Anda tahu Kopi Luwak? Atau bahkan mungkin sudah pernah mencobanya? Bagi Anda yang belum pernah mencobanya, perlu Anda ketahui bahwa Kopi Luwak bukanlah salah satu jenis biji kopi. Kopi ini merupakan berbagai jenis biji kopi yang dicerna luwak dan keluar bersama sisa pencernaan lain, namun tidak berbentuk feses, tetapi masih berbentuk biji kopi utuh, hanya kulit terluarnya saja yang telah habis dicerna.

Kopi Luwak dari Liwa - Lampung

Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan hewan sejenis rubah dengan tinggi seukuran lutut orang dewasa dan panjang dari kepala hingga ekor dapat mencapai setengah meter. Moncong panjang dengan kumis di sekitar mulut dan hidung, memiliki cakar, ekor yang panjang, bulu berwarna coklat kehitaman dan warna putih di ujung ekornya. Hewan ini memakan buah berri seperti buah pohon ara dan palem, buah masak, biji-bijian, serangga, dan vertebrata kecil. Kendati memakan biji, pencernaannya sendiri tidak mencerna biji tersebut secara keseluruhan sehingga biji yang sudah dimakan tersebut sering ditemukan berbentuk utuh di dalam fesesnya atau hanya kulit luarnya saja yang habis tercerna. Hal inilah yang menjadi dasar pembuatan Kopi Luwak.

Menurut salah satu petani Kopi Luwak di Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung, luwak biasanya diberi makan selepas maghrib atau isya (sekitar pukul 18.30-19.30). Kemudian, kotorannya dikumpulkan di pagi harinya. Waktu antara luwak tersebut memakan kopi hingga keluar dalam bentuk kotoran berkisar 6-7 jam. Biji kopi yang dikeluarkan luwak tersebut kemudian dicuci dan didiamkan di bawah sinar matahari. Terakhir, biji kopi tersebut dipanggang sebentar agar citarasa kopi yang telah melalui pencernaan luwak tersebut tetap tersimpan di dalam biji kopi.

Luwak (Paradoxurus hermaphroditus)

Asal mula Kopi Luwak berkaitan dengan sejarah produksi kopi di Indonesia. Kopi-termasuk kopi Arabika yang dibawa dari Yaman-merupakan salah satu komoditi yang harus ditanam pada era tanam paksa (cultuurstelsel) di Jawa dan Sumatra, pada tahun 1830-1870. Selama era tersebut pula para petani lokal dan pekerja kebun dilarang mengambil biji kopi untuk keperluan pribadi mereka. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat mereka untuk membuat kopi seduh yang terkenal. Lalu, mereka mengetahui bahwa ternyata spesies musang tertentu atau luwak memakan buah kopi tersebut, namun bijinya yang keluar bersama kotorannya masih utuh tanpa tercerna. Mereka lalu mengumpulkan biji-biji tersebut, membersihkan, memanaskan dan menggilingnya untuk dijadikan minuman. Ketenaran aroma kopi luwak kemudian menyebar dari kalangan lokal hingga pemilik kebun dan segera menjadi minuman favorit mereka. Namun, karena langka dan prosesnya yang tidak biasa, harga kopi luwak menjadi mahal kendati masih masa penjajahan.

Kopi Luwak yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan menjadi Civet Coffee, merupakan salah satu kopi termahal di dunia. Harga kopi luwak sebenarnya ditentukan dari jenis kopi yang digunakan sebagai makanan luwak itu sendiri. Di daerah Liwa, Kabupaten Lampung Barat, kopi yang digunakan umumnya berasal dari jenis arabika. Untuk bahan baku kopi ini, harga kopi bubuknya bisa mencapai Rp. 30.000,- untuk takaran 1-2 cangkir. Untuk kopi jenis Robusta, harganya bisa 2 kali lebih mahal.

Mahalnya kopi ini diikuti oleh aroma kopinya yang khas dan rasa kopi yang tidak begitu pahit. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan kandungan caffeol, yaitu salah satu minyak nabati dalam kopi yg mengatur aroma dan rasa kopi. Minyak ini terbentuk saat kopi dipanaskan pada temperatur sekitar 200° C (392° F). Itulah mengapa, aroma dan cita rasa kopi luwak mempunyai karakteristik tersendiri, termasuk rasanya yg tidak sepahit kopi pada umumnya serta aman dikonsumsi oleh penderita maag.

 

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Kopi_Luwak

Bincang-bincang dengan salah seorang petani Kopi Luwak di Liwa, Kab. Lampung Barat, Lampung

MAIN-MAIN JADI BUKAN MAIN

Posted: July 12, 2011 in Resensi Buku

Judul: Warkop; Main-main Jadi Bukan Main

Penulis: Rudy Badil & Indro Warkop (Ed.)

Tahun Terbit: 2010

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tebal: 305 halaman

Harga: Rp 95.000,-

Mendengarkan lewat tulisan. Mungkin kesan itulah yang didapat saat membaca buku yang menceritakan karir kelompok komedi radio yang menjelma menjadi komedian legendaris, yaitu Warung Kopi (Warkop). Yang menarik dari buku ini ialah tata letak tulisan yang disertai foto dan ilustrasi yang agak mirip majalah, sehingga ringan untuk dibaca. Selain itu, gaya penulisan yang menempatkan penulis sebagai orang pertama membuat pembaca seolah sedang mendengarkan seseorang bercerita, bukan menceritakan seseorang.

Melalui buku ini juga, pembaca dapat mengetahui sisi lain dari Warkop yang lebih dikenal masyarakat melalui film-filmnya. Yaitu, bahwa Warkop sejak dulu sebenarnya identik dengan lawakan cerdas. Contoh dari lawakan cerdas tersebut ialah tentang ramalan cuaca yang menyebutkan angin akan bertiup sesuai musim dan kondisi sekitarnya. Angin akan berhembus sepoi-sepoi basah kalau di taman ada orang pacaran, tapi akan bertiup kencang sekali kalau banyak orang main layangan. Namun, angin hanya berani bertiup tidak lebih dari 5 km/jam kalau lewat kompleks ABRI.

Kesuksesan kelompok yang semula beranggotakan Kasino, Nanu, Rudi Badil, Dono dan Indro ini merupakan hasil dari komitmen para personil dan persiapan matang sebelum tampil sehingga kelompok ini tetap hidup hingga saat ini. Terbukti dari 34 film mereka yang hingga kini masih sering menyapa di televisi Indonesia dengan kalimat penutupnya yang khas, ”tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Kepandaian mereka dalam membaca timing dan selera pasar juga membuat karya mereka tetap laris di pasaran.

Kreatifitas kelompok yang dahulu dikenal dengan nama Warkop Prambors ini banyak terinspirasi dari mata pelajaran di bidang Antropologi yang disebut folklor, yaitu kisah humor yang mengandung unsur tradisi (lore) dan manusia (folk). Oleh karena itu, materi lawakan mereka tetap ilmiah, kendati agak vulgar. Sebagai aktifis kampus, mereka juga sering mengkritisi realita sosial yang ada, seperti gagalnya program Keluarga Berencana atau makin maraknya urbanisasi. Semua itu mereka kritisi melalui satir-satir politik yang menggelitik namun tidak menjatuhkan kewibawaan orang lain.

