Archive for the ‘Resensi Buku’ Category

P1070571Judul                     : Ayyub & Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya

Penulis                 : Muhammad Makhdlori

Penerbit              : Safirah

Tahun                   : 2012

Tebal                     : 262 halaman

Nabi Ayyub as, salah seorang utusan Allah swt untuk Bani Israil dan Kaum Amoria (Aramin) di dataran Hauran, Syam. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1500 SM. Kisahnya memang tidak sepopuler Nabi Adam as, Nabi Musa as, Nabi Ibrahim as, Nabi Nuh as, Nabi Isa as, apalagi dengan kisah nabi terakhir Rasulullah saw. Di dalam Alquran pun kisah Nabi Ayyub hanya disebutkan empat kali. Namun, bukan berarti hikmah yang terkandung di dalamnya berjumlah sedikit. Dan hikmah utama yang terdapat dalam kisah Nabi Ayyub as ialah mengenai kesabaran tanpa batas dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa.

Dalam sejarah para nabi-nabi terdahulu, disebutkan bahwa para utusan Tuhan tersebut berasal dari berbagai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari keluarga miskin seperti Nabi Isa as, namun ada juga yang berasal dari keluarga kaya nan terpandang di kalangan kaumnya seperti Nabi Sulaiman as. Nabi Ayyub as sendiri berasal dari keluarga kaya raya di lingkungan tempat tinggalnya. Ternaknya berjumlah ribuan, perkebunannya ratusan hektar luasnya, dengan jumlah pekerja yang banyak menjadikan Nabi Ayyub sebagai orang terpandang di kalangan kaumnya.

Sifatnya yang dermawan, tegas, dan santun semakin membuat dirinya dielu-elukan oleh sahabat dan orang-orang di sekitarnya, bahkan hingga para malaikat pun turut memujinya. Ihwal inilah yang membuat geram bangsa iblis, sehingga menyusun siasat dan berbagai fitnah tentang ketakwaan Nabi Ayyub as yang hanya sebagai alasan agar harta yang dikaruniakan kepadanya tidak lenyap. Allah swt pun kemudian mengujinya dengan mengambil sementara harta dan keluarganya. Tidak hanya itu, Nabi Ayyub pun diuji dengan penyakit aneh yang membuat kulitnya melepuh mengeluarkan nanah dan menimbulkan bau yang sangat menyengat. Penyakit aneh tersebut semakin lama semakin mengganas dan mulai muncul ulat-ulat di lubang lukanya yang kemudian menggerogoti kulit dan daging Nabi Ayyub as.

Akibat cobaan tersebut, semua keluarga, sahabat dan kaumnya mengusir beliau dari tempat tinggalnya, kecuali salah seorang istrinya yang bernama Siti Rahmah. Berdua dengan istrinya, Nabi Ayyub as yang terkulai tak berdaya menjalani ujian dengan penuh sabar dan tawakal. Iblis yang mengetahui bahwa keimanan Nabi Ayyub dan istrinya tidak juga tergoyahkan terus berupaya menyesatkan kedua insani pilihan tersebut. Berbagai kesulitan hidup, pelecehan dari penduduk sekitar, serta perjuangan Siti Rahmah dalam merawat suaminya dituangkan dalam novel berjudul “Ayyub & Ulat-Ulat Yang Menggerogotinya”.

Diwarnai dengan dialog dan beberapa adegan fiktif, novel ini tampak begitu mengalir tanpa membiaskan fakta-fakta sejarah yang berasal dari berbagai sumber. Nasihat-nasihat yang tertuang dalam rangkaian kata-kata motivatif kiranya mampu menjadikan novel ini sarat makna tanpa kesan menggurui ataupun unjuk ketakwaan. Sikap-sikap kerabat terdekat Sang Nabi yang semula memuji-muji secara berlebihan namun menjadi menyumpah serapahi bahkan mengutuk, merupakan analogi yang pas dengan realita yang ada di masyarakat saat ini.

Dalam kisah yang menceritakan Nabi Ayyub dalam menikmati penderitaannya, banyak hikmah yang dapat dipetik. Kesabaran Ayyub as sebagai manusia pilihan menjadi teladan agar seberat apapun ujian yang ditempuh, kita harus yakin bahwa Allah swt tidak akan meninggalkan hamba yang selalu mengingat-Nya. Sementara sikap yang ditunjukkan oleh perjuangan Siti Rahmah mengajarkan bahwa pasrah saja tidak cukup untuk mengarungi kehidupan, tetapi juga harus diimbangi dengan usaha tiada henti untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa mengabaikan larangan-Nya.

Terlepas dari itu, sang penulis nampak terlalu berhati-hati dalam mengembangkan cerita. Berbagai konflik yang sebenarnya bisa lebih didramatisir, nampak kurang tereksplorasi potensinya sehingga penyelesaiannya pun terasa hambar. Misalnya seperti saat Nabi Ayyub dan istrinya diusir oleh kaum kerabatnya sendiri. Tidak diceritakan ke mana mereka pergi setelah diusir dan bagaimana tanggapan dari orang-orang yang telah mengusir mereka selanjutnya. Begitupun ketika penyakit yang diderita Nabi Ayyub sembuh dan kekayaannya telah dikembalikan yang menjadi bagian dari penutup kisah. Padahal sebagian pembaca mungkin ingin mengetahui bagaimana respon penduduk yang selalu menyebutnya sebagai orang yang dikutuk Tuhan, setelah Nabi Ayyub kembali ke masyarakat dalam keadaan pulih dan banyak harta.

Sebagai sebuah novel bergenre fiksi sejarah, alur kisah yang dituangkan penulis relatif mudah dipahami. Tanpa adanya unsur kejutan dan cerita yang cenderung mudah ditebak, penulis mencoba menyentuh emosi pembaca melalui penggambaran kondisi Nabi Ayyub dan istrinya yang begitu memprihatinkan. Bagi mereka yang sudah mengetahui kisah Nabi Ayyub sebelumnya, novel ini tidak akan memberikan pengetahuan yang lebih dalam karena tidak ada tambahan signifikan dari yang dituangkan dalam kitab suci Alquran. Namun, kesabaran Nabi Ayyub dalam menghadapi ujian dari Allah swt yang terasa begitu nyata dalam novel ini, menjadi nilai tambah yang membuat novel ini tetap menarik untuk dibaca.

