasannya saat erupsi, gunungapi memberikan berkah yang membuat orang tetap ingin menggerayangi tubuhnya yang berbentuk kerucut itu. Lahan yang subur merupakan keniscayaan untuk lereng gunung yang masih aktif. Hingga ada pepatah dalam sebuah lagu “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Berkah lain yang membuat orang tidak jera PDKT dengan gunungapi ialah sisa-sisa produk vulkanik yang membatu.

Suatu jejak aliran lava menebar pesonanya dengan bentukan janggal dan guanya yang memanjang. Bentukan janggal ini bahkan diyakini banyak orang sebagai karya artifisial, bukan dari alam. Kekar kolom poligonal, tekstur lava pahoehoe yang seperti selendang, merupakan satu di antara tekstur yang seakan terlalu rapi sebagai bentukan alam. Di ujung alirannya, lava membatu yang sejatinya keras ini akan merekah sebagai responnya terhadap gaya gravitasi dan kelembaman aliran. Bidang lemah ini akan mudah tererosi dan menyisakan tebing terjal di sepanjang ujung aliran nan panas membara ini. Dan air yang mengerosi itupun bertransformasi menjadi air terjun atau curug.
Citambur Genesis

Napak Tilas Aliran Lava
Salah satu curug hasil transformasi tersebut ialah Curug Citambur. Bunyi jatuhnya air yang seperti suara tambur, bur…bur…berdebur-debur membuat warga setempat menamainya demikian. Curug yang terletak di Desa Karangjaya, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Cianjur ini tampak terpencil kendati tingginya diduga mencapai 130 meter. Deburan airnya seolah menjadi teriakan jiwanya agar ia dikenal dan dijamah manusia.

Memang, jalan yang ditempuh untuk mencapai curug ini tidak mudah. Berlokasi dekat dengan perbatasan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung, maka ada 2 jalur bisa ditempuh. Dari arah Cianjur ambil jalan menuju Sindangbarang lalu belok di pertigaan yang mengarah ke Pagelaran. Jalannya relatif baik meski agak lubang di beberapa ruas. Kondisi berbeda ditemui di jalur kedua dari arah Bandung. Jalan mulus dari Bandung hingga Perkebunan Teh Rancabali dan Sinumbra sayangnya tidak berlanjut hingga perbatasan dengan Kabupaten Cianjur di jembatan Cisabuk. Jalan penghubung Ciwidey di Bandung dengan Pagelaran di Cianjur ini berbatu dan belum beraspal sepanjang lk 5 km di ruas Desa Cipelah. Padahal jalur perekonomian ini sangat penting untuk mengangkut hasil bumi di antara kedua lokasi.

Jalur Rancabali ini pun merupakan jalur terbaik jika ingin menuju ke Curug Citambur. Hamparan kebun teh yang hijau, udara yang sejuk, dan perbukitan yang masih menghijau menjadi bonus sebagai penyegar mata sebelum mencapai curug yang lebih terpencil lagi. Bongkah bebatuan yang tersusun dari andesit tampak mencuat di antara kebun teh yang berkontur. Bebatuan ini terbentuk dari lava gunungapi yang telah membeku. Andesit menunjukkan komposisi lava yang asam sehingga membentuk struktur lava bongkah (blocky lava).

P1070985

Perkebunan teh Rancabali

Setidaknya terdapat dua gunungapi di sekitar kebun teh Rancabali dan Sinumbra ini, yaitu Gunung Patuha dan Gunung Kendeng. Kedua gunungapi tipe B ini saat masih aktif mengalirkan lavanya ke lereng sekitarnya. Di beberapa tempat bahkan saling bertemu dan membentuk lembah yang menjadi jalur jalan Ciwidey-Pagelaran ini. Singkapan lava bongkah ini akan ditemui di sepanjang jalan dari Rancabali hingga mendekati Curug Citambur. Menempuh jalur ini ibarat tengah menapak tilas aliran lava hingga ke ujung alirannya.

Kesegaran Ujung Aliran Lava
Lava merupakan cairan pijar bersuhu tinggi yang keluar dari perut bumi. Suatu aliran lava bisa mencapai jarak puluhan kilometer tergantung derajat keasamannya. Semakin asam lava tersebut, semakin cepat ia membeku sehingga alirannya tidak jauh dari tempatnya keluar. Lava basa bisa mengalir hingga puluhan kilometer, membentuk apa yang disebut sebagai sungai lava seperti di Gunung Killuea, Hawaii.