Konsep bukunya sendiri ialah sekedar berbagi kenangan tentang para personil Warkop menurut beberapa orang yang pernah terlibat dan bekerja sama dengan Warkop. Kemudian, disusun dalam sebuah buku yang terdiri dari 5 bagian. Inti dari bukunya sendiri berada pada bagian pertama yang bercerita tentang sejarah Warkop secara umum. Lalu, 4 bagian sisanya merupakan pembahasan mendetail dari beberapa hal di bagian pertama.

Kelebihan dari buku ini terletak pada isinya yang juga menceritakan situasi politik saat itu. Jadi, sambil mengenang perjalanan karir para personil Warkop, pembaca juga diajak untuk mengenal sejarah kepemudaan dan kehidupan mahasiswa di 3 zaman, yaitu Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi, walau hanya sekilas. Maklum saja, mereka termasuk mahasiswa yang cerdas bahkan Dono sempat menjadi dosen di FISIP UI.

Namun, adanya nama-nama seniman lawas mungkin akan membuat penasaran bagi pembaca yang tergolong masih muda. Pembaca mungkin akan bertanya-tanya tentang tokoh-tokoh seperti Bing Slamet, Gepeng, bahkan Pak Tile. Sehingga buku ini seolah diperuntukkan bagi generasi Warkop saja walaupun sebenarnya layak juga dinikmati oleh para remaja. Penempatan inti buku di awal juga dapat membuat beberapa pembaca cenderung malas untuk membaca bagian lainnya secara detail. Pembaca cenderung hanya membaca sekilas dan memfokuskan pada bagian yang dianggap menarik saja.

SINABUNG BATUK, MERAPI MENGAMUK

Posted: December 27, 2010 in Bencana Alam

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan gunungapi. Sekitar 15% dari seluruh gunungapi di dunia berkumpul di Indonesia. Sebagai bagian dari cincin api atau ring of fire Samudera Pasifik, gunungapi di Indonesia pun tergolong yang paling aktif di dunia. Selain paling aktif, letusannya pun termasuk yang paling mencengangkan. Letusan dengan VEI (volcanic explosivity index) 1-8 pernah terjadi di Indonesia. Bahkan letusan dengan VEI 7 dan 6 terjadi di Indonesia dalam waktu kurang dari 1 abad! Yaitu saat letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara pada tanggal 10-15 April 1815 dan saat Gunung Krakatau di Selat Sunda mengamuk pada tanggal 27 Agustus 1883.

Bangunnya Gunung Sinabung

Kini, aktifitas gunungapi yang ada di Indonesia kembali meningkat. Diawali dengan terbangunnya Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gunung dengan ketinggian 2640 m di atas muka laut tersebut pada tanggal 28 Agustus 2010 pukul 00:10 WIB meletus. Letusan ini membuat status Gunung Sinabung menjadi Awas dan tipe gunungnya berubah dari Tipe B menjadi Tipe A, detik itu juga.

Letusan Gunung Sinabung setelah lebih dari 4 abad tertidur

Karakteristik letusan yang belum diketahui sebelumnya membuat para ahli begitu berhati-hati dalam mengamati gunung ini. Sebab, semula gunung ini merupakan gunungapi Tipe B, yang sejak tahun 1600 tidak ada catatan erupsinya. Jadi, paling tidak sudah lebih dari 400 tahun gunung ini tertidur. Secara umum, gunungapi yang terbangun setelah tertidur sangat lama, akan menghasilkan erupsi yang besar. Sebab energi yang terhimpun di dalam tubuh gunungapi tersebut akan semakin besar, sehingga pelepasannya akan dimanifestasikan dalam erupsi secara besar-besaran.

Untungnya, yang terjadi pada letusan Gunung Sinabung ternyata berupa rangkaian letusan selama 10 hari, yaitu tanggal 28 Agustus-7 September 2010. Selama itu, pelepasan tekanan gas terjadi hingga akhirnya mereda dan statusnya pun diturunkan.

Merapi Menggeliat

Selang hampir 2 bulan sejak Sinabung meletus, Gunung Merapi yang berada di antara Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pun batuk-batuk. Berbeda dengan Sinabung yang memerlukan waktu lebih dari 4 abad untuk terbangun, Merapi hanya perlu waktu 4 tahun untuk kembali mengeluarkan isi perutnya. Letusan terakhir pada tahun 2006 tentunya masih segar di ingatan. Kala itu, awan panas dari letusan Merapi telah menewaskan 2 orang yang berlindung di dalam bunker.

Letusan Merapi 2 November 2010 (Foto oleh Iman Suryanto/tribunnews.com)

Letusan tahun 2010 ini ditandai dengan meningkatnya aktifitas vulkanik seperti gempa vulkanik dan meningkatnya volume gas yang dikeluarkan. Gunung dengan ketinggian 2978 m dari muka laut ini merupakan gunungapi Tipe A, yang catatan letusannya sudah ada. Sehingga karakteristik letusannya dapat diprediksi. Secara umum, letusan Merapi tergolong tipe vulkanian lemah. Letusannya bisa bersifat efusif, yaitu lava keluar secara perlahan dan mengalir tanpa diikuti suatu ledakan, atau eksplosif, yaitu magma keluar dari gunungapi dalam bentuk ledakan. Dalam erupsi yang eksplosif, terbentuk endapan piroklastik, sedangkan dalam erupasi efusif terbentuk aliran lava.

Namun, menurut pembagian tipe letusan gunungapi yang disusun oleh Escher (1952), yang didasarkan pada derajat kecairan (viskositas) magma, tekanan gas dan kedalaman dapur magma, letusan Merapi dijadikan tipe tersendiri, yaitu Tipe Merapi.

Karakteristik Tipe Merapi ini ialah lavanya yang cair-kental, dapur magma relatif dangkal dan tekanan gas yang agak rendah. Karena sifat lavanya tersebut, apabila magma naik ke permukaan melalui pipa kepundan, maka akan terbentuk sumbat atau kubah lava sementara di bagian bawahnya masih cair. Kubah lava yang gugur akan menyebabkan terjadinya awan panas guguran. Sedangkan tekanan gas yang terkumpul karena pipa kepundan tersumbat akan menyebabkan kubah tersebut hancur ketika terjadi letusan dan akan terbentuk awan panas letusan. Oleh warga setempat, awan panas tersebut disebut wedhus gembel sedangkan dalam dunia ilmiah disebut nuée ardente.

Karakteristik yang khas dari gunung ini sebenarnya memudahkan para ahli dalam mengambil tindakan, tetapi faktor tokoh yang melekat kuat kerap menyulitkan proses evakuasinya.

Sinabung dan Merapi, Mengapa Berbeda?

Fenomena meletusnya 2 gunungapi di Indonesia, yaitu Gunung Sinabung di Sumatera Utara dan Gunung Merapi di antara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam waktu yang cukup berdekatan, membuat beberapa orang mencoba mengkait-kaitkannya. Terlebih dengan tersiarnya kabar bahwa beberapa gunungapi lain juga mengalami peningkatan aktifitas vulkanik.

Gunung Sinabung dan Gunung Merapi terbentuk akibat interaksi lempeng yang sama, yaitu antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Interaksi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang memanjang dari Provinsi Aceh hingga Nusa Tenggara Timur. Akibatnya, di sepanjang jalur tersebut banyak terdapat titik-titik pusat gempa dan deretan gunungapi. Tetapi, walaupun berasal dari tatanan tektonik yang sama, karakteristik atau perilaku erupsinya belum tentu sama.