ImageJudul                     : Suka Duka Penjelajah Geologi Di Indonesia

Penyunting         : H. Rab Sukamto Kartomihardjo, Nana  Suwarna, T. Bachtiar

Penerbit              : Badan Geologi KESDM

Tahun terbit       : 2011

Tebal                     : 162 halaman+vii

ISBN                      : 978-602-9105-12-4

Peta geologi merupakan peta yang menyajikan berbagai aspek geologi di suatu daerah seperti penyebaran, jenis dan umur batuan di daerah tersebut, struktur geologi seperti lipatan dan sesar/patahan, potensi Sumber Daya Alam, serta sejarah geologi daerah tersebut. Peta ini banyak dipergunakan dalam bidang industri pertambangan, teknik sipil, dan perencanaan pembangunan suatu daerah.

Di Indonesia, peta geologi dalam berbagai skala sudah diterbitkan oleh Badan Geologi di bawah Kementrian Energi dan Sumber Daya Alam (KESDM). Proyek Pemetaan Geologi Bersistem di Indonesia dimulai sejak tahun 1969 dan selesai pada tahun 1994 dengan melibatkan para ahli geologi senior maupun yunior, pribumi maupun tenaga ahli impor yang diperbantukan. Berbagai kisah para pemeta dalam menjelajah pedalaman Indonesia dari Sabang sampai Merauke selama 25 tahun demi mengumpulkan data geologi dan menyajikannya dalam sebuah peta, terangkum dalam buku yang berjudul “Suka Duka Penjelajah Geologi Di Indonesia” ini.

Buku dengan tagline “Kisah Para Pemeta Geologi” ini disusun oleh Badan Geologi untuk menghargai jerih payah para pemeta geologi yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran dan waktunya agar data geologi di nusantara dapat terkumpul dalam suatu peta geologi bersistem. Penulis yang terlibat dalam buku ini adalah para pemeta itu sendiri sehingga isi yang diceritakan betul-betul murni berupa pengalaman pribadi yang dialami para pemeta geologi.

Pemetaan dilakukan melalui lintasan-lintasan geologi yang umumnya menyusuri sungai dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Tidak jarang pula lintasan geologi tersebut membelah pulau dari hilir sungai menyambung menuju hilir sungai lain dan berakhir di sisi lain pulau. Medan yang berat, akses yang sulit, minimnya sarana komunikasi, situasi keamanan yang rawan, serta perjumpaan dengan suku pedalaman yang masih primitif menjadi tantangan terbesar dalam mengumpulkan data geologi di seluruh Indonesia yang kala itu tentu sebagian besar masih berupa hutan belantara.

Sulitnya medan dan kondisi alam yang tak menentu selama pemetaan menjadi masalah utama yang paling sering diceritakan dalam buku ini. Misalnya saja kisah pemetaan di Pulau Taliabu, Kep. Banggai-Sula, Provinsi Sulawesi Tengah yang membuat para pemeta terjebak hujan selama 3 hari di pedalaman hutan. Pengalaman menghadapi kondisi medan yang lebih berat dari perkiraan juga dialami tim pemeta saat melakukan lintasan geologi di Danau Lindu. Akibatnya, tim kemalaman di lapangan dan terlambat tiba di tempat penjemputan.

Masalah lain yang sering ditemui ialah keberadaan suku pedalaman yang masih primitif. Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa, memiliki bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Namun, masih banyak yang sama sekali tidak mengerti Bahasa Indonesia. Itulah yang sebenarnya menyulitkan para pemeta geologi saat menjalankan misinya. Penduduk setempat yang direkrut sebagai tenaga harian pun terkadang kesulitan jika menghadapi suku-suku yang hidup di pedalaman hutan tersebut. Seperti pengalaman yang diceritakan oleh salah satu pemeta saat melakukan lintasan geologi di Irian Jaya atau sekarang bernama Papua.

Tetapi, dibalik hambatan dan rintangan yang harus dihadapi, terselip juga pengalaman yang berharga dan menyenangkan. Seperti halnya pengalaman saat bantu mengobati salah satu warga Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi yang diakhiri dengan penganugerahan gelar Tumenggung Anak Dalam oleh Kepala Suku Anak Dalam tersebut. Pengalaman menyenangkan pun dirasakan oleh slaah seorang pemeta saat melakukan lintasan geologi dari Ujung Pandang (sekarang Makassar) ke arah Malino. Di lintasan ini, tim pemeta disangka pejabat Bupati oleh penduduk setempat sehingga mereka mendapat perlakuan lebih dari penduduk setempat.

Berbagai pengalaman tersebut disusun per bab berdasarkan orang yang menulisnya. Bisa dibilang, buku ini merupakan cerita para pemeta yang dikumpulkan dalam satu buku. Sehingga antara bab yang satu dengan yang lainnya hampir tidak berkesinambungan atau berdiri sendiri. Padahal di antara para pemeta tersebut ada yang tergabung dalam satu grup besar yang kemudian terbagi menjadi beberapa lintasan geologi dalam 1 pulau. Jadi timbul apa yang saya sebut deja vu pembaca, yaitu kisah yang sama atau mirip diceritakan beberapa kali pada bab yang terpisah. Seperti misalnya pemetaan di lintasan Pulau Taliabu yang diceritakan lebih dari satu kali pada bab yang berbeda kendati tahun lintasan pemetaan di pulau tersebut sama persis.

Kendati demikian, pengalaman para pemeta yang dituangkan dalam buku ini, sangat pantas dibaca oleh para generasi muda terutama yang berkecimpung dalam dunia geologi. Isi buku yang berwarna dengan kualitas kertas yang baik memudahkan para pembaca dalam memahami isi cerita dan foto yang ditampilkan dalam buku. Dalam setiap cerita, ditampilkan pula peta lintasan geologi tersebut dilakukan sehingga pembaca yang belum terlalu mengenal lokasi tersebut dapat dengan mudah membayangkan betapa melelahkannya lintasan tersebut untuk ditempuh.