Di ujung aliran lava inilah Curug Citambur meluncur turun setinggi lk 130 meter. Bagian atas tebing tempat curug ini berasal yang masih hijau membuat airnya terasa jernih dan menyegarkan. Hulu sungai berasal dari kaki Gunung Kendeng yang menurut peta masih belum ada pemukiman. Jatuh dari ketinggian seperti ini, air akan mengalami proses airasi, yaitu bercampurnya oksigen bebas di udara dengan butiran air selama air tersebut jatuh. Inilah mengapa air yang jatuh di tebing seperti airterjun terasa begitu menyegarkan.

P1080039

Curug Citambur

Curug ini sebenarnya memiliki dua undakan, yang pertama merupakan yang tertinggi. Di hilirnya disambung oleh undakan kedua yang lebih lebar namun tidak seberapa tinggi dibanding undakan pertama. Bebatuan pada undakan pertama tersusun dari singkapan lava, kemungkinan berjenis andesit. Di bagian dasarnya berupa breksi vulkanik yang menjadi pijakan bagi pengunjung yang ingin mendekati curug ini.

Walau sungainya mengalir pada aliran lava, namun pengunjung yang mendekati curug ini dijamin basah kuyup. Percikan airnya yang pecah selama jatuh dari tebing membuat suasana di bawah curug ini dilanda hujan lokal. Lindungi dahulu peralatan elektronik yang alergi terhadap air. Hati-hati saat melangkah karena jalan yang selalu basah, terlebih belum adanya pagar pengaman dan sarana untuk lalu lalang pengunjung.

Namun, berkunjung ke curug ini jika tidak basah akan terasa garing, laksana makan bakso tanpa kuah. Sensasi kesegarannya dijamin lebih terasa walaupun hanya terguyur percikan airnya, karena memang terdapat larangan berenang di sekitar curug. Terdapat sarana MCK yang sudah permanen walau tanpa pintu, jadi tidak perlu khawatirkan tempat membilas dan berganti pakaian. Airnya berasal dari bagian dasar curug yang dialirkan melalui saluran irigasi yang melewati bagian depan fasilitas MCK ini. Jadi masih jernih dan higienis bahkan untuk diminum sekalipun.

Tebing Naik Air Turun
Curug Citambur jatuh pada tebing yang membentang di sepanjang kaki Gunung Kendeng bagian barat-baratdaya. Belum diketahui dengan pasti bagaimana tebing di sini bisa menjulang begitu tinggi. Interpretasi sementara berdasarkan batuan pembentuk tebing tersebut ialah bahwa tebing ini berupa ujung dari aliran lava yang tererosi. Proses pengerosiannya seperti yang telah disebutkan di awal tulisan. Di sekitar kaki tebing memang terhampar bongkah-bongkah batu, umumnya breksi, yang dulunya tentu merupakan bagian dari tebing ini. Bentuk tebing tempat curug ini terjun pun memperlihatkan sebuah lekukan yang terbentuk dari hasil proses erosi air terjun ini.

Tetapi, ujung aliran lava walaupun tererosi biasanya tidak sampai membentuk tebing setinggi lebih dari 50 meter. Tentu ada pengaruh dari proses tektonik yang mengangkat tebing tersebut hingga menjulang begitu tinggi. Adanya sesar naik atau sesar normal hingga sebuah graben merupakan suatu keniscayaan yang paling memungkinkan. Terlebih dari bentuk tebingnya yang begitu tegak dan lurus memanjang, seperti yang terdapat pada lembah Ngarai Sianok di Sumatera Utara atau Gunung Batu di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Di sepanjang tebing ini memang terdapat beberapa air terjun selain Curug Citambur. Namun yang sudah dikelola menjadi objek wisata baru Curug Citambur ini. Tempat di mana tebing naik ini air tentu banyak yang turun menuju lembah di bawahnya yang lebih rendah. Tanah vulkanik yang terkenal akan kesuburannya akan ikut terbawa air dan terendapkan di lembah itu, mengundang warga untuk bermukim dan membentuk komunitas yang disebut kampung. Lambat laun kampung yang dikelilingi tebing curam itupun semakin ramai, berkembang menjadi sebuah desa. Dari Curug Citambur inilah desa di antara tebing tersebut bisa dilihat jelas, lengkap dengan curug lain yang mengiringi deburan air Curug Citambur.