Karaketristik atau perilaku erupsi suatu gunungapi dipengaruhi oleh sifat magma, struktur dan dimensi pipa saluran magma atau diatrema, serta volume dan posisi kantong magmanya. Sifat magma yang paling berpengaruh ialah komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air. Magma yang bersifat lebih asam umumnya lebih kental daripada magma yang bersifat basa. Semakin kental berarti kandungan air dan gasnya semakin sedikit, sehingga membuat magma lebih cepat membeku saat mendekati permukaan. Jika magma yang membeku tersebut terkumpul di lubang kepundan dan membentuk sumbat atau kubah lava, maka tekanan gas di bawahnya akan tertahan. Semakin lama tertahan, energi yang terkumpul akan semakin besar.

Akibatnya, saat kubah lava tersebut tidak mampu lagi menahan tekanan gas di bawahnya, letusan eksplosif pun terjadi sebagai perwujudan dari pelepasan energi yang tertahan tersebut. Letusan Merapi tahun ini yang cenderung eksplosif menandakan bahwa komposisi magma dalam tubuh Merapi kali ini relatif lebih asam. Untungnya, pelepasan energinya terjadi secara berangsur, sehingga para ahli masih sempat mengungsikan para penduduk di sekitar Gunung Merapi.

Besarnya energi yang tertahan itupun bergantung dari struktur dan dimensi pipa saluran magma atau diatrema. Dimensi diatrema berpengaruh pada volume gas yang naik. Semakin besar dimensinya semakin banyak gas yang akan naik. Struktur diatrema salah satunya ialah menyangkut jumlahnya. Beberapa gunungapi memiliki jumlah pipa saluran magma lebih dari satu tapi berasal dari satu kantong magma. Inilah yang disebut sebagai kawah majemuk (multiple crater) seperti yang terdapat pada Gunung Papandayan dan Gunung Tangkubanparahu. Sedangkan Gunung Merapi tergolong sebagai gunung dengan kawah tunggal (single crater).

Sementara itu, besarnya pasokan magma bergantung dari volume dan posisi kantong magma gunung tersebut. Faktor inilah yang menjadi motor utama dari aktifitas vulkanik. Kantong magma merupakan zona tampungan dari magma yang berasal dari zona subduksi yang naik menuju permukaan. Bila ukurannya cukup besar disebut juga dapur magma. Di Merapi, letak dapur magmanya relatif tidak jauh. Akibatnya, hanya dengan peningkatan tekanan yang tidak terlalu besar sudah dapat mengalirkan magma mengalir ke permukaan dengan cukup lancar tanpa perlu waktu cukup panjang.

Inilah sebab adanya perbedaan tingkat aktifitas antara gunungapi seperti Gunung Merapi dan Gunung Sinabung, selain juga dipengaruhi oleh tatanan tektonik lokalnya. Misalnya keterdapatan sesar atau patahan yang melewati gunungapi tersebut, yang dapat menjadi celah bagi magma untuk naik ke permukaan.

 

Dimuat juga di rubrik Cakrawala pada Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 11 November 2010

AWAN PANAS, APAKAH ITU?

Posted: November 21, 2010 in Bencana Alam

Istilah awan panas dalam beberapa minggu ini sering kita dengar. Sejak Gunung Merapi yang terletak di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta meletus pada tanggal 26 Oktober 2010, awan yang disebut juga wedhus gembel ini memang menjadi momok yang membayangi para korban letusan Merapi. Namun, apakah sebenarnya awan panas itu?

Berdasarkan keterangan pada situs Badan Geologi, awan panas ialah istilah untuk menyebut aliran suspensi dari batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu massa gas vulkanik panas yang keluar dari gunungapi dan mengalir turun mengikuti lerengnya dengan kecepatan mencapai lebih dari 100 km per jam sejauh puluhan kilometer. Aliran turbulen tersebut tampak seperti awan bergulung-gulung yang menuruni lereng gunungapi. Temperatur paling rendah dari awan tersebut sekitar 100 °C, namun bisa juga mencapai 1000 °C, sehingga istilah awan panas pun diberikan untuk menggambarkan bentuk dan kondisinya.

Secara visual, kenampakan awan panas tersebut menyerupai domba-domba yang sedang menyusuri lereng. Oleh karena itu, penduduk sekitar Gunung Merapi menyebutnya sebagai wedhus gembel. Penyebutan ini diperkirakan sudah ada jauh sebelum istilah lain untuk awan panas, yaitu nuee ardente diperkenalkan di dunia kegunungapian.

Perlu diingat bahwa tidak semua material seperti batu, kerikil, abu atau pasir yang keluar dari gunungapi bisa disebut awan panas. Jika material tersebut hanya terlontar atau membumbung ke angkasa, maka istilah yang digunakan ialah lontaran bom, kerikil, atau pasir (tergantung ukurannya) atau kolom erupsi. Istilah awan panas hanya terbatas untuk aliran suspensi dari material vulkanik yang menuruni lereng dan dikontrol oleh gravitasi dan besarnya daya dorong konvektif dari gas pada lubang kepundan.

Awan Panas Merapi

Awan panas pada letusan Merapi dapat dibedakan atas awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi karena hancuran magma oleh suatu letusan. Kekuatan penghancuran tersebut ditentukan oleh kandungan gas vulkanik dalam magma. Sedangkan awan panas guguran terjadi akibat runtuhnya kubah lava oleh tekanan magma dan pengaruh gravitasi. Awan panas jenis ini lebih sering terjadi pada letusan Gunung Merapi.

Runtuhnya kubah lava terjadi akibat terganggunya kestabilan kubah yang dapat diakibatkan oleh air hujan yang jatuh di sekitar kubah lava. Air hujan tersebut dapat meresap melalui retakan dan masuk ke dalam kubah lava. Temperatur kubah lava yang tinggi memanaskan air tersebut sehingga terbentuk gas yang bertekanan cukup tinggi untuk mengganggu kestabilan kubah. Penyebab lainnya ialah, letusan kecil pada kubah lava itu sendiri yang dipicu oleh gas bertekanan tinggi dalam kubah. Namun, faktor pengganggu kestabilan kubah lava yang paling dominan ialah dorongan dari bawah kubah lava tersebut. Naiknya tekanan gas atau magma di dalam pipa saluran magma akan mendorong kubah lava hingga akhirnya longsor. Karena pengaruh gravitasi, tekanan yang tidak terlalu besar pun sudah cukup untuk mengganggu kestabilan kubah.

Awan Panas Merapi

Kubah lava tersebut juga menentukan kecepatan dan arah dari awan panas guguran. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk awan panas letusan yang tidak berhubungan dengan kubah lava. Jarak jangkau awan panas ditentukan oleh kecepatannya yang dipengaruhi morfologi dan kemiringan lereng dari lembah sungai. Semakin besar kemiringan lereng, semakin cepat aliran awan panasnya. Pada awan panas guguran, gaya berat kubah lava yang runtuh juga ikut menentukan laju dari awan panas. Laju awan panas akan semakin cepat dan jauh jarak jangkaunya jika volume yang runtuh semakin besar. Selain itu, arah dari awan panas guguran juga dapat diprediksi dari orientasi kubah lava yang umumnya berbentuk memanjang menjulur ke arah lerengnya.