Semangat para pemeta demi menjalankan misi negara kendati dihadang berbagai rintangan kondisi alam maupun kondisi sosial patut dicontoh oleh para calon ahli geologi. Betapa beruntungnya generasi penerus saat ini yang ditunjang oleh kemajuan teknologi dan telekomunikasi yang banyak membantu di lapangan dibandingkan dengan para senior mereka saat melakukan pemetaan dulu. Jerih payah para pemeta pun memudahkan para penerus mereka dengan peta geologi bersistem yang telah mereka susun selama 25 tahun. Sehingga generasi penerus mereka kini telah memiliki pedoman dasar dalam melakukan pemetaan yang lebih detail.

Judul: Wangsit SiliwangiImage

Penulis: E. Rokajat Asura

Penerbit: Edelweiss

Distributor: Mizan Media Utama

Tahun: 2009

Tebal:  444 Halaman

ISBN: 978-602-8672-00-9

Cirebon semakin mandiri sementara Keraton Sri Bima mulai mencari putra mahkota baru setelah Prabu Anom Walangsungsang atau dikenal juga dengan nama Kian Santang atau Pangeran Cakrabuana pergi meninggalkan keraton dan mendirikan pedukuhan Cirebon. Prabu Anom Surawisesa, putra mahkota dari Ratu Kentring Manik Mayang Sunda pun mulai ditempa..!

Berlatarkan beberapa tahun setelah cerita pada buku pertama yaitu Prabu Siliwangi, novel kedua yang berjudul Wangsit Siliwangi ini berkisah. Inti konflik utamanya masih sama, yaitu perbedaan keyakinan antara Sang Prabu dengan keturunannya sendiri yang menjadi pemimpin Cirebon. Perbedaan keyakinan tersebut lambat laun ternyata berpengaruh ke situasi politik antara Cirebon dan Pajajaran. Terlebih saat cucu Sang Prabu dari putrinya Nyimas Rarasantang, yang bernama Syarif Hidayatullah memproklamirkan Cirebon sebagai kesultanan sendiri. Dengan dukungan dari pihak Demak dan dewan wali, Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati tersebut mulai menyebarkan ajaran islam ke berbagai penjuru, khususnya daerah pesisir seperti Banten dan Karawang.

Sejatinya, susuhunan berdarah Mesir-Sunda tersebut tidak bermaksud mengkerdilkan daerah kekuasaan Pajajaran. Sebaliknya, ia justru berencana untuk mengubah pakem kepercayaan kerajaan  yang dianut kakeknya agar sesuai dengan syariat islam. Tetapi, oleh pihak keraton, hal tersebut dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatan Pajajaran. Hingga mereka pun mengirimkan pasukan untuk memantau situasi Cirebon dan sebisa mungkin membawa Susuhunan Jati menghadap Sri Baduga Maharaja. Situasi pun memanas manakala pasukan tersebut justru dikalahkan dan akhirnya malah mengabdi ke Cirebon. Persiapan perang besar pun mulai digelar oleh Pajajaran untuk merebut kembali wibawa Pajajaran yang digerogoti Kesultanan Cirebon.

Tegang dan penuh prasangka. Itulah kesan pertama yang didapat saat membaca novel kedua dari trilogi Prabu Siliwangi ini. Penulis mampu menghadirkan peningkatan tensi alur cerita secara teratur hingga klimaks. Tidak ada persekongkolan rahasia dalam konflik yang terjadi, tetapi murni berupa prasangka dan praduga bahkan hampir tanpa perselisihan langsung antara kedua belah pihak. Perbedaan antara kerajaan yang sejarahnya telah turun temurun dengan kesultanan yang belum mapan nampak jelas saat masing-masing kubu menyelesaikan masalah. Misalnya saat persiapan pasukan, nampak bahwa Pajajaran lebih siap dalam menghadapi perang dibanding Cirebon yang pasukannya justru merupakan bantuan dari Demak.

Sayangnya, alur cerita yang sudah apik tersebut harus terganggu oleh kualitas penyuntingan yang kurang baik bahkan kekurangan tersebut cenderung bertambah banyak pada bagian akhir. Adanya tokoh baru yang muncul di bagian akhir namun justru menjadi penentu kebijakan Prabu Siliwangi pun terasa janggal. Rencana hasil perundingan yang alot bisa tiba-tiba berubah tepat pada saat rencana tersebut akan terlaksana hanya karena penglihatan seorang tokoh yang bahkan tidak pernah disinggung sebelumnya nampak seperti penyelesaian yang dipaksakan. Bagi sebagian pembaca, hal tersebut membuat citra tegas dan berwibawa khas seorang maharaja jatuh menjadi seorang raja yang plin-plan.

Kendati demikian, latar belakang wangsit Siliwangi yang menjadi warisan Sunda berhasil diceritakan dengan baik dalam buku ini. Pesan dan nasehat yang tersurat dan tersirat dalam cerita mudah diserap dan cukup relevan dengan kondisi saat ini. Semoga ke depannya, semakin banyak novel-novel yang menyajikan kearifan lokal yang telah ada turun-temurun. Karena bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

PRABU SILIWANGI, TAHTA DAN RELIGI

Posted: February 19, 2013 in Resensi Buku

Judul: Prabu SiliwangiImage

Penulis: E. Rokajat Asura

Penerbit: Edelweiss

Distributor: Mizan Media Utama

Tahun: 2009

Tebal: 457 Halaman

ISBN: 978-979-19624-3-8

Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja atau Prabu Jayadewata (1482-1521 M) merupakan raja tersohor yang berhasil menyatukan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanegara, dan membentuk Kerajaan Padjadjaran. Pada masa pemerintahannya pulalah Kerajaan Padjadjaran mencapai puncak kejayaannya dengan daerah kekuasaan yang membentang di seantero Pulau Jawa bagian barat dan rakyat yang makmur sejahtera, serta disegani musuh.

Namun, kekuasaan dan kejayaan tidaklah abadi. Prahara justru muncul bukan dari luar, melainkan dari dalam kerajaan itu sendiri manakala rasa iri dan adu kepentingan beradu dalam hal perebutan putra mahkota. Prahara tersebut makin kentara ketika ternyata putra kesayangannya yang disiapkan sebagai penerus ternyata memiliki keyakinan yang berseberangan dengan Sang Raja Padjajaran. Perdebatan yang tak kunjung usai serta perbincangan yang tak juga menemukan titik temu inilah yang kemudian memicu putra mahkota Prabu Anom Walangsungsang untuk pergi berkelana mencari ilmu agama dan hikmah hidup. Terlebih, pada suatu malam Ia mendapat wangsit dari mimpi agar segera pergi ke arah timur, meninggalkan kemewahan hidup di lingkungan Keraton Pakuan.