Dulu, mungkin orang mengenal Belitung karena kekayaan timahnya. Tapi semua mulai berubah seiring dengan kesuksesan novel Laskar Pelangi dan adaptasi filmnya yang berjudul sama. Kesuksesan kisah tentang masa kecil Andrea Hirata, sang penulis novel tersebut, yang menayangkan eksotisme Pulau Belitung tersebut berdampak juga pada pariwisata Provinsi Bangka Belitung. Harian lokal Rakyat Pos memberitakan bahwa terjadi kenaikan penumpang angkutan udara di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang. Hal yang sama pun terjadi di Bandara H. AS. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, dengan kenaikan pada periode Januari-Februari 2013 mencapai 4,4 persen.
Meningkatnya jumlah wisatawan tersebut juga menambah berjamurnya agen-agen perjalanan yang menawarkan berbagai paket liburan. Salah satu paket liburan yang menjadi andalan di Pulau Belitung selain wisata Laskar Pelangi ialah wisata pulau (island tour). Wisata dengan perahu nelayan ini memiliki rute tetap, apapun agen perjalanan yang digunakan. Start dari Pantai Tanjung Kelayang yang merupakan lokasi event tahunan Sail Belitong-Wakatobi, pengunjung akan diantar mendekati Batu Komodo sebelum berkunjung ke Pulau Pasir, Pulau Batu Berlayar, Pulau Burung, dan Pulau Lengkuas. Walau disebut wisata pulau, namun daya tarik sesungguhnya ialah keberadaan batu-batu granit berukuran raksasa dengan bentuk-bentuknya yang unik. Bisa dibilang, inilah geotrek laut di Pulau Belitung.

Picture12

Jalur wisata pulau di Tanjung Kelayang

Pantai Tanjung Kelayang
Pantai ini dikenal karena menjadi lokasi event tahunan Sail Belitong-Wakatobi. Lokasi pantai ini tidak jauh dari Pantai Tanjung Tinggi yang menjadi lokasi syuting film Laskar Pelangi. Seperti Tanjung Tinggi, di pantai ini pun banyak terdapat bongkah-bongkah granit dengan Batu Komodo sebagai point of view pantai ini. Tumpukan granit yang menyerupai reptil ini berada di lepas pantai. Pengunjung yang ingin mengambil gambar dari dekat bisa dilakukan dari atas perahu saat wisata pulau (island tour).

P1060483

Batu burung, ada juga yang menyebutnya batu komodo, landmark Tanjung Kelayang

Pulau Pasir
Pulau ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai gosong pasir karena hanya terdiri dari gundukan pasir yang berada di tengah laut. Sama seperti gosong pasir pada umumnya, Pulau Pasir ini pun terbentuk akibat dinamika gelombang dan arus laut di perairan sekitarnya dan umumnya hanya muncul saat muka laut surut. Oleh karena itu, pulau ini merupakan pulau pertama yang disinggahi dalam wisata pulau. Selain hamparan pasir yang berbentuk melengkung di tengah laut, daya tarik lain pulau temporer ini ialah kehadiran spesies bintang laut berduri (Protoreaster nodosus).

P1060538

Pulau Pasir atau lebih tepat disebut gosong pasir

Pulau Batu Berlayar
Deretan granit setinggi kl 10 meter yang berbaris tegak seperti deretan layar pada perahu layar, itulah daya tarik Pulau Batu Berlayar ini. Pulau ini tidak selalu menjadi pulau kedua yang dikunjungi. Saat cuaca kurang bersahabat, pulau ini justru menjadi pulau terakhir yang dikunjungi setelah Pulau Lengkuas dan Pulau Burung. Memang tidak banyak yang bisa dieksplor dari pulau ini selain pesona deretan granit dan perairan sekitarnya yang dangkal dan jernih.