Walaupun bergantung dari berbagai faktor di atas, kecepatan awan panas dari letusan gunungapi sanggup melewati penghalang alami seperti bukit atau tebing. Di sekitar lereng Gunung Merapi, terdapat beberapa bukit kecil yang dipercaya mampu membelah aliran awan panas tersebut. Tetapi, dalam jarak sedekat itu, bukit tersebut dapat dilewati awan panas dengan mudah. Sebagai perbandingan, awan panas dari letusan Gunung St. Helens di Amerika pada tahun 1980, mampu melewati bukit setinggi 360 m dari muka laut. Bahkan awan panas tersebut juga dapat menyeberangi laut seperti saat Krakatau meletus pada tahun 1883. Saat itu, awan panas dari salah satu letusan terhebat itu mampu menyeberangi Selat Sunda serta mencapai daratan Lampung dan Anyer.

Dampak dari awan panas

Dibandingkan dengan dampak letusan yang lain seperti jatuhan debu dan batu, aliran lava, lahar, hujan asam, dan tsunami (untuk gunungapi di tengah laut), awan panas memang yang paling berbahaya. Kecepatan dan temperatur awan panas yang tinggi membuatnya menjadi dampak langsung letusan yang paling mematikan dalam 400 tahun terakhir. R.J. Blong dalam bukunya yang berjudul Volcanic Hazards menyebutkan lebih dari 70% korban letusan gunungapi di seluruh dunia disebabkan oleh terjangan awan panas. Pada letusan Gunung Merapi tahun ini, korban yang telah jatuh mendekati 100 orang dan hampir semuanya akibat terkena semburan awan panas, termasuk Sang Juru Kunci Merapi, Mbah Maridjan (alm).

Awan panas dapat terjadi di semua gunungapi dan arah alirannya sulit ditebak, sekalipun itu berupa awan panas guguran. Sebab, walaupun orientasi dari kubah lava dapat diketahui, morfologi kawah dapat membuat arah aliran berbeda dengan arah orientasi kubah lava. Ditambah lagi, seperti pada Gunung Merapi, kubah lava pada kawahnya berjumlah lebih dari satu. Sehingga menyulitkan para ahli untuk memprediksi kubah mana yang akan hancur lebih dulu.

Kecepatan dan temperatur awan panas membuat material yang dibawanya sanggup menghancurkan semua dilewatinya. Efeknya bagi makhluk hidup berupa luka bakar hingga kematian yang disebabkan oleh temperatur yang tinggi dan debu panas yang masuk ke paru-paru. Kekuatan awan panas bahkan sanggup menghancurkan bangunan, pepohonan, dan infrastruktur lain. Jadi, satu-satunya cara untuk menghindari awan panas ialah dengan menjauhi gunungapi tersebut hingga batas aman yang ditentukan.

Selain awan panas, dampak letusan gunungapi yang lain juga patut diwaspadai, baik dampak langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung dari letusan, selain awan panas ialah jatuhan debu, aliran lava, dan lontaran material vulkanik. Sedangkan yang termasuk dampak tidak langsung ialah lahar, tsunami, longsor, dan hujan asam. Dampak langsung berbahaya, salah satunya karena temperaturnya yang tinggi. Sedangkan dampak tidak langsung dapat mengancam karena dapat terjadi bahkan sebelum gunung tersebut meletus atau beberapa jam hingga berhari-hari setelah letusan.

Lahar dingin bahkan bisa terjadi walaupun gunungapi tersebut hanya mengalami peningkatan aktifitas vulkanik. Sebab, hujan yang turun di sekitar puncak gunung bisa bercampur dengan endapan tefra atau debu vulkanik yang belum padat. Campuran air dan tefra tersebut akan membentuk lahar yang akan menuruni lereng, menerjang semua yang berada pada jalurnya, dan akhirnya masuk ke sungai.

Lahar dingin akibat letusan Merapi tahun 2010 (Courtesy: Bagus Kurniawan)

Dimuat juga di rubrik Cakrawala pada Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 11 November 2010

Bandung. Sebuah kota yang kini sudah berusia 200 tahun. Berbagai peristiwa bersejarah banyak terjadi di bumi parahyangan ini. Mulai dari masa Kerajaan Padjadjaran berkuasa, masa kolonial, hingga masa modern sekarang. Berbagai peristiwa penting tersebut hingga kini masih banyak tersisa jejak-jejaknya melalui monumen, gedung, jalan, maupun nama tempat. Contohnya daerah Dayeuh Kolot yang berarti kota tua, dulunya merupakan Ibukota Kabupaten Bandung yang bernama Krapyak sebelum akhirnya dipindahkan menjadi agak ke utara, tepat di Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1810.

Namun, secara geologi, sejarah Bandung sudah dimulai sejak 30-20 juta tahun yang lalu, pada Kala Oligo-Miosen. Saat itu, bagian utara daerah ini masih merupakan laut dangkal dengan paparannya yang subur ditumbuhi terumbu karang. Sisa-sisa laut tersebut terekam jelas pada perbukitan batu kapur atau batugamping di Citatah-Padalarang. Pantai Laut Jawa dan deretan gunungapi saat itu berada jauh di selatan Bandung, sekitar daerah Pangalengan dan Gunung Halu.

Laut tersebut perlahan mulai terangkat dan deretan gunungapi mulai bergeser agak ke utara, membentuk deretan perbukitan yang kini berada di selatan Cimahi, seperti Gunung Selacau dan Gunung Lagadar. Bandung mulai menjadi daratan sekitar 4 juta tahun yang lalu, yaitu pada Kala Pliosen. Memasuki Zaman Kuarter, sekitar 2 juta tahun yang lalu, gunungapi yang ada saat ini mulai terbentuk. Di antaranya ialah Gunung Malabar, Gunung Patuha, Gunung Kendeng, dan Gunung Sunda yang kini menjadi Gunung Tangkubanparahu. Deretan gunung tersebut membatasi Bandung hampir di semua sisi, membuat Bandung seperti sebuah ”mangkuk” besar sehingga disebut juga Cekungan Bandung. Pada Zaman Kuarter ini juga, Bandung mulai dihuni oleh manusia. Tepatnya sejak 10 ribu tahun yang lalu berdasarkan bukti ditemukannya kerangka manusia di Gua Pawon pada tahun 2003.

Selain fakta sejarah, di Bandung juga berkembang suatu mitos yang ketenarannya tidak kalah dari mitos Malin Kundang dari Tanah Minang, yaitu mitos Sangkuriang yang kesiangan. Mitos yang berkisah tentang hubungan terlarang antara ibu dan anak ini diakhiri dengan terbentuknya 2 bentang alam dalam 1 malam, yaitu sebuah danau dan  sebuah gunung yang bernama Tangkubanparahu. Sebagian menyikapi mitos tersebut hanya sebatas mitos, namun peristiwa terbentuknya danau dalam 1 malam secara ilmiah sebenarnya memungkinkan.

Sesuai dengan mitos tersebut, Ci Tarum memang pernah terbendung. Tepatnya di utara Padalarang, di hulu sungai kecil yang bernama Ci Meta. Ci Tarum sebelum terbendung mengalir mengikuti perbukitan di selatan Cimahi ke arah utara dan berbelok ke baratdaya. Di sinilah Ci Tarum terbendung hingga membentuk danau di daerah hulu dan menyisakan aliran kecil bernama Ci Meta di sisi hilirnya. Letusan besar Gunung Tangkubanparahu yang materialnya mengalir ke barat, merupakan “Sangkuriang“ yang membendung Ci Tarum dalam 1 malam. Danau pun terbentuk di Cekungan Bandung tersebut.