Kepergian putra sontak membuat Sang Raja galau, prihatin, sekaligus murka. Namun, keteguhan hati Prabu Anom Walangsungsang yang diwarisi dari ayahandanya tidaklah tergoyahkan. Perjalanan panjang terus ditempuhnya guna mencari guru sejati yang akan mengajarkan ilmu dan hakekat hidup. Pertemuannya dengan Eyang Danurwasih semakin menguatkan niatnya dan mengubah segalanya dengan hadirnya seorang istri dan adik kandungnya yang menyusulnya meninggalkan Keraton.

Hijrahnya putra mahkota inilah yang menjadi inti cerita dalam novel pertama dari dwilogi Prabu Siliwangi ini. Penulis dengan apik menggambarkan berbagai cobaan dan rintangan yang menghadang Putra Padjajaran dalam perjalanannya menuntut ilmu Islam. Hingga akhirnya dia dihadapkan pada kenyataan yang tak bisa dihindari, yaitu berhadapan dengan ayahandanya, Prabu Siliwangi.

Hal positif dari novel ini ialah bukan adu ketangkasan fisik dan olah kanuragan yang ditonjolkan, melainkan penyelesaian masalah melalui musyawarah. Kebijaksanaan dalam menghadapi masalah dijabarkan secara analogi saat bercerita tentang bagaimana Sri Baduga Maharaja meredam amarahnya saat berhadapan dengan anaknya, dengan pejabatnya yang penjilat, serta perlakuannya terhadap para permaisurinya. Kesabaran dan pengendalian emosi diuraikan setiap Walangsungsang beberapa kali berdebat dengan Prabu Siliwangi mengenai prinsip keagamaan mereka masing-masing.

Novel ini pun bercerita tentang awal mula Cirebon dibentuk lengkap dengan asal namanya yang diambil dari nama Cai Rebon, yaitu air perasan dari rebon saat pembuatan terasi. Dari dukuh inilah penyebaran islam di tanah Sunda dimulai dan selalu dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan Kerajaan Padjajaran, kendati Walangsungsang tidak pernah bermaksud demikian.

Dengan judul buku Prabu Siliwangi, yang pertama kali terbayang tentu sepak terjang Sang Maharaja Padjajaran dalam menjalankan pemerintahan hingga mencapai puncak kejayaan. Namun, alih-alih sepak terjang Prabu Siliwangi, inti cerita yang ditekankan lebih kepada putra mahkotanya yaitu Prabu Anom Walangsungsang yang kelak dikenal dengan nama Pangeran Cakrabuana. Kesaktian dan keperkasaan seorang raja justru terkesan tidak berguna manakala persaingan perebutan posisi putra mahkota terjadi di kalangan para bangsawan terjadi. Prabu Siliwangi walaupun digambarkan dengan jelas kharismanya, terkesan tidak berdaya dalam menghadapi persekongkolan salah seorang patih dengan salah satu permaisurinya untuk menyingkirkan penghalang guna memuluskan langkah putranya, Prabu Surawisesa, menjadi putra mahkota menggantikan Walangsungsang.

Intrik politik tersebut pun kurang digali dan cenderung memfokuskan pada perjalanan Walangsungsang mencari hakekat hidup dan ilmu islam. Namun, terlepas dari itu, alur cerita dalam novel ini mudah untuk dipahami dengan tidak banyak teka-teki yang mengharuskan pembacanya banyak berpikir. Siapa mengincar siapa dan siapa otak pergerakan sudah diceritakan dengan jelas. Sehingga pembaca bisa fokus menikmati alur cerita yang ada.

JAWARA, ANTARA MISTIS DAN RELIGIUS

Posted: September 2, 2012 in Resensi Buku

ImageJudul               : Jawara, Angkara di Bumi Krakatau

Penulis            : Fatih Zam

Penerbit          : Metamind

Tebal               : 530 halaman

Tahun Terbit  : 2011

Jawara, bagi orang Banten istilah tersebut sudah tidak asing lagi. Suatu kasta dalam masyarakat Banten tersebut dulunya merupakan sebutan bagi para santri yang khusus dibekali kemampuan beladiri atau kanuragan guna melindungi para kyai dalam menyebarkan syiar Islam. Namun, sebutan jawara tersebut kini bergeser menjadi sebutan bagi mereka yang menguasai ilmu beladiri khas Banten.

Pergeseran tersebut mulai terjadi sejak munculnya pihak-pihak yang mengatasnamakan jawara saat membuat keonaran dengan menggunakan ilmu beladirinya. Tidak tanggung-tanggung, desas-desus bahkan mengatakan bahwa para jawara berniat membumihanguskan seluruh pesantren yang ada di tanah Banten. Jaka, diutus oleh pesantren untuk mencari dalang dari serbuan jawara tersebut yang bernama Angkara, yaitu pemimpin jawara yang kesaktiannya konon tidak ada tandingannya. Hanya sebuah kitab sakti bernama Kitab Cikadueunlah yang kabarnya sanggup memberikan ilmu sakti untuk mengalahkan Angkara.

Badai, seorang pemuda dari Pandeglang, berniat mendapatkan kitab yang kisah legendarisnya senantiasa diceritakan sebagai pengantar tidurnya. Berbagai jawara yang bertujuan sama kerap kali menghadang langkahnya mencari kitab tersebut. Namun, dengan golok sakti bernama Salam Nunggal pemberian seorang ahli golok yang tak lain adalah adik seperguruan gurunya, Badai berhasil mengatasi hadangan tersebut. Suatu takdir akhirnya mempertemukannya dengan Jaka yang selesai berguru serta gadis pendekar Sulastri yang diutus oleh pemberi golok tersebut untuk membantu Badai.

Bersama-sama mereka bertualang guna mendapatkan keberadaan kitab tersebut agar bisa melumpuhkan Angkara. Namun, siapa sebenarnya Angkara? Benarkah dia yang menjadi dalang atas penyerangan jawara ke beberapa pesantren selama ini?

