Iqbalputra

Ilmu Pengetahuan Ada Untuk Disebarluaskan

DISIPLIN VS JAM KARET

Waktu adalah uang. Begitulah kira-kira bunyi ungkapan yang tentunya sudah akrab di telinga kita. Siapa cepat dia dapat. Begitulah bunyi ungkapan yang lain. Sangat jelas bahwa ungkapan kedua tersebut berkaitan erat dengan waktu. Namun, sebenarnya apa ‘waktu’ itu? Benarkah senilai dengan uang?

Waktu ialah suatu dimensi yang mempengaruhi keberlangsungan sesuatu. Waktu sendiri memiliki skala yang berbeda-beda tergantung dari objek yang dipengaruhinya. Skala waktu manusia tidak sama dengan skala waktu alam gaib. Bahkan Planet Bumi, tempat manusia hidup di dunia, memilki skala waktu yang berbeda.

Dalam skala waktu bumi dan proses-prosesnya, digunakan skala waktu yang disebut Geological Time Scale atau Skala Waktu Geologi. Dalam skala waktu tersebut, perhitungannya bukan setahun atau puluhan tahun, melainkan ribuan, jutaan, bahkan miliaran tahun. Sedangkan manusia menggunakan skala waktu yang relatif singkat. Yaitu hanya harian, bulanan, dan tahunan. Yang paling lama paling hanya berkisar ratusan tahun.

Namun, sekiranya perbedaan yang jauh tersebut menjadi salah satu bukti kasih sayang Allah SWT kepada makhluknya. Sebab peristiwa-peristiwa yang menimbulkan bencana yang besar bagi makhluk hidup terjadi tiap jutaan tahun sekali. Seperti perubahan iklim dan letusan hebat gunung api atau disebut juga super volcano. Dapat dibayangkan bagaimana jika skala waktu kita sama dengan skala waktu bumi.

Kembali ke masalah waktu. Bagi manusia sendiri, waktu sangatlah penting. Sebagaimana disebutkan ungkapan di awal tulisan ini. Banyak orang yang rela mengeluarkan uang lebih agar mendapat hasil yang lebih cepat tanpa proses yang panjang. Sayangnya hal ini juga diterapkan dalam birokrasi bangsa kita. Tanpa uang sebagai pelicin, maka pengurusannya akan diperumit dan waktunya pun akan semakin lama.

Contoh lainnya ialah dalam transportasi. Semakin tinggi kecepatan alat transportasi, harganya pun semakin tinggi. Tetapi dengan begitu waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuannya pun akan lebih singkat. Contohnya ialah kereta api biasa dan kereta api ekspres atau bis kelas ekonomi dan kelas eksekutif.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya waktu lebih berharga daripada uang sekalipun. Sebab sebagian besar orang rela mengeluarkan uang lebih demi mempersingkat waktu. Tetapi sangat sedikit orang yang menghabiskan waktu demi menghemat uang. Itupun umumnya disebabkan situasi dan kondisi orangnya.

December 14, 2009 Posted by iqbalputra | Agama | | No Comments Yet

MINGGU PAGI DI GASIBU

Monumen Perjuangan di minggu pagi

Hari Minggu tanggal 22 Februari 2009. Seperti biasanya, gasibu penuh dengan berbagai pedagang beserta barang dagangannya yang bermacam-macam. Ada juga orang yang mengadakan atraksi seperti topeng monyet dan pertunjukkan ular. Pengunjung yang hadir pun tidak kalah ragamnya. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Ada yang bergandengan, ada juga yang merengek-rengek dalam gendongan.

Karena saya pendatang, saya tidak tahu sejak kapan gasibu beralih fungsi menjadi pasar rakyat setiap akhir pekan seperti ini. Begitu banyak pedagang dan pengunjung yang berdatangan. Begitu ramai juga suasanya dengan suara para pedagang yang mencoba menarik perhatian pengunjung agar setidaknya mampir dan melihat-lihat barang dagangannya. Dengan harapan akan membeli tentunya.

Tetapi tidak sedikit juga pedagang yang hanya duduk diam sambil merawat dagangannya. Entah karena capek atau memang hanya sebatas itu usahanya. Yang jelas setiap kali ada pengunjung yang melirik ke arah dagangannya, mereka mempersilakannya untuk melihat lebih lama lagi sambil mempromosikan keunggulan barang dagangannya. Harga yang murah, kualitas yang baik, tahan lama, kelangkaan, dan lain-lain.

Mereka bersaing, mereka berusaha, mereka menarik perhatian sebaik dan sesehat mungkin agar para pengunjung merasa nyaman untuk melihat-lihat. “Ma blas tiga…., ma blas tiga..!”, “penghabisan..penghabisan..”,”ini tahan lama ya, satu tahun dipakai tidak akan rusak..”. Begitulah usaha mereka dalam menarik perhatian para pengunjung. Sederhana, singkat, sedikit melebihkan dan kadang-kadang tidak perlu menggunakan kata-kata yang baku.

Meskipun terdapat berbagai pedagang, bahkan tidak sedikit yang menawarkan barang yang serupa, tidak saya temukan pedagang yang saling menjelekan pedagang lain, sejenis maupun tidak. Mereka hanya sebatas menawarkan dengan mengutarakan kelebihan dan kualitas dagangannya.

Yang menarik ialah, pedagang yang berdekatan, saya amati hanya salah satu saja yang berteriak mempromosikan dagangannya. Entah dengan berteriak lantang atau dengan bantuan pengeras suara, yang jelas hanya satu orang saja yang bersuara paling lantang. Yang lainnya biasanya baru bersuara jika ada pengunjung yang melihat dagangannya.

Saya tidak tahu apakah tindakan tersebut terjadi dengan sendirinya atau sudah disepakati sebelumnya. Namun hal tersebut cukup membuat saya tertarik. Ternyata masih ada rasa kepedulian dalam berusaha, tidak saling menjatuhkan dan saling menghargai usaha masing-masing. Meskipun dalam level usaha keliling seperti ini.

December 14, 2009 Posted by iqbalputra | Geowisata | | No Comments Yet

PANTAI PULORIDA BUKAN FLORIDA

Pernah mendengar nama Pantai Pulorida? Bukan pantai yang terletak di Amerika sana lho, sebab tidak ada kesalahan penulisan sama sekali, namanya memang PULORIDA. Objek wisata yang satu ini terletak di Kecamatan Cilegon, Provinsi Banten sekitar 4 km dari Pelabuhan Merak.

Objek wisata ini memang tidak setenar dan seindah Pantai Anyer, tetapi setiap musim liburan tiba, objek wisata ini selalu dipadati pengunjung. Dengan tiket masuk yang relatif terjangkau serta lokasinya yang relatif dekat, pantai ini merupakan pilihan tepat bagi masyarakat yang sekedar ingin mengisi waktu libur.