Batas dari Danau Bandung tersebut telah diteliti dan garis pantainya diperkirakan berada pada ketinggian 712-715 m di atas muka laut.  Batas tersebut, jika ditarik dari barat ke timur Kota Bandung, maka kita seolah menyusuri kawasan Komplek Perumnas Cijerah, Jalan Jend. Sudirman, Pasar Jamika-Andir, St. Ciroyom, Jalan Kebonkawung, Jalan Cicendo, Jalan Babakan Ciamis, dan Jalan Aceh. Ke arah timur, garis pantai bisa ditarik dari Jalan Aceh, berbelok ke Jalan Lombok, lalu ke Masjid Istiqamah di Jalan Citarum, menerus hingga Pusdai. Selanjutnya garis pantai akan mengikuti Jalan Cikutra, terus ke timur searah dengan Jalan A. H. Nasution hingga Ujungberung, Cileunyi dan Jatinangor. Jadi, kawasan BIP sekitar 20.000 tahun lalu diperkirakan berupa pantai Danau Bandung.

Lalu, ke mana Danau Bandung sekarang? Danau Bandung surut sekitar 16.000 tahun lalu akibat penurunan muka air laut global yang memicu erosi hulu di tiap sungai. Erosi hulu tersebut perlahan mengikis perbukitan yang membatasi Danau Bandung hingga akhirnya bobol di daerah Pasir Kiara dan Puncaklarang. Sebelumnya, pengeringan Danau Bandung diyakini berada di Pasir Sangiangtikoro. Namun, analisis geomorfologi membuktikan bahwa pengeringan Danau Bandung bukan di Sangiangtikoro, melainkan di celah-celah punggungan hogback/pasiripis/lalangasu antara Puncaklarang dan Pasir Kiara.

Bukti-bukti dari sejarah Bandung sejak jutaan tahun lalu tersebut, hingga kini masih dapat diamati. Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar mencoba merangkum seluruhnya melalui konsep wisata dalam buku yang berjudul Wisata Bumi Cekungan Bandung. Buku ini sebenarnya merupakan cetakan ulang dari buku sebelumnya yang berjudul Geowisata Cekungan Bandung. Dalam buku ini, sejarah Bandung dikupas melalui 9 jalur-jalur wisata yang disebut geotrek. Tiap geotrek memiliki tema tersendiri yang berisikan foto dan ulasan masing-masing sejarahnya. Untuk pembaca yang masih awam terhadap ilmu kebumian tidak perlu dibingungkan dengan istilah dalam buku ini, sebab pada lembaran akhir disediakan glosarium dari istilah-istilah yang masih asing tersebut.

Melalui buku ini, kita seolah diajak berkeliling Bandung dan sekitarnya. Beberapa tempat dapat ditempuh dengan kendaraan, namun tidak jarang kita harus berjalan kaki menuju tempat yang ditunjukkan dalam buku ini. Untuk tempat-tempat yang terabaikan atau sedang menuju kerusakan akibat kegiatan penambangan dan pencemaran, terselip pesan yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Selain itu, kita juga diajak untuk melihat wajah lain dari Kota Bandung yang kini semakin identik dengan wisata belanja dan factory outlet-nya.

http://www.facebook.com/profile.php?id=1027219712.

Beberapa minggu lalu, sebuah gunungapi di Islandia meletus. Gunung yang termasuk kawasan Benua Eropa tersebut memuntahkan sejumlah debu vulkanik yang mengganggu langit daratan Eropa. Abu vulkanik dari letusan tersebut membuat sebagian besar penerbangan dari dan menuju kota-kota besar di Eropa dibatalkan. Oleh karena dampaknya tersebut, gunung bernama Eyjafjallajökull atau disebut juga Eyjafjöll tersebut, konon dikabarkan setara dengan letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 12 April 1815.

Besar suatu letusan gunungapi dinyatakan dalam indeks letusan gunungapi atau volcanic explosivity index (VEI). Indeks tersebut bernilai dari 0 yaitu non-eksplosif hingga 8 yaitu mega-kolosal. Setiap nilai menunjukkan perbedaan kekuatan 10 kalinya. Jadi, VEI 2 kekuatannya 10 kali lebih besar daripada VEI 1, dan seterusnya. Besarnya VEI suatu letusan ditentukan dari jumlah tefra atau debu vulkanik yang dikeluarkan serta tingginya awan vulkanik yang disemburkan saat letusan. Kedua parameter tersebut direfleksikan sebagai jumlah energi yang dilepaskan saat letusan terjadi. Semakin banyak jumlah abu yang dikeluarkan dan semakin tinggi awan vulkaniknya, maka semakin besar energi yang dilepaskan.

Sumber: www.wikipedia.com

Sekarang, berapa besar VEI dari letusan Eyjafjallajökull? Berdasarkan data Pusat Survei Geologi Amerika (USGS), jumlah debu yang dimuntahkan Eyjafjallajökull sekitar 140 juta meter kubik dengan tinggi awan vulkanik mencapai 8 km. Dalam VEI, letusan tersebut bernilai 3 – 4, hampir sama besar dengan letusan Galunggung 1982. Namun, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan letusan Tambora yang bernilai VEI 7. Penelitian Sigurdsson dan Carey menyimpulkan bahwa tinggi awan vulkanik dari letusan Tambora mencapai 33-43 km, 5 kali lebih tinggi daripada Eyjafjallajökull. Lalu, jumlah abu vulkanik atau tefra yang dikeluarkan Tambora, menurut Stothers diperkirakan sekitar 150 km kubik, jauh lebih banyak daripada tefra Eyjafjallajökull.

Dampak dari letusan Eyjafjallajökull menimpa daratan Eropa karena angin yang berhembus ke arah timur membawa serta abu letusan. Akibatnya, langit Eropa sebagian besar dipenuhi oleh abu yang melayang. Abu letusan tersebut dapat berakibat buruk bagi saluran pernafasan dan dapat mengakibatkan terganggunya mesin pesawat. Mengakibatkan dibatalkannya penerbangan dari dan menuju kota-kota besar di Eropa. Hal yang memaksa anggota tim FC Barcelona dan Olympic Lyon menempuh jalur darat menuju Italia dan Jerman untuk menjalani pertandingan semifinal Liga Champions.

Kilat pada letusan Eyjafjallajokull tahun 2010.

Namun, dampak dari letusan Tambora jauh lebih tragis. Sebuah sumber bahkan menyatakan bahwa letusan Tambora mengakibatkan tahun tanpa musim panas di belahan bumi utara.

Secara Genesa Berbeda

Secara tipe, Eyjafjallajökull serupa dengan tipe-tipe gunungapi yang ada di Indonesia, yaitu gunungapi berlapis atau gunungapi strato. Gunungapi tipe strato dicirikan oleh perselingan lava dan material piroklastik sebagai pembentuk kerucut gunungapinya. Tipe ini disebut juga gunungapi komposit. Tipe ini memiliki persentase paling banyak yaitu sekitar 60% dari gunungapi yang terdapat di bumi. Umumnya, magma dari tipe ini bersifat andesitik hingga dasitik yang lebih dingin dan lebih kental daripada magma basaltik. Akibatnya, magma yang mendekati permukaan atau disebut lava, lebih cepat membeku dan membentuk kubah lava. Kubah lava tersebut menghambat gas untuk keluat sehingga meningkatkan tekanan di bawahnya. Semakin besar tekanan yang tersimpan, maka pelepasannya saat meletus akan semakin besar juga. Letusan gunungapinya pun akan semakin eksplosif. Itulah sebabnya antara letusan-letusan besar dari sebuah gunungapi hanya terjadi setelah jeda waktu yang panjang. Misalnya letusan Krakatau tahun 1883 setelah tertidur selama kurang lebih 200 tahun.