DSCF1546

Deretan batu di Pulau Batu Berlayar

Pulau Burung
Berbeda dengan Pulau Batu Berlayar, pulau ketiga yang dikunjungi dalam paket wisata pulau ini tidak hanya berisi granit. Pulau ini sudah berpenghuni walau hanya beberapa KK yang berprofesi sebagai petani rumput laut dan nelayan. Di pulau ini pengunjung bisa melakukan observasi pulau ataupun hanya sekedar berfoto di sekitar pantainya. Setidaknya ada 3 objek foto yang menarik, yaitu Batu Garuda, Batu Becinte dan kumpulan bintang laut jenis Sclerasterias yang benyak terdapat di pesisir Pulau Burung.

Picture1

Atas: Batu Garuda yang merupakan daya tarik utama Pulau Burung. Kiri Bawah: bintang laut yang banyak terdapat di pesisir Pulau Burung. Kanan Bawah: Batu Becinte yang diunduh dari situs http://www.belitungland.com

Sesuai namanya, Batu Garuda merupakan granit yang bentuknya menyerupai kepala Garuda Pancasila yang merupakan lambang negara kita. Granit yang fotogenik ini tidak berada tepat di pulau, namun agak ke tengah. Saat surut, batu ini dapat disinggahi dengan berjalan kaki karena kedalaman air hanya sebatas paha orang dewasa. Namun saat pasang, kedalamannya bisa mencapai hingga 2 meter.
Batu Becinte berada di sisi lain Pulau Burung, agak berjauhan dengan Batu Garuda. Disebut becinte mungkin karena sepasang tiang granit yang “menempel” ini mirip seperti orang yang sedang bercinta.

Pulau Lengkuas
Inilah pulau terluar, terjauh, dan terfavorit bagi para peserta wisata pulau sekaligus pulau yang paling lama disinggahi. Entah mengapa pulau ini disebut lengkuas, padahal tidak terlihat adanya tanaman lengkuas yang tumbuh di sekitar pulau ini. Ciri khas utama pulau ini ialah keberadaan mercusuar yang dibangun sejak pemerintahan kolonial Belanda. Ketika mercusuar ini dibangun, nama lengkuas sudah digunakan untuk menyebut pulau ini.

DSCF1395

Pulau Lengkuas dengan mercusuar yang menjadi ciri khasnya

Banyak objek menarik di pulau ini, seperti bermain-main atau berendam di antara hamparan granit, berenang, menikmati keindahan pulau dari atas mercusuar, snorkling, atau sekedar menikmati suasana pulau sambil menyantap kelapa muda. Ada yang menarik dari hamparan granit di pulau ini, yaitu arah kemiringan bongkahannya yang nampak seragam. Orientasi kemiringan tersebut membuat bongkahan granit tersebut seperti menggantuk. Arah orientasi kemiringannya relatif ke utara, mungkin terjadi lebih karena pola rekahan pada granit tersebut mengingat pada batuan beku jenis granit, tidak lazim terdapat kemiringan lapisan batuan.

P1060572

Hamparan granit di Pulau Lengkuas dengan kemiringan yang seragam. Arah utara berada di kiri foto.

Pulau ini sebenarnya tidak berpenghuni, hanya petugas jaga mercusuar beserta beberapa temannya yang menghuni pulau ini. Pengunjung bisa naik ke mercusuar setelah menyumbang uang seikhlasnya namun tidak boleh kurang dari Rp 5000,- yang dimasukkan ke dalam kotak yang telah disediakan. Dari puncak mercusuar, kita bisa melihat keindahan pulau-pulau yang dikunjungi sebelumnya dengan latar belakang daratan utama Pulau Belitung. Jernihnya perairan pulau membuat kumpulan koral dan gradasi biru di sekitar pulau terlihat jelas. Perbatasan zona koral dan perairan dalam ternyata menjadi lokasi snorkling di pulau ini.
Fasilitas snorkling yang disediakan pengusaha wisata tur terbilang lengkap termasuk pelampung standar dan kacamata yang telah disewa di Tanjung Kelayang sebelum memulai wisata pulau. Perlengkapan tersebut merupakan pilihan pengunjung, bagi mereka yang mahir menyelam, biasanya tidak menyewa pelampung. Tak ada batasan waktu bagi pengunjung untuk menikmati keindahan bawah laut Pulau Lengkuas. Kalaupun ada, batasan tersebut ialah cuaca yang kurang bersahabat di sore hari.