New Picture (1)Pantainya yang landai, dangkal dan hampir tak berombak cukup aman bagi pengunjung yang ingin berenang, berendam, atau bermain air dan pasir di tepi pantai. Pelampung ban bekas berbagai ukuran banyak disewakan bagi pengunjung yang ingin berenang atau menikmati terapung-apung di permukaan laut. Sementara bagi pengunjung yang menungguinya dapat bersantai-santai dengan menyewa tikar. Tarif sewa keduanya terjangkau dan tidak dibatasi waktu. Perahu pun disediakan bagi pengunjung yang ingin melihat-lihat kawasan di sekitar pantai ini, seperti Pelabuhan Merak, PLTU Suralaya atau melihat-lihat pulau kecil tak berpenghuni di sekitar lokasi ini. Tarif sewa perahu ini cukup terjangkau dan berlaku untuk 1 kali jalan pulang pergi. Disediakan juga kamar mandi bagi pengunjung yang hendak membilas setelah berenang dengan tarif Rp. 3000,- per kamar dengan fasilitas bak mandi dan shower.

Pantai ini dapat ditempuh melalui Jalan Tol Jakarta-Merak menuju Pelabuhan Merak atau melalui Jalan Raya Serang melewati pusat kota Cilegon hingga terbelah dua di persimpangan.Cilegon. Ke arah kiri ialah menuju PT. Krakatau Steel, Anyer dan Labuan sedangkan ke arah kanan menuju Pelabuhan Merak, Jalan Tol Jakarta-Merak dan Bojonegara. Dari Pelabuhan Merak, terus saja melalui jalan besar, melewati pasar tradisional Merak hingga tiba di Pantai Pulorida. Lokasinya memang tertutup tembok pembatas, namun tak perlu khawatir sebab terdapat papan nama Pantai Pulorida di pintu masuknya. Kondisi jalannya cukup bagus sehingga jika tidak macet di Pelabuhan Merak, pantai ini dapat ditempuh dalam waktu 2 jam dari Tangerang.

Keindahan pantai ini pun sebenarnya mempunyai daya tarik tersendiri. Jika cuaca cerah, di sisi selatannya akan terlihat ujung Pulau Sumatera dengan Gunung Rajabasa di tengahnya. Pulau kecil yang juga berada di sisi selatan dan terletak tidak jauh dari bibir pantai masih tampak hijau dan alami, sungguh menarik untuk dikunjungi. Sebelumnya, pernah dibangun jembatan kayu untuk pejalan kaki menuju pulau tersebut, namun sekarang sudah roboh dan tidak dibangun kembali. Di sisi utaranya terdapat tumpukan batu pemecah gelombang yang menjorok ke tengah pantai. Pada bukit di sisi jauhnya tampak 4 buah cerobong PLTU Suralaya yang mengeluarkan uap.

New Picture

Tetapi, keindahan tersebut agak tercemar oleh deretan kapal tongkang pengangkut batubara milik PLTU Suralaya. Pada gambar yang memperlihatkan suasana senja di Pantai Pulorida di atas terlihat 3 kapal tongkang dan kapal batubara (berbentuk panjang dengan bagian atas datar) yang mengapit pulau kecil di tengahnya sehingga hanya terlihat sebagian (di atas perahu). Di antara pepohonan dan kapal batubara tersebut, samar-samar terlihat lereng Gunung Rajabasa. Tapi, mungkin bagi sebagian orang keberadaan kapal-kapal tongkang tersebut memberikan kesan tersendiri untuk pantai ini.

October 6, 2009 Posted by iqbalputra | Geowisata | | 2 Comments

CURUG MALELA; PESONA YANG TERLUPAKAN

Bandung memang menarik. Morfologinya yang cekung dan dikelilingi rangkaian pegunungan menjadikan bandung ibarat parahyangan, tempat tinggal para dewa di langit. Sejarah geologi dan kehidupannya pun sama menariknya. Mulai dari legenda sangkuriang yang ternyata bisa dikaitkan dengan aktifitas Gunung Sunda Purba yang kini menjelma menjadi Tangkuban Parahu yang pernah membendung Sungai Citarum sehingga Bandung menjadi danau. Lalu berlanjut hingga ditemukannya fosil manusia purba di Gua Pawon oleh balai arkeologi dan dipelopori oleh Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Kemudian diakhiri dengan masa kemerdekaan hingga saat ini, dimana Bandung yang dulu menjadi lautan api sempat menjadi lautan sampah.

Di antara pesona yang tersimpan dalam bumi parahyangan tersebut, salah satu yang menarik ialah keindahan alam dan fenomena geologis yang sangat berpotensi menjadi objek wisata. Misalnya saja Kawah Putih dan Situ Patengan di Ciwidey, Maribaya dan Tangkuban Parahu di Lembang, serta Curug Cimahi dan Curug Bugbruk di Cimahi bagian utara. Objek wisata tersebut sebagian sudah dikelola dengan baik sehingga wisatawan dapat mengunjunginya dengan mudah. Namun tidak untuk keindahan alam yang satu ini, Curug Malela (gambar 1).

New Picture (11)Air terjun atau dalam Bahasa Sunda disebut “curug” ini memang masih sangat alami. Airnya yang cukup jernih, dikelilingi oleh perbukitan yang ditutupi semak belukar dan kebun milik penduduk setempat seperti riasan yang semakin membuat curug ini tampak elok. Belum lagi beberapa ekor monyet liar yang di musim kemarau kerap mejeng di tepi tebing air terjunnya atau sekedar bergelayutan dari pohon ke pohon.

Curug yang merupakan aliran dari Sungai Cidadap ini saat ini merupakan curug terbesar yang ada di sekitar Bandung. Tidak aneh jika ada pengunjung yang menyebutnya sebagai Niagaranya Bandung.

Selain itu, yang membuatnya unik ialah aliran airnya yang terpisah menjadi beberapa aliran saat menuruni tebing. Walaupun hal tersebut sebenarnya wajar jika dilihat dari morfologi lereng dan batuan penyusunnya yang terdiri dari breksi dan batupasir vulkanik dari Formasi Beser (Koesmono drr., 1996) yang memang kuat. Air yang mengalir deras menuruni tebing setinggi kurang lebih 50 m tersebut, menghasilkan deburan yang sudah bisa didengar dari jarak sekitar 500 m. Cukup sebagai pembangkit semangat setelah berjalan sejauh 2 km. Itupun jika tidak tersesat akibat malu bertanya kepada penduduk setempat yang dijumpai.