Pesantren versus jawara. Itulah kira-kira awal bermulanya konflik utama novel berjudul Jawara, Angkara di Bumi Krakatau ini. Novel silat tanah Banten ini memang kental dengan berbagai nilai-nilai sejarah kebudayaan Banten yang terkesan mistis. Kebudayaan tersebut kemudian dipadukan dengan nilai-nilai Islam yang dicerminkan dari sikap beberapa tokoh yang tidak mudah termakan hasutan, selalu mengutamakan ikhtiar dan tawakal, serta menyikapi takdir yang tidak selalu sesuai dengan yang diangankan. Perpaduan tersebut amat terasa pada kisah sampingan (side story) Saepudin dan Gojali.

Kisah 2 sahabat dengan latar belakang berbeda tersebut memang tidak berkaitan secara langsung dengan inti cerita, namun banyak falsafah yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saja, sikap Saepudin yang selalu mengutamakan jalur musyawarah dibanding kekerasan, atau sikap Gojali yang mampu melawan sifat penakut dalam dirinya demi mencari kebenaran atas apa yang terjadi kepada tetangganya.

Namun, keberadaan cerita sampingan tersebut agak mengganggu jalan cerita karena semakin mendekati akhir, justru semakin tidak sinkron dengan konflik utama yang diangkat novel ini. Penulis pun nampak tanggung dalam menceritakan klimaks-klimaks pertarungan yang ada. Hampir seluruh pertarungan diakhiri dengan dikalahkannya musuh dengan kekuatan yang tidak terceritakan sebelumnya.

Alih-alih menguak misteri, novel ini justru diakhiri dengan peristiwa letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Padahal, menurut sejarah resminya, di tahun tersebut tanah Banten sudah dikuasai oleh bangsa kolonial. Sedikit mengherankan jika pihak kolonial tidak diceritakan ambil bagian dalam konflik di novel ini, mengingat latar lokasi di novel ini yang tidak jauh di dari pesisir Banten yang kala itu dikuasai oleh bangsa kolonial.

Hal tersebut sungguh disayangkan, padahal penulis sudah sangat baik dalam merangkai cerita latar belakang masing-masing tokoh hingga akhirnya bersinggungan dan menjadi sejawat. Twist pada akhir pertarungan terakhir sebenarnya sangat baik untuk memungkaskan konflik antara jawara dan pesantren ini, yang sayangnya seolah luput dari perhatian penulis.

 

Iqbal E. Putra

Judul                     : Purnama Dari Timur

Penulis                 : Yudhi A.W.

Tebal                     : 382 halaman

Penerbit              : Diva Press

Tahun                   : 2011

Wali Sanga, sembilan tokoh utama dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Nama mereka sudah sering disebut-sebut dalam buku sejarah negeri ini. Kesembilan wali yang disebut sunan tersebut memang berperan penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa yang kala itu masih didominasi oleh Agama Hindu-Buddha. Pengaruh mereka bukan hanya di bidang religius, melainkan berdampak hingga ke aspek-aspek lain bahkan mengubah peta politik nusantara dengan mengislamkan beberapa kadipaten yang masih bernaung di bawah kekuasaan Majapahit. Hingga pada akhirnya memelopori terbentuknya kerajaan Islam yang bernama Kerajaan Demak setelah Majapahit runtuh.

Dua dari sembilan wali tersebut kini tertuang dalam sebuah novel fiksi sejarah yang berjudul ”Purnama Dari Timur; Sujud Kehambaan Tak Bertepi”. Novel yang ditulis oleh Yudhi A.W. ini menceritakan kisah dari Sunan Gresik dan Sunan Ampel.

Bermula dari asal usul Sunan Gresik yang bernama asli Maulana Malik Ibrahim yang berjumpa dengan Syekh Ahmad Jumadil Kubra – kakek dari Sunan Ampel – saat sama-sama hijrah ke Gujarat, India. Maulana Malik Ibrahim hijrah dari Persia oleh karena serangan dari penguasa dzalim, pun begitu dengan Syekh Ahmad Jumadil Kubra yang merupakan perantau Mesir dari Samarkand. Saat mereka berjumpa di Gujarat, Syekh Jumadil Kubra juga membawa 3 orang putranya yang salah satunya bernama Ibrahim as-Samarkand, ayah dari Sunan Ampel.

Namun, serangan dari penguasa dzalim yang juga menyerang Persia ternyata mulai merambah ke Gujarat. Demi keselamatan dan kepentingan berdakwah, akhirnya Maulana Malik Ibrahim dan kawan-kawannya hijrah ke nusantara, tepatnya di Pasai (Lhokseumawe, Aceh). Panggilan hati untuk menyebarkan agama Islam akhirnya mendorong mereka untuk merantau ke tanah Jawa. Dari sini, alur cerita mulai terfokus ke perjuangan dakwah Maulana Malik Ibrahim di daerah Tandhes (Gresik) dan sekitarnya hingga akhir hayatnya.

Kemudian, alur cerita sedikit mundur dan menceritakan kehidupan Ibrahim as-Samarkand yang masih di Pasai sementara Maulana Malik Ibrahim pergi ke Jawa. Perjuangan dakwah ayah dari Sunan Ampel dan cucu Sunan Giri tersebut diakhiri dengan wafatnya beliau saat merantau ke Jawa bersama 2 putranya yang bernama Ali Murtadha dan Ali Rahmatullah serta kemenakannya yang bernama Abu Hurairah. Cerita kemudian berlanjut ke perjuangan mereka yang sudah menjadi bangsawan Campa menjadi bangsawan Majapahit. Nama baru untuk Ali Murtadha setelah diangkat menjadi bangsawan Majapahit ialah Raden Santri, nama baru Ali Rahmatullah ialah Raden Rahmat, sedangkan Abu Hirairah mendapat nama Raden Burereh.

Menjadi bangsawan sebenarnya bukanlah tujuan mereka, namun cara itu mereka pilih agar memudahkan jalan mereka dalam mengenalkan agama Islam kepada masyarakat. Raden Rahmat yang diberi wilayah kekuasaan di daerah Ampeldenta bahkan berhasil mendirikan kampung muslim hingga ia dipanggil dengan nama Sunan Ampel.