Kota batu di tengah laut
Wisata pulau yang sudah dijalankan selama ini merupakan awal yang bagus untuk mengenalkan pesona Pulau Belitung selain lokasi syuting film Laskar Pelangi di Tanjung Tinggi dan Gantong. Tanjung Kelayang beserta 4 pulau lain cukup untuk merepresentasikan menikmati pantai ala Belitung.
Tumpukan granit itu sendiri sebenarnya banyak juga dijumpai di daratan. Namun tanpa cerita geologi yang dikemas dengan baik, tumpukan granit tersebut tidak lebih dari sebuah gunung batu yang hanya menantang untuk didaki walau tidak tinggi. Padahal granit tersebut berusia 200 juta tahun atau pada jaman Trias (Priem et al., 1975 dalam Baharuddin dan Sidarto, 1995), awal mula era dinosaurus mendominasi planet bumi. Menarik untuk diketahui, bagaimana granit yang sejatinya batuan dalam perut bumi dapat terekspos ke permukaan bahkan muncul di tengah laut dengan bentuknya yang unik dan fotogenik.
Hamparan granit tersebut memberikan keharmonisan warna alam yang indah dipandang. Perpaduan antara biru lautan, putih granit dan biru langit dari atas perahu menghasilkan eksotisme pantai yang tiada tara. Laksana berkunjung ke kota batu di tengah birunya laut. Penduduk setempat pun sudah potensi ini sehingga menolak semua ijin eksploitasi timah demi menjaga keutuhan kota batu tersebut.