Keasrian curug yang terletak di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat ini bukannya belum terjamah atau tidak disadari. Dari beberapa gubuk dan jembatan bambu yang ada, tempat ini sepertinya pernah dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Tetapi itu saja tentu tidak cukup, karena bagian terpenting dari tempat wisata ialah mudah dikunjungi. Misalnya dengan menyediakan akses jalan yang memadai.

New Picture (12)

Hingga kini, curug yang dijadikan landmark Desa Cicadas tersebut hanya bisa dinikmati oleh wisatawan yang menyukai petualangan alam bebas. Bahkan untuk menuju Desa Cicadas saja harus melalui jalan menanjak berbatu (gambar 2) yang bahkan tukang ojek pun enggan melaluinya. Dari jalan berbatu tersebut, kemudian berbelok menuju jalan setapak menuruni bukit hingga menjumpai semacam gapura tanda masuk Curug Malela (gambar 3). Tapi, oleh karena banyaknya jalan setapak, pengunjung harus bertanya kepada penduduk setempat yang dijumpai selama perjalanan agar tidak salah belok.

Dari gapura tersebut, gemuruh airnya sudah terdengar meskipun bercampur dengan desauan angin yang bertiup di antara pohon pinus. Tidak jauh dari gapura tersebut, air terjunnya sudah terlihat di lembah antar bukit (gambar 1). Kemudian, dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak menuruni lereng menuju curug tersebut. Namun, harap berhati-hati karena ilalang yang tumbuh di tepi jalan setapak cukup lebat dan sisi tebingnya cukup curam. Di satu tempat bahkan ada jembatan yang roboh sehingga harus melewati lekukan yang cukup dalam (gambar 3).

New Picture (10)

Setelah tiba di dasar curug, kondisinya pun tidak kalah mengenaskan. Sampah-sampah plastik dan sterofoam terkumpul di antara bebatuan dan semak-semak di tepi sungai walau relatif tidak banyak. Sampah tersebut mungkin berasal dari perkampungan yang terangkut Sungai Cidadap sebelum tiba di Curug Malela atau bisa juga sisa-sisa aktifitas pengunjung curug ini. Sungguh ironi, karena dilihat dari jarak yang lebih dekat, curug ini memang indah, menarik dan besar menjulang (gambar 4), walau tidak setinggi Curug Cimahi.

New Picture (9)

Keindahan Curug Malela saat ini memang belum bisa dinikmati oleh semua orang. Sebab, kendaraan pribadi hanya bisa sampai SDN Cicadas. Setelah itu, harus berjalan kaki sejauh 2 km atau menggunakan ojek yang umumnya enggan mengantar jika ke Curug Malela. Kendaraan khusus lapangan pun hanya bisa mendekat hingga jarak sekitar 1 km, selebihnya tetap harus ditempuh dengan berjalan kaki. Untuk yang menggunakan angkutan umum bahkan hanya bisa sampai Simpang Rongga, sekitar 8 km dari Desa Cicadas. Dari sini, hanya bisa diteruskan dengan naik ojek maksimal hingga SDN Cicadas.

Walaupun demikian, curug yang berada di dekat perbatasan Kabupaten bandung dan Kabupaten Cianjur ini tetap berpotensi menarik para wisatawan yang menggemari petualangan dan jelajah alam. Lingkungannya yang masih alami dan hijau, disertai penduduknya yang ramah menjadi nilai tambah tersendiri bagi objek wisata ini. Selain itu, berdasarkan keterangan penduduk, ke arah hilir sungai yang juga disebut Sungai Cicurug ini sebelum bermuara ke Sungai Cisokan di Kabupaten Cianjur, masih ada 4 curug lain yang tidak kalah indahnya.

Sumber:

Berdasarkan catatan Studi Lapangan Geowisata Curug Malela oleh Dr. Ir. Budi Brahmantyo, MSc; Alfaidhul Akbar; dan Saya sendiri.

Koesmono, M., Kusnama, & Suwarna, N., 1996, Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa skala 1:100.000 edisi ke-2, Puslitbang Geologi, Bandung

August 27, 2009 Posted by iqbalputra | Geowisata | | No Comments Yet

POTENSI KARANG SAMBUNG

Karang Sambung merupakan laboratorium alam dan monumen geologi yang sangat menarik bagi obyek penelitian maupun wisata alam. Salah satu kecamatan di bagian utara Kabupaten Kebumen ini disebut laboratorium alam geologi karena menghadirkan variasi struktur dan jenis batuan di kawasan yang relatif tidak luas. Nilai ilmiahnya bertambah penting setelah lahir teori tektonik lempeng, karena menurut para ahli geologi daerah ini pernah menjadi batas lempeng konvergen berupa jalur subduksi pada jaman Kapur yang berlanjut hingga Pegunungan Meratus, Kalimantan. Batuan-batuan hasil tumbukan tersebut kini terangkat ke permukaan dan dapat diamati dalam kondisi yang relatif segar.

Oleh karena begitu pentingnya, kawasan ini kemudian ditetapkan sebagai Cagar Alam Geologi Nasional yang dikelola oleh Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hal ini bertujuan agar batuan-batuan langka yang terdapat di Karang Sambung terlindung dari kepunahan akibat ditambang oleh penduduk. Sebab Karang Sambung juga menjadi bukti teori tektonik lempeng dan menjadi referensi dunia.

A. Fasilitas

1

Baik kegiatan penelitian maupun wisata ilmiah di Karang Sambung dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI. Unit ini memiliki fasilitas pendukung berupa tempat penginapan & asrama, perpustakaan, dan bengkel kerja kerajinan batumulia (gambar 1). Kegiatan wisata ilmiah itu meliputi ceramah ilmiah populer, diskusi, kunjungan lapangan ke berbagai lokasi penting, melihat koleksi batuan serta proses pembuatan batu mulia.

Selain itu, wisatawan juga bisa mengikuti kegiatan perburuan atau pencarian batuan di aluvial Sungai Lukulo, sungai terbesar di daerah ini. Di kawasan Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI dapat dilihat proses pembuatan kerajinan batu mulia, mulai dari memilih bahan, memotong, dan membentuknya. Selain batu mulia, pengunjung juga bisa melihat berbagai koleksi batuan yang ada di Karangsambung, model tektonik, maket geologi (gambar 2) dan peraga yang menggambarkan proses dinamika bumi di museum.

2

B. Beberapa Batuan di Karang Sambung

Untuk menuju Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI, dari pusat Kota Kebumen dapat menempuh jalan datar beraspal namun berkelok-kelok mengikuti Sungai Luk Ulo yang berada di sebelah baratnya. Tersedia juga angkutan umum berupa bis kecil berukuran ¾ atau angkot yang menempuh rute Terminal Kebumen-Karang Sambung.