Namun, secara genesa Eyjafjallajökull dengan gunungapi di Indonesia sangat berbeda. Umumnya gunungapi strato berada di sepanjang jalur subduksi yang merupakan bentuk interaksi konvergen antarlempeng. Misalnya gunungapi di Indonesia yang terbentuk akibat interaksi antara Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Sebaliknya, Eyjafjallajökull justru terbentuk di daerah interaksi divergen antarlempeng, yaitu antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Amerika. Magma yang terbentuk pada zona interaksi divergen tersebut umumnya bersifat basaltik. Magma basaltik bersifat lebih encer dan lebih panas sehingga gunungapi yang terbentuk umumnya bertipe perisai. Tipe gunungapi yang berbentuk cembung memanjang ke segala arah. Tubuh gunungapinya terbentuk dari aliran lava yang keluar dari kawah di puncaknya. Keanehan ini hingga sekarang masih menjadi perdebatan di antara ahli ilmu kebumian.

Kendati memiliki keanehan, bentuk Eyjafjallajökull tetap memperlihatkan bentukan khas dari gunungapi yang terbentuk di daerah interaksi divergen. Kekhasan tersebut berupa bentuk gunung yang cenderung memanjang. Eyjafjallajökull memanjang ke arah barat-timur sedangkan gunungapi di Indonesia umumnya berbentuk kerucut dengan 1 lubang kepundan. Anomali dari bentuk umum tersebut terdapat pada Gunung Tangkubanparahu yang tidak membentuk kerucut, tetapi justru memanjang berarah barat-timur.

Persamaannya

Besar letusan Eyjafjallajökull kira-kira setara dengan letusan Gunung Galunggung tahun 1982-1983. Selain kekuatan, beberapa efek letusannya pun hampir sama, misalnya timbulnya kilat dari dalam awan vulkanik di puncak gunungnya. Kilat tersebut terjadi akibat partikel-partikel abu dan batu yang saling bergesekan dan bertumbukan, bersinggungan dengan listrik statis. Selain itu, letusan Eyjafjallajökull juga menghasilkan lahar yang berasal dari es di sekitar puncak yang mencair atau disebut jökulhlaups.

Persamaan lainnya juga terdapat pada rentang letusan yang panjang. Sebelum letusan tahun 2010, Eyjafjallajökull terakhir meletus pada bulan Desember 1821 hingga Januari 1823. Artinya, gunung di Islandia tersebut tertidur selama hampir 2 abad sebelum meletus hebat bulan April 2010 lalu. Mirip dengan letusan Krakatau tahun 1883 yang sebelumnya tertidur selama 2 abad.

Gunung Guntur, Kabupaten Garut, salah satu gunungapi paling aktif di Jawa bagian barat relatif lebih aman dan mudah dimitigasi.

Jadi, gunungapi-gunungapi yang sering meletus sebenarnya relatif lebih aman dan mudah dimitigasi daripada gunungapi-gunungapi yang tergolong aktif namun sudah lama tidak meletus. Sebab semakin lama, jika tidak dikeluarkan penumpukan gas dalam tubuh gunungapi akan semakin besar. Akibatnya, pelepasan dari energi yang terhimpun oleh gas tersebut akan menimbulkan letusan yang dahsyat pada gunungapi itu. Di Islandia letusan tersebut telah terjadi pada Eyjafjallajökull. Tetapi, tanggapan yang cepat dan tepat telah menghindarkan jatuhnya korban jiwa. Bagaimana dengan Indonesia?

Iqbal E. Putra

Tulisan ini juga pernah dimuat di harian umum Pikiran Rakyat

Kamis, 13 Mei 2010. Bis sudah menanti rombongan mahasiswa peserta mata kuliah Geowisata di Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung. Waktu keberangkatan yang semula direncanakan pukul 06.30 WIB, seperti biasanya molor menjadi pukul 07.00 WIB. Briefing sejenak dilakukan sebelum berangkat. Pengecekan peserta dan berbagai perbekalan diperiksa kelengkapannya. Tidak lupa kamipun berdoa sebelum menaiki kedua bis yang telah ngetem sedari bada subuh.

Semua siap, peserta lengkap, kecuali toa yang ”kurang sehat” sehingga terpaksa ditinggal di kampus. Wajah dan ekspresi penuh semangat tampak di seluruh peserta yang ikut ekskursi kali ini. Namun, ekspresi tersebut segera saja berubah menjadi wajah polos saat hampir seluruh peserta tertidur. Perjalanan yang agak tersendat karena adanya perbaikan jalan di sana-sini membuat perjalanan cenderung membosankan. Sistem buka tutup yang diterapkan di salah satu ruas jalan antara Nagrek-Malangbong mengakibatkan antrian kendaraan yang lumayan panjang. Termasuk diantaranya kendaraan kami.

Kemacetan yang lumayan panjang tersebut dimanfaatkan oleh kami untuk melakukan peregangan seperti berdiri atau keluar sebentar untuk mencari udara segar. Wajar saja, sebab memang tidak ada rencana untuk istirahat hingga mencapai tujuan. Mengingat jarak tujuan kali ini yang cukup jauh. Berhenti sejenak hanya dilakukan di salah satu pom bensin. Itupun hanya untuk keperluan pribadi.

Setelah itu, tidak ada hambatan yang berarti hingga kami memasuki Kota Tasikmalaya. Dari sini, kami mengambil arah menuju Cipatujah. Tidak lama setelah kami meninggalkan Kota Tasik, jalan bergelombang dan berkelok-kelok langsung menyambut kami. Persimpangan pun kami temui. Arah kiri menuju Cikatomas kami pilih sesuai petunjuk dosen yang memang sudah pernah menuju ke lokasi tujuan kami.

Setelah melewati Mesjid Besar Cikatomas, kami mengambil jalur kiri saat tiba di pertigaan. Bagi yang tidak menggunakan pemandu, sejak dari sini, sangat disarankan untuk bertanya kepada penduduk setempat. Sebab sudah tidak ada papan petunjuk jalan lagi. Tanyakanlah kepada penduduk jalan menuju Kampung Pasir Gintung, Desa Buni Asih atau ikuti elf jurusan Cikatomas-Buni Asih hingga ke pusat Desa Buni Asih.

Dari pusat desa, ternyata dosen kami pun tidak begitu ingat dengan jalannya saat menemui pertigaan di dekat pasar. Dengan tidak tersedianya papan penunjuk jalan, maka kami pun bertanya kepada penduduk setempat. Arah lurus pun kami ambil sesuai dengan keterangan penduduk. Jalan sudah tidak lagi beraspal. Rumah-rumah penduduk pun semakin jarang. Dan pertigaan pun kembali kami jumpai.