Dimuat juga di Geomagz edisi Maret 2014

MENAIKI PRAHU MENUJU NEGERI DI AWAN

Posted: January 10, 2014 in Geowisata

Dieng, sebuah dataran tinggi di antara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, merupakan sebuah kompleks vulkanik yang terdiri dari beberapa danau kawah yang sebagian di antaranya masih aktif. Kawah aktif tersebut kerap menyemburkan gas beracun yang sewaktu-waktu mengancam warga Dieng, seperti yang terjadi pada tahun 1979 saat Kawah Timbang mengeluarkan gas beracun yang memakan 149 korban jiwa.
Sebagai sebuah kompleks vulkanik, Dieng menyimpan potensi panas bumi (geotermal) yang cukup besar. Sumber daya tersebut kini telah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik yang telah menghasilkan listrik sebesar 60 MWe. Dari pembangkit inilah warga Dieng mendapat pasokanlistrik sehari-hari. Jaringan pipa-pipa pejal tampak melintang di dataran tinggi yang berelevasi sekitar 2000 meter di atas muka laut.
Selain danau kawah, keberadaan candi-candi di dataran tinggi ini juga membawa daya tarik tersendiri. Perpaduan alam pegunungan dan candi seolah membawa kita ke masa saat candi tersebut masih digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Candi-candi tersebut dikelilingi oleh rangkaian pegunungan yang sejatinya ialah dinding kaldera purba. Satu dari dinding kaldera tersebut ialah Gunung Prahu.
Gunung Prahu merupakan salah satu puncak favorit para pendaki gunung yang datang ke tempat yang terkenal akan anak gimbalnya ini. Gunung yang memanjang ke arah barat-timur ini menyajikan pemandangan padang savana dengan hamparan bunga Daisy yang cukup luas. Eksotisme matahari terbit yang berpadu dengan kerucut kembar Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing menjadi daya tarik utama gunung ini. Selain itu, langit yang masih bebas dari polusi cahaya menyajikan jutaan bintang termasuk jalur putih susu (Milky Way) yang merupakan inti dari galaksi Bimasakti.
Konsolidasi Area
Terminal Wonosobo, pukul 05:00 WIB. Bis malam yang masuk Wonosobo umumnya tiba sekitar jam itu. Fasilitas di terminal ini terbilang standar, setidaknya 2 tempat ternyaman bagi pendatang, yaitu mushalla dan toilet tersedia dalam kondisi yang lumayan baik. Di sini merupakan tempat yang pas untuk berkumpul dan membersihkan diri setelah semalaman penuh berada di atas bis.
Kendaraan menuju Dieng bisa ditemukan dengan mudah di sini selain di alun-alun Kota Wonosobo. Untuk menuju Dieng bisa menggunakan minibus yang langsung menuju Dieng. Namun, ada juga yang menyewa mobil pick up seperti peserta open trip Gunung Prahu beberapa waktu lalu. Memang, dengan menaiki kendaraan bak terbuka seperti itu, kita bisa lebih leluasa menikmati pemandangan dan merasakan udara segar pegunungan.
1393529_532084783534754_314831083_n
Telaga Menjer, Telaga Warna, Telaga Pengilon
Dari Kota Wonosobo, tidak ada ruginya untuk singgah sejenak di Telaga Menjer. Sepanjang jalan menuju telaga ini dihiasi oleh pipa pesat sepanjang 4 km yang menyalurkan air dari telaga ke turbin. Telaga ini memang dimanfaatkan sebagai PLTA yang mampu menghasilkan listrik sebesar 26,4 MW.
Telaga Menjer merupakan telaga alami yang dibendung di tempat keluarnya air telaga. Airnya berwarna kehijauan, dikelilingi oleh tebing terjal dan hijaunya hutan yang masih nampak asri. Berdasarkan morfologinya yang terjal dan lokasinya yang berada di daerah vulkanik, telaga ini mungkin berupa danau kawah atau mungkin juga sebuah maar.
Dari Telaga Menjer, perjalanan menuju Dieng melalui jalan kecil yang berkelok. Tebing curam, di beberapa tempat bahkan sudah longsor menyiratkan akan rentannya lereng di sepanjang jalan ini. Menjelang pintu masuk kawasan plato, udara mulai terasa dingin, kabut pun sering turun di sepanjang jalan ini. Aroma pupuk yang menyengat terus menyapa tiap kali melewati area pertanian warga di pinggir jalan. Bagi yang menumpang mobil bak terbuka, bersiaplah untuk menahan napas jika tidak tahan dengan baunya.
Setelah melalui gapura selamat datang dan menikmati jalan yang berkelok-kelok tersebut, Dataran Tinggi (Plato) Dieng pun mulai terlihat. Elevasi GPS menunjukkan angka 2022 meter di atas muka laut saat tiba di kawasan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Kedua telaga ini merupakan danau kawah yang sudah tidak menunjukkan aktifitas vulkanisme lagi. Kondisi lingkungan sekitar yang mulai gundul membuat danau ini semakin mendangkal.
Telaga warna dikenal wisatawan lewat perpaduan warna biru-hijau airnya. Warna tersebut mungkin berasal dari refleksi alam sekitarnya yang tertangkap oleh air danau. Jika kabut tebal turun, warna airnya pun berubah menjadi putih. Kabut tebal ini juga membatasi jarak pandang hingga tebing-tebing yang membatasi telaga tersebut tidak terlihat.
Di satu sisi, tebalnya kabut menghalangi keindahan Telaga Warna secara utuh. Di sisi lain, terbatasnya jarak pandang tersebut menimbulkan nuansa sunyi dan mistis layaknya berada di pedalaman gunung. Seolah-olah sisi seberang telaga berada di tempat yang jauh dan tidak kasat mata. Nuansa ini lebih terasa saat berada di Telaga Pengilon yang terletak tepat di timur Telaga Warna. Dataran ilalang di tepian danau memberi kesan bahwa danau ini luas kendati danau ini tidak lebih luas dibanding Telaga Warna.