Beberapa singkapan batuan yang menarik untuk diamati ialah Bukit Jatibungkus, Gunung Parang, Bukit Wagir Sambeng, Gunung Sipako, Krakal, dan Kali Brengkok.

  • Bukit Jatibungkus

3Bukit berukuran 350 x 150 meter ini tampak terisolir di antara dataran di sisi utara dan selatannya. Di lokasi ini terdapat batugamping dengan fosil berupa Foraminifera besar, ganggang merah, ganggang hijau, serta Milliodidae. Selain itu, ditemukan juga pecahan-pecahan kuarsa, rijang, dan batuan metamorf, yang mengindikasikan bahwa batuan ini diendapkan dekat dengan sumbernya.

.

  • Gunung Parang

4Di gunung ini, dapat diamati bentuk kekar kolom seperti yang terdapat pada Devil’s Tower di Wyoming, Amerika Serikat. Gunung yang tersusun dari batuan beku Diabas ini merupakan intrusi konkordan berupa sill yang menerobos Fm. Karangsambung dan Fm. Totogan.

.

.

  • Bukit Wagir Sambeng

5

Gunung ini seluruhnya tersusun oleh asosiasi rijang dan batulempung gampingan berwarna merah. Singkapan yang merupakan endapan laut dalam ini berlapis hampir vertikal membentuk puncak-puncak punggungan yang sempit, memberikan kenampakan yang mempesona sebagai suatu monumen. Morfologi amphiteater dan kondisi geologi Karangsambung dapat dilihat dari puncak gunung ini.

  • Gunung Sipako

6Di sini terdapat singkapan filit berwarna hitam pada dinding sungai yang terjal. Batuan ini terbentuk selama proses penunjaman serta merupakan batuan metamorf berderajat rendah. Proses tektonik dan deformasi lebih lanjut berupa patahan geser searah aliran sungai, membentuk lipatan-lipatan kecil serta struktur gores garis pada batuan filit.

.

  • Krakal

Daerah yang terletak di Kecamatan Alian ini berupa pemandian air panas. Terbentuknya mataair panas yang bersifat basa ini bukan karena aktivitas gunungapi, tetapi hasil induksi panas dari dalam bumi akibat adanya patahan yang mengenai daerah ini. Untuk menuju tempat ini, dapat menggunakan angkot jurusan Kebumen-Alian langsung dari Kebumen.

  • Kali Brengkok

7Di tempat ini terdapat sekis mika berwarna abu-abu cerah dan tampak mengkilap terkena sinar matahari dan merupakan batuan tertua di Pulau Jawa, yang menjadi alas pulau ini. Batuan yang terdiri dari mineral mika ini terbentuk karena pengaruh tekanan yang sangat kuat hingga menjadi sekis mika di dalam kulit bumi.

.

.

Selain batuan-batuan tersebut, masih ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sayangnya, belum semua situs bernilai ilmiah tinggi ini dibebaskan menjadi milik negara. Dari 30 situs, baru delapan yang telah dibebaskan menjadi milik negara. Sisanya masih berada di tangan masyarakat sehingga menjadi obyek penggalian batu dan pasir. Gunung Parang misalnya, tiap musim kemarau selalu terkikis palu para pencari batu untuk bahan bangunan (gambar 7). Padahal, kalau dibandingkan, nilai ekonominya tidak lebih tinggi daripada nilai ilmiahnya. LIPI memang telah melindungi sebagian Gunung Parang itu, terutama struktur kolom yang mirip dengan Devil’s Tower di Wyoming, Amerika Serikat. Masalahnya, bagian belakang gunung itu belum dibebaskan dan masih terus digali. Jika penggalian tersebut dibiarkan, maka bagian depannya akan habis juga.

Penggalian batuan juga mengakibatkan hilangnya batugamping Orbitulina yang terletak di Kabupaten Banjarnegara. Selain itu, batugamping di Jatibungkus, yang mengandung fosil koral dan alga, dikhawatirkan kelestariannya. Sebab jika dipecah-pecah dan dimasukkan ke tungku, batugamping tersebut bisa menjadi kapur tohor.

Lahirnya keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang mengangkat status lapangan geologi ini menjadi cagar alam geologi pertama di Indonesia itu diharapkan dapat memberi kekuatan hukum untuk menghentikan kegiatan penggalian batu langka ini. Selain itu, diperlukan juga kesadaran masyarakat akan pentingnya kawasan ini bagi ilmu geologi.

8

Sumber:

http://karangsambung.lipi.go.id/geowisata/?page_id=47

July 20, 2009 Posted by iqbalputra | Geowisata | | No Comments Yet

Skala Kekerasan Mineral

Selama ini, kita hanya tahu bahwa intan adalah benda paling keras di dunia. Kemudian kita juga tahu bahwa bagian terkeras dari tubuh ialah gigi atau lebih tepatnya email gigi (tooth enamel). Namun, belum banyak yang tahu seberapa keras intan dibandingkan benda lain atau mana yang lebih keras antara gigi dan besi. Kekerasan suatu benda diukur berdasarkan skala tertentu. Saat ini, skala yang paling umum digunakan ialah Skala Kekerasan Mohs (Mohs Hardness Scale). Skala ini disusun pada tahun 1812 oleh Friedrich Mohs, seorang mineralogis asal Jerman. Prinsip dasarnya ialah dengan menggoreskan benda yang akan diukur kekerasannya dengan benda lain yang lebih keras. Skala pengukurannya mulai dari 1 hingga 10 dengan intan sebagai benda terkeras dan talk sebagai yang terlunak (lihat tabel 1).

picture1

Sebagai tambahan, perlu diketahui bahwa kekerasan kuku jari kita sekitar 2-2,5 sedangkan gigi kita kekerasannya sekitar 5 pada skala Mohs. Pisau baja kekerasannya hanya sedikit di atas 5, bahkan tidak lebih kuat daripada kaca (kekerasan 5,5). Namun, baja yang bermutu tinggi kekerasannya dapat mencapai 6,5.

Dari perbandingan kekerasan pada Skala Mohs ini, dapat kita lihat bahwa bagian terkeras dari tubuh kita hanya bernilai 5. Besi/baja terbaik sekalipun kekerasannya hanya mencapai 6,5 atau mungkin 7, sangat jauh lebih lunak dibandingkan intan. Sebab sekalipun hanya berbeda 1 tingkat, kekerasan sesungguhnya antara intan dan korundum sangat berbeda jauh. Intan memiliki nilai kekerasan absolut 1500 sedangkan korundum hanya 400. Permata moissanite yang dalam Skala Mohs kekerasannya 9,25 pun hanya memiliki nilai absolut 500, walaupun moissanite lebih tahan panas dibandingkan intan.