Semula kami akan mengambil jalan lurus, namun keraguan yang hinggap di benak akhirnya membuat kami untuk kembali bertanya kepada penduduk setempat. Salah satu dari kami pun bertanya kepada pemilik satu-satunya rumah yang terlihat di sekitar tempat ini. Jalan ke kiri pun akhirnya kami tempuh. Jalan berbatu dan penuh genangan air langsung menyambut kami. Supir bis sudah mulai mengeluh disebabkan medannya yang memang keterlaluan untuk dilalui kendaraan non off-road. Di beberapa tempat yang kami lewati, terdapat singkapan batu berwarna putih yang merupakan batugamping yang sebagian ditambang oleh penduduk.

Setelah berjibaku dengan jalan berbatu, kami pun tiba di lokasi. Tepatnya pukul 13.30 WIB. Sungguh perjalanan yang sangat panjang mengingat kami harus menempuh jalan yang sama untuk kembali ke Bandung. Dari tempat kendaraan diparkir, kami bergerak menuju kumpulan bongkahan jasper dengan berjalan kaki.

Pemandangan jasper di antara sawah nan hijau

Lokasi pertama ialah kumpulan jasper di tengah-tengah hamparan sawah. Bongkah-bongkah berwarna merah dengan ukuran 2-3 meter tersebut tersebar di antara sawah-sawah nan hijau. Sungguh suatu pemandangan yang akan menarik jika dikelola dengan baik.

Selanjutnya, kami beranjak menuju Sungai Cimedang, lokasi paling menarik dari Taman Jasper. Pada tubuh sungai ini berserakan bongkah-bongkah jasper berukuran hingga 3 x 2 meter. Bongkah sebesar itu tentu berasal dari suatu tempat yang tidak jauh. Namun, hingga tulisan ini dibuat sumber dari bongkah-bongkah jasper tersebut belum ditemukan. Dugaan yang paling mungkin ialah jasper tersebut berasal dari fragmen breksi yang tersebar di sekitar Sungai Cimedang. Breksi merupakan batuan sedimen yang memiliki ukuran fragmen mulai dari 64 milimeter hingga lebih dari 1 meter.

Hamparan jasper di Ci Medang

Bongkah besar jasper di Ci Medang

Menurut para ahli, jasper di Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya ini terbentuk sejak Kala Oligo-Miosen atau 25 juta tahun yang lalu saat Jawa Barat masih berupa gunungapi purba yang sebagian berada di bawah laut. Proses hidrotermal pada endapan gunungapi bawah laut tersebut menyebabkan mineralisasi pada endapannya. Mineralisasi tersebut dapat membentuk suatu mineral yang keras seperti jasper. Kekerasan jasper pada Skala Mohs bernilai 7 dan masuk dalam keluarga mineral silika.

Mineralisasi pada jasper

Secara geologi, keberadaan jasper di lokasi ini sangat penting karena menjadi bukti sejarah terbentuknya Pulau Jawa. Sayangnya, jumlah jasper yang berada saat ini sudah jauh berkurang akibat penambangan oleh pihak asing. Namun, jumlah yang tersisa saat ini masih menarik untuk dikunjungi. Dengan catatan, harus ada fasilitas yang memadai dan promosi yang gencar melalui berbagai media yang saat ini sudah banyak tersedia. Misalnya melalui situs-situs sosial atau website pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.

KEN DEDES SANG ARDHANARESWARI

Posted: April 22, 2010 in Resensi Buku

Semua orang memandang terperangah ke arah temanten putri yang memiliki kecantikan gilang gemilang. Ken Dedes, Sang Ardhanareswari tak perlu mengumbar senyumnya untuk menyihir segenap tamu yang tak pernah membayangkan ada kecantikan yang sesempurna itu. Sungguh beruntung Akuwu Tunggul Ametung bisa memperistri gadis secantik itu. Di tengah upacara pernikahan yang sebenarnya tengah terancam kekacauan tersebut, bergetar dada Parameswara melihat wanita yang dicintainya menikah dengan orang lain. Debaran itu makin terasa manakala Ken Dedes beserta Tunggul Ametung menghampirinya dan meminta restunya. Ken Dedes yang sebenarnya mencintai Parameswara tersebut hanya bisa menangis dan mengikhlaskan takdir yang memang harus terjadi. Keris Sang Kelat yang tersimpan di lipatan benak Parameswaralah yang memperingatkan bahwa titisan Dyah Smurat Nrrtari Maharani Sri Sanjayawarsa tersebut bukanlah takdirnya. Namun, Mpu Purwa, sesepuh Panawijen yang juga merupakan ayah Ken Dedes justru amat mencemaskan nasib anak gadisnya. Melalui penerawangan batin, ia dapat melihat jalan berdarah yang akan dilalui putrinya.

Ken Arok, yang tengah berada di Kediri dalam rangka membantu persiapan perang melawan pemberontakan Ganter, langsung menyelinap ke Tumapel saat mendengar pernikahan Ken Dedes. Titisan Rakai Walaingpu Kumbhayoni tersebut meyakini bahwa Ken Dedes merupakan takdirnya sebagaimana kehidupan sebelumnya. Hantu Padang Karautan itu bahkan pernah adu olah kanuragan melawan Parameswara yang telah ia anggap sebagai sahabat karibnya karena memperebutkan Ken Dedes. Namun, melalui pertarungan itu pula Parameswara justru mendapat kepastian bahwa Ken Dedes memang bukan takdirnya. Kepastian itu diperolehnya dari orang yang selalu mengikutinya, orang yang memiliki wajah dan perawakan yang sama persis dengannnya. Bukan hanya itu, bahkan dalam hal olah kanuragan pun, orang itu memiliki teknik yang sama.

Orang yang mengaku berasal dari waktu yang berbeda dan memiliki anak bernama Tandhya Dyah Laksita itu, juga pernah meminta bantuannya membebaskan istrinya yang dijadikan tawanan Ki Sabalangit. Namun, sayang saat itu bulan sedang purnama. Rajah Sapta Prabancana yang melekat di telapak tangan kirinya sedang mempengaruhinya dengan amat sangat. Dalam kondisi tersebut, Parameswara berubah sama sekali menjadi orang yang beringas, brutal, dan tidak mudah mati sekalipun tubuhnya telah terbakar. Rajah Prabancana yang menjadi tanda pengikut Prabanjara tersebut merupakan kelompok 7 orang yang mengincar nyawa anak Parameswara. Anak yang akan lahir itu merupakan titisan dari Dang Acarya Yogiasvhara, penjaga air Tirtamanthana yang disembunyikan di balik Candi Yogiasvhara yang dimurcakan. Masalah semakin kompleks karena ternyata istri dari Parameswara juga terpilih sebagai Sapta Prabancana, bukan Panca Hapsara yang bertugas melindungi anak tersebut.

Bingung, penasaran, dan geleng-geleng. Itulah rangkaian perasaan yang mungkin dirasakan ketika membaca novel Candi Murca jilid 4 yang berjudul Ken Dedes, Sang Ardhanareswari ini. Bingung karena memang misteri yang ada d novel ini belum sepenuhnya terungkap sehingga membuat penasaran untuk menantikan kelanjutan ceritanya. Geleng-geleng karena banyak teknik kanuragan atau beladiri yang tidak masuk akal walaupun pada novel ini diceritakan selogis mungkin. Contohnya ialah ilmu membelah diri yang digunakan oleh Ken Arok.