Pendakian Gunung Prahu
Mengunjungi Dieng tidak lengkap rasanya jika tidak singgah di Kompleks Candi Arjuna. Ikon wisata Plato Dieng ini menyajikan panorama candi yang dikelilingi gunung. Pusat informasi wisata Dieng pun berada di sini, lengkap dengan warung yang menyajikan jajanan dan oleh-oleh khas Dieng seperti buah carica, kentang goreng dan purwaceng.
Di kompleks candi ini pun tersedia wisma yang bisa dijadikan tempat mempersiapkan perbekalan sebelum mendaki Gunung Prahu melalui Desa Dieng Kulon. Jalur pendakian dari desa ini cukup bersahabat namun jarak tempuhnya cukup lama. Jalur lain di Desa Jojogan, medannya cukup curam namun memiliki jarak tempuh yang relatif lebih singkat. Untuk mendaki biasanya dipilih lewat Dieng Kulon lalu turun melalui Desa Jojogan.
Jalur Dieng Kulon terbilang mudah dilalui bahkan oleh mereka yang belum pernah mendaki gunung sekalipun. Dengan catatan, hujan tidak turun di hari itu. Jalur ini diawali dari gang kecil di dekat pertigaan menuju Kompleks Candi Arjuna. Gang ini sudah dilapisi adonan semen dan cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda dua. Dari jalan ini, kita akan berbelok menuju jalan tanah berbatu, memasuki lahan perkebunan hingga mencapai hutan pinus.
Di hutan pinus, kabut bisa turun sewaktu-waktu. Suasana dan hawa dingin pegunungan mulai pun terasa. Dari sini jalur pendakian mulai bertambah curam, tapi masih relatif mudah dilalui. Melewati bagian yang agak curam ini, tidak disarankan untuk beristirahat terlalu lama. Istirahat sejenak kiranya sudah cukup menghilangkan keringat yang bercucuran. Dengan udara dingin pegunungan, beristirahat terlalu lama dikhawatirkan akan membuat kita dilanda rasa malas dan lebih cepat lelah untuk melanjutkan perjalanan.
Pendakian tercuram di jalur ini ialah sesaat sebelum mencapai area tower. Tidak panjang, namun cukup menguras tenaga dan bermandi keringat. Tapi rasa lelah tersebut terbayar saat mencapai puncak tempat area tower berada. Puncak dengan elevasi 2561 meter di atas muka laut ini tidak seberapa luas namun cukup terbuka untuk memandang ke segala arah sambil beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Sisi selatan tempat ini menyuguhkan panorama Plato Dieng termasuk Telaga Warna, Telaga Pengilon serta Kompleks Candi Arjuna, awal pendakian dari jalur ini. Terlihat pula uap-uap putih yang mengepul dari lokasi stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Geotermal (PLTG) yang ada di Plato Dieng. Dari pembangkit inilah warga Dieng mendapat pasokan listrik sepanjang tahunnya.
Jika cuaca cerah dan tak berkabut, garis pantai utara Jawa (pantura) dapat terlihat dari tempat ini. Di puncak ini juga terdapat patok batas antara Wonosobo dan Kendal. Jadi, dengan berdiri di sini kita seolah berada di 2 kabupaten sekaligus.
Sebelum meninggalkan tempat tower repeater radio komunikasi milik PT. Angkawidjaja Bina Putera berdiri ini, jangan lewatkan siluet bukit dan tower dengan latar hamparan awan putih yang terbentuk saat matahari mulai terbenam. Untuk mendapatkan momen ini, sebaiknya pendakian dilakukan antara jam 2 atau jam 3 siang. Dari sini jalurnya sudah datar dan terbuka sehingga tidak perlu khawatir kendati ditempuh di malam hari.
Padang Savana dan Bukit Sikunir
Setelah melalui punggungan pemisah air (water divide) yang menghubungkan bukit bertower dengan bukit di sebelahnya, jalur ini akan memasuki padang savana berhiaskan hamparan bunga daisy. Vegetasi savana seperti alang-alang dan tumbuhan perdu tampak menghijau sejauh mata memandang. Pohon-pohon tinggi tumbuh secara setempat dan terpisah. Di siang hari, sinar matahari terasa menyengat saat berada di puncak Gunung Prahu ini walaupun elevasinya tidak kurang dari 2500 meter di atas muka laut. Bandingkan dengan Bandung yang berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas muka laut.