Jadi, hingga saat ini intan masih merupakan benda terkeras yang diketahui. Namun, bukan tidak mungkin kelak akan ditemukan benda yang kekerasannya mendekati intan mengingat perbedaan kekerasan absolut yang begitu besar antara benda terkeras nomor 1 dan nomor 2.

Untuk mengetahui beberapa hal tentang mineral-mineral kunci dalam Skala Mohs tersebut, berikut dilampirkan deskripsi singkat kesepuluh mineral tersebut:

1. Talk (talc)

picture41Berwarna putih, kelabu, atau kecoklatan, tak pernah ditemukan dalam bentuk kristal, merupakan produk alterasi magnesium silikat pada batuan ultramafik dan metasomatisme pada marmer dolomitik. Talk dipakai pada industri kertas, cat, karet, kosmetik, tekstil dan bubuk talk.

.

.

2. Gipsum (gypsum)
picture71

Berwarna putih, tak berwarna, hingga kekuningan, dapat larut dalam HCL dan air panas, terbentuk dari presipitasi mataair panas, air asin, atau sublimasi dari fumarol, terkadang berpendar jika terkena sinar ultraviolet, banyak digunakan untuk membuat plester Paris dan juga campuran dalam membuat semen.

.

3. Kalsit (calcite)

picture8

Warnanya bervariasi, terdapat dalam gua kapur sebagai stalaktit dan stalakmit atau pada urat hidrotermal temperatur rendah yang berasosiasi dengan sulfida, merupakan penyusun utama batu kapur dan marmer, terbentuk dari evaporasi larutan kalsium bikarbonat atau air laut, dan dari sisa-sisa organisme yang bersifat gampingan.

.

4. Fluorit (fluorite)

picture6Berbentuk kubik, warnanya sangat bervariasi mulai dari tidak berwarna hingga hitam, tidak larut dalam air, jika terkena sinar ultraviolet akan menimbulkan fluorescent, dapat ditemukan pada urat hidrotermal temperatur sedang hingga tinggi atau hasil dari sublimasi batuan vulkanik.

.

.

5. Apatit (apatite)

picture10Tak berwarna hingga berwarna kuning, hijau dan coklat, beberapa jenis apatit bisa kehilangan warnanya jika dipanaskan, dan ada pula yang berpendar jika terkena sinar ultraviolet. Terdapat di semua jenis batuan, stabil hampir di setiap lingkungan, banyak ditambang untuk pupuk, serta merupakan penyusun utama pada gigi.

.

6. Feldspar (feldspars)

picture9Merupakan kelompok mineral yang terdiri dari plagioklas, potasium feldspar, dan feldspatoid dengan masing-masing anggotanya. Plagioklas merupakan feldspar yang mengandung Kalsium dan Natrium. Potasium feldspar merupakan feldspar yang mengandung Kalium. Sedangkan feldspatoid merupakan feldspar yang kekurangan silika. Terbentuk langsung dari kristalisasi magma, merupakan salah satu komponen mineral yang paling penting dalam menentukan nama batuan beku, serta dalam menentukan derajat pelapukan dan tingkat alterasi batuan.

7. Kuarsa (quartz)

picture3Salah satu mineral paling umum di Bumi. Dalam kondisi murni, kuarsa tidak berwarna, tetapi dapat beraneka warna tergantung pengotornya. Kuarsa berwarna ungu disebut ametist (kecubung), warna kuning disebut citrine, warna merah muda disebut rose, warna putih disebut milky quartz sedangkan warna hitam disebut smoky quartz. Terbentuk langsung dari kristalisasi magma atau dari sisa organisme tertentu. Stabil di berbagai lingkungan dan paling tahan terhadap pelapukan.

8. Topaz (topaz)

picture21Terbentuk pada suhu yang tinggi dan memiliki beragam warna, tergantung pada jumlah fluorin yang ada ketika mineral ini terbentuk. Dapat ditemukan pada pegmatit, granit, riolit dan beberapa urat hidrotermal temperatur tinggi. Banyak digunakan sebagai permata.

.

.

9. Korundum (corundum)

picture53Umumnya berwarna abu-abu atau coklat, yang berwarna merah dinamakan rubi sedangkan yang berwarna biru disebut safir. Dapat dibuat menjadi alat ampelas yang bagus atau batu permata yang sangat mahal, terbentuk pada batuan metamorf derajat tinggi, kaya aluminium, dan sedikit silika.

.

.

10. Intan (diamond)

picture111Hanya terdiri dari karbon (carbon) seperti grafit tetapi memiliki ikatan yang sangat kuat, warnanya bisa bermacam-macam, mulai dari tak berwarna hingga berwarna hitam. Dapat ditemukan pada batuan ultramafik khususnya kimberlit, atau pada material endapan sungai.

.

.

Referensi:

Mottana, A., Crespi, R., Liborio, G., Simon & Schuster’s Guide to Rocks and Minerals. New York: Simon & Schuster inc.

Taylor, B., alih bahasa oleh Dr. Terry Mart, 2001. Intisari Ilmu Batuan, Mineral Dan Fosil. Jakarta: Penerbit Erlangga

http://luckygemstones.com

April 29, 2009 Posted by iqbalputra | Uncategorized | | 3 Comments

KETIKA KEDELAI MAHAL

Potensi manusia umumnya akan maksimal ketika terdesak. Beberapa penduduk bangsa kita telah membuktikannya. Ketika kedelai mahal, mereka mencari-cari cara untuk mengimbanginya. Disinilah kreativitas diperlukan. Beberapa penduduk tersebut berhasil mensubtitusi pauk yang berasal dari kedelai, terutama tahu dan tempe, dengan singkong.

Di Jawa Tengah, saya lupa kota tepatnya, singkong tersebut diolah menjadi semacam perkedel. Ternyata pauk tersebut berhasil menggantikan peran tahu dan tempe dalam industri wartegnya. Sebab harganya jauh lebih murah tetapi rasanya sama bahkan kabarnya lebih enak daripada tempe.

Kasus lainnya ialah upaya mengimbangi naiknya harga minyak goreng curah. Subtitusi yang digunakan sebenarnya tidak asing, yaitu pasir. Tetapi cara ini baru digunakan untuk masakan kering saja seperti kerupuk atau sejenisnya. Hasilnya sudah tentu bebas kolesterol dan bisa menghemat bahan bakar minyak yang katanya cadangannya tinggal sedikit.