Dalam buku ini, tidak diceritakan apakah Sunan Gresik pernah bertemu dengan Sunan Ampel atau belum. Tetapi, informasi yang tercantum dalam novel ini berasal dari berbagai data sejarah yang resmi dan merupakan hasil penelitian. Tidak ada mitos-mitos kesaktian yang luar biasa dari kesembilan wali tersebut yang disinggung dalam novel ini. Hanya metode dakwah yang diselaraskan dengan kebudayaan setempat yang dijadikan inti cerita dari novel ini. Termasuk cikal bakal Islam Kejawen yang banyak dianut oleh masyarakat Jawa sampai sekarang.

Di akhir cerita, penulis memberikan kesimpulan secara tersirat bahwa cara yang dilakukan oleh Sunan Ampel lebih tepat dibandingkan cara yang ditempuh Sunan Gresik. Walaupun dari segi kaderisasi memang benar, namun pembandingan seperti ini seolah mengecilkan perjuangan salah satunya. Padahal peran Sunan Gresik tidak kalah besar karena telah mengenalkan sistem irigasi kepada masyarakat Tandhes dan sekitarnya. Bahkan Tandhes sudah maju saat Sunan Ampel tiba pertama kali berkat perjuangan Sunan Gresik walaupun tidak menjadi bangsawan Majapahit.

Namun, dibalik kekurangan tersebut, masih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini. Salah satunya ialah keinginan kedua sunan tersebut memajukan tafar hidup masyarakat walau keduanya bukan orang Jawa asli. Semangat persaudaraan dan perdamaianlah yang menjadi motivasi mereka demi kehidupan yang lebih baik. Wassalam..

MAIN-MAIN JADI BUKAN MAIN

Posted: July 12, 2011 in Resensi Buku

Judul: Warkop; Main-main Jadi Bukan Main

Penulis: Rudy Badil & Indro Warkop (Ed.)

Tahun Terbit: 2010

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tebal: 305 halaman

Harga: Rp 95.000,-

Mendengarkan lewat tulisan. Mungkin kesan itulah yang didapat saat membaca buku yang menceritakan karir kelompok komedi radio yang menjelma menjadi komedian legendaris, yaitu Warung Kopi (Warkop). Yang menarik dari buku ini ialah tata letak tulisan yang disertai foto dan ilustrasi yang agak mirip majalah, sehingga ringan untuk dibaca. Selain itu, gaya penulisan yang menempatkan penulis sebagai orang pertama membuat pembaca seolah sedang mendengarkan seseorang bercerita, bukan menceritakan seseorang.

Melalui buku ini juga, pembaca dapat mengetahui sisi lain dari Warkop yang lebih dikenal masyarakat melalui film-filmnya. Yaitu, bahwa Warkop sejak dulu sebenarnya identik dengan lawakan cerdas. Contoh dari lawakan cerdas tersebut ialah tentang ramalan cuaca yang menyebutkan angin akan bertiup sesuai musim dan kondisi sekitarnya. Angin akan berhembus sepoi-sepoi basah kalau di taman ada orang pacaran, tapi akan bertiup kencang sekali kalau banyak orang main layangan. Namun, angin hanya berani bertiup tidak lebih dari 5 km/jam kalau lewat kompleks ABRI.

Kesuksesan kelompok yang semula beranggotakan Kasino, Nanu, Rudi Badil, Dono dan Indro ini merupakan hasil dari komitmen para personil dan persiapan matang sebelum tampil sehingga kelompok ini tetap hidup hingga saat ini. Terbukti dari 34 film mereka yang hingga kini masih sering menyapa di televisi Indonesia dengan kalimat penutupnya yang khas, ”tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Kepandaian mereka dalam membaca timing dan selera pasar juga membuat karya mereka tetap laris di pasaran.

Kreatifitas kelompok yang dahulu dikenal dengan nama Warkop Prambors ini banyak terinspirasi dari mata pelajaran di bidang Antropologi yang disebut folklor, yaitu kisah humor yang mengandung unsur tradisi (lore) dan manusia (folk). Oleh karena itu, materi lawakan mereka tetap ilmiah, kendati agak vulgar. Sebagai aktifis kampus, mereka juga sering mengkritisi realita sosial yang ada, seperti gagalnya program Keluarga Berencana atau makin maraknya urbanisasi. Semua itu mereka kritisi melalui satir-satir politik yang menggelitik namun tidak menjatuhkan kewibawaan orang lain.

Konsep bukunya sendiri ialah sekedar berbagi kenangan tentang para personil Warkop menurut beberapa orang yang pernah terlibat dan bekerja sama dengan Warkop. Kemudian, disusun dalam sebuah buku yang terdiri dari 5 bagian. Inti dari bukunya sendiri berada pada bagian pertama yang bercerita tentang sejarah Warkop secara umum. Lalu, 4 bagian sisanya merupakan pembahasan mendetail dari beberapa hal di bagian pertama.

Kelebihan dari buku ini terletak pada isinya yang juga menceritakan situasi politik saat itu. Jadi, sambil mengenang perjalanan karir para personil Warkop, pembaca juga diajak untuk mengenal sejarah kepemudaan dan kehidupan mahasiswa di 3 zaman, yaitu Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi, walau hanya sekilas. Maklum saja, mereka termasuk mahasiswa yang cerdas bahkan Dono sempat menjadi dosen di FISIP UI.

Namun, adanya nama-nama seniman lawas mungkin akan membuat penasaran bagi pembaca yang tergolong masih muda. Pembaca mungkin akan bertanya-tanya tentang tokoh-tokoh seperti Bing Slamet, Gepeng, bahkan Pak Tile. Sehingga buku ini seolah diperuntukkan bagi generasi Warkop saja walaupun sebenarnya layak juga dinikmati oleh para remaja. Penempatan inti buku di awal juga dapat membuat beberapa pembaca cenderung malas untuk membaca bagian lainnya secara detail. Pembaca cenderung hanya membaca sekilas dan memfokuskan pada bagian yang dianggap menarik saja.

Bandung. Sebuah kota yang kini sudah berusia 200 tahun. Berbagai peristiwa bersejarah banyak terjadi di bumi parahyangan ini. Mulai dari masa Kerajaan Padjadjaran berkuasa, masa kolonial, hingga masa modern sekarang. Berbagai peristiwa penting tersebut hingga kini masih banyak tersisa jejak-jejaknya melalui monumen, gedung, jalan, maupun nama tempat. Contohnya daerah Dayeuh Kolot yang berarti kota tua, dulunya merupakan Ibukota Kabupaten Bandung yang bernama Krapyak sebelum akhirnya dipindahkan menjadi agak ke utara, tepat di Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1810.