Novel setebal 832 halaman ini merupakan lanjutan dari 3 novel Candi Murca yang sebelumnya. Novel pertama berjudul Ken Arok Hantu Padang Karautan, novel kedua berjudul Air Terjun Seribu Angsa, dan yang ketiga berjudul Murka Sri Kertajaya. Novel bergenre fiksi sejarah ini berlatar akhir dari Kerajaan Kediri dan awal berdirinya Kerajaan Singasari. Namun, tokoh utama pada novel karya Langit Kresna Hariadi ini justru bukan tokoh penting dalam sejarah bangsa ini. Penekanan cerita justru jatuh kepada Parameswara, tokoh yang dalam sejarah sebenarnya merupakan pencuri kecil saat masa Kerajaan Majapahit yang pada novel ini memiliki kemampuan kanuragan yang luar biasa. Misalnya ialah Aji Cleret Tahun, ilmu kanuragan yang dapat menciptakan angin lesus atau tornado.

Dibandingkan dengan novel dengan genre yang sama saat ini, novel ini termasuk yang paling menarik setelah era Api Di Bukit Menorehnya S.H. Mintardja. Penulis novel ini sebelumnya juga telah menulis novel Gajah Mada yang terbit hingga 5 seri yang dilanjutkan dengan Perang Paregreg yang telah terbit 2 seri. Berbeda dengan kedua novel tersebut, pada novel Candi Murca ini porsi unsur fiksinya lebih banyak. Tetapi, unsur fiksi tersebut tidak sampai mengubah sejarah yang sebenarnya dan sebaliknya justru saling mendukung menjadi satu keutuhan alur cerita.

Kekurangan terbesar dari novel ini ialah kualitas cetakan dan penyuntingan yang kurang baik sehingga beberapa kesalahan ketik dan pemotongan kalimat yang kurang tepat banyak ditemukan. Selain itu, berbeda dengan 3 seri sebelumnya, pada novel ke 4 ini tidak disertakan penjelasan dari kata-kata berbahasa Jawa sehingga menyulitkan pembaca yang tidak menguasai Bahasa Jawa.

GEDEBUG AIR DI CURUG BUGBRUG

Posted: February 25, 2010 in Geowisata

Bagi anda yang berdomisili Bandung atau Cimahi, pasti nama Curug Cimahi cukup akrab ditelinga walaupun tidak mengetahui pasti lokasinya. Namun, pernahkah nama Curug Bugbrug mampir di telinga? Mungkin sebagian besar akan mengatakan tidak. Bahkan salah satu dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung yang gencar meneliti kawasan Bandung pun tidak pernah mendengar nama curug yang berlokasi di Parongpong, Lembang, Kabupaten Bandung Barat ini. Padahal keindahannya tidak kalah dari Curug Cimahi yang berada di hilirnya bahkan keasrian curug ini lebih alami dan hijau.

Curug Bugbrug merupakan salah satu dari sekian banyak air terjun yang berada di kawasan Bandung. Air terjun atau curug ini merupakan aliran dari Sungai Cimahi, sama seperti Curug Cimahi hanya lokasinya berada lebih ke hulu. Lokasinya memang cukup jauh dari jalan, sehingga tidak mengherankan jika nama Curug Cimahi dan Curug Panganten lebih tenar karena papan namanya yang tampak dari jalan. Padahal untuk menjangkau curug ini sebenarnya tidak terlalu sulit.

Dari arah Bandung, perjalanan menuju curug ini bisa dimulai dengan menuju Terminal Ledeng, lalu mengambil jalan ke kiri menuju Parongpong. Jika dari Cimahi, dapat menggunakan angkutan kota (angkot) jurusan Parongpong. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju Curug Cimahi, tetapi turunlah di jembatan Cimahinya, tepat di depan warung penduduk. Lalu, ikuti jalan setapak yang ada di sepanjang tepi aliran Sungai Cimahi. Mula-mula, kita akan disambut oleh tebing terjal dengan bentuk kekar yang tampak seperti aliran yang terbendung (Gambar 1). Tebing tersebut merupakan hasil dari pembekuan lava yang memang banyak terdapat di Bandung.

Gambar 1 tebing hasil dari pembekuan lava

Gambar 2 jalan setapak di tepi Sungai Cimahi yang tertutup semak. Tampak tebing lava di kejauhan.

Setelah itu, jalan setapak tersebut akan melewati pematang sawah sepanjang Sungai Cimahi diapit oleh dua tebing di kedua sisinya. Hal yang menariknya ialah, kedua tebing tersebut terbentuk dari batuan yang berbeda. Tebing yang berada di sisi selatan merupakan kemenerusan dari tebing di awal jalan setapak tadi yang keras dan kristalin. Sedangkan tebing yang di sisi utara terbentuk dari endapan tuff berwarna putih dan berbutir halus serta berlapis baik. Tebing lava tersebut lebih terjal dibandingkan dengan tebing tuff di sebelahnya (Gambar 2).

Setelah berjalan sekitar 15 menit menempuh jalan setapak yang berlumpur saat musim hujan, tampak Curug Bugbrug yang terjun menuruni tebing lava (Gambar 3). Namun, sebelum meneruskan perjalanan hingga ke bawah air terjun tersebut, kita diharuskan membayar sejumlah uang kepada petani sekitar sebagai tanda masuknya. Tarif yang dikenakan saat itu ialah Rp 3.000,- per orangnya.

Tiba di bawah air terjun, kita akan disuguhi pemandangan yang hijau dan kolam dengan air yang jernih (Gambar 4). Namun, keinginan untuk sekedar berendam mungkin harus ditunda karena terpasang papan larangan bertuliskan dilarang berenang karena berbahaya (Gambar 5). Di ujung kolam Sungai Cimahi mengalir, jalan setapak yang ditempuh sebelumnya berujung pada jembatan kayu yang terbuat dari 2 batang kayu dengan beberapa papan yang melintang pada batang tersebut sebagai alat bantu berpijak (Gambar 6). Walaupun jembatan tersebut tingginya tidak sampai 1 meter dan aliran Sungai Cimahi di bawahnya tidak dalam, untuk menyeberanginya kita harus tetap hati-hati guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah melewati jembatan tersebut, perjalanan sebenarnya bisa dilanjutkan mengikuti jalan setapak menaiki tebing menuju lokasi outbond. Dari sana, perjalanan pulang bisa menggunakan alternatif lain melewati perkampungan penduduk. Namun jarak yang ditempuh lebih jauh walaupun jalannya lebih bagus.

Gambar 3 Curug Bugbrug pada tebing lava dilihat dari kejauhan.

Gambar 4 Curug Bugbrug dengan kolam di bawahnya

Dilihat dari dekat, air terjun ini cukup tinggi, mungkin sekitar 30 meter. Besar air terjunnya pun tidak seberapa, jauh lebih kecil daripada Curug Malela. Namun, kesejukan dan keasrian suasana sekitarnya, merupakan nilai lebih air terjun yang memotong aliran lava ini. Jika curug ini dikelola dengan serius sebagai salah satu objek pariwisata, dengan pembangunan infrastruktur yang baik seperti akses jalan, mungkin gedebug air di Curug Bugbrug akan terdengar lebih keras lagi.

Gambar 5 papan larangan berenang dan jalans setapak menaiki tebing

Gambar 6 jembatan kayu melintasi Sungai Cimahi