Itu baru dua contoh kasus. Dengan daya kreativitas tersebut, sebenarnya kita tidak perlu hanya bergantung pada pemerintah. Dengan berkreasi sedikit, beban pun sedikit berkurang. Jika didukung dengan kebijakan pemerintah yang sesuai, bukan tidak mungkin masalah ekonomi bangsa kita teratasi dengan usaha sendiri. Tanpa perlu dana eksternal yang membuat utang kita membengkak.

April 28, 2009 Posted by iqbalputra | Uncategorized | | No Comments Yet

METODE PENENTUAN UMUR

Umur Relatif

· Prinsip kesejajaran atau superposisi: dalam kondisi normal, lapisan yang berada di bawah lebih tua daripada lapisan di atasnya. Pada gambar di bawah, lapisan yang paling tua ialah lapisan berwarna putih yang terletak paling bawah (gambar kiri) sedangkan pada gambar kanan, lapisan tertua ialah lapisan berwarna hijau muda yang terletak di sebelah kanan bawah (pada hanging wall sesar).new-picture-9

· Prinsip potong memotong: lapisan yang dipotong lebih tua daripada yang memotongnya. Sesuatu yang memotong lapisan dapat berupa lapisan batuan lain (dike, batolit, dll) atau berupa bidang diskontinuitas (sesar, rekahan, dll). Pada gambar di atas, dike (kiri) dan sesar naik (kanan) lebih muda daripada lapisan yang dipotongnya.

· Prinsip kesebandingan: membandingkan bentuk atau teksturnya seperti sutura fosil yang bersifat sederhana (muda) atau kompleks (tua).

· Prinsip kesejajaran fosil: mengkorelasikan lapisan-lapisan yang mengandung fosil. Lapisan yang fosilnya sejenis berarti memiliki rentang umur yang sama.

Umur Absolut

· Metode menghitung

new-picture-10Dendrokronologi: menghitung lingkaran tahunan suatu fosil kayu serta membandingkannya dengan lingkaran tahunan pada pohon yang masih hidup (lihat gambar di samping). Metode ini digunakan untuk menentukan umur absolut serta kondisi iklim dan lingkungan purba. Metode ini juga dapat menentukan tahun pembentukan tiap lingkar, meneliti peristiwa lingkungan dan/atau manusia yang telah lalu, dan crossdated sampel yang overlap dalam waktu seperti pada gambar di bawah.new-picture-8

· Metode isotop

§ Radiokarbon atau C-14: waktu paruh yang digunakan ialah 5730 tahun dan diukur pada material organik dengan kisaran 0-35.000 tahun (dengan metode AMS dapat mencapai 50-70 ribu tahun). Sangat berguna dalam studi arkeologis. Kelemahan metode ini ialah: 1.) sampelnya harus mengandung material organik; 2.) untuk sampel arkeologis dibutuhkan ukuran yang besar; 3.) sampel dan lokasi pengambilannya harus benar-benar terhindar dari kontaminasi karbon di atmosfer; 4.) tidak terlalu akurat pada endapan yang relatif baru karena memiliki keterbatasan atas dan bawah yang signifikan akibat tingkat peluruhannya yang logaritmik.

§ Metode Potassium-Argon (K-Ar): mengukur akumulasi Argon pada substansi yang berasal dari dekomposisi Potassium. Prinsip kerjanya secara umum sama dengan metode radiokarbon, tetapi metode ini hanya sesuai untuk batuan beku vulkanik yang masih segar.

§ Kosmogenik: metode ini dapat mengukur umur erosional dan umur material tersebut tersingkap. Unsur yang digunakan ialah Cl-36, Be-10, He-3, Al-26.

§ Uranium Series Disequilibrium:

o Peluruhan Uranium-Helium sangat cocok untuk fosil yang mengandung aragonit (koral, Moluska) selama tidak mengalami perubahan atau rekristalisasi.

o Peluruhan Uranium-Thorium efektif digunakan pada sedimen laut, tulang, kayu, koral, batu dan tanah dan waktu paruhnya 75.830 tahun. Kelebihan metode ini ialah ukuran sampel yang dibutuhkan tidak besar, yaitu kurang dari 20 gram bahkan untuk tulang hanya diperlukan 3-5 gram. Kekurangannya ialah sampel yang diambil tidak boleh mengandung Thorium dan harus segera ditutup sehingga tidak dapat mengambil banyak sampel. Hal ini dapat dilakukan dalam gua, dalam air dan area terbuka.

§ Metode Pb-210: waktu paruhnya ialah 22,3 tahun sehingga berguna dalam kisaran umur 150-200 tahun. Metode ini dapat diaplikasikan untuk mengukur umur hujan salju, sedimen muda, ikan dan angka historis pencemar lingkungan (logam).

· Pembongkaran Radiasi

§ Metode fission track: metode ini diterapkan pada batuan vulkanik dan tefra, diamati pada mineral zirkon, titanit, apatit dan gelas. Dapat digunakan untuk material sangat muda (dengan kandungan U tinggi) dan material sangat tua (dengan kandungan U rendah) di darat maupun di laut. Terdapat dua jenis jejak peluruhan, yaitu spontaneous dan induced yang melibatkan 2 isotop, U-238 dan U-235. Jejak peluruhan (spontaneous maupun induced) pada sampel yang hendak diamati mula-mula diperbesar dengan pengetsaan dalam asam sehingga dapat terlihat oleh mikroskop cahaya seperti gambar di bawah. Kemudian, melalui mikroskop jejak tersebut dihitung atau dicatat kepadatannya di suatu area. Jumlah jejak per area unit adalah fungsi dari umur dan konsentrasi Uranium.new-picture-11

§ Metode luminescence: teknik ini mengukur umur pengendapan untuk endapan Kuarter yang didasarkan pada kenampakan kerapatan butiran sedimen tersebut. Prinsip pengukurannya ialah mengukur rekaman radiasi ionisasi matahari terhadap butiran mineral dalam sedimen selama erosi dan transportasi. Jadi, luminescence menandakan peristiwa pengendapan.

§ Metode resonansi perputaran elektron (ESR): prinsip metode ini didasarkan pada fakta bahwa radiasi menyebabkan elektron berpindah dari posisi atom normalnya dan terperangkap pada kisi dari mineral. Keunggulan metode ini ialah sampelnya yang tidak dihancurkan sehingga dapat di dating lebih dari satu kali. Metode ini dapat digunakan untuk mengukur umur material organik yang kaya akan kalsium seperti koral, tulang, moluska, dan cangkang telur. Selain itu juga dapat mengukur umur material anorganik seperti batugamping, kuarsa dan batu api.