Namun, secara geologi, sejarah Bandung sudah dimulai sejak 30-20 juta tahun yang lalu, pada Kala Oligo-Miosen. Saat itu, bagian utara daerah ini masih merupakan laut dangkal dengan paparannya yang subur ditumbuhi terumbu karang. Sisa-sisa laut tersebut terekam jelas pada perbukitan batu kapur atau batugamping di Citatah-Padalarang. Pantai Laut Jawa dan deretan gunungapi saat itu berada jauh di selatan Bandung, sekitar daerah Pangalengan dan Gunung Halu.

Laut tersebut perlahan mulai terangkat dan deretan gunungapi mulai bergeser agak ke utara, membentuk deretan perbukitan yang kini berada di selatan Cimahi, seperti Gunung Selacau dan Gunung Lagadar. Bandung mulai menjadi daratan sekitar 4 juta tahun yang lalu, yaitu pada Kala Pliosen. Memasuki Zaman Kuarter, sekitar 2 juta tahun yang lalu, gunungapi yang ada saat ini mulai terbentuk. Di antaranya ialah Gunung Malabar, Gunung Patuha, Gunung Kendeng, dan Gunung Sunda yang kini menjadi Gunung Tangkubanparahu. Deretan gunung tersebut membatasi Bandung hampir di semua sisi, membuat Bandung seperti sebuah ”mangkuk” besar sehingga disebut juga Cekungan Bandung. Pada Zaman Kuarter ini juga, Bandung mulai dihuni oleh manusia. Tepatnya sejak 10 ribu tahun yang lalu berdasarkan bukti ditemukannya kerangka manusia di Gua Pawon pada tahun 2003.

Selain fakta sejarah, di Bandung juga berkembang suatu mitos yang ketenarannya tidak kalah dari mitos Malin Kundang dari Tanah Minang, yaitu mitos Sangkuriang yang kesiangan. Mitos yang berkisah tentang hubungan terlarang antara ibu dan anak ini diakhiri dengan terbentuknya 2 bentang alam dalam 1 malam, yaitu sebuah danau dan  sebuah gunung yang bernama Tangkubanparahu. Sebagian menyikapi mitos tersebut hanya sebatas mitos, namun peristiwa terbentuknya danau dalam 1 malam secara ilmiah sebenarnya memungkinkan.

Sesuai dengan mitos tersebut, Ci Tarum memang pernah terbendung. Tepatnya di utara Padalarang, di hulu sungai kecil yang bernama Ci Meta. Ci Tarum sebelum terbendung mengalir mengikuti perbukitan di selatan Cimahi ke arah utara dan berbelok ke baratdaya. Di sinilah Ci Tarum terbendung hingga membentuk danau di daerah hulu dan menyisakan aliran kecil bernama Ci Meta di sisi hilirnya. Letusan besar Gunung Tangkubanparahu yang materialnya mengalir ke barat, merupakan “Sangkuriang“ yang membendung Ci Tarum dalam 1 malam. Danau pun terbentuk di Cekungan Bandung tersebut.

Batas dari Danau Bandung tersebut telah diteliti dan garis pantainya diperkirakan berada pada ketinggian 712-715 m di atas muka laut.  Batas tersebut, jika ditarik dari barat ke timur Kota Bandung, maka kita seolah menyusuri kawasan Komplek Perumnas Cijerah, Jalan Jend. Sudirman, Pasar Jamika-Andir, St. Ciroyom, Jalan Kebonkawung, Jalan Cicendo, Jalan Babakan Ciamis, dan Jalan Aceh. Ke arah timur, garis pantai bisa ditarik dari Jalan Aceh, berbelok ke Jalan Lombok, lalu ke Masjid Istiqamah di Jalan Citarum, menerus hingga Pusdai. Selanjutnya garis pantai akan mengikuti Jalan Cikutra, terus ke timur searah dengan Jalan A. H. Nasution hingga Ujungberung, Cileunyi dan Jatinangor. Jadi, kawasan BIP sekitar 20.000 tahun lalu diperkirakan berupa pantai Danau Bandung.

Lalu, ke mana Danau Bandung sekarang? Danau Bandung surut sekitar 16.000 tahun lalu akibat penurunan muka air laut global yang memicu erosi hulu di tiap sungai. Erosi hulu tersebut perlahan mengikis perbukitan yang membatasi Danau Bandung hingga akhirnya bobol di daerah Pasir Kiara dan Puncaklarang. Sebelumnya, pengeringan Danau Bandung diyakini berada di Pasir Sangiangtikoro. Namun, analisis geomorfologi membuktikan bahwa pengeringan Danau Bandung bukan di Sangiangtikoro, melainkan di celah-celah punggungan hogback/pasiripis/lalangasu antara Puncaklarang dan Pasir Kiara.

Bukti-bukti dari sejarah Bandung sejak jutaan tahun lalu tersebut, hingga kini masih dapat diamati. Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar mencoba merangkum seluruhnya melalui konsep wisata dalam buku yang berjudul Wisata Bumi Cekungan Bandung. Buku ini sebenarnya merupakan cetakan ulang dari buku sebelumnya yang berjudul Geowisata Cekungan Bandung. Dalam buku ini, sejarah Bandung dikupas melalui 9 jalur-jalur wisata yang disebut geotrek. Tiap geotrek memiliki tema tersendiri yang berisikan foto dan ulasan masing-masing sejarahnya. Untuk pembaca yang masih awam terhadap ilmu kebumian tidak perlu dibingungkan dengan istilah dalam buku ini, sebab pada lembaran akhir disediakan glosarium dari istilah-istilah yang masih asing tersebut.

Melalui buku ini, kita seolah diajak berkeliling Bandung dan sekitarnya. Beberapa tempat dapat ditempuh dengan kendaraan, namun tidak jarang kita harus berjalan kaki menuju tempat yang ditunjukkan dalam buku ini. Untuk tempat-tempat yang terabaikan atau sedang menuju kerusakan akibat kegiatan penambangan dan pencemaran, terselip pesan yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Selain itu, kita juga diajak untuk melihat wajah lain dari Kota Bandung yang kini semakin identik dengan wisata belanja dan factory outlet-nya.