Padang savana berbukit inilah yang menjadi lokasi favorit para pendaki untuk mendirikan kemah. Tempatnya luas, datar dan terbuka, namun spot yang paling ramai ialah di sekitar Bukit Sikunir. Pemandangan dari bukit berketinggian 2572 meter di atas laut itu memang fotogenik. Dengan latar belakang hamparan awan putih, tenda-tenda yang berada di bukit memberi kesan seperti sedang berada di sebuah negeri di awan. Perpaduan antara bunga daisy dan alang-alang savana pun terlihat lebih luas dari bukit yang berada di ujung timur Gunung Prahu ini. Dari sini, si kembar Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing tampak serasi berdiri kokoh.
Bermalam di padang savana seperti ini membuat langit tampak jelas tanpa halangan. Jika cuaca cerah tak berawan, akan tampak milyaran bintang menghias langit malam. Tanpa tercemar polusi cahaya dan udara, langit malam hari memang begitu indah. Kumpulan bintang membentuk rasi tertentu bagi mereka yang mampu membacanya. Menjelang tengah malam, kumpulan bintang yang merupakan inti galaksi akan terlihat melintang membentuk jalur putih di langit. Dari jalur putih inilah nama Milky Way Galaxy berasal yang diterjemahkan menjadi Galaksi Bimasakti dalam Bahasa Indonesia.
Tatkala fajar mulai menyingsing, Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing di arah timur yang menjadi landmark Wonosobo pun makin jelas terlihat. Dua gunung kembar itu tampak menjulang serasi di antara hamparan awan pagi di kakinya. Gunung yang berada di antara Temanggung dan Wonosobo tersebut memang memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Gunung Sundoro (3155 m) tercatat pernah meletus di tahun 1806 dan 1970 sedangkan Gunung Sumbing (3340 m) sejauh ini tidak tercatat pernah meletus. Di beberapa tempat, material letusan dari Gunung Sundoro ini ditambang sebagai bahan bangunan. Sisa-sisa penggaliannya bisa dilihat dari Jalan Raya Wonosobo-Dieng.
Selain si kembar tersebut, dari Bukit Sikunir ini juga terlihat kerucut gunung lain, yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan Gunung Ungaran yang menyembul di antara kabut pagi.
Perjalanan Turun
Setelah puas menikmati pesona Gunung Prahu dengan bukit savananya, turunlah lewat jalur yang berbeda. Dari Bukit Sikunir, ikuti jalan setapak menuju lembah dan berakhir di Desa Jojogan. Medan di jalur ini terbilang berat, walaupun jaraknya hingga ke Desa Jojogan relatif dekat jika dibanding dengan jalur lewat Dieng Kulon.
Sepanjang lebih kurang 100 meter dari puncak ke bawah, sama sekali tak ada jalur landai. Jalur berliku dengan jurang di satu sisi dan tebing terjal di sisi satunya menghiasi jalur yang umumnya ditempuh untuk turun gunung ini. Dengan kemiringan lebih dari 60 derajat, jalur ini sebenarnya rawan longsor jika musim hujan. Semak belukar yang tumbuh di atas tanah hasil pelapukan endapan gunungapi tidak cukup kuat mengikat tanah tersebut hingga ke batuan dasarnya.
Di samping potensi bahaya tersebut, jalur ini menyuguhkan panorama Plato Dieng yang lebih kentara dibanding jalur saat mendaki. Tanpa adanya tumbuhan yang menghalangi, praktis panorama Dieng bisa dinikmati secara keseluruhan. Namun, jangan sampai pemandangan tersebut melenakan kewaspadaan, karena terpeleset sedikit, fatal akibatnya.
Jalur terjal menurun tersebut berakhir di hutan pinus dan terus melandai hingga memasuki perkebunan penduduk. Jalan setapak yang hanya satu-satunya ini berujung pada jalan desa, tepat di depan pangkalan ojek. Dari sini, jalannya cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda empat. Manfaatkanlah jasa tukang ojek untuk menghemat tenaga karena jaraknya masih lumayan jauh dari jalan raya.
Jalan berbatu ini akan melewati permukiman warga sebelum berakhir di jalan raya. Untuk mempersingkat jarak, ambil jalan setapak yang akan melintasi rumah-rumah yang saling berhimpitan. Jika beruntung, di sini kita bisa berjumpa dengan salah seorang anak gimbal di desa ini.
Tiba di jalan raya, ada 2 alternatif yang bisa diambil. Langsung kembali ke Wonosobo dengan menyetop bis menuju Wonosobo atau kembali ke Dieng untuk mencari buah tangan. Tetapi jangan lupa untuk membuang sampah yang dibawa dari puncak terlebih dulu. Jangan sampai kita meninggalkan sampah apapun di puncak gunung, sebagaimana sebuah pepatah pendaki gunung yang menyebutkan:
“Jangan tinggalkan apapun di puncak gunung selain foto dan kesan dalam hati”