”Hybridized” Technique

· Teknik Korelasi. Teknik ini tidak menghasilkan angka umur, tetapi jika dikombinasikan dengan metode lain, maka akan menghasilkan pengukuran yang lebih akurat.

o Paleomagnetik: metode ini perlu dikombinasikan dengan metode lain agar lebih akurat dalam menentukan umur dari sedimen Kuarter, batuan dan fosil. Sampel dapat diperoleh dari pemboran dengan diameter 2,5 cm dan panjangnya 6-12 cm atau dari blok sampel yang diketahui dip dan azimuthnya. Sebelum ditentukan umurnya, sampel tersebut dihangatkan lebih dahulu dengan lebih dulu dicocokkan dengan arah kutub magnet saat ini agar orientasi medan magnetnya seragam (lihat gambar di bawah).new-picture-12

Paleomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu kutub normal dan pembalikkan kutub. Kutub normal ialah posisi kutub magnetik bumi yang sesuai dengan posisinya saat ini sedangkan pembalikkan kutub yang terjadi secara periodik selama sejarah Bumi ialah posisi kutub magnetik bumi yang berlawanan atau berbeda dengan posisinya saat ini. Hal tersebut menyebabkan deklinasi magnetik terhadap kutub geografis bumi yang diperlukan dalam penggunaan kompas untuk orientasi. Untuk kutub normal, arah kompas menunjuk ke arah utara dan selatan dan arah orientasi magnetik dari batuan pun berarah utara selatan. Namun, untuk pembalikan kutub arah kompasnya akan mempunyai deklinasi dan inklinasi yang besar terhadap arah kutub magnetik saat ini. Metode ini dapat mengukur hingga sekitar 10.000 tahun.

o Tefrakronologi: metode ini mengukur unsur jejak (trace element) pada lapisan abu vulkanik untuk menentukan sumbernya.

· Kimia dan Biologi

o Aminostratigrafi: penentuan umur dari rantai asam amino.

o Hidrasi Obsidian: penentuan umur dari kemampuan obsidian menyerap air atau uap air dari atmosfer. Penyerapan uap ini dipengaruhi oleh ketebalan kulit hidrasi obsidian (variabel terikat) yang meliputi waktu, geokimia, iklim, kandungan kimiawi tanah, dan Tempertur Hidrasi Efektif (EHT). Geoarkeologis menggunakan determinasi hidrasi obsidian untuk menentukan kedalaman waktu.

o Lichenometri: penentuan umur dari jamur.

January 20, 2009 Posted by iqbalputra | Geologi Sejarah | | 2 Comments

TASIK SELATAN, MUTIARA YANG TERISOLIR

Pukul 06.00 WIB, dari kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), saya dan rombongan yang terdiri dari Dr. Ir. Budi Brahmantyo, Dr. Ir. Johan Arief dan Ir. Bandono (dosen ITB), Dr. Indyo Pratomo (pakar vulkanologi dari Pusat Survey Geologi), Ir. Iwan dan peserta kuliah Geoplanologi yang terdiri dari 4 orang termasuk saya berangkat menuju Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya tepatnya menuju ke Taman Jasper.

Dengan mengendarai mobil berukuran SUV, kami menempuh perjalanan panjang melalui jalan tol Purbaleunyi, Nagrek, hingga Kota Tasikmalaya. Dari Kota Tasikmalaya menuju Cikalong, kami mengamati bukit-bukit kecil yang banyak ditemui di sepanjang perjalanan (gambar 1 sebelah kiri). Bukit yang disebut “Bukit 10.000” ini sebenarnya merupakan hummock debris avalanche dari pembentukan kaldera sekitar 4200 tahun lalu yang kini menjadi Gunung Galunggung.

1

Perjalanan kami lanjutkan dengan disertai guyuran hujan, perbukitan terjal dan jalan berliku di sepanjang perjalanan hingga tiba di Terminal Cikalong pukul 12.00 WIB untuk ishoma. Hujan kali ini cukup lebat dan menyebabkan penuhnya sungai-sungai di daerah ini. Hujan masih mengguyur saat perjalanan kami dilanjutkan dan baru mereda saat kami sampai di daerah pesawahan yang sebagiannya terendam menjadi rawa yang mungkin bersifat musiman (gambar 1 sebelah kanan).

Akhirnya, kami tiba di pantai yang bergaris pantai lurus dan dipisahkan oleh gundukan pasir pantai berwarna gelap serta bibir pantai yang cukup miring (gambar 2). Tidak banyak yang kami amati di tempat ini selain komposisi pasir pantai (butiran mineral batuan vulkanik), morfologi, dan tingkat kemanannya dari ancaman tsunami serta pola tata ruang yang sesuai. Perjalanan pun dilanjutkan dan berhenti sejenak di rawa-rawa dekat pantai di tepi jalan yang lurus mengikuti garis pantai (gambar 3). Di tempat ini pun kami hanya mengambil foto dan mengamati kaitan morfologinya terhadap pantai tadi.2

Di jembatan Sungai Cimedang kami berhenti untuk mengamati sungai yang meluap hingga muaranya (gambar 4 dan 5) dan mewawancarai penduduk setempat tentang mitos daerah tersebut dan Taman Jasper. Namun, dari keterangan penduduk, ternyata akses menuju Taman Jasper dari tempat ini terputus akibat jembatan yang ambruk sedangkan jalan alternatif yang ada mengharuskan kami berputar kembali sehingga jaraknya menjadi terlalu jauh untuk kami tempuh dengan waktu yang sudah lewat tengah hari ini. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengubah tujuan menuju lokasi yang dari peta topografi tampak memiliki morfologi yang unik.3

Daerah yang kami tuju, ternyata merupakan suatu tinggian yang dibelah oleh jalan raya dengan singkapan breksi yang telah melapuk yang mengapit jalan tersebut di kedua di sisinya (gambar 6). Butiran pada breksi ini berukuran kerikil hingga berangkal pada Skala Wentworth, pemilahan buruk, menyudut hingga menyudut tanggung, kemas terbuka, sudah sangat lapuk hingga dapat digali oleh tangan (gambar 7). Beberapa rekahannya terisi oleh mineral lempung berwarna putih (gambar 8). Pada sisi bawah sebelah timurnya terdapat jasperisasi yang belum sempurna berwarna merah hingga jingga kemerahan (gambar 9).