KEN DEDES SANG ARDHANARESWARI

Posted: April 22, 2010 in Resensi Buku

Semua orang memandang terperangah ke arah temanten putri yang memiliki kecantikan gilang gemilang. Ken Dedes, Sang Ardhanareswari tak perlu mengumbar senyumnya untuk menyihir segenap tamu yang tak pernah membayangkan ada kecantikan yang sesempurna itu. Sungguh beruntung Akuwu Tunggul Ametung bisa memperistri gadis secantik itu. Di tengah upacara pernikahan yang sebenarnya tengah terancam kekacauan tersebut, bergetar dada Parameswara melihat wanita yang dicintainya menikah dengan orang lain. Debaran itu makin terasa manakala Ken Dedes beserta Tunggul Ametung menghampirinya dan meminta restunya. Ken Dedes yang sebenarnya mencintai Parameswara tersebut hanya bisa menangis dan mengikhlaskan takdir yang memang harus terjadi. Keris Sang Kelat yang tersimpan di lipatan benak Parameswaralah yang memperingatkan bahwa titisan Dyah Smurat Nrrtari Maharani Sri Sanjayawarsa tersebut bukanlah takdirnya. Namun, Mpu Purwa, sesepuh Panawijen yang juga merupakan ayah Ken Dedes justru amat mencemaskan nasib anak gadisnya. Melalui penerawangan batin, ia dapat melihat jalan berdarah yang akan dilalui putrinya.

Ken Arok, yang tengah berada di Kediri dalam rangka membantu persiapan perang melawan pemberontakan Ganter, langsung menyelinap ke Tumapel saat mendengar pernikahan Ken Dedes. Titisan Rakai Walaingpu Kumbhayoni tersebut meyakini bahwa Ken Dedes merupakan takdirnya sebagaimana kehidupan sebelumnya. Hantu Padang Karautan itu bahkan pernah adu olah kanuragan melawan Parameswara yang telah ia anggap sebagai sahabat karibnya karena memperebutkan Ken Dedes. Namun, melalui pertarungan itu pula Parameswara justru mendapat kepastian bahwa Ken Dedes memang bukan takdirnya. Kepastian itu diperolehnya dari orang yang selalu mengikutinya, orang yang memiliki wajah dan perawakan yang sama persis dengannnya. Bukan hanya itu, bahkan dalam hal olah kanuragan pun, orang itu memiliki teknik yang sama.

Orang yang mengaku berasal dari waktu yang berbeda dan memiliki anak bernama Tandhya Dyah Laksita itu, juga pernah meminta bantuannya membebaskan istrinya yang dijadikan tawanan Ki Sabalangit. Namun, sayang saat itu bulan sedang purnama. Rajah Sapta Prabancana yang melekat di telapak tangan kirinya sedang mempengaruhinya dengan amat sangat. Dalam kondisi tersebut, Parameswara berubah sama sekali menjadi orang yang beringas, brutal, dan tidak mudah mati sekalipun tubuhnya telah terbakar. Rajah Prabancana yang menjadi tanda pengikut Prabanjara tersebut merupakan kelompok 7 orang yang mengincar nyawa anak Parameswara. Anak yang akan lahir itu merupakan titisan dari Dang Acarya Yogiasvhara, penjaga air Tirtamanthana yang disembunyikan di balik Candi Yogiasvhara yang dimurcakan. Masalah semakin kompleks karena ternyata istri dari Parameswara juga terpilih sebagai Sapta Prabancana, bukan Panca Hapsara yang bertugas melindungi anak tersebut.

Bingung, penasaran, dan geleng-geleng. Itulah rangkaian perasaan yang mungkin dirasakan ketika membaca novel Candi Murca jilid 4 yang berjudul Ken Dedes, Sang Ardhanareswari ini. Bingung karena memang misteri yang ada d novel ini belum sepenuhnya terungkap sehingga membuat penasaran untuk menantikan kelanjutan ceritanya. Geleng-geleng karena banyak teknik kanuragan atau beladiri yang tidak masuk akal walaupun pada novel ini diceritakan selogis mungkin. Contohnya ialah ilmu membelah diri yang digunakan oleh Ken Arok.

Novel setebal 832 halaman ini merupakan lanjutan dari 3 novel Candi Murca yang sebelumnya. Novel pertama berjudul Ken Arok Hantu Padang Karautan, novel kedua berjudul Air Terjun Seribu Angsa, dan yang ketiga berjudul Murka Sri Kertajaya. Novel bergenre fiksi sejarah ini berlatar akhir dari Kerajaan Kediri dan awal berdirinya Kerajaan Singasari. Namun, tokoh utama pada novel karya Langit Kresna Hariadi ini justru bukan tokoh penting dalam sejarah bangsa ini. Penekanan cerita justru jatuh kepada Parameswara, tokoh yang dalam sejarah sebenarnya merupakan pencuri kecil saat masa Kerajaan Majapahit yang pada novel ini memiliki kemampuan kanuragan yang luar biasa. Misalnya ialah Aji Cleret Tahun, ilmu kanuragan yang dapat menciptakan angin lesus atau tornado.

Dibandingkan dengan novel dengan genre yang sama saat ini, novel ini termasuk yang paling menarik setelah era Api Di Bukit Menorehnya S.H. Mintardja. Penulis novel ini sebelumnya juga telah menulis novel Gajah Mada yang terbit hingga 5 seri yang dilanjutkan dengan Perang Paregreg yang telah terbit 2 seri. Berbeda dengan kedua novel tersebut, pada novel Candi Murca ini porsi unsur fiksinya lebih banyak. Tetapi, unsur fiksi tersebut tidak sampai mengubah sejarah yang sebenarnya dan sebaliknya justru saling mendukung menjadi satu keutuhan alur cerita.

Kekurangan terbesar dari novel ini ialah kualitas cetakan dan penyuntingan yang kurang baik sehingga beberapa kesalahan ketik dan pemotongan kalimat yang kurang tepat banyak ditemukan. Selain itu, berbeda dengan 3 seri sebelumnya, pada novel ke 4 ini tidak disertakan penjelasan dari kata-kata berbahasa Jawa sehingga menyulitkan pembaca yang tidak menguasai Bahasa Jawa.