Di tempat ini juga terlihat pantai dengan sungai kecil yang bermuara ke pantai tersebut. Di kejauhan terlihat sebuah pulau dengan sebuah menara yang mungkin berfungsi seperti mercusuar (gambar 10). Karena tampaknya menarik, maka kami menuju ke pantai tersebut dengan menerobos rerumputan dan tanaman liar.4


Berbeda dengan pantai yang sebelumnya, pantai ini landai dan lebih menyerupai sebuah teluk. Kondisinya masih asri dan alami, terlihat dari banyaknya terdapat lubang-lubang kecil dan pola-pola yang dibuat oleh kepiting, kerang-kerangan dan hewan pantai lain pada dataran pantainya. Lalu ada juga hewan bulu babi yang telah mati terdampar di genangan dekat karang. Aliran air hujan yang mengalir turun dari bukit membentuk pola yang mirip seperti sungai teranyam (braided river) sebelum akhirnya masuk ke sungai kecil yang bermuara ke pantai ini. Di tepian sungai tersebut, tersebut terdapat singkapan batuan vulkanik yang di beberapa tempat sedikit berbau sulfur (gambar 11).

Kemudian, setelah tiba di tepi pantai kami melihat sesuatu yang sangat menarik yaitu kekar kolom di tebing tepi pantai yang kondisinya masih sangat bagus (gambar 12 dan 13). Singkapan kekar kolom tersebut berada di bukit yang sama dengan singkapan breksi sebelumnya, hanya letaknya lebih ke bawah dan lebih ke selatan. Struktur ini terbentuk saat magma membeku membentuk batuan beku dengan arah sumbu vertikal kekar tegak lurus dengan arah pembekuan magma. Jadi, dapat disimpulkan bahwa di dekat tempat ini pernah ada kegiatan vulkanik yang mungkin terjadi di bawah laut.

Kekar kolom ini layaknya sebuah ukiran alami pada tebing yang tingginya sekitar 15 m tersebut. Di satu bagian, terdapat kekar kolom tunggal yang terpisah dari tebing kekar kolom sehingga menyerupai tiang batu (gambar 12). Di dekat kekar kolom tersebut terdapat karang laut yang menempel pada batuan vulkanik yang menurut Dr. Indyo Pratomo merupakan hasil dari erupsi gunung api bawah laut (gambar 14 dan 15).51

Dengan bermacam bentuk yang menarik dan unik tersebut, kawasan ini sangat potensial menjadi lokasi wisata. Hanya saja, saat ini masih terhalang beberapa kendala seperti jalur pegunungan selatan Jawa Barat yang cukup terjal sehingga menyulitkan transportasi, sarana transportasi yang kurang memadai dan kekhawatiran adanya tsunami dari subduksi di selatan Pulau Jawa. Namun hal tersebut rasanya sebanding dengan keindahan yang terdapat di tempat ini. Tinggal diperlukan kepedulian dari masyarakat sekitar dan pemerintah daerah untuk melestarikan dan memanfaatkan potensi tempat ini agar tidak menjadi mutiara yang terisolir oleh kulit kerang yang keras.6

January 12, 2009 Posted by iqbalputra | Geowisata | | No Comments Yet

UMUR GEOLOGI

Umur geologi merupakan skala umur yang menunjukkan jaman-jaman yang telah berlangsung sejak bumi terbentuk hingga kehidupan saat ini. skala waktu yang digunakan disebut skala waktu geologi yang bagannya dapat dilihat pada gambar berikut:

Contoh skala waktu geologi Amerika Utara

 

new-picture

Contoh skala waktu geologi Amerika Utara

Masing-masing dari jaman pada skala waktu geologi tersebut memiliki fosil penciri yang disebut fosil index. Ciri-ciri dari fosil index tersebut ialah:

· Memiliki rentang hidup yang panjang

· Penyebarannya luas

· Tidak memiliki periode hidup yang khusus. Jadi, dapat hidup dalam iklim dan cuaca apapun dalam satu jaman.

Fosil index tiap jaman, jumlahnya bisa lebih dari satu. Misalnya saja jaman Cretaceous atau Kapur yang memiliki fosil index Inoceramus sp. dan Coeloptychium rude.

Penentuan Umur

Umur geologi terbagi menjadi 2, yaitu umur relatif dan umur absolut. Umur relatif ialah umur yang ditentukan berdasarkan posisi batuan atau fosil relatif terhadap posisi batuan atau fosil di sekitarnya. Dengan kata lain, umur relatif tidak menunjukkan angka, tetapi pernyataan bahwa tentang mana yang lebih tua dan mana yang lebih muda berdasarkan proses pembentukannya. Umur absolut ialah umur yang ditunjukkan dengan suatu angka yang diperoleh dari pengukuran radioaktif. Jadi, umur absolut ini langsung menunjukkan angka umurnya sehingga dapat diketahui pada jaman apa batuan tersebut terbentuk.

Material yang dapat diukur antara lain ialah sedimen, fosil, batuan beku, benda arkeologi dan tumbuhan seperti yang terdapat pada gambar berikut:

new-picture-12new-picture-25new-picture-33

Contoh material yang dapat diukur umurnya. Fosil tumbuhan (kiri), sedimen (tengah) dan benda arkeologi (kanan).

Tiap material tersebut dapat diukur umur relatif maupun umur absolutnya, tergantung pada keperluan penelitian yang dilakukan. Untuk mengetahui urutan proses pembentukannya, lebih efisien menggunakan umur relatif. Tetapi, jika ingin mengetahui kapan material tersebut terbentuk, lebih efektif menggunakan umur absolut.

Penentuan umur relatif dapat ditentukan melalui prinsip superposisi, fosil suksesi, potong memotong, dan prinsip kesebandingan.

Prinsip superposisi menjelaskan bahwa lapisan batuan yang berada di bawah, dalam kondisi normal (tidak terdeformasi) lebih tua daripada lapisan di atasnya. Fosil suksesi merupakan analisa kesejajaran fosil atau disebut juga biostratigrafi. Berdasarkan prinsip ini, lapisan yang mengandung fosil yang sejenis, memiliki rentang umur yang sama. Dalam Prinsip potong memotong, lapisan yang memotong lebih tua daripada lapisan yang dipotongnya. Lalu, prinsip kesebandingan ialah membandingkan bentuk, misalnya fosil yang memiliki sutura sederhana lebih tua daripada fosil yang suturanya lebih kompleks.

Untuk menentukan umur absolut, terdapat dua metode, yaitu:

· Metode menghitung, contohnya ialah menghitung lingkaran tahunan, jumlah endapan atau sutura fosil, dan sclerochronology (menghitung lapisan dari pertumbuhan organisme seperti koral, kerang-kerangan, atau kayu yang membatu).

· Metode isotop, misalnya ialah radiokarbon atau C-14, kosmogenik (Cl-36, Be-10, He-3, Al-26), atau Uranium series disequilibrium. Khusus untuk daun, metode yang cocok ialah radiokarbon karena metode yang lain kesalahannya terlalu besar untuk penentuan umur absolut daun.

December 17, 2008 Posted by iqbalputra | Geologi Sejarah | | 2 Comments